
Sandra terlihat tegang saat pemeriksaan barcode di gerbang pintu masuk Distrik 10. Ia bisa melihat di balik pintu besar itu ketika orang-orang berpenampilan aneh berlalu-lalang di jalanan yang terbuat dari batu.
Sungguh pemandangan yang berbeda, tak seperti Distrik-distrik yang ia temui sebelumnya di mana kesan elegan, futuristik, disiplin, bersih dan tersusun rapi sebagai ciri khas Great Ruler.
Orang-orang itu terlihat kumal dan tak memiliki peraturan di dalam Distrik. Mereka terlihat seperti manusia kuno layaknya dalam buku sejarah yang ia baca di Perpustakaan. Sandra terlihat sedikit takut karena ia dipandangi oleh banyak orang.
"Jangan jauh-jauh dariku. Pastikan tasmu aman. Banyak pencopet di sini, dan polisi robot level E perbatasan tak akan melakukan apapun," bisik Tony seraya merangkul pundak Sandra dengan wajah datar.
Sandra yang awalnya ingin menolak dekapan itu, akhirnya membiarkan Tony melakukannya. Ia merasa kali ini sikap Kakak Eliz tepat. Ia butuh perlindungan.
Meski banyak robot level E yang berjaga, tapi mereka terlihat santai dalam bekerja. Bahkan beberapa dari mereka membuka helm dan menikmati makanan yang disajikan pada sebuah restoran di tempat itu menggunakan tenda.
"Tony, tak ada rumah di sini. Semua bangunan semi permanen," ucapnya seraya merunduk ketika melewati sebuah jalanan dengan kain melengkung hampir mengenai kepalanya. Jalanan beralas batu yang dipadati orang-orang bernegosiasi seperti melakukan barter.
"Ya. Pemerintah Great Ruler tak mengizinkan orang-orang ini mendirikan rumah. Mereka membuat tenda yang bisa dibongkar-pasang," jawabnya ikut waspada. Sandra bisa melihat wajah Tony yang tegang seperti khawatir jika mereka dirampok atau semacamnya. "Oh, hari ini ada seleksi agar bisa masuk ke dalam Great Ruler. Kau ingin lihat?" tanya Tony menatap Sandra dengan wajah berbinar. Sandra mengangguk dengan cepat.
Tony menunjuk satu-satunya bangunan di sana seperti sebuah Kastil kuno. Banyak orang antri di luar pintu seraya membawa sebuah kertas yang telah mereka tulis.
Sandra selalu berjalan bersama Tony di sisinya. Tony menunjukkan barcode miliknya, dan User robot level B mempersilakan keduanya masuk.
Jantung Sandra berdebar, saat melihat orang-orang yang mengantri meliriknya tajam seakan berkata jika dirinya menyerobot antrian.
"Oh, kau Captain Tony. Benar 'kan?" sapa seorang pria kulit hitam dengan pakaian militer berwarna hitam loreng. Tony menyambut jabat tangan itu, begitupula Sandra. Pria itu menatap Sandra lekat dari atas sampai bawah tanpa senyuman. "Ada perlu apa ke Distrik ini?"
"Aku ingin menunjukkan pada kawanku kehidupan di Distrik ini. Namun lebih tepatnya, isteri mendiang Captain Rey. Sandra," jawab Tony mengenalkan Sandra dengan kode mata.
"Oh, kau isteri Rey? Ah, maaf, aku tak tahu," sahut pria itu lalu mengajak Sandra berjabat tangan. Sandra balas menyambut dengan senyum terkembang.
"Sandra, ini Komandan Ego, dan Ego ini Sandra," sambung Tony mengenalkan. Keduanya pun saling tersenyum dengan anggukan.
"Baiklah. Kau bisa duduk di balik dinding kaca hitam itu. Huff, hari ini sungguh melelahkan. Semakin banyak yang mendaftar. Namun sepertinya, banyak juga yang akan keluar dari Great Ruler. Petugas kami mendata, ada sekitar 537 calon yang akan dikeluarkan dari Distrik. Orang-orang yang mengantri ini, akan menggantikan para penghuni Great Ruler yang tak lagi produktif," ucap Ego seraya menunjuk barisan manusia yang terlihat serius saat menonton tayangan dari sebuah monitor besar tentang kehidupan di dalam Great Ruler. Mereka terlihat antusias dan berharap bisa tinggal di sana.
