SIMULATION

SIMULATION
EXCHANGE IDENTITY


__ADS_3

Otka bingung dengan keputusan yang Sandra buat karena malah merelakan kehidupan nyaman di Great Ruler.


"Sandra ...."


"Aku sudah memutuskan," jawabnya dengan senyuman, tapi malah membuat Otka semakin sedih dan berhutang budi.


"Duduk dan nikmati prosesnya. Aku akan memberikan bius lokal. Aku ingin kalian tetap melihat proses pembuatan hasil karyaku," ucap Vemo seraya meletakkan benda-benda pemberian Sandra di mejanya.


Sandra dan Otka mengangguk. Mereka duduk di sebuah kursi kayu yang telah memiliki bantalan pada lengan.


Vemo menyuntikkan bius ke lengan Otka yang akan di tato. Wanita gemuk itu seperti ketakutan sampai matanya terpejam. Vemo tersenyum miring melihat Otka pucat dengan proses ini.


Mata Sandra terfokus saat sebuah papan kayu di lantai Vemo angkat, dan terlihat sebuah koper berwarna hitam yang disembunyikan di dalam sana.


Vemo membuka isi koper itu dan meletakkan isinya di atas meja samping Sandra duduk. Mata Sandra sibuk mengamati benda-benda yang tak pernah dilihatnya penuh selidik.


Beberapa benda memiliki ujung yang dipasangi jarum dengan silinder berwarna-warni di bagian atas untuk menampung cairan. Alat itu tak memiliki kabel jenis portabel.


Hingga mata Sandra teralih pada sebuah benda yang Vemo keluarkan dari dalam koper dan ternyata memiliki dua lapisan.


Vemo mengangkat benda berbentuk sebuah papan transparan selebar lengannya dengan perekat di kanan kiri seperti gelang.


Vemo menyalakan alat itu hingga papan tersebut menyala lampu putih. Vemo menyuntik lengan Sandra yang memiliki barcode.


Sandra memejamkan mata sejenak dan kembali membukanya saat ia merasakan cairan dingin menyentuh bekas suntikannya.


Vemo lalu memasang alat itu ke tangannya yang memiliki barcode. Sandra diam mengamati saat papan transparan itu seperti memindai barcode di lengannya hingga sebuah tulisan "Terekam" muncul di layar.


Vemo melepaskan alat itu dan kini memasangkan ke tangan Otka. Wanita gemuk itu pucat, entah apa yang ia bayangkan dari proses modifikasi tato tersebut.


Sedang Sandra, rasa ingin tahu yang memenuhi isi kepalanya membuat matanya terbuka lebar untuk melihat hal baru yang tak pernah ia pelajari sebelumnya.


Vemo terlihat mengotak-atik layar pada benda tersebut seperti melakukan pemindaian pada barcode Otka.


Sandra melihat jika ada warna hijau pada layar berbentuk persegi panjang itu. Alat itu seperti mencoba menyamakan garis dan angka pada barcode Otka dengan miliknya.


Tak lama, Vemo melepaskan alat itu dan kini mengeluarkan alat seperti sebuah pistol kecil dengan ujung mengerucut berdiameter kecil yang memiliki silinder di atasnya berwarna cream seperti kulit Otka.


"Jangan bergerak. Aku tak mau lantaiku basah karena darahmu," ucap Vemo menatap Otka tajam dan wanita gemuk itu mengangguk dengan mata terpejam terlihat begitu ketakutan.


SIINGG!!


Suara mesin halus terdengar dari benda tersebut. Otka terlihat pucat saat ujung kerucut itu menekan kulit yang tertera barcode. Sandra melihat Vemo mengurangi banyaknya garis dengan alat tersebut dan penghapusan nomer.


"Kau bohong. Tak ada darah di sana," ucap Sandra berbisik dan Vemo hanya tersenyum seraya menutup kulit Otka dengan lapisan seperti cet, tapi permanen.


Sandra melihat Vemo seperti sedang melukis. Ia tetap tenang dan santai selama proses modifikasi tato yang memakan waktu hampir 15 menit lamanya.


Dan hasilnya, cukup mengejutkan. Garis dan angka barcode itu hilang tertutup oleh cet tersebut. Vemo membiarkan tangan Otka direbahkan menunggu cet itu kering.


"Oke. Giliranmu," ucap Vemo yang kini menarik kursinya dan duduk di samping Sandra.


Sandra yang telah melihat proses penutupan barcode tersebut terlihat tenang, sedang Otka masih pucat dan tak bisa melihat karena proses itu tertutup oleh tubuh Vemo.


