
Akhirnya, mereka tiba di gerbang utama Negara Bintang. Tempat itu terlihat megah meski sedikit tak terawat.
Banyak patung kesatria berjejer di sekitar jembatan penghubung ke negeri tersebut. Bagian bawah jembatan adalah jurang kering dengan batuan tajam, seperti sengaja ditempatkan jika ada musuh yang mencoba mendobrak pintu utama negara tertutup itu.
Matteo berdiri di samping pagar pembatas. Hanya hamparan gunung tandus terlihat. Langit sudah berubah menjadi terang pertanda pagi siap menyapa.
"Aku harus memperbaiki Spectra dan Roboto di Great Ruler. Aku harus segera kembali. Mereka rusak parah," ucap Matteo sedih saat Vemo menghampirinya.
"Kau gila? Mana katamu yang ngotot ingin menyelamatkan Sandra? Kau malah lebih mengutamakan dua robotmu!" jawab Vemo langsung berintonasi tinggi.
Matteo balas melotot tajam pada pria bermuka barcode itu. "Dengan bantuan tiga robotku, masalah akan lebih cepat diselesaikan!" jawabnya ikut tersulut emosi.
Praktis, perseteruan itu membuat banyak orang menoleh ke arah keduanya. Morlan dan Roman segera mendekat. Mereka mencoba meredakan pertikaian itu.
"Matteo. Aku tahu jika Spectra dan Roboto memiliki kenangan indah denganmu selama belasan tahun. Namun, mereka masih bisa diperbaiki. Masih ada waktu yang bisa kau berikan untuk membuat mereka kembali, tapi Sandra. Ia ibu dari puterimu. Ia isteri yang kaucintai. Dia manusia, dan jika sudah meninggal, tak akan bisa kembali lagi," ucap Roman menasehati.
"Jangan lupa, Matteo. Aku dan ibumu yang menginspirasi pembuatan tiga robot itu. Mereka tak ada tanpa kami. Namun, yang dikatakan oleh Roman benar. Sandra terancam jiwanya. Jika ia sampai tahu kau lebih mementingkan dua robotmu ketimbang nyawanya, aku rasa ...."
"Aku akan menggantikan posisimu sebagai ayah dari Alva dan suami Sandra," sahut Vemo tanpa basa-basi padahal ada Verosa di sana. Praktis, mata Matteo melebar.
"Hei! Hei, tenanglah," ucap Tony menahan dada Matteo dengan tubuhnya. Vemo tersenyum miring terlihat tak merasa bersalah dengan ucapannya.
"Jangan cemburu, Sayang. Dia memang harus ditampar agar kembali sadar," ucap Vemo menoleh ke arah kekasihnya yang tertunduk tak berkomentar.
Vemo meninggalkan kecupan di pipi gadis berambut biru itu, dan Verosa tersenyum tipis.
"Jika Vemo terhalang oleh Verosa, aku bersedia. Aku masih lajang, tampan, dan tak masalah jika menikahi seorang ibu beranak satu," sahut Curva yang membuat mata Matteo kembali melebar siap menghajar pemimpin kota Titan.
Praktis, senyum Vemo dan Curva terkembang karena Matteo berhasil disulut. Keduanya malah saling adu tos karena kekompakan mereka membuat sang Presiden Great Ruler marah.
"Tanpa Spectra dan Roboto. Kita bisa bertahan sejauh ini. Kita akan menyelamatkan Sandra esok hari setelah kita putuskan strategi matang untuk menghadapi Baatar," sahut Benyamin dan diangguki oleh semua orang yang setuju dengannya.
Pagi itu, Matteo dan orang-orangnya yang belum pernah berkunjung ke negara Bintang terkesiap.
Mereka tak menyangka jika tempat itu padat dan tak terlihat tumbuhan hijau di beberapa wilayah. Matteo dan lainnya yang melihat dari atas benteng dibuat kagum, tapi juga iba.
"Kau menjaga negaraku dengan baik, Tuan Benyamin. Hanya saja, panas dan gersang di sini," ucap Curva menyindir seraya melihat kampung halaman yang tak pernah ia kunjungi karena ia lahir di dalam kota Titan bawah air.
"Sebelumnya, tempat ini malah lebih parah usai peperangan. Aku saat itu masih sangat kecil ketika ayahku merebut tempat ini. Bukan salah kami sepenuhnya saat orang-orang Titan akhirnya tunduk dalam kekuasaan ayahku dan bekerja sama membangun negara ini kembali," ucap Benyamin menuturkan.
__ADS_1
Dari segi umur dan penampilan, Benyamin terlihat lebih tua dari Roman dan Morlan. Brego berasumsi, umur Benyamin hampir sama dengannya atau Laksamana Joe.
