
Pagi itu, Sandra terlihat tak sabar untuk segera sampai di kantor. Ia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya yang menumpuk dan menjenguk bosnya di rumahnya.
Tangan Sandra yang sudah tak terbalut gips, membuatnya leluasa untuk bergerak. Ia juga jarang duduk di RC karena ia lebih suka menggerakkan tubuhnya dengan mengambil berkas sendiri tanpa bantuan robot.
Tak terasa, jam makan siang tiba. Entah kenapa, ia ingin menghubungi Blue. Sekedar ingin tahu perkembangan kesehatannya.
"Mm ... Otka. Bisakah kau menghubungkanku dengan tuan Blue?" tanya Sandra terlihat gugup di kursi RC.
"Silakan menunggu," jawab Otka ramah.
Sandra segera merapikan penampilannya. Jantungnya berdebar, meski ia tak yakin apa pemicunya.
"Uhuk ... emph. Oh, hai, Sandra. Ada apa? Apakah kau mengalami kesulitan mengerjakan pekerjaan itu?" tanya Blue berbaring di ranjang.
"Oh, tidak. Aku ... hanya ingin memastikan jika kau sudah sehat. Bagaimana? Apakah ... aku masih perlu untuk menjengukmu?" tanya Sandra gugup.
"Ah, keadaanku semakin buruk, Sandra. Dokter sudah memberikanku obat. Hanya saja, aku merasa letih sekali. Aku bahkan belum makan siang," ucapnya lesu dengan mata sayu.
Sandra berdiri seketika, ia terlihat cemas. "Kau ingin aku ke sana sekarang? A-aku bisa mengerjakan di rumahmu jika diperkenakan."
"Hem, boleh. Baiklah, aku tunggu ya. Uhuk," jawabnya dengan mata terpejam.
Sandra bergegas merapikan peralatannya. Ia meminta Otka untuk mengirimkan semua file ke tablet yang ia bawa untuk dikerjakan di rumah Blue.
"Hati-hati di jalan, Sandra," ucap Otka ramah.
Sandra hanya tersenyum dan segera mendatangi mobil otomatis yang disediakan Blue untuknya sebagai transportasi selama ia bekerja dengannya.
Setibanya di kediaman Blue. Purple sudah menyambut dan langsung mengantarkan Sandra ke kamar pribadi bos besar mereka.
Sandra terlihat gugup dan canggung, karena sudah lama sekali ia tak dekat dengan seorang pria terlebih memasuki wilayah privasinya.
"Tuan Blue, Nona Sandra sudah tiba," ucap Purple di depan pintu kamar.
PIP!
Pintu kamar Blue terbuka otomatis. Sandra terlihat kagum karena kamar tersebut sangat keren untuknya.
Ada sebuah dinding kaca seakan ruang tidur itu berada di bawah laut. Ikan-ikan yang berenang terlihat nyata untuknya. Mulut Sandra menganga lebar.
"Oh, kau sudah datang," sapa Blue terlihat terkejut saat keluar dari sebuah pintu entah menuju ke mana.
"Maaf, Blue. Apa aku mengganggu istirahatmu?" tanya Sandra dengan tas kerja dalam genggaman.
"Hem, tidak. Aku sudah merasa lebih baik. Mungkin karena ... aku dijenguk oleh manusia," jawabnya dengan senyuman dan kembali berbaring di ranjang yang mengambang di atas lantai.
Sandra mengangguk pelan. Ia mendatangi sofa panjang dan duduk di sana dengan sungkan. Namun matanya, tak bisa menutupi dirinya atas rasa kagum akan ruangan itu.
__ADS_1
"Apa menurutmu berlebihan?" tanya Blue sembari menyelimuti dirinya dengan selimut putih.
"Ini keren sekali. Apakah ... kau menyukai satwa air? Lumba-lumba di kamar mandi, lalu ... ini?" tanya Sandra menebak seraya menunjuk dinding yang baginya seperti akuarium besar.
