
Sandra menyelesaikan misi di Gerbang Kermogal dengan baik. Ia bisa masuk dan keluar tanpa ketahuan oleh mutan serigala yang melindungi tempat tersebut.
Sandra berlari keluar dari kawasan tersebut seraya menyalakan GPS untuk meminta penjemputan. Mola segera mengeksekusi perintah tersebut.
Tiba-tiba, sebuah helikopter mendarat. Bentuk helikopter tersebut seperti seekor serangga. Sandra bahkan terlihat bingung saat akan menaiki benda terbang tersebut.
"Mensinkronkan HeliBug ke robot level C," ucap Mola. "Rentangkan tangan untuk proses pengangkutan," perintah Mola dan Sandra segera melakukan instruksi tersebut.
Enam buah benda di bagian bawah helikopter yang berbentuk seperti kaki, menangkap tubuh Sandra. Kaki-kaki itu bisa memanjang, menyesuaikan bentuk tubuh dari robot tersebut.
Perlahan, tubuh Sandra terangkat. Ia terlihat kagum karena bisa melihat pemandangan sekitar dengan jelas di bawahnya.
Dua kaki robot dari helikopter itu menjadi dudukkan, sehingga Sandra bisa duduk di sana. Kedua tangannya memeluk dua kaki robot yang menjadi penahan di bagian depan dada seperti seat belt. Sedang dua kaki robot lainnya masih berada di tempatnya.
Senyum Sandra merekah, ia terlihat begitu senang karena baginya hal baru ini seperti menaiki wahana bermain.
"Oke. Misinya telah selesai. Apakah ... Otka siap untuk uji coba sebenarnya dengan robot level A?" tanya Wapres Lala seraya melangkah keluar dari ruangan tersebut dan membiarkan Sandra menikmati perjalanan pulangnya ke Distrik 9.
Namun, Presiden Roman masih diam tak menjawab. Ia yang awalnya ingin bertemu dengan Otka sebelum misi diberikan, dihalangi oleh Matteo yang mengatakan jika ia tak perlu memberitahukannya akan resiko sebenarnya jika terjadi kegagalan sistem dan berimbas pada fungsi syarafnya nanti.
"Oke. Minggu depan. Aku ingin memastikan semua berjalan sempurna," jawab Roman pada akhirnya. Semua orang tersenyum merekah. Mereka terlihat tak sabar untuk menunggu waktu itu tiba.
Para pejabat mulai meninggalkan lokasi dan terlihat asyik berbincang antara satu dan yang lain. Lala dan Matteo, masih berada di ruangan karena pandangan Roman masih tertuju padanya.
"Ada apa, Sayang? Apa yang kaupikirkan?" tanya Lala seraya mendekati suaminya dan menatapnya penuh selidik.
Roman tak menjawab. Ia melirik Matteo yang ikut menatapnya seksama. Tiba-tiba, Roman berpaling dan pergi begitu saja. Lala dan Matteo terlihat bingung dengan sikap Presiden mereka yang bersikap lain tak seperti biasanya.
Akhirnya, Sandra kembali ke dunia nyata di ruang simulasi. Lala memberikan selamat dan sambutan hangat dengan senyum merekah.
Sandra terlihat senang, tapi senyumnya pudar saat mendapati Matteo masih berada di sana. Orang yang paling ia benci di Great Ruler malah memberikannya senyuman.
"Sebagai ucapan selamat atas percobaan pertama, bagaimana jika makan malam denganku?" ajak Matteo, dan Lala hanya diam, meski keningnya berkerut.
"Terima kasih atas tawarannya, Jenderal Matteo. Tapi tidak, terima kasih. Aku masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan," jawabnya memasang wajah dingin.
__ADS_1
"Urusan apa?" tanya Matteo bingung.
"Menulis surat untuk suamiku, Vermendis Vemo. Aku harus memberikannya kabar jika berhasil pada percobaan tes pertama ini. Maaf, aku harus pergi. Aku sangat merindukannya. Selamat siang," jawab Sandra seraya memberikan hormat, lalu pergi meninggalkan ruang simulasi.
Lala melirik Matteo yang terlihat kesal karena dagunya bergerak. Para operator dan petugas di sana memilih diam.
"Wow, ini ... rekor. Apakah dia wanita pertama yang menolak ajakanmu, Matteo?" tanya Lala melirik keponakannya.
Matteo tak menjawab, dan ia ikut pergi meninggalkan ruangan memasang wajah masam. Lala tersenyum geli karena penolakan ini jarang terjadi.
