
Mutan serigala itu mengerang saat tubuhnya tertusuk dari duri tajam di kepala Morlan. Orang-orang bergidik ngeri karena sosok Morlan menjadi terlihat mengerikan dengan wujud mutannya.
Napas Matteo tersengal ketika ayahnya berubah seperti monster dan membunuh mutan serigala itu keji dengan merobek tubuh lawannya hingga seluruh isi organnya berceceran di lantai.
“Harrrggg!” erang Morlan menyuarakan kemenangannya, tetapi para manusia yang melihat di ruangan itu malah bergidik ngeri. “Hempf, hempf,” dengkusnya saat mendatangi Matteo yang terlihat takut akan sosoknya. Matteo merangkak mundur hingga terpepet tembok seraya memalingkan wajah dengan mata terpejam. “Get up! Dan selesaikan!” ucapnya garang, dan Matteo mengangguk meski masih terlihat takut.
“Dad,” panggil Matteo seraya duduk perlahan. Langkah Morlan terhenti saat ia hendak keluar dari ruang kendali. “Terima kasih.”
“Aku akan menjaga tempat ini. Bergegaslah,” jawab Morlan, dan Matteo kembali berdiri.
Xili dan lainnya keluar dari ruangan lalu kembali ke bangku masing-masing. Morlan sungguh melaksanakan tugasnya untuk menebus dosa. Ia melawan para mutan yang berusaha untuk menerobos lantai tempat Sandra berada.
Matteo terlihat bekerja keras untuk memperbaiki robotnya yang rusak karena serangan mutan serigala dan hampir menewaskannya.
Sedang di tempat Sandra berada. Ia merangkak karena tak bisa menggerakkan kedua kaki yang rusak dan seperti mengalami konsleting.
Sandra bisa mendengar suara ledakan bersahut-sahutan di kejauhan di mana ia yakin jika perang belum usai. Hingga tiba-tiba, ia melihat sosok yang dikenalinya. Seketika, senyumnya terkembang.
“Kak Sandra!” panggil Yaz berjalan dengan tergesa mendatanginya.
Tanpa banyak bicara, Yaz mengangkat tubuh bagian atas robot itu dan menariknya dari wilayah tambang. Yaz berusaha keras untuk membawanya keluar dari tempat itu. Namun tiba-tiba ….
BUAKK!! BRUKK!!
“Yaz!” teriak Sandra lantang saat robotnya kembali terjatuh karena Yaz dipukul dari samping dan membuat remaja itu mengerang kesakitan.
Sandra melihat Gobi muncul dengan sebuah pemukul terbuat dari besi dalam genggamannya.
Sandra mendongak dan terlihat begitu marah pada pria yang telah membohonginya.
“Aggg!” erang Sandra saat kepala robotnya ditekan kuat dengan injakan kaki pria tua tersebut sembari menghisap rokok.
“Sesuai janjimu. Aku akan datang untuk meminta balas budi. Dan inilah, harga yang harus kau bayar, Sandra Salvarian. Sampai jumpa di nera—”
DOR! BRUK!
Sandra menoleh dan mendapati Roves menembak Gobi tepat di kepala menggunakan senapan berpeluru dalam genggamannya.
Yaz terkekeh dan memberikan jempolnya karena sang ayah terlihat tangguh meski ia pensiunan User robot level E.
“Waktu kita tak banyak. Yaz, bantu Ayah!” pinta Roves, dan Yaz segera bangun seraya memegangi lengan kanannya yang sakit karena pukulan besi Gobi.
Robot Sandra dibopong dan dibawa ke sebuah motor di mana Laksamana Joe telah siap di kemudi.
“Pegangan Sandra. Kita harus cepat!” ucapnya lantang.
Sandra mengangguk mantap. Ia berpegangan kuat pada perut Laksamana. Motor itu melaju kencang melewati mayat-mayat yang bergelimpangan di tiap sudut jalan.