"Ibuku. Dia ... penyuka satwa air. Semua design interior ini buatannya. Bangunan ini adalah peninggalan darinya untukku," jawab Blue berwajah sendu.
"Maaf jika aku mengungkit. Namun menurutku ... ibumu sangat keren. Aku sangat penasaran, jika nyonya Aurora masih hidup, entah apa yang akan ia ciptakan dengan arsitektur kerennya," ucap Sandra dengan senyum terkembang.
Blue menatap wajah Sandra lekat. Ia tiba-tiba memanggil Purple dan meminta ia membawakan sesuatu untuknya.
Purple mendekati sebuah rak dan mengambil buku tebal bersampul warna biru kepada Tuannya. Sandra memperhatikan dari jauh.
"Kemarilah. Aku tunjukkan sesuatu," ucap Blue yang kini duduk menyenderkan punggung di sandaran kasur.
Sandra beranjak dari dudukkan dan kini duduk di pinggir ranjang samping Bosnya seraya melihat isi dari buku itu.
"Ini adalah rancangan ibuku yang belum terealisasikan. Banyak pihak yang menginginkannya. Ini hard copy-nya. Design dalam bentuk soft copy aku simpan dalam brankas khusus, dan jangan harap akan aku beritahukan di mana lokasinya," ucapnya tegas, tapi Sandra malah tersenyum.
"Aku tak memiliki kewenangan dan keberanian sejauh itu untuk mencuri apapun darimu, Tuan Blue," jawab Sandra tersenyum tipis.
Blue terdiam dan menutup buku itu dengan cepat. Sandra sampai kaget. Blue menyerahkannya pada Purple untuk meletakkan lagi di rak ia mengambilnya. Sandra kembali beranjak dan kembali ke sofa panjang.
"Jadi ... kau sudah minum obat? Sudah makan?" tanya Sandra sopan. Blue menggeleng. "Akan aku ambilkan makanan. Aku tahu di mana dapur," sambung Sandra lalu berjalan menuju pintu. Blue bingung.
"Tak perlu. Purple sudah mengurus semuanya. Duduk saja, mereka akan datang sendiri kemari," jawab Blue dengan kode tangan agar Sandra kembali duduk. Sandra mengangguk.
Sandra kembali ke sisi Bos-nya karena Blue minta disuapi. Sandra terlihat canggung, dan kebingungan karena makanan yang akan ia suapi ke Bos-nya belum pernah ia jumpai.
"Kenapa?" tanya Blue heran.
"I-ini bagaimana cara memakannya?" tanya Sandra dengan garpu dan pisau dalam genggaman.
Blue terkekeh. Ia mengambil piring itu dan memangkunya. Ia menusukkan garpu itu ke makanan berbentuk seperti buah pear yang terbelah dengan warna merah marun seperti sarang lebah.
Sandra terkejut karena makanan itu lembut dan kenyal. Padahal dari luar terlihat keras dan seperti plastik.
Blue mengirisnya dan memakannya dengan santai. Sandra terbengong melihat Bosnya makan dengan lahap.
"Kau sudah makan?" tanya Blue seraya mengunyah makanan di mulutnya. Sandra menggeleng dengan sungkan.
Blue lalu mengajak Sandra duduk di pinggir jacuzi berisi air hangat seraya merendam kaki. Senyum Sandra merekah, ia merasa nyaman dengan fasilitas mewah di kamar Bos-nya.
Blue mengajak Sandra makan bersama. Keduanya terlihat akrab, meski tak ada obrolan yang dibicarakan hingga makan siang usai.
"Oh, tanganmu sudah pulih?" tanya Blue baru menyadari jika tangan Sandra sudah tak terbalut gips.
"Ya. Aku baik-baik saja," jawabnya sembari memijat tangannya yang terluka beberapa waktu lalu. Blue mengangguk seraya mengelap mulutnya dengan serbet.
__ADS_1
"Jadi ... aku bisa mulai berlatih di Video Games? Apa kau tahu, Great Ruler membuka lowongan untuk para User robot. Aku ingin mencobanya, Blue. Perekrutan di mulai awal bulan, dan aku sangat berharap bisa lolos dan menjadi salah satu dari User tersebut."
