SIMULATION

SIMULATION
NEVER GIVE UP!


__ADS_3

Ego menyampaikan rasa sedih Sandra kepada Eliz melalui pesan elektronik. Selama Sandra dalam masa pelatihan, ia tak diizinkan untuk menelepon, mengirim pesan, dikunjungi, atau bahkan pulang ke rumah. Ia harus menjalani pelatihan sampai waktu yang ditentukan oleh Departemen Militer selesai.


Matteo yang telah membuat janji makan malam dengan Sandra pun tak bisa membuat alasan kepada Ego untuk mengajak wanita berambut pirang itu pergi dengannya.


Pelatihan Sandra cukup berat. Ia tak menggunakan simulasi robot karena belum dianggap menjadi seorang User.


Sandra menjalani berbagai jenis pelatihan fisik, mental, dan fokus yang membuatnya menghabiskan banyak energi setiap harinya.


"Jangan karena kau dilindungi oleh pakaian tempur lapis baja dari robot, fisikmu jadi lemah! Robot itu tak bisa bergerak sendiri jika tak kau kendalikan. Kuatkan ototmu! Staminamu akan dihajar habis-habisan dalam pertarungan, bahkan tak ada waktu untuk makan, minum, apalagi tidur!" seru Ego lantang di mana pelatihan yang diberikan olehnya lebih kejam ketimbang Tony.


Sandra diminta berlari berkeliling di dalam kolam renang tempat ia pernah menjalani tes. Kedua kakinya dipasangi gelang pemberat sehingga telapak kakinya tetap berada di dasar akuarium.


Setiap hari, pasti ada penonton yang melihat pelatihan Sandra karena terlihat menarik dan ia satu-satunya calon User wanita non-akademik militer.


Sandra mengenakan seragam khusus berwarna biru seperti pakaian renang. Sebuah detektor oksigen terpasang di dadanya. Ia berada dalam kedalaman 5 meter sebelum akhirnya nanti bertambah per lima meter saat ia lulus.


Dasar kolam bisa diatur hingga menjadi empat tingkatan. Lima meter, 10 meter, 15 meter, dan terakhir 20 meter. Sandra masih memiliki tanggungan 3 level untuk lolos dalam pelatihan pengendalian gravitasi.


"Kita tak pernah tahu hal buruk di luar sana saat perang sungguh terjadi. Kemungkinan robot bisa rusak karena serangan musuh adalah hal yang sangat mungkin! Ingatlah kejadian ketika Great Ruler diserang oleh pasukan dari Serbia dan Rusia. Serangan mutan baru-baru ini di Distrik 10. Akira yang begitu tangguh saja bisa terluka, apalagi kau, kandidat yang masih jauh dari kategori sebagai seorang User!" ucapnya lantang dari kursi roda yang suaranya terdengar di dalam air karena terdapat pengeras suara yang menyuarakan sindirannya.


Hati Sandra membara karena merasa diremehkan walaupun ucapan menyakitkan itu berasal dari Ego, pria yang ia kenal.


Sandra menguatkan mental dan fisiknya. Ia ingin membuktikan jika dirinya mampu dan sangat layak untuk menjadi User.


Hingga akhirnya, langkah Sandra yang awalnya lemah seperti orang berjalan, akhirnya bisa berlari, meski terlihat lambat.


Senyum Ego terpancar, ia terlihat bangga karena Sandra bisa menahan sakit hatinya agar bisa menyelesaikan latihan level 1 itu.


"Come on! Sedikit lagi! Kuatkan otot kakimu dan fokus dengan tujuan akhirmu!" teriak Ego menyemangati berikut semua orang yang menonton di balik dinding kaca akuarium super besar itu dengan sorakan dukungan.


Sandra mengerang hingga gelembung udara keluar dari mulutnya saat ia bersusah-payah mendekati sebuah tombol merah yang jaraknya tinggal dua meter lagi.


Mata semua orang melebar karena detektor oksigen mulai berbunyi nyaring dan menyala merah.


TET!


"Yeah!" teriak orang-orang dengan suara riuh saat Sandra berhasil menekan tombol dan membuat gelang pemberatnya lepas. Ia menekan detektor oksigen di dadanya, dan seketika, BLUP!


Seragam yang dikenakannya menggelembung seperti pelampung. Tubuh Sandra melayang ke permukaan.


Robot menjepit yang bersiap di atap ruangan tersebut bergerak. Sebuah pencapit terjulur turun seperti sebuah box permainan mengambil boneka di wahana permainan. Alat itu mengangkat tubuh Sandra dari air dan meletakkannya di pinggir kolam.

__ADS_1


PESSS!