Sandra terlihat begitu sedih karena para User robot level E dan D tewas untuk mempertahankan Great Ruler.
“Laksamana Joe berhasil mendapatkan robot Sandra! Kita harus menjemputnya!” ucap Xili lantang dari kamera SpiderBot di perbatasan Distrik 8 dan 9.
“Serahkan padaku. Akan kubawa robot itu kemari,” sahut Matteo telah bersiap.
“Hati-hati, Matteo,” pinta Lala cemas dan sang Jenderal mengangguk.
Matteo segera bergegas keluar dari ruang kendali melewati jalan lain. Ia menggunakan lift khusus yang langsung menembus ke lantai dasar di bagian terluar gedung.
“Laksamana Joe! Kau mendengarku?” panggil Matteo seraya berlari mendekati dinding pembatas.
“Yes, Jenderal. Anda di mana?” tanya Joe lantang.
“Laksamana! Kau lihat sinar merah di balik tembok?” tanya Matteo yang mengarahkan sinar lasernya ke langit.
“Ya! Ya!”
“Lemparkan robot Sandra. Waktu kita terbatas jika harus bertemu di gerbang perbatasan.”
__ADS_1
“Aku mengerti, bersiaplah!” jawab Laksamana Joe lantang dan terus melaju kencang motor tersebut di mana pertempuran masih berlangsung. Matteo menunggu di balik dinding dengan sinar merah terus diarahkan ke atas. “Jenderal!” serunya.
“Purple! Sayap!”
“Sayap diaktifkan.”
Matteo menggunakan sayap di punggungnya yang memiliki pendorong untuk terbang ke balik dinding.
Matteo melihat Joe menembakkan senapan lasernya saat seekor mutan macan berlari ke arahnya. Matteo dengan sigap mendarat dan mengambil tubuh robot Sandra.
“Pergilah, aku bisa mengatasinya. Cepat!” perintah Joe lantang.
Dengan berat hati, Matteo kembali terbang dengan robot Sandra dalam dekapannya. Matteo melihat Laksamana tersebut kembali mengendarai motor, meski mutan macan berbulu hitam itu mengejarnya.
Matteo memeluk robot level A erat. Sandra menatap robot yang membawanya terbang melintasi Distrik 9 yang porak-poranda karena serangan mutan. Tubuh robot Sandra dibopong memasuki sebuah lift.
“Jenderal?” tanya Sandra memanggil dan kepala robot yang bagi Sandra mirip Spectra itu balas memandangnya.
“Bertahanlah, sedikit lagi,” jawabnya menenangkan.
Jantung Sandra berdebar saat robot yang membawanya berlari kencang membopongnya. Sandra melihat koridor yang dilewatinya telah bergelimpangan para mutan dan User robot level E yang tewas mengenaskan bersimbah darah. Sandra memejamkan mata dan memeluk Matteo erat.
“Xili!” panggil Matteo saat ia berhasil masuk ke dalam pusat kendali.
“Oh! Dia berhasil!” jawab Lala gembira. Sandra melihat dirinya di sisi lain dan matanya saling beradu dengan robot yang digunakannya.
Senyum Sandra terkembang. Saat Matteo berlari kencang membopongnya menuju ke ruang simulasi, tiba-tiba, “Harrghhh!”
“Matteo!” pekik Lala lantang saat seekor mutan macan menerkamnya dari belakang dan menggigit pundaknya. Matteo jatuh tengkurap dan robot Sandra terlempar ke dinding kaca.
“Arrghhh!” rintih Matteo karena gigi besi mutan itu meremukkan Purple. “Selesaikan! Cepat! Aggg!” erang Matteo yang berusaha untuk melepaskan diri dari gigitan mematikan itu.
Lala dengan sigap menarik tubuh robot Sandra dan membawanya masuk ke ruang simulasi. Para petugas membantu Lala untuk mengangkat robot tersebut. Sandra melihat tubuhnya tepat di hadapannya.
