
Seperti biasa, pengecekan barcode dilakukan secara bergantian saat memasuki gedung berbentuk oval bernama Green-Eco 01.
Para calon User antri dengan tertib. Mereka berdiri di sebuah garis lampu berwarna hijau yang menyala terang di bawah kaki orang-orang itu.
Sandra terlihat cemas ketika melirik kamera pengawas yang terpasang di tiap sudut ruangan. Hingga akhirnya, tiba giliran Sandra.
Ia memasukkan tangannya ke sebuah alat berbentuk silinder dengan seorang petugas robot level E di samping alat pendeteksi tersebut.
PIP!
"Data terverifikasi. Otka Oskova ID O-D7-3765. Silakan lanjut ke Gate 2," ucap mesin.
Sandra tersenyum seraya berjalan tanpa membawa benda apapun karena semua barang bawaan disita oleh petugas, dan dimasukkan dalam sebuah loker khusus setelah diidentifikasi tak ada senjata ataupun barang berbahaya lainnya.
Sandra menghembuskan nafas panjang karena ia lolos identifikasi, tapi ia tetap gugup ketika tiba di sebuah pintu lorong dan kembali mengantri.
Wanita cantik itu terkejut saat tiba-tiba lorong tersebut menyala lampu terang berwarna merah ketika seorang peserta masuk ke dalam.
Sandra tak tahu apa artinya, begitupula orang itu yang terlihat bingung saat berjalan hingga sosoknya tak terlihat.
Hingga akhirnya, giliran Sandra tiba. Ia masuk dengan gugup saat User robot level E mempersilakannya masuk.
Sandra menarik nafas dalam dan berjalan begitu saja. Namun, tak ada lampu menyala. Sandra sedikit khawatir karena peserta sebelumnya menyalakan lampu lorong meski warnanya berbeda.
Sandra menoleh ke belakang dan melihat wajah orang-orang seperti ikut bingung. Sandra menarik nafas dalam dan kini mantap melangkah.
'Aku tak boleh gagal. Aku berlatih keras hanya dalam waktu beberapa minggu demi bisa bertemu Matteo. Aku merelakan kehidupanku agar keluarga Roves tetap terjamin di Great Ruler. Aku tak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah percaya padaku. Aku harus menjadi seorang User. Harus!' ucapnya dalam hati penuh kebulatan tekat hingga kedua tangannya mengepal.
Seketika, BIB! BIB! BIB!
"Wow!"
Sandra menghentikan langkah dan melihat sekitar dengan mulut menganga. Ia terkejut, saat mendapati lampu dalam lorong bersinar terang dengan warna-warna menyilaukan.
Ia menoleh dan mendapati User robot level E bertepuk tangan di kejauhan. Bahkan, para peserta lainnya ikut kagum dengan senyum terkembang.
Sandra bingung, dan kembali melangkah hingga ia melihat ujung dari lorong itu. Semangat Sandra tak memudar, ia terus melangkah dengan mantap dan yakin dengan kemampuannya.
Saat ia tiba di akhir terowongan, Sandra terkejut ketika mendapati dua buah robot berwarna hijau muda berbentuk seperti bola bowling menggelinding ke arahnya.
Langkah Sandra terhenti melihat dua robot tersebut berputar mengelilinginya dengan mata berwarna putih seperti melakukan pemindaian terhadap tubuhnya.
Sandra bingung, tapi juga tegang karena dilihat oleh peserta lainnya yang berkumpul berdasarkan warna ketika memasuki terowongan.
"Follow us," ucap dua robot itu bersamaan dan kembali menggelinding mengajak Sandra ke tempat lain, berbeda dengan area berkumpul peserta lainnya.
Sandra terlihat kagum ketika ruangan yang ia tempati sekarang di dominasi dengan warna putih dengan lampu menyala terang di sekitarnya.
Ruangan luas tanpa furniture apapun di sana, dibiarkan luang seperti diperuntukkan untuk suatu hal.
__ADS_1
"Silakan berdiri di depan layar," ucap dua robot itu mengarahkan dan Sandra mengangguk.
Sandra melangkah maju seraya melihat sekitar di mana banyak dinding menjorok seperti sebuah segitiga yang dilengkapi oleh lampu-lampu terang seperti bukan sekedar diperuntukkan untuk penerangan, tapi ada unsur lain di sana.
Sandra berdiri tegap. Tiba-tiba, layar di hadapannya menampilkan sebuah instruksi agar ia melakukan gerakan yang diminta.
"Ini seperti wahana bermain di Sentra Video Games," ucapnya menilai.
"Silakan ulangi gerakan yang akan ditampilkan. Setiap satu model kombinasi gerakan, diberikan waktu maksimal 60 detik untuk melakukan tiruan tanpa pengulangan. 10 model gerakan akan ditunjukkan. Fokus," ucap mesin tersebut.
"Oke," jawab Sandra terlihat gugup.
"3 ... 2 ... 1!" PIP!
Sandra terkejut. Ia melihat sosoknya berdiri di depan layar itu. Ia melihat dirinya melakukan sebuah gerakan memukul ke depan.
Layar di depannya terbagi menjadi dua buah tampilan, yang sisi lainnya menunjukkan pergerakan dari samping.
"Aku ingin setangguh dirimu, Cerminku," ucap Sandra termotifasi karena dirinya dalam tampilan itu terlihat begitu kuat layaknya seorang prajurit militer.
