SIMULATION

SIMULATION
MY CONSCIENCE*


__ADS_3

Tak lama, robot koki kembali datang untuk mengantarkan makanan lain. Matteo sudah terlihat tak sanggup makan, tapi ia menghargai perhatian Sandra padanya.


Matteo kembali membuka mulutnya untuk menerima suapan udang goreng tepung buatan robot koki.


"Lalu ... jika Blue tinggal di rumah bersama lumba-lumba, Anda di mana?" tanya Sandra bercanda.


Matteo menghembuskan nafas panjang seraya mengunyah makanan lezat itu di mulutnya lalu menelannya. "Di sini. Miris bukan?"


Sandra terkejut. "Di sini? Di gedung pelatihan ini?" Matteo mengangguk.


"Oleh karena itu, kamarku berbeda dengan yang lainnya. Fasilitas lengkap bahkan memiliki dua lantai. User lain, tidak semewah ini. Fasilitas ini diberikan khusus hadiah dari ayahku saat aku disetujui untuk menjadi calon presiden menggantikannya suatu saat nanti, Morlan Corza," jawabnya tertunduk.


Sandra menatap Matteo dalam. "Meskipun Morlan pernah melakukan kesalahan dan terusir, tapi ... dia berjasa besar pada Great Ruler, Jenderal Matteo. Aku membaca sejarahnya. Dia seorang profesor dan ilmuwan hebat. Ia membuat vaksin dan menyembuhkan orang-orang yang terkena wabah."


"Ya aku tahu, hanya saja ... bisakah jangan membicarakan ayahku? Aku lebih suka membahas tentang ibuku," pintanya malas.


"Baiklah. Kalau begitu, kau harus menghabiskan udang ini," ucap Sandra memaksa dan mulai menyuapi sang Jenderal lagi.


Matteo terlihat begitu berusaha untuk menghabiskan semua makanan itu. Sandra menyuapi Matteo dengan telaten hingga makanan tersebut habis.


"Cukup, cukup, kau ingin membunuhku dengan meledakkan perutku?" tanya Matteo dengan mulut menggembung seperti kodok karena udang-udang itu masih berdesakan di sana.


Sandra terkekeh dan meletakkan piring kosong itu ke tumpukan mangkok lainnya. Sandra melihat jika tak ada robot yang datang untuk membawa wadah-wadah kotor itu ke dapur.


"Kau mau ke mana?" tanya Matteo yang terlihat sudah bugar.


"Kamarmu nanti bau dan kotor, Jenderal. Hanya ke dapur. Kenapa? Kau takut ditinggal sendirian?" tanya Sandra meledek dan Matteo malah tersipu malu.


Entah kenapa, sikap sang Jenderal malam ini terlihat begitu menggemaskan bagi Sandra. Matteo bersikap ramah bahkan bisa berkisah lucu. Sejenak, ia merasakan seperti bersama Blue ketika berbincang dengannya.


Sandra keluar kamar untuk membawa wadah kotor tersebut ke dapur, dan betapa terkejutnya ketika ia melihat cahaya lampu seperti lilin portabel berderet rapi menaiki tangga terlihat begitu romantis. Sandra terpaku dan malah berdiri diam di bawah tangga tersebut.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan malam, tapi kau malah menyuapiku dengan banyak makanan. Kasihan, Purple. Dia sudah memasak untuk kita," ucap Matteo yang tiba-tiba saja muncul di belakang Sandra bahkan langkah kakinya sampai tak terdengar.


"Untuk apa, Jenderal?" tanya Sandra gugup menatap pria tampan di sampingnya.


"Hadiah lainnya karena kau sudah berjuang keras dan ... menyebut namaku saat pidato," jawab Matteo dengan senyuman.


Sandra tersenyum ringan dengan pandangan tertunduk. Matteo menatap Sandra lekat dan wanita cantik itu terlihat canggung ketika sang Jenderal memberikan lengannya untuk di rangkul.


"Setidaknya, kita bisa duduk sebentar ke atas. Aku janji, setelah mengincipi sedikit, kau tak akan kuganggu. Kau pasti lelah, dan malam sudah semakin larut. Maaf, aku memintamu lembur di hari cuti bersama," ucap Matteo tak enak hati.


"Aku tak keberatan, Jenderal," jawab Sandra dengan senyum terkembang.


Keduanya melangkah pelan menaiki tangga. Sandra terpukau dengan keindahan lilin lampu yang diletakkan di sepanjang tangga menuju ke lantai dua.


Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah balkon. Terlihat sebuah meja dengan lilin asli menghiasi meja bundar berlapis kain putih tersebut.


Dua buah kursi dihias dengan lapisan kain berwarna putih, disertai setangkai bunga mawar merekah yang senada dengan warna lampu-lampu kecil malam itu—merah.