Sandra langsung teringat akan keluarga Otka. Ia sangat khawatir jika Otka dan keluarganya akan di usir dari Great Ruler.
Mereka akan hidup di luar gerbang yang konon katanya banyak makhluk buas menyerang serta ancaman lainnya. Baginya, Distrik 10 sudah buruk, apalagi kehidupan di luar gerbang.
__ADS_1
"Sandra? Sandra? Kau tak apa?" panggil Tony mengejutkan wanita cantik itu. Sandra tersenyum dengan anggukan.
"Hei, kalian basah. Pakailah baju ganti militer. Ambil saja di loker. Kami memiliki banyak. Jangan beli di sini, kualitas dagangan mereka sangat buruk," terang Ego dan Tony mengangguk berterima kasih.
Tony mengajak Sandra ke loker setelah mendapat arahan dari Komandan Ego. Sandra mengganti pakaiannya dengan setelan militer berwarna hitam dengan motif loreng, lengkap dengan topi serta sepatu boots.
"Wow, kau terlihat keren," puji Tony saat Sandra keluar dari kamar mandi wanita.
"Oh, thank you. Baju ini nyaman," jawabnya seraya memakai lapisan jaket kain bermotif serupa dengan celana lorengnya.
"Ayo, kita lihat teknis seleksi. Sudah lama sekali aku tak ke sini sejak ... mm, kematian Rey. Maaf, jika menyinggung hal itu," ucap Tony merasa bersalah, dan sudah tak merangkul pundak Sandra lagi. Sandra hanya tersenyum dan terlihat tak mempermasalahkan hal tersebut.
Tony dan Sandra duduk di sebuah bangku kayu. Sandra melihat perabotan di ruangan itu semuanya model kuno. Bahkan, sistem seleksi juga terkesan manual. Saat pendataan menggunakan scan wajah, pengenal suara, kornea mata, dan tes darah.
Sandra mengamati dengan cermat proses seleksi itu. Hingga matanya tertuju pada seorang pria bertindik yang sekilas mirip dengan sosok di mimpinya. Mata Sandra terkunci pada pria itu, dan Tony menyadarinya.
"Kenapa? Kau kenal?"
Sandra menggeleng. "Mirip. Aneh memang. Pria itu mirip dengan sosok yang ada di mimpiku," jawabnya meringis. Tony hanya mengangguk-anggukan kepala dengan senyuman melengkung ke atas.
Sandra kembali fokus. Ia melihat pria itu menyerahkan formulir kepada petugas manusia yang mengecek isi dari kertas yang sudah diisi.
Pria berambut hitam dengan poni samping, berjalan mengikuti rute antrian menuju ke sebuah bingkai pintu dengan robot level E berjaga di samping alat berwarna hitam. Terang lampu warna hijau menyala mengelilingi bingkai tersebut.
Pria itu memberikan lembar formulir kepada petugas yang duduk di samping bingkai sebelum memasuki pintu tersebut. Pria bertindik merentangkan tangan dan berdiri di bawah lengkungan pintu tersebut.
Sandra melihat lampu indikator berubah menjadi biru. Petugas mempersilakan pria itu melanjutkan ke rute antrian selanjutnya.
"Apa fungsi dari bingkai itu?" tanya Sandra menoleh ke arah kawannya.
"Oh. Itu untuk mendeteksi, apakah dia menyimpan senjata tajam, bom, senjata api dan sebagainya dalam tubuhnya. Orang itu dinyatakan aman karena lampu indikator berwarna biru. Namun, jika berwarna merah dan suara alarm terdengar, orang itu dianggap berbahaya dan ancaman," tegas Tony. Sandra mengangguk paham.
Matanya kembali tertuju pada sosok itu. Ia melihat pria bertindik masuk ke sebuah box transparant dan berdiri di sana. Ia mengenakan headphone tanpa kabel dan memandangi layar 14 inch di hadapannya.