"3 ... 2 ... 1, START!"
Sandra segera melakukan pukulan tinju ke depan dengan kepalan tangan saling bergantian menirukan gerakan model. Dua kaki ia lebarkan. Ia memposisikan tubuhnya sesuai dengan tubuh di layar yang berdiri di hadapannya terlihat tangguh.
Tiba-tiba, layar di depannya padam, lalu muncul angka yang bergerak sangat cepat untuk menilai keakuratan saat menirukan gerakan dalam prosentase.
PIP!
Sandra terlihat kecewa pada dirinya sendiri. Ia terlihat siap untuk melakukan gerakan selanjutnya. Ia mengibaskan kesepuluh jemarinya seraya melompat kecil dengan pandangan fokus ke depan.
Gerakan kedua dimunculkan. Sandra terlihat serius ketika gerakan itu dilakukan dari samping berupa tendangan tiga titik.
Kali ini, Sandra menghitung gerakan tersebut dan arah dari titik tendangan. Sandra membayangkan ia sedang menendang seseorang.
"Betis, paha, dan pinggul," gumannya memprediksi.
"3 ... 2 ... 1, START!"
Sandra dengan sigap memposisikan dirinya menghadap tubuhnya ke samping. Ia sudah tak mempedulikan lampu-lampu yang ia sinyalir adalah sensor gerak yang menghitung keakuratan dari gerakannya selama di ruangan tersebut.
"Ha!" teriaknya lantang meluapkan emosi di jiwanya saat melakukan teknik tersebut.
Tubuh Sandra kembali menghadap ke depan dengan mata menyipit untuk melihat hasil dari gerakan tersebut.
"Keakuratan 91%."
Sandra terlihat begitu puas dengan hasil itu, tapi ia masih harus berjuang dengan 8 model gerakan lagi. Sandra kembali bersiap.
Sandra melewati seluruh gerakan-gerakan yang ditunjukkan dengan fokus dan sigap. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia mengatur nafasnya agar tak ngos-ngosan meski gerakan itu tak begitu melelahkan.
__ADS_1
Bahkan ada gerakan bergulung ke depan, ke samping kanan, ke samping kiri dan bergulung ke belakang.
Sandra terlihat sigap karena ia telah melihat pergerakan itu sebelumnya dari model pada layar di hadapannya.
Sandra merasa jika refleknya bagus karena latihan yang ia lakukan bersama Akira, Tony dan Roves meski dalam waktu singkat.
Semangat juangnya untuk menjadi User, membuat Sandra semakin membara.
"Aku akan menaklukanmu, Cermin!" serunya menunjuk dengan mata melotot ke arah model yang memiliki sosok seperti dirinya saat sudah memasuki gerakan kesembilan.
Sandra mengatur nafasnya dan berdiri tegap yang kini sejajar dengan sosoknya yang ikut berdiri menatapnya tajam. Sandra seperti merasakan persaingan sengit dengan kembaran komputernya itu.
Hingga akhirnya, sosok komputer itu melakukan seluruh gerakan dari model pertama hingga kesembilan dengan cepat.
Mata Sandra melebar. Ia terlihat kaget jika ternyata semua gerakan tersebut akan digabungkan, tapi ia melihat keindahan dari seni bela diri tersebut.
"Sialan, aku dikerjai. Tapi, aku tak akan menyerah. Aku menghafalnya," ucapnya menyeringai.
"3 ... 2 ... 1, START!"
"Ha! Ha! Ha!" teriaknya lantang, tiap ia bertemu sebuah titik gerakan yang membutuhkan pelepasan sebagai titik puncak dari gerakan mematikan itu. "Hah," engahnya saat gerakan terakhir adalah ia kembali berdiri tegak, meski nafasnya tersengal. Beruntung, Sandra tak mengalami keseleo saat melakukan gerakan sulit tersebut.
Jantung Sandra berdebar ketika kalkulator komputer mengakumulasi tingkat keakuratan dari gerakan terakhirnya.
"Keakuratan 99%."
"Oh!" pekik Sandra terkejut sampai ia tersentak dengan kaki melangkah mundur.
Sosok komputernya tersenyum sembari memberikan jempol. Sandra merasa seperti dipuji hingga sosok itu melambaikan tangan, ketika dua robot hijau seperti bola bowling kembali mendatanginya dan mengajak keluar dari ruangan tersebut.
Senyum Sandra terkembang. Hatinya begitu gembira. Ia tak menyangka jika ia bisa melakukan semua gerakan sulit itu.
Di ruang kendali yang melihat seluruh gerak-gerik Sandra di ruang simulasi.
"Siapa dia?" tanya Wakil Presiden Lala yang menjadi pengawas dan penilai untuk calon User robot.
PIP!
"Data singkat. Otka Oskova. Barcode O-D7-3765. Puteri dari Roves Regan, mantan User robot level E," ucap mesin komputer yang menjadi asisten ruangan bernama Eco.
"Hem, menarik. Pasti Roves mengajarkan anaknya untuk menggantikan dirinya," ucap Lala menilai. "Awasi terus, aku ingin lihat sampai sejauh mana ia bertahan," perintahnya dengan senyum tipis.
"Laksanakan," jawab Eco mulai mengikuti pergerakan Sandra dari kamera pengawas gedung.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE (pixabay, deviantart.com)
Tengkiyuw tipsnya. Lele padamu💋💋💋
__ADS_1