Seragam itu kempes dan kembali ke bentuk semula, meski membutuhkan waktu. Sandra terlihat lelah dan wajahnya pucat karena kehabisan oksigen. Ego mendekat bersama Matteo Corza yang ikut melihat pelatihan hari itu.


"Sepertinya, Otka butuh makan siang. Ayo, aku traktir," ucap Matteo santai.


"Maaf, Jenderal. Sikap Anda bisa menimbulkan kecemburuan bagi para kandidat lain. Otka tetap akan makan di kantin pelatihan. Dan dia, akan makan siang dengan saya. Terima kasih atas tawarannya, dan saya selaku mentor pengganti Tony, dengan berat hati menolak tawaran Anda," ucap Ego sopan, tapi menohok sang Jenderal.


Sandra memalingkan wajah menahan senyum. Matteo berwajah masam dan memilih untuk pergi dari tempat tersebut. Ego menatap Sandra yang duduk dengan kaki ia luruskan di pinggir kolam.


"Kau bisa membuatnya pergi. Itu keren," ucap Sandra berkesan memuji.


"Lebih mudah menolak seorang pria daripada wanita. Jika yang mengajakmu makan Wapres Lala, atau Sora, mungkin akan aku izinkan," ucapnya santai, tapi membuat Sandra terkekeh pelan. "Ayo, kita istirahat makan siang, lalu lanjutkan ke level selanjutnya. 10 meter."


Sandra mengerucutkan bibir seraya menoleh ke arah genangan air yang siap menyambutnya untuk level kedua.


Sandra bangun dan berjalan di samping Ego yang mengendarai kursi roda elektrik karena kakinya terluka.


Selama dalam didikan dan pengawasan Ego, Sandra lebih fokus dalam menjalani pelatihan beratnya. Ia merasa tak tertekan seperti ketika dilatih oleh Tony yang memiliki perasaan padanya.


Di minggu terakhir pelatihan, Tony datang berkunjung setelah Akira dinyatakan melewati masa krisis dan keadaannya mulai membaik meski masih di rawat secara intensif di Rumah Sakit.


Malam itu.


"Hampir. Mereka bertanya, kenapa aku dan Akira ke Distrik 10 tanpa menggunakan robot? Aku katakan saja, jika barangku ada yang tertinggal di sana berupa gelang pemberat, detektor oksigen dan pengendali yang aku masukkan dalam koper. Aku tak bisa memanipulasi rekaman kamera pengawas karena memang itulah yang terlihat meski sebenarnya bukan," jawab Tony seraya melirik Sandra berwajah sebal.


Wanita berambut pirang itu meringis merasa bersalah. Ego tersenyum tipis.


"Lalu, pejabat tak curiga, karena kopermu di bawa oleh mutan terbang tersebut?" tanya Ego yang duduk di seberang kawan seprofesinya.


"Ya, mereka juga mencurigai hal tersebut. Aku jawab saja dengan dalih, mutan itu sepertinya menginginkan benda-benda yang dimiliki isi koperku untuk sesuatu. Aku juga mengatakan jika mutan terbang itu seperti dikendalikan. Aku bisa melihat ada benda berkedip di bagian tempurung kepalanya. Lalu bagian penyidik membenarkan perkataanku dari temuan bangkai mutan sebelumnya yang berhasil dibedah dan ditemukan alat serupa. Alat itu dites, dan ternyata sebuah pengendali jarak jauh yang memiliki serabut halus. Alat itu menyatu dengan sistem syaraf otak hewan tersebut. Jika dicabut paksa, hewan itu akan tewas. Jadi, alat itu dihancurkan oleh tim penyidik karena khawatir jika alat tersebut memiliki fungsi lain," jawab Tony terlihat tegang.


"Morlan sudah gila. Ia sepertinya sungguh ingin merebut Great Ruler lalu menguasainya. Yang kutakutkan, kita akan dijadikan budak olehnya, dan militer kita digantikan oleh mutan-mutan tak bernaluri itu," sahut Ego yang membuat Sandra dan Tony pucat karena membayangkan kengerian tersebut jika sungguh terjadi.


"Aku harus berhasil menjadi User. Aku harus temukan Vemo untuk mengetahui alasan ia diculik. Aku berasumsi, jika Morlan seperti ingin menggunakan barcode tersebut untuk membawa pasukannya ke dalam Great Ruler tanpa membunyikan alarm karena diidentifikasi sebagai penduduk. Itu akan sangat berbahaya. Negara kita akan disusupi oleh orang yang tahu seluk-beluk Great Ruler," ucap Sandra menggebu.


"Ya. Aku juga sempat berpikir demikian. Morlan dan tim ilmuwan bidang Sains Biologi akan kembali lalu menyusup ke dalam entah dari Distrik mana. Aku akan coba meneruskan dugaan ini kepada pejabat yang berwenang," ungkap Tony serius, dan diangguki oleh Ego dan Sandra.