"Nah, pria itu sekarang sedang diberikan soal tes. Mm, kalau tidak salah, ada 50 soal dengan maksimal waktu menjawab adalah 15 menit. Ia bisa masuk atau tidak ke Great Ruler, tergantung dari jawaban yang diberikan. Sistem akan menilai dan memutuskan dia lulus atau tidak," ucap Tony menunjuk pria bertindik yang sedari tadi dipandangi Sandra.
__ADS_1
Namun, setelah 15 menit berlalu, pria itu seperti mengamuk. Ia melepaskan headphone itu dengan kasar dan membantingnya. Ia terlihat marah dengan menunjuk layar di hadapannya.
Robot level E segera mendatangi box tersebut dan mengeluarkan pria bertindik dengan paksa. Pria itu memberontak dan malah menendang box hingga bergetar hebat, tapi tak menjatuhkan atau membuatnya rusak.
"Well, begitulah. Salah satu sifat manusia ketika dirinya kalah dan merasa tak adil. Namun, inilah hidup, Sandra. Sulit dan penuh kompetisi. Semoga, setelah kau melihat kejadian ini, kau bersungguh-sungguh mencapai impianmu menjadi User," ucap Tony tegas, dan Sandra mengangguk pelan. "Oke, kita pulang. Sudah cukup melihat di tempat ini. Aku tak mau isi pikiranmu terkontaminasi. Nanti Rey akan datang ke mimpiku dan mencekikku," sambungnya bergidik ngeri, tapi Sandra malah terkekeh.
Tony hanya membalas dengan senyuman. Sandra mulai merasa jika Tony sudah bisa membatasi diri dan kembali seperti pria yang ia kenal dulu. Tak pernah ada ucapan tentang keinginannya untuk memadu kasih.
Ego memberikan setelan itu sebagai aksesoris selamat datang ke Distrik 10, dan Sandra berjanji akan menyimpannya.
"Aku belum bisa memastikan kapan bisa mengajakmu latihan lagi. Jadwalku sungguh padat, maaf. Namun, aku pinjamkan gelang pemberat itu untuk membantumu berlatih. Sempatkan waktumu untuk berlatih fisik, Sandra. Jujur, kau ... masih lemah. Berusahalah lebih maksimal. Kau harus paksa dirimu," tegasnya seraya memberikan tasnya.
Sandra menerima tas milik Tony tersebut dengan ucapan terima kasih. Tony kembali ke rumahnya dan Sandra masuk ke kediamannya.
Malam itu, Sandra sibuk membongkar isi tas Tony untuk melihat apa saja benda-benda yang ia katakan bisa digunakan untuk berlatih.
Ternyata, tak hanya gelang pemberat yang disebut Ons. Terdapat juga detektor oksigen yang disebut O2, dan tablet pengendali.
Ada banyak benda lainnya yang tak pernah ia lihat sebelumnya, dan Tony memberikan catatan dalam sebuah buku kecil tentang penggunaan alat-alat itu.
"Jangan tertawa jika tulisanku tak bisa dibaca. Aku menemukan buku ini di salah satu kotak mainanku ketika kecil. Sepertinya, itu milik ibuku. Semoga catatanku bisa membantu. Maaf, kau harus berlatih tanpaku, Sandra. Semoga kau berhasil dan kita bisa berjuang bersama. Tony."
Senyum Sandra terkembang. Ia duduk di lantai seraya membuka lembar demi lembar buku kecil dengan tulisan Tony seperti terseret ombak.
Ia menyusun alat-alat yang Tony bawakan seraya menyamakan dengan tulisan pada buku catatan. Sandra membacanya seraya mencoba fungsi dari alat-alat itu dengan hati-hati.
SINGG!!
"Wow!"
Sebuah pedang tajam muncul dari gagang yang ia pegang berbentuk sebuah tongkat dari karet tebal. Ia bisa melihat kilau dari pedang itu seperti cermin. Sandra mengamati bilah pedang itu seksama yang wajahnya terpantul di sana.
"Indah sekali," ucapnya kagum. Ia kembali menekan tombol hitam yang senada dengan gagang tersebut dan bilah pedang itu kembali masuk ke dalam gagang. Sandra meletakkannya kembali dengan hati-hati. Senyumnya merekah saat melihat masih ada empat buah benda yang belum ia coba kemampuannya. "Ini sungguh keren."
***
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya. Simulation menang lomba dan juara 6. Horeee🎉