SIMULATION

SIMULATION
RISKY DEAL


__ADS_3

Matteo tak habis pikir dengan sikap sang isteri yang malah melibatkan janin dari buah kasihnya.


Matteo meninggalkan Pusat Komando dan menanggalkan pakaian tempur dari gabungan tiga robotnya.


Segera, kesepuluh Walikota Distrik Great Ruler bersama Presiden dan Wakil Presiden mereka berkumpul untuk rapat darurat di Distrik 9 gedung Eco Green.


Lelaki yang disinyalir bernama Benyamin, berjalan dengan penjagaan ketat para User robot level B yang mengawalnya sampai Distrik 9.


Namun, langkah pria itu terhenti ketika melihat lahan subur yang dimiliki Great Ruler. Pria itu terpaku dan terlihat takjub dengan kekayaan alam di Distrik tersebut.


"Apakah hewan-hewan itu nyata? Termasuk pohon dan air jernih ini?" tanya pria itu ke hadapan robot yang menjaga di sampingnya.


"Ya, Tuan Benyamin. Tak mudah menciptakan kesuburan ini. Saya saja tak tahu cara mengolah lahan tandus menjadi subur. Oleh karena itu, hanya para ahli yang bisa. Jika niat Anda memang baik ingin mengembalikan lahan tandus menjadi layak huni, cendikiawan kami siap membantu. Namun, tanpa usaha dari warga negara Bintang, hal itu tak mungkin terealisasi," ucap pria tersebut yang ternyata adalah Roves.


Benyamin mengangguk paham. Benyamin tampak senang saat berada di Distrik 9 yang terlihat begitu subur dengan flora dan faunanya.


Hingga akhirnya, ia tiba di ruang rapat di mana banyak orang telah duduk menunggunya.


Mata Benyamin terfokus pada sosok Sandra Salvarian yang mencuri perhatiannya. Benyamin mendatangi wanita cantik yang tengah mengandung tersebut dan menyalaminya.


"Anda ternyata lebih cantik dari yang terlihat di hologram, Nyonya Sandra Salvarian," ucap Benyamin sopan dan Sandra membalasnya dengan senyum terkembang.


"Silakan," ucap Sandra mempersilakan duduk.


Saat Benyamin akan duduk, ia terkejut ketika kursi tersebut mundur dengan sendirinya dan bisa melayang di udara.


Benyamin tampak canggung dan merasa seperti ketinggalan zaman karena teknologi yang Great Ruler miliki.


"Dulu aku juga sepertimu, Tuan Benyamin. Banyak hal yang membuatku terkejut saat aku akhirnya bergabung dengan pemerintahan. Aku dulunya warga sipil dan hanya pekerja tambang. Silakan, tak perlu malu dan sungkan," ucap Sandra sopan dan berdiri untuk membantu Benyamin agar tak merasa terintimidasi di ruangan besar tersebut.


Benyamin tersenyum dan akhirnya duduk meski terlihat canggung. Semua orang menatap Sandra saksama yang menjamu tamu dengan baik padahal pria tersebut adalah musuh bebuyutan.

__ADS_1


"Apakah Anda pengganti Morlan dan Roman?" tanya Benyamin menyipitkan mata.


Sandra menggeleng dan menunjuk pria tampan di sebelahnya.


"Saya hanya Wakil Presiden," jawab Sandra sopan.


Matteo merasa posisinya seperti tak diakui secara tak langsung. Benyamin mengangguk dan memberikan salam dengan anggukan kepada Matteo Corza. Sang Presiden balas mengangguk.


"Jadi ... Anda setuju untuk menerima bantuan kami untuk mengembalikan kesuburan tanah di negara Bintang, Tuan Benyamin?" tanya Matteo sopan meski wajahnya tegang.


"Aku sebenarnya datang untuk menagih janji," ucapnya yang membuat semua orang terkejut.


"Janji?" tanya Sandra bingung dan Benyamin mengangguk pelan.


"Aku adalah keturunan dari Benyamin Subroto. Dia dulunya adalah kawan dari Rodega. Salah satu pemimpin Great Ruler pada masanya," jawabnya yang membuat Roman langsung melebarkan mata.


"Anda ... mengenal keluargaku?" tanya Roman hingga berkerut kening.


"Aku tak tahu cerita itu. Aku ... minta maaf," ucap Roman terlihat bersalah.


"Aku cucu Rodega. Aku akan menepati janji yang terabaikan. Atas nama keluarga besarku, Matteo Corza meminta maaf," sahut Matteo terlihat merasa bersalah.


Roman juga melakukan hal yang sama. Benyamin tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Banyamin lalu mengeluarkan sebuah kamera kuno yang bisa melakukan rekaman video.


