SIMULATION

SIMULATION
AMAZED*


__ADS_3

Sandra terlihat kagum dengan bangunan yang berbentuk unik tersebut. Sayangnya, gedung mewah itu jauh dari gedung lainnya atau pemukiman warga.


Gedung itu seperti kesepian, tanpa pendamping di sisinya. Sandra melirik ke arah Bos-nya yang diam saja menatap bangunan berwarna keunguan tersebut.


"Ayo," ajak Blue saat pintu samping dudukkan terbuka di depan pintu utama gedung.


Sandra merapikan pakaian karena ia bisa melihat gemerlap lampu yang menerangi bagian dalam gedung. Ia tak bisa membayangkan, teknologi apalagi yang dimiliki restoran itu.


PIP!


"Welcome home, Blue," sapa asisten ruangan saat pria bermanik biru tersebut berjalan menuju pintu utama berupa sebuah kaca yang terbuka secara otomatis ketika Blue menunjukkan pergelangan tangannya ke atas.


"She's with me," ucapnya saat ia berjalan lebih dulu di depan Sandra.


Wanita berambut pirang itu menunjukkan barcode di pergelangan tangannya seperti yang Bos-nya lakukan, dan asisten ruangan itu mempersilakannya masuk.


"Home?" tanya Sandra saat mereka sudah masuk ke lobi utama. Blue menghentikan langkah dan membalik tubuhnya.


"Yes. Karena besok aku akan libur, jadi ... kau mengantarkanku pulang. Kau nanti diantar oleh sopirku, em ... mobilku kembali ke rumahmu. Kau tak masalah 'kan?" tanya Blue santai, dan Sandra mengangguk dengan senyuman.


Sebuah robot pelayan mendatangi Sandra. Warna robot itu senada dengan corak bangunan, hanya saja lebih teduh—ungu muda.


Robot itu tak memiliki kaki. Dia melayang di udara 30 cm dari permukaan lantai. Bentuknya seperti kapsul. Kepala dan tubuhnya jadi satu. Memiliki dua tangan dan sepuluh jari.


Wajah pada robot berupa sebuah layar yang mengikuti bentuk dari kapsul tersebut di bagian atas dengan dua mata dan lengkungan bibir berupa garis yang bisa berubah bentuk berwarna putih bercahaya.


"Oh, dia Purple. Asisten robot di rumahku," ucap Blue mengenalkan, meski ia berada di kejauhan terlihat sibuk dengan layar pada jam tangan yang diotak-atik entah apa yang sedang ia kerjakan.


"Silakan ikuti Purple ke ruang makan. Purple telah menyiapkan makan malam untuk kalian berdua. Tuan Blue akan menyusul," ucap Purple ramah mengajak Sandra ikut dengannya.


Sandra terlihat sungkan saat meninggalkan Bos-nya yang masih sibuk berdiri sendirian di lobi utama dengan jam tangannya.


Lagi-lagi, Sandra dibuat kagum akan rumah Blue yang seperti sebuah gedung itu.


Rumahnya begitu besar dan mewah, tapi tak ada satupun manusia di dalamnya kecuali mereka berdua. Rasa dingin, sepi, dan hampa, begitu terasa menyelimuti bangunan indah itu.


Sandra melewati sebuah lorong dengan atap seperti langit malam bertabur bintang gemerlap, bahkan ada bulan sabit besar terlihat seakan nyata.


"Oh, kau melihatnya? Atap itu akan berubah sesuai dengan perubahan waktu. Bahkan bisa diset seperti hujan, salju, dan petir," ucap Purple yang kini melayang mundur saat menjelaskan atap indah yang mereka susuri.

__ADS_1


"Wow!" kagum Sandra tak bisa mengatakan hal lain. Ia terlalu terpesona akan keindahan rumah tersebut karena penuh dengan teknologi masa depan yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. "Oh!" pekik Sandra saat melihat sebuah ruangan di sisi kanan seperti kamar mandi, tapi ada sepasang ikan lumba-lumba berenang di dalamnya dengan air biru jernih seperti lautan di perairan dangkal setinggi dada.



Mulut Sandra menganga dan kakinya bergerak dengan sendirinya untuk melihat lebih dekat. Lumba-lumba itu sungguh nyata. Suara lengkingan mereka bahkan terdengar menembus dinding kaca itu.


Hewan mamalia tersebut berenang ke sana kemari dengan cipratan air sampai menempel ke dinding kaca. Sandra tersentak dan mundur ke belakang dengan mata melotot.


Ia yang awalnya ingin pamit ke kamar mandi mengurungkan niat, karena bath up, shower, bahkan toilet duduk terekspose dari balik dinding kaca itu. Ia merasa, tak ada privasi ketika sedang di kamar mandi.


"Anda ingin ke toilet, Nona Sandra?" tawar Purple.


"Ha? Oh, tidak. Thanks," tolaknya canggung.