Sandra terpukau bahkan matanya terlihat berkilau seperti gelas crystal di hadapannya. Wine yang dituang pun melengkapi warna kemewahan dari makan malam romantis di balkon rumah sang Jenderal.

__ADS_1


Matteo menarik kursi untuk tamu istimewanya dan Sandra duduk dengan gugup.


"Hem. Pekerjaan Purple sungguh mengesankan. Aku tak menyangka jika robot bisa melakukan hal ini," ucap Matteo memuji Purple yang kini berdiri di antara mereka berdua menjadi pelayan.


"Terima kasih, Purple," ucap Sandra dengan senyum terkembang.


Matteo mengajak bersulang dan Sandra menyambutnya. Dua gelas ramping dikantukkan.


Keduanya minum bersamaan menikmati air anggur tersebut. Mereka saling tersenyum saat meletakkan gelas di hadapan masing-masing.


"Jadi ... aku wanita keberapa yang dibuat terpukau oleh pesona makan malam romantis ini, Jenderal?"


Praktis, senyum Matteo sirna. Sandra menatapnya lekat dengan dagu terangkat. Pria bermanik biru tersebut terlihat gugup.


"Oke. Semua orang di Great Ruler tahu jika aku berkencan dengan banyak wanita, termasuk kau. Benar?" Sandra mengangguk pelan. "Ya, gosip itu benar, bahkan kau pernah bertemu salah satunya." Sandra kembali mengangguk. "Aku ... kesepian. Aku mengencani banyak wanita karena aku mencari sosok seperti ibuku dari mereka. Sayangnya, sampai saat ini, aku tak pernah menemukannya," jawabnya serius.


Sandra diam sejenak menatap sang Jenderal tajam, seperti mencoba menelaah kata-kata yang terlontar barusan.


"Menurutmu ... aku seperti Aurora?"


Matteo menggeleng. Sandra ikut terkejut. "Namun kau mengatakan, jika kau ingin seperti dirinya saat di kamarku tadi. Apakah ... itu benar? Kau ingin menjadi seperti ibuku?" tanya Matteo balas menatapnya tajam.


"A-aku melihat sisi baik dari dirinya, Jenderal. Aurora Dimensia wanita yang menawan dan berkharisma. Hanya saja, sebanyak atau sekeras apapun usahaku untuk menjadi seperti dirinya, hal itu ... akan sulit untuk diwujudkan," jawab Sandra realistis.


"Kenapa?"


"Dia ibumu. Sedang aku, orang lain di hidupmu. Dia tahu benar kau pria seperti apa. Dia hidup bersamamu dalam waktu yang lama. Dia bisa menangani tingkah polahmu. Jadi ... aku tak akan pernah bisa menjadi Aurora Dimensia. Aku tetap Sa—"


Sandra diam seketika. Matteo menatap wanita cantik di depannya tajam.


"Maksudku ... aku tetaplah aku. Aku tak mungkin bisa menjadi Aurora Dimensia," jawab Sandra serius.


"Ya, kau benar. Jika kau menjadi Aurora Dimensia, sama saja kau menjadi ibuku."


Praktis, Sandra yang awalnya tegang malah terkekeh geli. Matteo sangat pintar menghancurkan suasana.


Namun, pria tampan yang terlihat menawan malam itu tampak tak sedih saat membicarakan ibunya. Matteo mengangkat gelas wine-nya mengajak Sandra bersulang.


"Untuk apa?"


"Untuk mengenang ibuku, Aurora Dimensia. Selamanya, tak ada satupun wanita yang bisa menyamainya. Dan aku sudah bertekad, untuk tak mencari sosok seperti dirinya," ucapnya serius.


Sandra terlihat ragu, tapi ia menerima ajakan bersulang itu. Matteo meneguk wine miliknya, tapi Sandra tidak. Ia hanya memegangi gagang gelasnya.


"Lalu ... wanita seperti apa yang kau cari, Jenderal?" tanya Sandra gugup.


"Entahlah. Aku pun tak tahu. Aku hanya ingin ... ketika aku bersamanya, aku merasa nyaman. Aku ingin, dia menganggapku spesial bukan memandangku seperti seorang playboy tengik layaknya orang-orang," jawabnya seraya memandangi wine di gelasnya.


Sandra terdiam. Ia tak menyangka, jika pemikiran Matteo cukup kritis.


"Katakan padaku, Otka. Kenapa kau bisa mencintai Vemo hingga kau berjuang sampai sejauh ini?" tanya Matteo serius, tapi mengejutkan Sandra.


Wanita berambut pirang itu kebingungan kali ini. Ia sungguh tak punya alibi.

__ADS_1


"Aku ... aku mengenal Vemo sejak kecil. Kami bertemu pertama kali di perbatasan Distrik 9 dan 10 kala itu. Kami ... membuat sebuah janji untuk terus bertemu di tempat tersebut. Hingga suatu ketika, Vemo tak datang. Namun, aku tetap kembali ke sana selama ... entahlah, cukup lama, tapi Vemo tak pernah muncul. Aku kecewa padanya. Dia tak menepati janji. Aku tak suka pada pria yang tak bisa menepati janjinya," jawabnya terlihat serius dengan pandangan tertunduk.