Matteo diam-diam mengikuti Sandra yang kembali ke ruangannya. Jenderal muda itu menemukan pintu tempat Sandra tinggal di fasilitas pelatihan militer Great Ruler.
"Sudah kutandai. Yang kedua, kau tak akan mungkin menolakku," ucapnya yakin seraya menunjuk pintu. Matteo lalu pergi meninggalkan koridor di dampingi oleh Spectra—robot pribadinya.
Sandra yang berada di ruangannya segera membersihkan diri. Ia merasa gerah dan tubuhnya berkeringat.
Sandra mengganti pakaiannya dengan seragam berwarna hitam yang ia dapat dari loker entah sejak kapan pakaian-pakaian itu berada di sana.
"Otka Oskova. Presiden Roman meminta izin untuk memasuki ruangan," ucap Asisten ruangan.
Praktis, mata Sandra melebar. Entah angin apa yang membawa Presiden Great Ruler ingin menemuinya. Sandra bergegas merapikan diri dan ruangannya agar layak untuk dimasuki oleh orang nomor satu di Great Ruler tersebut.
"Diizinkan," jawabnya gugup, dengan posisi tegap sempurna.
PIP!
"Halo, Otka Oskova. Atau perlu kupanggil ... Sandra Salvarian?"
Seketika, mata Sandra melebar. Ia sampai lupa untuk memberikan hormat karena terkejut. Presiden Roman mengatakannya dengan tenang bahkan tersenyum tipis ketika melangkah dan duduk di sofa panjang yang tersedia di ruangannya.
"Maaf jika aku langsung duduk. Aku hanya merasa lelah. Kau ... tak keberatan 'kan?" tanyanya sungkan.
Sandra mengangguk cepat. Ia terlihat bingung saat Roman menatapnya tajam. Sandra seperti orang kebingungan. Ia hanya berdiri dan tak berani menatap mata sang Presiden, sedang Roman, menatapnya lekat.
"Kenapa kau sampai melakukan kecurangan?" tanya Roman pelan.
__ADS_1
Wajah Sandra tertunduk. Ia terlihat gugup, tapi pada akhirnya berani menaikkan pandangan dan membalas tatapan Roman.
"Matteo," jawabnya tegas
Kening Roman berkerut. "Matteo?" Sandra mengangguk. Roman diam sejenak seperti memikirkan ucapannya. Hingga akhirnya, ia ber-Oh saat menyadari sesuatu. "Jika tujuanmu bergabung hanya untuk membalas dendam, kau tak akan kuizinkan."
Sandra kembali terkejut untuk kesekian kali. Roman seakan bisa tahu isi pikirannya.
Pantas saja ia menjadi Presiden. Ia seperti cenayang, batin Sandra kagum sampai wajah lugunya tampak jelas di mata Roman.
"Semua User yang pergi berperang saat itu tahu konsekuensi dari tindakan yang mereka ambil," ucap Roman terlihat serius.
"Matteo melalaikan tugasnya, Sir. Anda pasti sudah mengenaliku entah sejak kapan, tapi ... ya, aku Sandra Salvarian. Aku minta maaf atas kecuranganku. Yang Anda ucapkan benar. Aku dendam pada Matteo, dan ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," jawab Sandra tegas, meski terdengar suaranya bergetar.
Roman diam sejenak menatap gerak-gerik Sandra yang kembali tertunduk terlihat sedih. Roman menarik nafas dalam.
"Duduklah. Ada yang ingin kubicarakan mengenai Matteo Corza, itu pun jika kau ingin mendengarnya," pintanya seraya menepuk bantalan sofa di sebelahnya dengan pelan.
Sandra terlihat gugup, tapi ia mengangguk menerima ajakan itu. Sandra melangkah perlahan terlihat sungkan.
Roman menatap Sandra lekat yang menjaga jarak saat mereka duduk menyamping, sehingga terlihat jelas gerak-gerik keduanya.
"Apa kau kenal Colosseum Blue?"
Kembali, mata Sandra melebar. Ia mengangguk. Menurutnya, Roman seperti tahu jika ia akan berbohong atau berdalih.
Baginya, tak ada gunanya membohongi sang Presiden. Sandra pasrah dengan semua pertanyaan yang diajukan Roman padanya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST & GOOGLE
uhuy makasih tipsnya. lele padamu😍 wah besok lele lembur buat mulai siapin naskah utk dicetak nanti. doain seminggu selesai ya. amin🙏 trims doa dan dukungannya semua. lele padamu💋
__ADS_1