
Saat Curva telah terdesak dan tak lagi memiliki ide untuk melawan gempuran dari kapal selam New-US, tiba-tiba saja, radar menangkap pergerakan dari arah Laut Cina Timur dalam jumlah besar.
"Apa itu?" tanya Curva mengerutkan kening saat melihat sekumpulan kapal selam dengan corak merah terlihat mendekat dari tangkapan kamera di bagian luar badan kapal.
"Itu Mega-US!" seru pria berambut hijau dan memiliki tato dengan warna serupa di wajahnya bernama Artic.
"Yeah!" seru Curva dan disambut sorakan meriah dari para ABK-nya.
Kapal selam Mega-US muncul sebagai bala bantuan untuk membantu melawan New-US.
SWOOSHH!! BUARRR!!
Rudal yang ditujukan untuk kapal ikan pari Titan dari New-US berhasil dihadang oleh luncuran torpedo dari Mega-US.
Perasaan lega menghampiri hati para ABK berseragam biru bagai lautan dalam tersebut karena kematian hampir saja merenggut nyawa mereka.
Jumlah kapal selam Mega-US dua kali lipat dari milik New-US. Rudal melawan rudal. Ledakan hebat membuat gelombang besar dalam lautan yang mengakibatkan kapal ikan pari Titan terpaksa menyingkir agar tak terkena dampak.
"Anda sudah berjuang keras, Tuan Titan. Segeralah ke daratan dan bantu pasukanmu. Mereka membutuhkanmu saat ini," ucap pemimpin penyerangan kapal selam dari kubu Mega-US.
"Terima kasih," jawab Titan mantap di mana suara dari pria yang tak dikenalnya itu terdengar di pusat kendali kapal ikan parinya.
Segera, kelima kapal ikan pari Titan berlabuh di pesisir pantai yang berbatasan dengan Distrik 9 dan 10.
Curva terlihat shock karena banyak mayat bergelimpangan di sana baik dari kubu musuh atau pun kotanya.
Curva membungkam mulutnya rapat karena tak menyangka jika peperangan ini merenggut banyak jiwa dari kaumnya. Hingga matanya tertuju pada sosok yang ia kenal sedang tergeletak merintih kesakitan.
"Siren!" panggil Curva lantang dan wanita berambut hijau itu menoleh dengan wajah pucat.
"Oh, hai. Anda baik-baik saja, Tuan?" tanyanya dengan napas tersengal saat Curva berlari kencang ke arahnya dengan bertelanjang kaki.
__ADS_1
"Kau akan selamat, Siren," ucap Artic dengan segera mengambil salah satu pod yang menempel pada pakaian tempurnya mirip baju selam.
Pod-pot berwarna putih itu menempel di punggungnya dalam jumlah banyak seperti telur.
Artic yang merangkap sebagai tim medis, segera mengobati Siren yang kehilangan banyak darah akibat lukanya.
"Pergilah, Tuan. Mereka membutuhkanmu," ucap Siren mantap pemimpinnya lekat.
Curva mengangguk mantap dan memasrahkan pengobatan Siren pada Artic. Pemuda berambut hijau itu mengangguk siap dan segera menutup luka di paha wanita berambut hijau itu dengan perban elastis setelah ia tutup luka robeknya.
Pasukan Titan gelombang kedua dengan sigap memasuki perbatasan. Beruntung, wilayah itu berhasil diamankan oleh pasukannya sehingga tak ada lagi pertempuran yang berlangsung di sana.
Sayangnya, Curva melihat jika Distrik 9 telah tertembus. Curva meminta anak buahnya bersembunyi di balik dinding untuk mengamati situasi peperangan yang terjadi di dalam.
"Jika kita masuk sekarang, kita akan terlihat. Sial, tak ada celah untuk menyelinap," gerutu Curva yang suaranya didengar oleh pasukannya yang ikut bersembunyi.
Namun tiba-tiba, "Woah!" seru salah satu anak buah Curva saat ia merasa jika pundaknya disentuh oleh sesuatu, tapi tak terlihat wujudnya.
"Oh! Apa itu?" tanya salah satu pejuang wanita Titan yang melihat tulisan di pasir.
"Yes," jawab salah satu warga Pipemo yang menulis di atas pasir.