"Bagaimana kau bertemu dengan Vemo lagi?"


Sandra menarik napas dalam. "Ketika ... Roves mengajakku ke Distrik 10 saat ia masih bertugas," jawab Sandra teringat akan cerita Otka.


"Lalu?"


"Aku bertemu dengannya. Ia juga terlihat kaget saat bertemu denganku. Aku menyelinap pergi saat ayahku sedang bertugas. Aku menghabiskan waktu bersama Vemo di sebuah tempat yang kini menjadi rumahnya. Dia mengatakan padaku alasan kenapa tak bisa datang. Ternyata ... orang tuanya sakit. Dia mengurus mereka sendirian, tapi sampai mereka meninggal, ia masih gagal untuk membawa keluarganya masuk ke Great Ruler."


"Dari pengakuan Vemo, kau lalu memaafkannya?" Sandra mengangguk. "Semudah itu?" Wanita cantik itu kembali mengangguk. "Aku tak melihat hal spesial dari suami ilegalmu itu," tanya Matteo serius dengan kepalan tangan kiri menopang pelipisnya.


Sebenarnya, Sandra juga berpikir demikian. Namun, ia harus meyakinkan sang Jenderal jika dia mencintai Vemo.


"Bisa dikatakan ... cinta pada pandangan pertama?" jawab Sandra lugu. Kening Matteo berkerut.


"Alasanmu aneh," jawabnya tak sependapat.


Sandra diam sejenak dengan pandangan tertunduk seraya memegangi gagang gelas yang masih berisi wine. Ingatannya kembali saat ia bertemu dengan Rey. Sandra tersenyum.


"Dia sangat menawan, dan bukan playboy tengik sepertimu, Jenderal."


"Execuse me?"


"Ya, begitulah," jawab Sandra tenang dengan senyuman terlihat dari pantulan kaca gelas itu. Seolah, Rey sedang tersenyum padanya. "Dia ... sangat ramah. Dia ... senang menolong orang. Dia ... tak pernah keberatan jika ada orang lain yang bahkan tak dikenalnya meminta bantuan padanya. Dia pernah berkata seperti ini padaku saat kami belum menikah. 'Kita hanya hidup satu kali. Jika berumur panjang, itu berarti kita beruntung. Namun, kita tak pernah tahu sampai kapan keberuntungan itu berpihak. Jadi, manfaatkanlah hidup satu kalimu untuk berbuat baik. Percaya padaku, kau tak akan rugi apapun, malah kau akan merasakan sebuah kebahagiaan yang membuat hidupmu sangat berharga'."


Praktis, wajah Matteo pucat seketika. Entah kenapa, ucapan dari sosok pria yang berhasil merebut hati Sandra sangat bertolak belakang darinya.


"Aku tak pernah bertemu dengan orang seperti itu sepanjang hidupku. Setiap maksud baik yang ditujukan, pasti ada imbalan yang harus diberikan. Balas budi," sahut Matteo tegas.


"Aku pernah bertemu satu pria lain yang seperti itu, Jenderal," jawab Sandra sendu masih menatap cairan merah di hadapannya.


"Siapa?"


"Colosseum Blue," jawabnya yang kini menaikkan pandangan dan menatap sang Jenderal lekat.


Matteo terdiam. Ia terlihat gugup dan tak berani menatap Sandra.


"Kau ke manakan, Blue-ku, Jenderal? Aku ingin sekali bertemu dengannya. Bagiku ... dia spesial," tanya Sandra bagaikan sebuah halilintar menyambar dan suara kilatan itu mengejutkannya hingga jantung pria tampan itu berdebar kencang.


"Hah! Hah!" engah Matteo seperti terkena serangan jantung.


Pria itu langsung berdiri dan menyingkir dari meja makan memegangi dadanya. Sandra terkejut dan ikut beranjak dari meja.


"Jenderal?" panggil Sandra karena Matteo berjalan sempoyongan mencengkeram dadanya kuat seraya terus melangkah.


Tiba-tiba saja, "Jenderal!" pekik Sandra lantang, saat pria tampan itu terjatuh dari tangga hingga bergulung-gulung dengan keras.


Sandra terkejut dan panik dalam waktu yang bersamaan. Ia menuruni tangga dengan tergesa diikuti oleh Purple.


"Matteo!" teriak Sandra kedua kalinya saat sang Jenderal tak sadarkan diri dengan luka di kepalanya di lantai bawah tangga.


***

__ADS_1


uhuy tengkiyuw dukungannya. kayaknya nih akhir november novel simulation akan tamat. yg belom PO segera ya. tengkiyuw❤️


__ADS_2