Blue diam seketika saat melihat wajah kebahagiaan wanita di hadapannya. Namun, senyum Sandra perlahan meredup. Ia menyadari jika Bosnya terlihat seperti tak menyukai hal tersebut.
"Kenapa?" tanya Sandra bingung.
"Jika kau diterima, kau akan meninggalkanku. Aku akan sendirian lagi dan menghabiskan waktuku dengan para robot," jawab Blue dengan pandangan lurus ke depan memandangi dinding akuarium.
Sandra terlihat bingung bersikap. Blue beranjak dari jacuzi dan kembali berbaring di ranjang. Blue langsung memejamkan mata dan memalingkan wajah. Sandra terlihat bingung karena Bosnya mengacuhkannya begitu saja.
Sandra kembali ke sofa panjang dan mulai bekerja dari tablet-nya. Sesekali ia melihat Blue yang tertidur lelap memunggunginya. Hingga akhirnya, dering pada jam tangan Sandra berbunyi.
Rey—asisten ruangan di rumahnya—menghubunginya. Sandra memasang earphone di salah satu telinga untuk mendengarkan pesan tersebut.
"Panggilan dari Komandan Akira. Anda ingin menerimanya?" tanya Rey.
"Yes, please," jawab Sandra lirih karena tak ingin membangunkan Bosnya.
"Hallo, Sandra. Hei, maaf mengganggumu. Kau pasti sedang sibuk. Jadi ... aku langsung saja. Apa kau masih berkeinginan untuk menjadi seorang User?"
"Ya, tentu saja," jawabnya mantap.
Tanpa Sandra sadari, Blue yang tidur membuka mata dengan wajah datar.
"Baguslah. Persiapkan dirimu. Saat libur kerja nanti, aku dan Tony akan memberitahukanmu, apa saja yang harus kau persiapkan untuk mengikuti tes. Kau mendapatkan rekomendasi dari kami berdua. Datamu sudah kami masukkan untuk didaftarkan. Namun, kau tetap harus lulus tes untuk bisa menjadi User."
"Oh, terima kasih, Komandan Akira. Aku akan berusaha. Baik, sampai bertemu akhir pekan. Aku sudah tak sabar untuk mengetahui tes apa yang akan diujikan. Sampai jumpa, dan ... salam untuk Eliz ya," jawab Sandra dengan wajah berbinar terlihat begitu senang dengan kabar baik ini.
Blue kembali menutup matanya seperti orang tertidur dalam diam. Hingga akhirnya, jam kerja telah selesai.
Sandra terlihat begitu lelah. Ia menyenderkan punggungnya yang terasa kaku dan kepalanya yang pusing karena melihat banyaknya angka dan tulisan dalam layar tablet.
Sandra memijat ujung alisnya dengan mata terpejam dan kepala mendongak. Dan tiba-tiba, "Agh! Aw, ada yang menggigitku. Apakah nyamuk?" tanya Sandra mengusap tangannya yang sakit saat menemukan bintik merah di tangannya.
Namun seketika, tubuhnya lemas dan Sandra tergeletak di sofa tak sadarkan diri.
Blue kembali membuka mata dengan telunjuk berada di layar jam tangannya. Ia perlahan bangun dan menyingkirkan selimut.
Ia beranjak dari kasur dan melihat Sandra seperti orang tertidur lelap di sofanya. Blue keluar kamar dengan bertelanjang kaki, dan mengenakan piyama diikuti oleh Spectra yang muncul dari lukisan di kamarnya.
Blue mendatangi sebuah ruangan dengan cermin besar di hadapannya. Ia meletakkan telapak tangannya ke kaca sensor dan muncullah sosok berwajah sama dengannya.
"Apa yang kau lakukan, Matteo? Apa kau mengambil peranku?" tanya Blue menatap sosok itu tajam di depannya yang balas menatapnya dengan wajah sinis.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE (architecturedesign.net)
__ADS_1