
Eliz yang mendengar kabar jika Sandra lulus menjadi User, mulai menunjukkan senyumnya walau sedikit.
Meskipun awalnya ia ikut kesal setelah mendengar kabar dari Tony jika mereka dibodohi.
Otka yang duduk di sofa rumah Sandra hanya bisa tertunduk, ketika Eliz, Tony, dan Akira menatapnya tajam penuh dengan ribuan pertanyaan.
"Aku minta maaf. Ini bukan keinginanku, tapi Sandra," ucap Otka membela diri.
Tiga orang itu masih terdiam terlihat enggan berkomentar.
"Kau akan bekerja di Restoranku bulan depan. Namun, jenis pekerjaannya akan berbeda. Kau bukan Sandra sahabatku. Kau Otka Oskova. Walaupun Sandra yang merencanakan ini, tapi maaf, kau tetap orang lain di kehidupan kami," ucap Eliz ketus.
Otka mengangguk pelan dengan wajah tertunduk. Eliz yang memasang wajah masam memilih pergi dari rumah Sandra.
Akira menyusul calon isterinya karena merasa urusan mereka berkunjung di rumah Sandra yang kini di tempati oleh Otka telah usai.
"Kalau begitu, aku meminta kembali barang-barangku," ucap Tony saat ruang tamu tersebut kini hanya diisi oleh Otka dan dirinya.
"Barang-barangmu?" tanya Otka bingung.
"Biar aku mencarinya sendiri. Rey kawanku, begitupula Sandra. Rumah ini sudah kuanggap sebagai rumahku sendiri," jawabnya ketus seraya beranjak lalu berjalan menuju ke kamar Sandra.
Otka terlihat panik. Ia mengikuti Tony yang kini sibuk mencari barang miliknya yang sempat dipinjamkan kepada Sandra.
"Oh, itu tas milikmu?" tanya Otka yang mengenali benda tersebut.
"Hem," jawab Tony cuek seraya melihat isi tasnya. Namun seketika, matanya terbelalak. "Mana sisanya?" tanyanya panik yang terus sibuk mencari.
"Apa ada yang hilang?" tanya Otka bingung.
"Gelang pemberat, detektor oksigen, dan tablet pengendali. Di mana barang-barang itu?" tanyanya melotot kepada Otka, lalu matanya beralih mencari ke sekitar dengan gusar.
Otka diam sejenak terlihat seperti berpikir. "Vemo?"
"Ha? Apa yang kaukatakan barusan?" tanya Tony mendekat dengan langkah lebar.
Otka gugup dan langsung melangkah mundur dengan cepat, tapi punggungnya terpepet tembok. Ia tak bisa mengelak apalagi kabur.
"Vemo. Ver-Vermendis Vemo. Benda-benda itu diberikan oleh Sandra sebagai imbalan atas jasanya menukar barcode kami."
"What?!" pekik Tony dengan mata melotot lebar.
Keesokan harinya, di tempat Sandra berada.
"Kau ... menjadi instrukturku?" tanya Sandra dengan senyum terkembang saat Tony berkunjung ke kamarnya.
Tony hanya mengangguk menunjukkan wajah datar. Senyum Sandra memudar, ia melihat sikap Tony tak ramah padanya.
"Hei, kau kenapa?" tanya Sandra seraya mengulurkan tangan ingin menyentuh lengan sahabatnya.
Namun dengan sigap, Tony langsung berpaling dan berjalan keluar dari kamar. Ia berdiri di depan pintu dan memberi kode pada Sandra untuk segera mengikutinya.
Sandra menurut dan hanya bisa diam. Wanita berambut pirang itu seperti bisa merasakan jika pria yang berjalan di depannya ini terlihat marah padanya. Hanya saja, wanita berambut sebahu itu tak tahu di mana letak kesalahannya.
"Masuk," perintah Tony saat sebuah pintu terbuka ketika ia menunjukkan barcode di lengannya ke sensor.
__ADS_1
Sandra masuk dengan gugup dan sesekali melirik ke arah Tony yang masih bersikap tak acuh padanya.
Sandra melihat jika banyak calon User berkumpul di sana dan semuanya adalah laki-laki yang berjumlah 14 orang. Hanya dia satu-satunya wanita yang lolos seleksi dan menjadi peserta terakhir nomor 15.
Sandra masuk ke barisan paling ujung dan berdiri dengan gugup, mengikuti sikap siap sempurna kandidat lain.
"Dengarkan! Aku adalah Captain Tony. Aku yang akan menjadi pelatih kalian selama satu bulan ke depan. Awal tahun adalah penentuan level User robot. Kalian akan mendapatkan level berapa, semua tergantung dari hasil penilaian mentor. Fisik dan otak akan aku peras habis-habisan. Keluarkan seluruh kehebatan kalian. Dan satu hal penting, kejujuran adalah hal utama bagi seorang User. Kalian mengerti?!"
"Yes, Sir!" jawab semua kandidat lantang.
Sandra melirik saat melihat Tony menekankan kata-kata 'kejujuran' seperti ditujukan padanya. Sandara terdiam seperti berpikir.
"Di belakang kalian ada loker. Semua kebutuhan kalian selama latihan ada di sana. Cek dan segera kembali kemari. Bubar!" tegas Tony yang menunjukkan sisi lain dari dirinya sebagai seorang Captain pasukan.
Semua orang segera membubarkan diri setelah melakukan hormat. Sandra bergegas menuju ke loker dengan barcode milik Otka.
Ia mendapati sebuah koper transparan dan segera mengambilnya. Sandra kembali berdiri ke barisan seraya menenteng koper tersebut dalam genggaman tangan di samping kaki kirinya.