Xili dan Bablo memegangi robot Sandra. Lala meletakkan kedua telapak tangan robot level A tersebut ke papan pemindai.
Seketika, Rey kembali muncul di ruang simulasi. Robot Sandra menoleh saat sosok itu menatapnya saksama.
“Sampai jumpa, Rey. Terima kasih,” jawab Sandra sedih.
Seketika, robot level A tersebut padam. Simulasi yang terhubung dengan raga Sandra di non-aktifkan. Lala langsung memeluk Sandra erat.
Sandra terlihat begitu lega. Ia turun dari lingkaran simulasi dan mendekati hologram Rey yang kembali berubah wujud menjadi Mola. Komputer pintar itu tersenyum kepada semua orang.
“Mola. Bangunkan semua User robot level B. Now!” perintah Lala.
“Sure, Mom.”
Di ruang simulasi tempat 1000 User robot level B mengalami hypersleep.
“Hah! Hah!” engah Komandan Akira dan Ego serta lainnya saat mereka tiba-tiba dibangunkan dalam keadaan seperti orang terkejut.
“Oh! Akira! Ego! Kalian sudah sadar! Yeah Sandra berhasil!” teriak Tony lantang.
“Apa yang terjadi?” tanya Akira bingung karena ia masih berada di ruang simulasi.
“Ceritanya panjang, dan sebaiknya, kita segera bertindak. Mutan memasuki Great Ruler, dan jika kita tidak cepat, Great Ruler akan jatuh,” tegas Tony yang mengejutkan semua User di ruang simulasi tersebut.
“Mola! Aktifkan kami!” perintah Tony seraya melepaskan atribut robot level E dan berjalan gagah menuju ke ruang simulasinya.
Para petugas segera memasangkan pin ditubuh Tony agar ia bisa ikut serta menjadi pasukan robot.
“Robot level B diaktifkan. Dalam hitungan mundur. 10 … 9 … 8 … 7 … 6 … 5 … 4 … 3 … 2 … 1, go!”
Robot level B yang berada ruang penyimpanan aktif. Qiyo, Gora, Nega, Woly dan Zua terkejut saat robot itu bergerak.
“Yeah! Sandra berhasil!” teriak Woly gembira dan lima wanita tangguh itu saling berpelukan.
“Serahkan pada kami, Nyonya-nyonya,” ucap Tony di dalam salah satu robot saat mendekati lima wanita itu.
__ADS_1
“Hajar mereka, Tony,” ucap Nega dengan kepalan tangan mengajak tos dan Tony menyambutnya.
“Semuanya! Habisi semua mutan! Serang!” teriak Tony lantang begitu pintu di depan mereka terbuka lebar dan terlihat mutan-mutan tersebut berkumpul di sana setelah berhasil menjatuhkan robot level D yang menjaga tempat itu.
Ribuan robot level B dengan sigap menebas para mutan tersebut. Para mutan dibuat tak berkutik karena para User kebanggan Great Ruler kini melawan mereka dengan gagah berani, beramunisi penuh, dan gesit.
Para mutan mati satu per satu setelah kepala mereka terpenggal karena sabetan pedang laser, tertembus pelindung duri yang dialiri laser, tersengat hingga kering dan hangus, serta kepala remuk karena injakan kaki robot.
Sorak-sorai kegembiraan mulai terdengar usai Yaz dan Roves berhasil mengembalikan daya dari generator cadangan setelah dibantu oleh Vemo yang ternyata memiliki kemampuan sebagai teknisi.
Lampu di seluruh Distrik kembali menyala. Bunker kembali terang dan para warga kini bisa menyaksikan tayangan langsung dari kamera pengawas yang menyorot pertempuran sengit di seluruh Distrik saat ribuan robot melawan puluhan mutan yang tersisa.
Sedang di pusat kendali tempat Sandra dan lainnya berada. Matteo berusaha mati-matian untuk melawan mutan macan yang berusaha untuk membunuhnya.