"Jangan bergerak, Otka. Jika hasilnya jelek, itu bukan salahku," ucap Vemo seraya melakukan penutupan garis barcode dan angka pada kulit Sandra.


"Sorry," jawab Otka kembali duduk dengan tegang.

__ADS_1


Sandra terlihat menikmati proses modifikasi itu seperti melakukan perawatan tubuh. Ia memejamkan mata, dan malah tertidur. Otka dan Vemo yang menyadari hal tersebut tersenyum tipis.


Entah sudah berapa lama Sandra tertidur. Ia terbangun dan melihat kening Vemo berkerut. Tiba-tiba seringai Vemo keluar.


Benda yang melakukan pemindaian di tangannya dengan barcode tercetak mulai menghimpit dengan kuat.


Sandra melebarkan matanya, saat layar benda itu menyala merah dan terasa panas.


CESSS!!


"Argh!" pekik kaget.


Vemo terkejut terlebih Otka karena kening Sandra sampai berkerut. Otka menatap Vemo seksama yang ikut kaget akan hal itu.


Sandra mengepalkan tangannya yang sedang dicetak barcode milik Otka. Sandra menahan erangannya dengan mata terpejam hingga rahangnya mengeras. Sandra berusaha untuk tak memberontak karena takut jika hasilnya gagal.


"Bukankah kau membiusnya? Kenapa Sandra bisa merasakan sakit?" tanya Otka melotot pada Vemo.


"Kau bertanya padaku?" balasnya melirik tajam.


Otka langsung memejamkan mata dan memalingkan wajah. Ia terlihat takut dan cemas saat mendengar rintihan Sandra karena ternyata bius lokalnya telah habis dan kini wanita cantik itu merasakan sakit di tangannya.


"Vemo. Kami hanya memiliki sisa waktu 15 menit di sini," ucap Otka terlihat gugup.


Vemo hanya melirik, tak menjawab. Wajah Sandra memerah berikut kulitnya karena efek proses modifikasi yang ternyata menyakiti dirinya.


Sandra mulai berkeringat dan berulang kali mencoba untuk mengatur nafasnya karena jantungnya serasa akan meledak.


Otka mengintip dari balik pintu kediaman Vemo, dan matanya melebar seketika.


Otka panik dan mondar-mandir di dalam rumah. Mata Vemo terfokus pada lengan Sandra yang tercetak barcode baru.


Otka terlihat bingung dengan keadaan ini. Sandra hanya bisa pasrah, dan berharap usahanya ini bisa menyelamatkan keluarga Otka.


PIP!


"Selesai," ucap Vemo dengan senyum tipis seraya melepaskan alat itu perlahan. Vemo meniup tangan Sandra seraya mengamati hasil karyanya dengan serius.


"Oh, hah ... hah," ucapnya tersengal terlihat lega. "Apa sudah selesai?" tanya Sandra seraya duduk perlahan terlihat begitu letih. "Oh, wow!" pekiknya terkejut saat melihat barcode di lengannya berubah. "Kau hebat, Vemo," ucap Sandra memuji, tapi masih belum berani menyentuh barcode baru miliknya karena terlihat sedikit lembek dan merah di sekelilingnya.


"Oh, thank you, Vemo. Tapi, kami harus segera pergi. Sampai jumpa!" ucap Otka seraya menarik tangan Sandra dan mengajaknya segera keluar.


Sandra kembali memakai tas ranselnya, meski ia terlihat pucat dan keringat membasahi pakaiannya.


Ternyata, proses modifikasi tato itu membuat Sandra mual dan demam. Sandra berlari dengan terhuyung seperti akan pingsan.


Wanita cantik itu merasa pandangannya kabur. Ditambah, tangannya terasa sedikit perih. Sandra menutup cetakan barcode barunya dengan jaket yang ia kenakan.


"Semoga kita bisa keluar," ucap Otka panik dan berlari tergesa.


"Otka!" teriak polisi perbatasan robot level E yang berdiri di depan pintu keluar.


"Maaf, aku sungguh minta maaf. Kami tadi tersesat. Please, biarkan kami keluar. Ayahku menungguku," ucap Otka memelas kepada User kawan ayahnya dulu.


"Kau tak boleh kembali lagi. Ini terakhir kalinya kau, dan kawanmu itu masuk kemari," tegasnya.


"Why?" tanya Sandra lesu.

__ADS_1


"Kamera pengawas melihat kalian berdua menemui Vemo. Apa yang kalian lakukan?"


Sandra dan Otka pucat seketika. Keduanya terlihat gugup dan saling melirik seperti mencoba menyamakan pemikiran.


"Aku ... aku hanya mengucapkan selamat tinggal. Karena ... aku tak bisa berkunjung kemari lagi. Aku diterima bekerja di sebuah restoran," jawab Otka terlihat gugup.


Polisi robot itu diam melihat Otka tajam, lalu pandangannya beralih ke Sandra yang terlihat lunglai.


"Apa kawanmu itu sakit?" tanya User tersebut curiga.


"Oh, mm ... tadi ... aku mencoba sebuah minuman, dan aku merasa mual. Aku hanya ingin segera pulang, dan aku juga tak mau kembali kemari, Sir. Tempat ini ... entahlah, bagaimana menyebutnya," ucap Sandra dengan mata terbuka tertutup seperti orang mabuk.


"Pergi. Ingat. Ini terakhir kali. Jika nekat datang, aku tak akan mengizinkan kalian berdua masuk lagi. Paham?!"


"Yes, yes," jawab Otka dan Sandra bersamaan.


Dua wanita itu diizinkan pergi. Sandra dan Otka bernafas lega. Mereka segera keluar dari Distrik 10 dan menuju ke stasiun kereta cepat.


Selama perjalanan, Sandra terlihat begitu kesakitan. Ia memegangi tangannya yang terasa panas dan perih. Otka bingung, karena ia tak merasakan dampak apapun dari proses modifikasi tato.


"Sebaiknya kita ke Rumah Sakit, Sandra. Aku tak ingin kau sakit karena hal ini," pinta Otka khawatir.


Sandra mengangguk pasrah. Akhirnya, begitu kereta tiba di Distrik 7, Otka membawa Sandra ke Rumah Sakit. Otka menemani Sandra saat tabung pemeriksa mulai melakukan tugasnya.


"Pemindaian barcode," ucap mesin.


Sandra dan Otka terkejut. Mereka khawatir jika hasil pemindaian gagal. Jantung dua wanita itu berdebar kencang tak karuan.


Di tambah, hasil pemindaian pertama, barcode di tangan Sandra tak terdeteksi. Otka dan Sandra saling melirik terlihat tegang.


CRAT!


Sandra terkejut, saat tangannya yang tercetak barcode disemprot oleh sebuah cairan yang terasa dingin.


Mata Sandra melebar ketika tangan robot membersihkan barcode tersebut. Jantung Sandra serasa berhenti berdetak untuk sesaat karena khawatir jika barcode itu terhapus.


PIP!


"Barcode diterima. Otka Oskova. ID O-D7-3765."


Mulut Sandra menganga. Ia tak menyangka jika barcode modifikasi karya Vemo berhasil. Otka terlihat senang dan lega.


Robot dokter akhirnya menganalisis penyakit yang diderita Sandra. Hasil mengatakan jika Sandra mengalami dehidrasi, kekurangan vitamin, demam, kembung, sakit kepala, dan kekurangan darah. Sandra diberikan banyak obat agar ia kembali pulih.


Sandra diberikan sebuah suntikan penambah stamina agar ia bisa pulang ke rumah dengan selamat, tanpa harus diantar oleh mobil ambulance.


Sandra dibiarkan berbaring selama 1 jam agar obat yang diberikan dokter robot tersebut terserap di tubuhnya.


"Terima kasih, Sandra. Entah apa yang membuatmu melakukan hal nekat ini, tapi ... aku berhutang budi padamu," ucap Otka sedih yang duduk di samping Sandra menemaninya.


"Kau, ikut aku pulang. Sepertinya, kau tak menyadari, jika kita nanti juga harus bertukar hunian. Kau kini, Sandra Salvarian. Kau tak bisa masuk ke rumahmu, begitupula aku meski itu rumahku," ucapnya mengingatkan dan Otka baru menyadari hal itu.


"Lalu ... bagaimana kehidupan kita selanjutnya, Sandra?" tanya Otka sedih.


"Seperti yang kukatakan. Aku kini Otka Oskova. Menginaplah semalam di rumahku, dan akan kuberitahukan bagaimana cara mengoperasikan benda-benda di rumahku. Soal rumahmu, kau tak perlu mengajarinya, aku sudah bisa," jawabnya masih terlihat lesu.


Otka menangis. Sandra diam saja dan memilih untuk memejamkan mata agar bisa tidur sejenak sebelum ia pulang ke rumahnya untuk terakhir kali, sebelum ia nanti bertukar kehidupan dengan Otka.

__ADS_1


__ADS_2