"Ganti pakaian kalian dengan seragam baru itu. Bubar!"
"Yes, Sir!" jawab para kandidat dengan hormat, lalu pergi ke ruang ganti yang tersedia di sana.
Tony melirik Sandra yang memasuki ruang ganti wanita sendirian karena ia tak berkawan dengan jenisnya. Pria itu masih menunjukkan wajah masam, tak ada senyum keramahan dalam dirinya.
Di dalam bilik, Sandra dengan sigap mengganti pakaian warna hijau dengan seragam warna hitam.
Pakaian itu terlihat tangguh seperti anti peluru karena tebal dan teksturnya sedikit kasar pada permukaan luar.
Sandra melihat dirinya di cermin yang tampak lain. Pakaian itu begitu pas di tubuhnya. Bahkan lekuknya terlihat jelas.
Sandra melihat dirinya lagi yang tampak berbeda seperti prajurit super meski tak bersenjata. Ada rasa kagum pada dirinya karena menjadi satu-satunya wanita yang lolos seleksi.
Hingga tiba-tiba, suara lantang terdengar dari luar ruang ganti.
"Satu! Dua!"
"Oh!" pekik Sandra panik karena Tony mulai menghitung.
Dengan sigap, Sandra memasukkan pakaian lamanya ke dalam koper dan menenteng benda itu keluar dari ruang ganti.
Seketika, langkah Sandra terhenti. Semua mata tertuju padanya. Ia gugup karena ditatap tajam, terutama Tony yang menunjukkan wajah dingin.
"Lelet. Kau terlambat. Hukuman. Push up 25 kali. Sekarang!" teriaknya garang.
Sandra terkejut. Ia meletakkan kopernya di lantai dan segera memposisikan diri dengan posisi tersebut. Semua kandidat melihat Sandra yang terlihat pucat karena mendapatkan hukuman seorang diri.
"Satu!"
Sandra memulai menekan tubuhnya ke bawah dengan kedua tangan menopang berikut ujung jari kedua kaki.
"Dua!"
Sandra terlihat masih mampu menahan tubuhnya.
"Tiga!"
__ADS_1
Perlahan, hitungan itu mulai membuat tubuhnya bergetar karena Tony melakukan hitungan secara perlahan seperti di sengaja.
Wajah para pria yang seprofesi dengan Sandra mulai berubah. Mereka terlihat iba karena wajah Sandra mulai berkerut.
"Dua puluh satu!"
"Hempf," dengkus Sandra dengan kedua tangan mulai bergetar.
"Dua puluh dua!"
Keringat mulai menetes di lantai dari wajahnya. Para pria terlihat gelisah, seperti ikut tertekan akan hukuman Sandra.
"Dua puluh tiga!"
"Hempf ... hempf ...."
"Dua puluh empat!"
"Egggg ...."
"Dua puluh lima! Cukup. Bangun dan kembali ke tempatmu!"
Sandra roboh saat gerakan terakhir. Kedua tangannya bergetar dengan sendirinya. Para kandidat pria terlihat iba padanya. Sandra menarik kopernya karena kedua tangan yang terasa seperti tak bertulang.
Wanita cantik itu menundukkan wajah seraya mendekap kopernya erat dan berjalan terhuyung ke barisan. Tony menatap Sandra tajam dari tempatnya berdiri berwajah dingin.
"Simpan pakaian lama kalian ke dalam loker dan temui aku di luar. Bubar!"
"Yes, Sir!" jawab semua orang serempak.
Sandra mendekati lokernya dan memasukkan koper miliknya perlahan di sana. Seorang pria terlihat iba padanya dan membantu Sandra memasukkan koper itu karena terlihat kesulitan.
"Thank you," ucap Sandra dengan senyuman.
"Kau! Kemari!" tegas Tony menunjuk pria yang menolong Sandra dengan mata melotot.
Pria itu terlihat bingung termasuk pria lainnya.
"Jangan ada satupun yang membantu wanita itu. Tak ada pilih kasih. Semua sama," tegasnya menatap semua kandidat. Sandra terkejut akan ucapan Tony yang tak ia sangka. "Dan kau, hukuman 50 kali push up karena membantunya. Bersiap!" teriak Tony lantang.
Pria itu kaget, tapi tak bisa membantah. Ia pun melakukan yang Tony perintahkan, hanya saja menghitung sendiri.
Mata Tony terkunci pada sosok Sandra yang kini menatapnya tajam dari tempatnya berdiri.
Dua orang yang saling mengenal dan berkawan akrab, malah kini terlihat seperti saling membenci. Mata keduanya saling beradu berwajah dingin.
***
Gaes mau info. Novel SIMULATION akan dicetak cuma isinya dalam novel terbit akan lele pangkas cuma 35 eps dan isinya sedikit berbeda dg yang di MT. Jadi ekslusif gitu. Dan tentu saja di novel cetak udah sampai tamat ya. Yg kepo seperti apa kisah akhir dari jeng Sandra boleh diintip pada novel cetak nanti.
Untuk berapa harga novelnya, lele belom tau jadi, tapi estimasi gak sampai 100k. Yg mau dpt coretan ekslusif dari lele, cap bibir merekah dalam novel, silakan nabung mulai dari sekarang, biar bisa peluk bukunya. Kapan lagi lele cetak novel ya kan. Kwkwkw buat kenang2an misal lele nanti udah gak bisa nulis lagi entah dg kendala apa. Itu aja infonya dan jangan lupa boom like audio book lele ya. Makasih❤
tengkiyuw tipsnya. uhuy dapet saweran lagi. besok lagi ya. edisi nglunjak😆 kwkwkwkw
__ADS_1