Purple kembali melayang dan mengajaknya berjalan menyusuri lorong seperti tak memiliki ujung.


Banyak ruangan unik yang Sandra lewati termasuk ruang tengah dengan televisi sebesar dinding bagaikan bioskop, berikut kursi bertingkat, tapi memiliki jarak dan beberapa fasilitas penunjang kenyamanan di sekitarnya.


"Silakan duduk. Robot pelayan akan mengantarkan makanan," ucap Purple dan Sandra duduk dengan ragu.


Ia melihat ruang makan itu tak seluas ruangan lainnya. Bahkan, hanya seperempat dari kamar mandi lumba-lumba yang ia lihat tadi. Hanya ada dua kursi dan sebuah meja.



Hingga akhirnya, sosok manusia lain muncul, tak lain adalah Colosseum Blue yang tampil sederhana dengan sandal selop warna putih yang senada dengan piyama tidurnya, dan kacamata. Sandra menyambut Bos-nya dengan senyum terkembang.


"Maaf, lama menunggu," ucapnya sungkan seraya duduk. "Hei, mana makanannya? Aku lapar," tanya Blue melihat ke atap seperti berbicara pada seseorang di atasnya.


Seketika, PIP!


Untuk kesekian kalianya Sandra terkejut. Meja tempat kedua tangannya bersandar terbuka. Makanan muncul dari balik penutup putih alas meja itu. Mulut Sandra menganga saat melihat sajian di depannya.


Ia tak tahu bagaimana cara memakan sajian yang terlihat unik dan bisa dibilang, seperti bukan sebuah makanan.



Sandra melihat Blue sudah siap dengan sendok dan garpu dalam genggaman. Tangan Sandra yang terluka, hanya bisa mengambil salah satu alat makan itu.


Ia memegang sendok dan melihat cara makan Bos-nya yang santai saat memasukkan makanan seperti benang itu ke mulutnya.

__ADS_1


Sandra mengikutinya dan membuka mulutnya lebar. Ia terlihat ragu saat mengunyah, tapi seketika matanya melebar.


"Wow!" kagumnya sambil mengunyah. Blue melirik dan tersenyum saat Sandra melebarkan mata melihat makanan di piring putihnya itu.


"Silk Soup."


"Hem?" guman Sandra mendekatkan wajahnya ke arah Bos-nya karena tak begitu yakin dengan yang ia ucapkan.


"Sup sutera, aku menyebutnya. Warna putih yang kau makan itu adalah buah pear yang dibuat seperti benang di gulung. Kuahnya adalah brokoli dengan cream dan biji hitam serta buah orange ini adalah pemanisnya. Cobalah, kombinasinya enak. Manis, segar dan gurih," ucap Blue dengan senyuman dan kini memakan buah warna orange itu.


Sandra mengangguk. Ia mencoba menyendoknya dengan satu tangan secara perlahan.


Blue menunggu dengan sabar, di mana ia sangat penasaran dengan ekspresi Sandra saat memakannya.


"Wow, kau benar. Rasa makanan ini sungguh menyegarkan," ucapnya dengan senyum terkembang, terlihat begitu menikmati makan malamnya.


Usai menikmati sajian pertama, piring tersebut kembali masuk ke dalam meja. Sandra mulai terbiasa dengan kinerja robot di ruang makan itu. Blue dan Sandra terdiam saat menunggu sajian berikutnya.


PIP!


Kali ini. Sandra cukup yakin jika menu selanjutnya adalah sebuah kapsul. Sandra melirik Blue yang kembali siap dengan garpu dan sendoknya.


"Ini obatmu atau bagaimana? Karena seingatku, obatku tak seperti ini bentuknya," tanya Sandra heran.


Blue tertawa sampai tersedak. Ia mengetuk meja di sampingnya dekat pot pajangan dan muncul gelas berisi air di sana.


Blue dengan cepat meneguknya dan Sandra masih terlihat serius menunggu jawaban dari pria di depannya yang penuh dengan misteri.



"Ya, kau benar. Namun, itu bukan obat. Makanlah, dan kau akan tahu rasanya," jawab Blue sembari mengelap mulutnya dengan serbet.


Sandra mengambil sendok yang disediakan lagi dengan hembusan nafas pelan. Blue terlihat serius menunggu kejutan dari ekspresi Sandra lagi.


Sandra menyendok satu buah kapsul warna orange itu dan memasukkannya dengan ragu ke mulutnya, bahkan wajahnya sampai mengerut karena membayangkan rasa sebuah obat pahit. Namun seketika, matanya melotot lebar.


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE and PINTEREST


Seru ya gambar-gambarnya. Meskipun belum sesuai dengan imajinasi lele tapi cukuplah, hampir mendekati. Semoga suka dan jangan lupa dukungannya. Sembari nunggu bisa baca novel lele yang udah tamat lainnya. Lele padamu💋💋💋


__ADS_2