"Jika aku boleh jujur. Catatan sejarah dalam kepemimpinan ayahku menyebutkan, warga Titan yang memilih tinggal di sini dan akhirnya menjadi warga Bintang, itu karena ayahmu."
"Apa apa dengan kepemimpinan ayah?" tanya Curva menyipit.
"Ayahmu hanya memikirkan pengembangan teknologi saja. Semua uang dari pajak dan pendapatan yang masuk ke negara, ia gunakan untuk memperkuat persenjataan. Wajar, jika banyak tong-tong limbah hasil ambisinya itu. Ia melupakan kesuburan tanah dan budi daya serta pengelolaan pangan untuk warganya," jawab Benyamin seraya menunjuk salah satu anak buahnya dan pria itu mengangguk pelan.
Pria tersebut lalu pergi entah ke mana seperti diutus untuk melakukan sesuatu oleh pemimpin negara itu. Semua orang masih diam menyimak.
"Bahkan, saat ia membangun kota bawah laut dan terowongan tersembunyi, tempat itu hanya diperuntukkan oleh orang-orang dari golongan khusus. Bisa kautebak?" tanya Benyamin melirik Curva yang lebih muda darinya. "Orang-orang kaya," sambungnya. Curva menatap Benyamin tajam.
"Apa buktinya?" tanya Curva tegas.
Tak lama, utusan Benyamin datang dengan sebuah robot berbentuk kapsul yang memiliki tangan dan kaki berupa roda besi.
Robot itu membawa sebuah kotak logam dengan kunci gembok bagian luarnya. Semua orang melihat Benyamin ketika membuka kotak besi warna hitam itu.
Terlihat sebuah buku ukuran dua telapak tangan bersampul merah yang masih bagus di sana.
"Ini, adalah catatan khusus tulisan tangan ayahmu, Galaksi Titan. Sebenarnya, idenya cukup mengagumkan. Dari catatan ini, kutemukan wilayah hijau yang kita datangi tadi termasuk terowongannya. Sayang, ayahmu tak mengutarakan ini kepada rakyatnya," ucap Benyamin seraya menyerahkan buku bersampul merah itu pada Curva.
Terlihat, Curva gugup saat memegangnya.
"Pemimpin yang baik, tak akan membohongi rakyatnya karena mereka bergantung padamu. Mereka mengandalkanmu dan mempercayaimu. Akan sangat berdosa dan tak bertanggungjawab jika kau menutupi hal penting dari masa lalu atau rencana-rencana untuk kesejahteraan negara yang kaupimpin," ucap Benyamin menatap Curva lekat.
"Aku tak memiliki anak, Curva. Semua anakku adalah anak angkat. Namun, aku percaya padamu. Ambilah lagi yang menjadi milikmu. Aku hanya menjaganya selama ini. Aku tak berhak memimpin jika negara Bintang sudah mendapatkan pemimpinnya kembali. Selamat datang di rumah, Nak. Maaf, jika aku tak melakukannya lebih awal," ucap Benyamin yang membuat tangan Curva langsung bergetar.
Semua orang terkejut saat Benyamin menyarahkan kekuasaannya begitu saja kepada Curva Titan yang baru ditemui. Curva menangis dengan mata terpejam seraya memegang buku peninggalan itu.
"Aku akan menjadi penasehatmu. Kau mungkin tak tahu seluk-beluk negara ini, meski ini tanah kelahiran leluhurmu. Biarkan orang tua ini membantumu. Kau bersedia, Presiden Curva Titan?" tanya Benyamin menatap Curva lekat.
Curva tak bisa menghentikan tangisannya. Benyamin memeluk Curva erat dan sambutan tepuk tangan meriah pun diberikan. Semua orang terharu atas kemuliaan hati Benyamin yang tak mereka sangka.
Matteo, Morlan dan Roman merasa tertohok. Mereka tak menyangka jika ucapan Benyamin mampu merobek hati mereka dalam pengurusan negara.
"Kini, warga Bintang adalah milikmu. Ditangamu, kuharap persatuan ini bisa terwujud. Bintang dan Titan berdampingan. Jika kau tak keberatan, maukah kau mengganti nama negara kita menjadi Bintang-Titan?" tanya Benyamin mengusulkan dan Curva mengangguk setuju.
Sambutan tepuk tangan meriah pun diberikan oleh orang-orang di sekitar. Kini, perdamaian sungguh terjalin.
Benyamin berjanji akan mengumumkan berita penting ini kepada seluruh warganya, meski ia yakin jika tak semudah itu penduduknya melupakan pahitnya masa lalu.
Siang itu, Benyamin mengumpulkan seluruh warganya di sebuah kubah untuk memberikan pengumuman penting. Tentu saja, hal mendadak itu membuat warga penasaran.