"Oke. Berapa jumlah kalian? Apakah cukup untuk membantu kami menyelinap?" tanya Curva yang penglihatannya tak terfokus karena ia tak tahu di mana keberadaan lawan bicaranya.
"Kami bisa membuat kalian semua ikut tak terlihat. Namun, kita harus cepat. Distrik 9 dalam bahaya. Kami hanya bisa membawa kalian sampai di sana untuk menyelamatkan Pusat Komando agar tak jatuh," tulis salah seorang warga di atas pasir pantai.
"Oke. Kami siap. Bawa kami ke sana," pinta Curva mantap.
Tiba-tiba saja, Curva merasa tubuhnya seperti terselimuti oleh sesuatu, tapi ia tak bisa melihatnya.
Ia merasakan seseorang memegang pundaknya kuat dan mendorongnya terus maju. Curva melihat sekeliling dan tak mendapati apa pun termasuk kawan-kawan sekotanya. Curva tampak bingung, tapi berusaha fokus dengan tujuannya.
Hingga tiba-tiba, pria itu menghentikan langkah karena melihat tentara musuh berada di depannya.
Namun, tubuh Curva langsung digeser ke samping kanan. Mata Curva melebar ketika melihat peperangan sengit yang terjadi di sekitarnya, tapi keberadaannya seolah tak dianggap.
__ADS_1
"Woah, ini keren," ucap Curva kagum, tapi terlihat tegang.
Curva melewati para robot baik dari negara musuh atau pun sekutu begitu saja tanpa kendala hingga mereka tiba di sebuah gedung tinggi menjulang di atas permukaan air.
Mulut Curva menganga lebar saat ia baru menyadari jika dirinya telah berada di Distrik 9 tempat Pusat Komando berada.
BRUKK!
"Woah!" pekik Curva terkejut saat mendapati Verosa dan Atlanta tiba-tiba muncul di hadapannya termasuk kawan-kawan lainnya.
"Lindungi tempat ini. Jangan biarkan musuh memasuki wilayah ini atau Great Ruler akan jatuh. Kami akan mencoba menyelamatkan yang lain. Sampai jumpa," ucap salah satu warga Pipemo yang tiba-tiba saja muncul dengan menutup dirinya menggunakan jubah berwarna hijau lalu menghilang.
Mulut Curva menganga lebar termasuk yang lainnya karena keajaiban itu.
"Wow. Itu keren, tapi sekaligus mengerikan," ucap Verosa yang diangguki oleh semua orang.
"Hei!" seru Atlanta saat melihat sekumpulan pasukan manusia robot bersenjata memasuki wilayah Distrik 9 tempat mereka berada.
Saat Curva dan kawan-kawannya terlihat panik, tiba-tiba saja, NGENGG!! BROOM!! BRAKKK!!
"Woah!" kejut Curva sampai ia terperanjat dengan mata melotot saat sekumpulan pasukan itu diterjang oleh puluhan motor dan mobil dari samping yang muncul begitu saja.
"Haha! Kalian sungguh hebat! Terima kasih, Pipemo," ucap Benyamin menyalami seseorang padahal wujud itu tak terlihat di depannya, tapi seolah Benyamin bisa melihatnya. "Jangan heran begitu. Gunakan kacamata khusus dengan sensor panas ini. Maka, kalian akan bisa melihat sosok manusia dari warga Pipemo," sambung Benyamin dari atas mobil tempurnya seraya melepaskan kacamata seperti kacamata selam.
Curva dan lainnya mengangguk paham. Benyamin dan orang-orangnya berhasil mengalahkan para pasukan manusia robot yang mencoba menerobos Distrik 9 dengan menembaki mereka menggunakan senapan laser hingga tewas.
Lala dan semua orang bernapas lega karena bangsa Titan dan Bintang datang tepat waktu. Lala kembali fokus pada Distrik lainnya di mana semua pejuang masih berusaha bertahan meski matahari mulai tenggelam dan kegelapan menyelimuti Great Ruler.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Kwkwkw tips klepretan😆 Semoga bisa dubbing lagi ditengah keruwetan jadwal Real Life. Haduh😩 Jangan lupa vocernya sebelum hangus di vote ya. Ditunggu kiriman tips poinnya. Bercangkir-cangkir kopi lele rela loh. Kwkwkw modus🤭