SIMULATION

SIMULATION
MARTIAL ARTS*


__ADS_3

Sandra menjalani latihan level 10 terakhir di Dojo dengan fokus. Matteo mengawasi di meja sajian seraya menikmati kue dango dan seteko teh hijau.


Kali ini, Sandra serius dan berusaha agar tak terluka. Sedang Matteo, malah sangat berharap wanita itu cidera.


"Jangan memaksakan diri, Otka. Tinggal bersamaku tak seburuk itu," ucapnya dengan senyuman.


Dasar Jenderal tidak waras. Dia ini kenapa? Sepertinya dia telah kehilangan rasa malu dan wibawanya sebagai seorang petinggi dalam jajaran militer. Calon presiden apanya? Tidak, aku akan lulus level 10 tanpa terluka, gerutu Sandra dalam hati saat ia melakukan pemanasan sebelum latihan level 10 dimulai.


Ingat, Sandra. Matteo adalah musuhmu. Meski bukti dari Presiden Roman menunjukkan jika ia tak bersalah, tapi dia bukan tipe pria yang bisa kau cintai, tegasnya menguatkan hati.


"Simulasi uji coba level 10 ilmu pedang dimulai dalam hitungan mundur. 5 ... 4 ... 3 ... 2 ... 1, go!"


Sandra yang telah menghafalkan gerakan itu sebelumnya dengan cepat menirukan robot di hadapannya yang melakukan gerakan serupa.


Matteo terpaku untuk beberapa saat karena manusia dan robot itu seirama dalam melakukan gerakan.


Matteo terlihat serius karena Sandra berhasil melakukan dua putaran sembari menyabetkan pedang, lalu dilanjutkan dengan meluncur di lantai dengan satu pedang dalam genggaman dan kembali berdiri kemudian berbalik.


Gerakan kombinasi yang cukup menyulitkan dengan tuntutan kecepatan serta keakuratan harus tepat, sebagai salah satu gerakan menyerang dan menghindari serangan.


Eco menyatakan Sandra lulus dan hal itu membuat wanita tersebut gembira, tapi tidak dengan Matteo.


"Bagus. Kita akan lakukan latihan selanjutnya yang bisa mencederai tubuhmu. Ayo," ajaknya yang membuat Sandra kembali melebarkan mata.


Dia menginginkanku terluka? Apa otaknya kini sedang kacau? Apa Blue dan Matteo sedang bertarung di alam sana, lalu kini muncul karakter baru diantara keduanya? Gila! Pria itu gila! pekik Sandra dalam hati dengan mata melotot lebar.


Sandra mengikuti sang Jenderal yang kini membawanya pergi ke ruang latihan lainnya. Kali ini, fisik Sandra sungguh digempur layaknya latihan militer pada umumnya. Bedanya, dia dilatih secara private oleh para mentor terpilih.


Matteo membawa Sandra ke sebuah ruangan luas seperti sebuah aula simulasi. Sandra terlihat kagum karena tempat itu begitu megah dengan beberapa operator bertugas di balik dinding kaca.


"Sir!" salam hormat para operator saat sang Jenderal memasuki ruangan. Matteo membalas salam hormat itu begitu pula Sandra.


"Perkenalkan, dia Otka Oskova. Dia akan melakukan simulasi pelatihan kilat karena jadwal padat yang harus segera ia selesaikan dengan pencapaian kelulusan level 10 adalah 100%. Kalian tahu jika hal itu sangat berat dan sulit dicapai. Namun, Sandra berhasil menyelesaikan beberapa latihan di ruang simulasi. Jadi, mohon bantuannya. Jangan sungkan untuk memarahinya. Dia ... senang terluka," ucap Matteo dengan bangga, tapi membuat semua orang yang mendengar mengedipkan mata termasuk Sandra.


"Oke?" tanya Matteo menegaskan kembali.

__ADS_1


"Yes, Sir!" jawab semua orang mantap. Sandra menghembuskan nafas panjang.


Sandra diminta untuk memakai pakaian khusus. Sebuah pakaian mirip robot yang terasa berat saat perlengkapan itu terpasang di tubuhnya.


"Kau akan melakukan pelatihan ilmu bela diri bersama robot mentor. Teknisnya, sama dengan ketika kau berlatih ilmu pedang. Namun kali ini, latihanmu akan sedikit lebih lama dan berat. Selama kau mempelajari teknik-teknik yang terkandung di dalamnya, kau akan mendapatkan banyak manfaat. Hal itu akan kau rasakan setelah berhasil lulus level 10 dalam simulasi ini," ucap Matteo tegas dari tempatnya berdiri.


Sandra dan para petugas di tempat itu mengangguk paham. Mereka seperti mendapatkan kelas tambahan dari sang Jenderal.


"Kemari," perintah Matteo berdiri di atas sebuah lingkaran dengan cahaya terang yang menyorot dari atas ruangan. Sandra terlihat gugup saat melangkahkan kakinya ke lingkaran tersebut.