__ADS_1
Mereka datang berbondong-bondong memenuhi aula gedung untuk mendengarkan informasi dari sang Presiden.
Matteo dan orang-orang dari Great Ruler tampak gugup. Termasuk Titan dan kelompoknya saat mereka berdiri berjejer yang dipandangi penduduk Bintang.
"Salam sejahtera untuk negara Bintang!" seru Benyamin mengangkat tangan kanan ke atas, dan diikuti oleh semua warga sebagai salam penghormatan.
Suasana kembali hening dan semua mata tertuju pada pemimpin Bintang tersebut.
"Selama ini, kita hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan. Namun, kita mampu bertahan dan saling bahu membahu untuk bertahan hidup. Dendam dari kejadian masa lalu, merenggut kebahagiaan yang kita miliki. Namun, dari semua petaka, kita mendapat pelajaran hidup yang berharga," ucap Benyamin memulai pidatonya pada sebuah mimbar di lantai tiga dalam kubah itu. Semua orang diam menyimak.
"Di sisi kiriku, Presiden dari Great Ruler. Tuan Matteo Corza. Kita semua tahu, jika selama ini negara Bintang dan Great Ruler selalu bersengketa. Namun, kebencian diantara kita telah musnah dan digantikan dengan rasa peduli untuk saling tolong menolong. Great Ruler, telah membuktikannya. Mereka mengirim orang-orang terbaiknya untuk mengembalikan kesuburan tanah kita yang terkontaminasi karena limbah peperangan leluhur. Kini, Bintang dan Great Ruler, telah resmi untuk berdamai. Hidup Great Ruler!" seru Benyamin lantang dengan mengangkat tangan Matteo yang ia genggam sebagai bentuk kerjasama.
"Hidup Great Ruler! Wohoo!" sahut semua orang dari warga Bintang dengan sorakan dan tepukan meriah sebagai wujud pertemanan itu.
Matteo terlihat senang. Roman dan lainnya melambaikan tangan tanda mereka bukan lagi musuh bagi negara Bintang.
Curva dan orang-orang dari kota Titan tak menyangka jika perdamaian bisa terjalin. Curva tertunduk dalam diam.
"Lalu di sisi kananku. Mungkin kalian pernah mendengar kota Titan yang berada di bawah laut. Ya, inilah Tuan Curva Titan. Anak dari Galaksi Titan yang berhak atas tanah ini!" serunya yang membuat warga Bintang langsung diam dengan kening berkerut.
Sangat berbeda penyambutannya dengan Great Ruler yang penuh suka cita. Suasana kembali tegang. Curva terlihat gugup.
"Warga Titan sama menderitanya dengan kita, warga negara Bintang. Mereka terpaksa hidup di bawah laut hingga puluhan tahun karena tak memiliki tempat untuk hidup di daratan. Kitalah yang mengusir mereka dari tempat kelahiran. Curva dan orang-orangnya, pertama kali menginjakkan kaki ke negara Bintang tanpa ada niatan untuk menyerang!" ucap Benyamin lantang dan semua orang diam menyimak. "Curva hanya ingin pulang. Curva ingin bertemu para leluhurnya yang masih hidup. Pertikaian yang terjadi, adalah kisah perseteruan masa lalu antara ayahku dan ayahnya. Tak ada hubungannya dengan Curva yang saat itu belum dilahirkan."
Warga Bintang saling berbisik seperti membicarakan hal ini dengan serius.
"Atas kekuasaanku, kuizinkan Curva untuk kembali ke tanah nenek moyangnya dan memimpin negeri ini." Praktis, suara warga Bintang yang tak setuju mulai terdengar bersahut-sahutan. "Lalu, aku akan berdiri di sampingnya untuk membantu mewujudkan kedamaian itu seperti dulu lagi dengan pemimpin baru yang tak menginginkan perselisihan," ucap Benyamin menatap Curva lekat.
Curva tersenyum dan memandang Benyamin penuh haru, tapi warga masih terlihat tak senang.
Lontaran rasa tidak setuju terdengar jelas dari mulut orang-orang yang tak sependapat di mana sebagian dari mereka berwujud manusia mutan. Curva melangkah maju dan menarik napas dalam.
"Apa yang kalian inginkan dariku untuk membuktikan jika aku bersungguh-sungguh ingin berdamai dengan negara Bintang?" tanya Curva lantang yang membuat semua orang terdiam.
"Izinkan kami melihat kota Titan!" sahut salah seorang lelaki berambut putih berumur sekitar 50 tahunan dari negara Bintang.
"Akan kuizinkan. Persiapkan diri kalian. Akan kubawa kalian melihat kota Titan seperti yang tertulis pada buku catatan ayahku," ucapnya yang membuat semua orang berwajah serius seketika.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy makasih tipsnya tante aju. Lele padamu