Seluruh pakaian pelindung robotnya telah hancur terkena cabikan dari kuku tajam mutan tersebut.
“Matteo!” teriak Lala panik karena tak ada persenjataan di tempat itu yang bisa digunakan. Semua orang kebingungan.
“Oh! Aktifkan aku lagi. Robotku masih bisa melakukannya, tapi aku butuh bantuan kalian. Jadilah kakiku,” pinta Sandra menepuk pundak Rhyz dan Wego. Dua pria itu mengangguk mantap.
Saat Sandra telah kembali online dan robotnya dibopong oleh dua pemuda itu, tiba-tiba saja, mereka merasa seperti ada yang mendorong dari belakang, tetapi tak terlihat. Sandra fokus dengan sasarannya.
“Mola! Aktifkan pedang laser!” perintahnya lantang.
“Pedang laser diaktifkan!”
“Maju! Jangan takut!” seru Sandra lantang.
“Arrggg!” erang Wego dan Rhyz, tetapi entah bagaimana, mutan macan itu seperti tak menyadari keberadaan mereka.
Makhluk itu fokus mencabik tubuh robot Matteo di mana sang Jenderal mulai kewalahan karena sudah kehabisan amunisi untuk melawan.
Tiba-tiba, “Hooorrrgghhh!”
Mata Matteo terbelalak saat mutan macan itu tiba-tiba mengerang. Lalu tiba-tiba, kepalanya terpenggal begitu saja.
“Woahhh!” teriak Matteo dengan mata membeliak saat melihat wujud Wego, Rhyz, robot Sandra dan Bablo muncul di hadapannya.
“Kau kenapa kaget begitu, Jenderal?”
“Ka-kalian tadi ….”
Di belakang, Bablo meletakkan telunjuknya di depan bibir, dan Matteo mengangguk paham. Ia baru sadar jika Bablo menggunakan kekuatan dari sukunya untuk menghilang.
Robot Sandra digeletakkan di atas lantai samping Matteo berada. Sang Jenderal menatap robot itu sendu, lalu tiba-tiba saja mencium wajahnya.
“Oh! Jadi … kau memilih robot itu, ketimbang User-nya?” tanya Sandra mendadak muncul dengan kening berkerut terlihat kesal.
Lala menahan tawa begitu pula yang lain karena wajah Matteo seperti orang kebingungan. Sandra berjongkok dan mendekat.
Ia memegang wajah Matteo di mana sang Jenderal terlihat berantakan karena usahanya untuk mengalahkan sang macan mutan tidak berhasil.
“Bagaimana jika aku mengatakan … aku mencintaimu, Jenderal.”
Seketika, mata Matteo melebar. Ia langsung memeluk Sandra erat dengan pandangan tak menentu.
Semua orang bertepuk tangan karena Sandra akhirnya bisa memaafkan pria yang selama ini dibencinya karena dituduh telah membunuh suami yang dicintainya, Rey.
Matteo melepaskan pelukan dan mencium Sandra penuh kasih dengan mata terpejam. Sandra tersenyum terlihat begitu bahagia.
Ternyata, hal itu disiarkan oleh Xili ke seluruh Distrik. Orang-orang menyambut gembira atas dua insan yang pada akhirnya saling mengakui perasaan masing-masing.
Tony tertunduk di tempatnya berdiri usai menyelesaikan tugasnya sebagai Captain User robot level B. Akira dan Ego mendatangi robot Tony lalu merangkulnya dari samping.
“Sudahlah, Tony. Cinta itu … tak bisa dipaksakan. Setidaknya, aku akan menemanimu sebagai lelaki bujang dalam jajaran Captain,” ucap Ego, tetapi membuat Tony mendesis.
Akhirnya, peperangan di Great Ruler telah usai. Roman memerintahkan kepada semua pemimpin di seluruh Distrik untuk membuka pelindung setelah Great Ruler dinyatakan aman.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE