SIMULATION

SIMULATION
MATTEO IS BACK


__ADS_3

Malam itu, keduanya terlarut dalam romansa cinta. Sandra tak henti-hentinya menggoyangkan pinggulnya untuk memuaskan kejantanan Blue di terowongannya, begitupula Blue, yang tak ingin mengecewakan pasangannya dengan terus menyodokkan miliknya dengan kuat hingga Sandra tak bisa menahan seruan kenikmatan dalam dirinya.


Keduanya sampai tak bisa berkata-kata. Blue terus menggempur dan Sandra tetap bertahan agar ia tak tumbang sampai bertemu titik puncaknya. Namun, Blue sungguh bersemangat di hari menjelang pagi tersebut.


Hingga akhirnya, keduanya saling mengerang. Blue mencengkeram kuat kedua pergelangan tangan Sandra hingga wanita cantik itu merasa seperti terbelenggu dalam ruang tahanan penuh gairah.


Blue terus mendorong miliknya dengan kuat dan ritme semakin cepat hingga dada Sandra membusung. Blue segera menyambut dua pucuk indah yang meminta untuk dimanjakan oleh mulutnya.


Tubuh Sandra menggelinjang hebat disertai rintihan kenikmatan yang ia tahan saat Blue berusaha keras memuaskannya. Namun, erangan Sandra malah membuat Blue lebih cepat mencapai puncak.


"Agh!" erang Blue saat ia mendorong miliknya kuat dan menggencet tubuh bagian bawah Sandra saat melepaskan seluruh amunisi tak berpengaman itu.


Kedua kaki Sandra memeluk pinggul Blue erat agar kenikmatan itu tak lepas dari dirinya. Blue masih tak melepaskan cengkeraman di kedua pergelangan Sandra saat wanita itu pasrah ketika ia dibuahi dalam keadaan terlentang.


Perlahan, Blue melepaskan cengkeramannya seiring tubuhnya yang melemah. Blue roboh di pelukan Sandra ketika wanita itu meraihnya dan kini membelai lembut kepalanya dengan mata terpejam serta senyuman manis terukir.


"Tidurlah, Blue. Kau butuh banyak istirahat. Aku juga lelah. Kita begadang semalaman," ucap Sandra berbisik dan Blue mengangguk.


Sayangnya, kepala Blue yang masih sakit, membuatnya tidur dalam posisi miring. Ia menarik tangan Sandra untuk memeluknya dari belakang. Sandra tersenyum karena Blue sungguh tak ingin ditinggalkan.


"Tetaplah di sini sampai esok, esok, dan seterusnya hingga matahari tak bersinar lagi, Sandra. Aku sangat mencintaimu. Jangan pergi lagi," pintanya memunggungi.


"Oke," jawab Sandra dengan senyuman dan merapatkan tubuhnya di belakang Blue seraya memeluknya.


Sandra mengecup bahu Blue lembut dan membuat pria tampan itu semakin mengembangkan senyuman.


Keduanya terlihat saling mencintai dan tidur dengan mata terpejam. Sebuah selimut tebal menutupi tubuh indah dua insan itu di kamar bercahaya redup Matteo Corza.


Entah sudah berapa lama mereka tertidur, tak ada satupun yang membangunkan mereka hingga pria bermanik biru itu membuka matanya perlahan, meski masih terlihat mengantuk.


Keningnya berkerut sembari memegangi kepalanya yang sakit. Namun, matanya mulai terbuka semakin lebar saat menyadari jika tubuhnya dipepet oleh sesuatu.


Seketika, mata pria tampan itu terbelalak lebar ketika mendapati sebuah tangan memeluk perutnya.


Wajah pria itu pucat seketika. Ia mengangkat selimutnya dan mendapati tubuhnya polos tak berpakaian.


Ia membalik tubuhnya perlahan agar tak membangunkan sosok di belakang tubuhnya itu. Praktis, mata pria berambut cokelat itu melebar seketika.


Kenapa dia ada di sini? Dan dia ..., ucapnya bingung dalam hati seraya mengintip di balik selimut yang menutupi tubuh polos Sandra. Oh, shitt! Apa yang terjadi? Apakah ... aku ... aku melakukannya dengannya semalam? Kenapa aku tak ingat? tanyanya melotot dengan jantung berdebar kencang.


"Emph," keluh Sandra saat selimut yang menutup tubuhnya terangkat. Perlahan, Sandra membuka matanya, tapi pria di depannya dengan sigap menutup mata pura-pura tidur. "Oh. Hai, Blue," panggil Sandra dengan senyuman saat mendapati wajah tampan pria yang disukainya tertangkap pandangannya.

__ADS_1


Blue? Apa yang terjadi? Apakah ... oh, shitt! Apakah ... semalam Blue muncul dan mengambil alih diriku? Bagaimana bisa? Sial, sekarang aku harus bagaimana? pekik Matteo dalam hati berpikir keras dan kebingungan.


CUP!


Matteo tersentak saat merasakan pipinya dicium lembut.


"Oh, belum bangun juga? Baiklah," ucap Sandra lalu mengecup kening pria yang masih ia sangka sebagai Blue. Jantung Matteo semakin berdebar tak karuan. "Aaa!" teriak Sandra kaget saat tiba-tiba saja pria di depannya memeluknya dengan cepat dan masih memejamkan mata. "Hahaha, kau sudah bangun. Kau mengerjaiku," tawa Sandra terlihat bahagia seraya mengelus kepala pria di depannya lembut.


Matteo membuka matanya perlahan yang kini wajahnya singgah di dada wanita berambut pirang tersebut. Matteo menarik nafas dalam.


"Halo, beautiful," ucap Matteo seraya melepaskan pelukan Sandra dan tersenyum tipis, meski terlihat kaku.


"Good morning," jawab Sandra dengan senyuman, masih tak menyadari perubahan itu. "Bagaimana, apakah masih terasa sakit?" tanya Sandra sendu.


"Hem?''


"Kepalamu," sambungnya seraya mengelus luka di kepala yang ia kompres semalam.


"Ya, sedikit."


"Kita ke Rumah Sakit saja. Aku khawatir jika kau mengalami luka dalam, Blue," sambung Sandra cemas.


Matteo diam menatap Sandra lekat yang terlihat bersikap lembut tak seperti biasanya yang cuek dan sedikit ketus.


"Sebaiknya, kapan-kapan saja kita pergi ke Distrik 2 untuk mencoba permainan di Sentra Video Games-mu. Dan sebenarnya ... aku sangat berharap kau selalu menjadi Blue," ucapnya sendu.


Praktis, Matteo terkejut, tapi Sandra tak menyadarinya. Wanita itu sudah beranjak dan kini pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Matteo masih terpaku di ranjangnya terlihat berpikir serius.


Apa yang Blue janjikan padanya? Bagaimana jika ... dia menyadari jika aku bukan Blue? Dia ... pasti akan sangat membenciku dan kecewa. Aku ... tidak mau hal itu terjadi, aku tidak mau.


Matteo terlihat gugup. Ia segera beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi menyusul Sandra, meski ia masih merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya.


"Oh!" kejut Sandra ketika sang Jenderal memeluknya dari belakang. Sandra membalik tubuhnya dan meletakkan kedua tangan di pundak pria berwajah tampan itu. "Bagaimana? Masih terasa sakit? Lebammu cukup banyak," tanya Sandra seraya meraba bekas lebam yang ia ingat di tubuh pria yang menyatakan cintanya semalam.


Matteo diam menatap wajah Sandra lekat yang terlihat peduli padanya.


"Biarkan pihak Rumah Sakit yang menyembuhkanku. Aku ... berterima kasih karena ... kau sudah menjadi perawatku di masa cuti bersama ini," jawab Matteo ramah.


"Aku hanya tak ingin kau sakit, Blue. Terakhir aku melihatmu sakit, sikapmu berubah buruk padaku," ucap Sandra sedih lalu memeluk tubuh pria di depannya erat dalam guyuran shower air hangat.