"Selama aku cuti, berlatihlah di tempat ini. Jangan bolos. Aku akan meminta Tony dan Ego mengawasimu," ucapnya menatap Sandra seksama.


"Anda ... ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Sandra merasa sedikit kehilangan.


Matteo mencondongkan tubuhnya dan hal itu membuat Sandra terkejut. "Kenapa? Mulai merindukanku? Haruskah ... kubatalkan cutiku?" tanya Matteo dengan senyum penuh maksud.


Sandra memalingkan wajah enggan berdebat. Ditambah, kini mereka berdua ditatap oleh banyak orang.


"No, Sir! Anda pantas mendapatkan liburan," jawab Sandra tegas. Matteo tersenyum.


Wanita itu berjalan menuju ke lingkaran kecil seukuran tubuhnya. Ia berdiri di atas lingkaran tersebut dengan pakaian khusus seperti sebuah bantalan agar tubuhnya tak terluka ketika melakukan praktik.


PIP! NGEKKK!


Seketika, mata Sandra melebar. Matteo berdiri di samping para operator yang bertugas untuk melihat pelatihan Sandra dari balik dinding kaca.


Lampu di sekitar ruangan yang tadinya bercahaya redup mulai menyala dengan sinar biru.


Sebuah robot mentor muncul dengan gagah. Sandra terlihat gugup saat robot itu membungkuk seperti melakukan hormat. Sandra menoleh ke arah Matteo dan pria tampan itu mengangguk.


"Ikuti semua pergerakan dan ucapannya, Otka! Jika robot mentor tak mendengar atau tak menganalisis pergerakanmu, dia tak akan melanjutkan ke sesi berikutnya. Kau paham?!" ucap Matto lantang di mana suaranya terdengar jelas di ruangan itu.


"Yes, Sir!" jawab Sandra mantap.


Sandra mengikuti gerakan membungkuk 90 derajat itu. Mentor robot kembali berdiri tegak dan Sandra mengikutinya. Robot mentor lalu duduk bersimpuh, dan Sandra mengikuti gerakannya. Matteo tersenyum.

__ADS_1



"Dia cepat belajar." Para operator mengangguk setuju. "Lakukan perekaman. Aku ingin melihat perkembangan latihannya saat kembali dari cuti nanti," perintahnya, dan operator yang bertugas di bagian itu mengangguk.


"Aku siap melakukan pelatihan," ucap robot itu dengan suara pria beraksen tegas, dan hal itu membuat Sandra sedikit terkejut.


"Aku siap melakukan pelatihan," ucapnya mengulang.


"Kau tak perlu mengulang ucapanku kali ini. Dengar pesanku baik-baik," ucap robot bagaikan guru di hadapan wanita cantik itu. Sandra mengangguk dengan pandangan terkunci pada robot di hadapannya.


"Ilmu bela diri ini sangat penting untuk menjaga dirimu dari segala ancaman yang akan menyerang terutama dari pihak musuh. Selain itu, mempertajam reflek gerakan dari segala jenis serangan yang tak terduga. Dengan berlatih secara teratur dan konsisten, stress dalam dirimu bisa dikendalikan dan membuatmu tetap sehat meski kau menua," ucapnya dengan suara berat.


Sandra mengangguk mantap terlihat serius dengan nasehat mentor robot tersebut.


"Dalam kelas pelatihan pertahanan diri nanti, keseimbangan dirimu akan meningkat, baik secara fisik maupun mental. Saat kau bergerak dengan postur yang berbeda, hal itu akan meningkatkan otot inti dalam tubuh serta keseimbangan fisikmu. Ilmu bela diri juga membantumu mempertajam fokus. Kau akan belajar mengendalikan tubuhmu agar bergerak sesuai dengan kondisi di sekitar. Inderamu akan menjadi peka dan nalurimu tajam. Hal ini, sangat penting bagai seorang petarung."


"Aku mengerti," jawab Sandra mantap.


"Pada titik puncaknya, nilai-nilai seperti disiplin, hormat dan fokus pada target akan menjadi bagian terpenting untuk menjadi seorang pemimpin. Dalam kasus ini, kau memimpin dirimu sendiri nantinya dalam tubuh robot. Apa kau mengerti, Otka Oskova?"


"Aku mengerti," jawabnya dengan sorot mata tajam dan duduk bersimpuh tegap.


"Berdiri dan bersiap!" ucap robot mentor mantap. Robot itu berdiri dengan tegap dan Sandra segera mengikuti gerakannya.


Jantung wanita berambut pirang itu berdebar kencang. Ia tahu, jika pelatihan beratnya akan dimulai sebentar lagi. "Aku siap."


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Uhuy tengkiyuw tipsnya😍 Lele padamu💋 Besok lagi ya. Kwkwkw😆


__ADS_1


__ADS_2