"Ini adalah bukti Rodega berjanji pada kelompok Bintang kala itu. Rekaman inilah, yang menjadi alasan kami tetap hidup dan bertahan dalam dendam," ucap Benyamin sembari memberikan kamera digital itu.


Lala segera mengambilnya dan menyerahkannya kepada Xili agar bisa ditayangkan isi dari rekaman penting itu. Akhirnya, setelah melakukan berbagai modifikasi, gambar tersebut bisa ditayangkan.


"Aku, Rodega, berjanji akan kembali ke Indonesia begitu menemukan tempat yang layak untuk kita huni. Aku akan pergi bersama orang-orang kepercayaan kita untuk melintasi wilayah. Bertahanlah, dan doakan kami berhasil," ucap Rodega mantap yang bahasanya telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris.


Kepergiannya bahkan disalami dan dipeluk oleh banyak orang. Roman terlihat shock karena tak menyangka jika sang ayah menjanjikan hal penting seperti itu.

__ADS_1


Lalu tayangan berikutnya, adalah saat Rodega menemui kelompok Bintang yang kala itu menunggunya di luar benteng.


"Maaf, kalian tak bisa masuk. Hanya para cendikiawan yang diizinkan tinggal di dalam sini. Pergilah, tempat ini tak bisa menampung kalian. Aku minta maaf dan semoga, kalian menemukan tempat lain untuk dihuni," ucap Rodega yang langsung berpaling begitu saja meninggalkan sekumpulan orang yang menuntut janjinya.


Roman memejamkan matanya rapat termasuk Morlan yang ikut menyaksikan dari sambungan langsung meski ia di Great Mazepita. Semua orang terdiam dan Roman terlihat begitu terpukul usai melihat tayangan tersebut.


"Aku minta maaf. Aku minta maaf," ucap Roman terlihat sedih seperti akan menangis, tapi tetap berusaha tegar.


"Anda tahu, betapa sulitnya kami bertahan di luar sana? Kami mengakuisisi wilayah yang telah dihuni sebelumnya agar kami bisa tinggal dan dekat dengan Great Ruler. Sampai ayahku mati, janji Rodega tak ditepati. Apa salah jika kami menaruh kebencian dan dendam pada Great Ruler?" tanya Benyamin menatap Roman lekat.


"Aku minta maaf. Kesalahan ayahku mengakibatkan dendam tak berkesudahan. Namun, jangan libatkan orang-orang dari Great Ruler atas dendam pribadi ini. Aku selaku keturunan Rodega, akan menebusnya. Pegang janjiku dan esok hari, kita akan pergi ke negara Bintang untuk memperbaiki keadaan agar dendam ini bisa dimaafkan," jawab Roman menatap Benyamin lekat.


Lala terlihat kaget dengan keputusan suaminya, tapi Roman tersenyum manis pada sang isteri.


"Sudah waktunya penebusan dosa, Lala. Ini memang harus dilakukan," ucapanya memberikan pengertian pada sang isteri.


Lala tak sanggup berkata-kata dan hanya bisa tertunduk menangis.


"Jadi, sebagai gantinya, aku yang akan pergi bukan Sandra Salvarian karena ia sedang mengandung. Anda tak setega itu 'kan untuk mengirim seorang wanita hamil untuk bekerja keras di wilayah asing?" tanya Roman seraya tersenyum.


"Tentu saja. Aku tak menyangka jika kau cukup bijak menanggapi hal ini, Roman Rodega. Jika kau berhasil menyuburkan negara Bintang, aku akan sangat berterima kasih dan menganggap, hutang kita lunas," ucap Benyamin seraya mengulurkan tangan mengajak kesepakatan dengan berjabat tangan dan Roman menyambutnya dengan mantap.


Lala membungkam mulutnya terlihat sedih karena harus berpisah dengan suami tercinta akibat janji masa lalu yang belum ditepati oleh Rodega.


"Kita harus memperbaiki sejarah. Kau ahli dibidangnya, Lala. Aku akan pergi dan aku titipkan Great Ruler padamu," ucap Roman memegang tangan sang isteri yang menangis sedih dengan isakan tertahan.


Semua orang merasa pilu karena mantan Presiden mereka harus berkorban.


"Jangan berlagak, Roman. Kau tak tahu apa pun tentang dunia luar. Kau bisa mati karena terkontaminasi dengan wilayah asing. Jadi, aku yang akan berangkat. Minta orang lain untuk menggantikan tugas dan posisiku sebagai Walikota Great Mazepita. Aku akan berangkat esok hari ke negara Bintang. Keputusan mutlak, awas saja membantah. Aku lebih tua darimu dua detik," ucap Morlan lalu menutup panggilan.


Roman tersenyum tips karena tak menyangka jika saudara kembarnya akan menggantikan posisinya.

__ADS_1


__ADS_2