"Jangan khawatirkan Sandra. Percaya saja padaku. Ia pasti bisa melalui pelatihannya dalam bimbinganku," ucap Ego tenang, tapi berkesan sombong bagi Tony. Sandra menahan senyum.


"Baiklah. Kalau begitu, aku pamit dulu. Aku sungguh lelah. Eliz sepertinya terpukul dengan kejadian ini saat melihat Akira terluka dan kehilangan banyak darah. Akira baru bisa diajak bicara hari ini. Sebelumnya, ia seperti orang mengigau. Aku ... bisa mengerti penderitaanmu saat Rey pergi, Sandra. Kehilangan itu lebih berat karena orang yang kita sayangi sungguh tak ada di sisi kita, meski hanya sekedar untuk dilihat, atau bahkan disentuh," ucap Tony tiba-tiba berwajah sendu.

__ADS_1


Sandra ikut terdiam dengan wajah tertunduk. Ego memilih diam dan ikut pergi bersama Tony untuk memberikan waktu bagi Sandra untuk beristirahat. Dua orang itu akhirnya pulang ke rumah masing-masing.


Saat Sandra sudah bersiap untuk memejamkan mata, Eco—asisten ruangan—membuatnya kembali membuka mata karena tamu keras kepala memaksa untuk bertemu.


"Jika tak mengingat kau orang yang sama dengan Blue, sudah kuremukkan kepalamu," ucapnya geram seraya bangun dari tempat tidur.


PIP!


"Silakan masuk, Jenderal Matteo Corza," sapa Eco ramah saat membuka pintu, dan pria tampan itu melangkah masuk dengan senyum terkembang.


Sedang Sandra, memasang wajah masam. "Ada perlu apa, Jenderal?"


"Oh. Aku tahu kau pasti lelah dengan latihanmu selama ini. Hanya saja, aku menantikan makan malam kita yang telah direncanakan dan, dijanjikan," ucapnya penuh penekanan di akhir kalimat. Sandra menghembuskan nafas pelan.


"Namun, Anda tahu peraturannya, Jenderal," jawab Sandra malas karena tak habis pikir dengan kengototan sang Jenderal yang tetap memintanya untuk makan malam bersama.


"Oleh karena itu, besok, datanglah ke kamarku," ucapnya dengan senyum terkembang.


"Execuse me?" tanyanya dengan salah satu alis terangkat.


Matteo menelan ludah. "Kamarku memiliki fasilitas lengkap seperti sebuah kamar apartemen. Ada dapur, ruang makan, dan ...," ucapnya menggantung karena Sandra memicingkan mata, seakan menyindir fasilitas miliknya. "Yah, intinya. Aku yang akan memasak. Dan, belum pernah ada yang mengincipi masakanku. Jadi ... kau akan menjadi orang pertama yang kuracuni."


Sandra spontan tersenyum. Matteo terlihat senang karena wajah dingin Sandra berubah menjadi sedikit berseri.


"Jadi, maukah, menjadi ... korban pertamaku besok?" tanya Matteo gugup.


Sandra menatap Matteo lekat. Entah kenapa guyonan aneh tersebut membuat pria bermanik biru di depannya terlihat seperti Blue.


"Baiklah," jawabnya malas.


"Good. Dan, kau tak perlu memakai gaun atau semacamnya karena sudah kupersiapkan di ruanganku. Jika kau memakainya dari sini, kau pasti akan terkena teguran. Aku tak mau uji cobamu gagal karenaku, meski aku bisa membebaskanmu dari hukuman itu dengan wewenangku," jawabnya berkesan sombong, dan Sandra ber-Oh dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Baiklah. Aku ... sudah paham teknis makan malam denganmu. Selamat malam dan sampai jumpa besok, Jenderal," ucap Sandra seperti mengusir karena ia melangkah maju seraya mendorong dada Matteo agar keluar dari kamarnya.


Sang Jenderal keluar kamar dengan langkah mundur terlihat gugup, tapi tak bisa melawan. Sandra meninggalkan senyum paksa saat pintu kamarnya tertutup.


"Wah, aku ... diusir, tapi aku berhasil mengajaknya. Hem, aku memang hebat," ucapnya bangga lalu berjalan meninggalkan kawasan tersebut kembali ke kamarnya dengan senyum terkembang.


***


wah makasih tipsnya😍 lele padamu 💋 panjang nih epsnya smg gak tipo. ngantuk berat sumpah😵

__ADS_1


yg baca marcopolo terpaksa lele pause dulu karena nguber naskah cetak di mana lele target harus selesai hari minggu besok. makasih atas pengertiannya❤️



__ADS_2