"Berubah buruk?" Sandra mengangguk. Matteo terlihat gugup, tapi membalas pelukan itu meski terlihat ragu.

__ADS_1


"Kau jadi ... seperti Matteo Corza. Aku tak menyukai kembaranmu itu. Meski terkadang, aku melihat sisi lain darinya sepertimu," jawab Sandra yang membuat Matteo shock seketika.


"Aku mengerti. Sebaiknya, kita segera mandi dan bersiap. Sepertinya luka di kepalaku semakin memburuk. Kepalaku sakit," jawabnya pucat seraya memegangi kepalanya.


"Oke. Sini, aku mandikan," jawab Sandra seraya melepaskan pelukan dan kini fokus untuk memandikan sang Jenderal, meski kamar mandi itu bisa melakukan tugasnya secara otomatis.


Matteo menatap Sandra lekat saat ia membasahi rambutnya perlahan, tapi tak memakaikannya sampo karena khawatir ada luka yang tak terlihat di balik rambut lebatnya.


Sandra juga menghindari daerah yang terdapat lebam dari sabun yang tersempot dari sisi-sisi yang mengelilingi tubuh sang Jenderal.


Usai mandi, Sandra juga mengeringkan tubuh pria yang dikasihinya dengan handuk. Sandra memapah Matteo kembali ke kamar.


"Aku bisa sendiri. Kau selesaikan saja mandimu," ucap Matteo berdiri di pintu ruang ganti?


"Oke," jawab Sandra seraya meninggalkan kecupan di bibir sang Jenderal dengan lembut lalu berjalan ke kamar mandi.


Matteo berdiri diam dengan pandangan tak menentu seperti bingung dengan tindakan yang akan dilakukan setelahnya.


Ia segera berpakaian di mana dua buah tangan robot muncul dari atap ruangan tempat ia menyimpan koleksi pakaian.


Matteo menekan sebuah tombol di cermin setinggi tubuhnya dengan telunjuk untuk mengaktifkan sebuah fiture.


Sebuah simulasi berpakaian muncul seperti salon yang pernah dikunjungi oleh Sandra dan Tony beberapa waktu lalu.


Tubuh Matteo yang hanya tertutupi dengan handuk melilit di pinggulnya kini terlihat seperti memakai pakaian saat sang Jenderal mulai memberikan instruksi.


"No. Next, next, next," ucapnya dengan wajah datar saat tak menemukan pakaian cocok dengan penampilannya. "Oke, stop. I choose that shirt," ucapnya seraya menunjuk sebuah sweater warna biru tua lengan panjang.


Sebuah tangan robot bergerak menuju ke lemari penyimpanan koleksi kaos di sisi sebelah kanan. Matteo merentangkan tangan ketika baju itu dipakaikan ke tubuhnya, seraya melakukan pilihan untuk koleksi selanjutnya.


"Aku ambil celana jeans itu," pintanya di depan cermin, dan tangan robot lainnya segera bergerak ke lemari penyimpanan koleksi celana jeans dengan banyak warna dan jenis.


Matteo berbusana di bantu oleh para tangan robot. Usai berdandan, Matteo keluar dan mendapati Sandra kembali mengenakan gaun yang dipakainya semalam.


"Kenapa kau pakai pakaian yang sama?" tanya Matteo menyipitkan mata.


"Mm, aku tak memiliki pakaian lain, Blue. Namun, ada beberapa baju di kamarku. Aku akan pulang menggantinya," jawab Sandra dengan senyuman dan Matteo mengangguk.


Sandra pamit pulang terlebih dahulu. Matteo menunggu di rumah dan meminta Sandra kembali untuk sarapan bersamanya sebelum pergi ke Rumah Sakit.


***

__ADS_1


Uhuy tengkiyuw tipsnya❤ Yg belom vote vocer ke 4 Young Mobster dulu aja ya. Kuy itu vocer gratis dan cuma berlaku seminggu doang, sebelum xpayet gunakan vote ya.



__ADS_2