SIMULATION

SIMULATION
ROBOT LEVEL D G2*


__ADS_3

Meskipun jabatan Brego tak setinggi Matteo Corza, tapi pria tua itu dihormati oleh para penduduk Great Ruler karena dikenal bijak dalam mengambil keputusan.


Malam itu, Matteo sudah menyiapkan beberapa kamar untuk ditempati oleh para kandidat sesuai dengan tim. Sandra mengatakan tak keberatan meski ia wanita seorang diri dan sekamar dengan kawan pria lainnya. Namun sepertinya, Matteo terlihat gelisah saat meninggalkan wanita yang memberikan kesan cukup mendalam di hatinya ketika robotnya harus dinonaktifkan, sedang dirinya berada di ruang simulasi Great Ruler.


"Jenderal. Anda mau ke mana?" tanya Xili yang berjalan bersama rombongan petugas operator, saat Matteo sudah selesai dengan tugasnya dan malah pergi menuju ke terowongan tempat robot disimpan.


"Oh. Aku ... mm, aku ingin memastikan robot level D generasi baru sudah siap untuk diterjunkan di lapangan," jawab Matteo gugup.


"Em, oke," jawab Xili mengangguk.


Matteo berjalan dengan tergesa diikuti oleh Spectra di sampingnya sedang Xili dan lainnya kembali ke kamar masing-masing. Saat sang Jenderal akan menaiki sebuah helikopter single, tiba-tiba saja, Wakil Presiden Lala muncul dari sebuah robot level D generasi terbaru yang diberi nama D G2 seri 04.


"Oh! Kau terlihat tergesa. Mau ke mana, Keponakanku sayang?" tanya Lala berkesan menyindir dari dudukkan pilot.


Praktis, mata Matteo melebar seketika.


"Mm. Aku ...," jawabnya bingung tak jadi menaiki helikopter.


Lala turun dari robot besar tersebut dibantu oleh para petugas dengan sebuah lift portabel. Lala mendekati Matteo yang terlihat gugup tak seperti biasanya.


"Aku ... mm," jawabnya semakin kaku. Lala menahan senyum.


"Istirahatlah. Kau bekerja keras selama ini sejak kejadian 5 tahun silam. Semua robot sudah kau upgrade menjadi lebih baik. Ambilah cuti, jangan memaksakan diri, bersenang-senanglah," ucap Lala seraya mengelus lembut kepala pria bermanik biru tersebut.


Matteo diam sejenak. "Oh, kau bilang bersenang-senang 'kan? Aku akan melakukannya. Oleh karena itu, Wakil Presiden Lala. Anda mengizinkanku pergi keluar benteng menuju ke Oasis?" tanya Matteo dengan wajah berbinar penuh harap.


Kening Lala berkerut. "Sudah ada Brego di sana," jawab Lala heran.


"Ya, aku tahu. Hanya saja, selama ini aku tak pernah berkunjung ke sana. Aku hanya menerima laporan dan melihatnya melalui robot saja. Aku ingin tahu secara nyata keadaan di tempat itu, Bibi," jawab Matteo antusias.


"Bukannya kau yang bilang sendiri jika tempat itu primitif, kuno, panas, gersang, dan ... hal-hal buruk lainnya. Kenapa sekarang tertarik? Oh, bahkan aku ingat saat kau bilang, 'Jangan biarkan aku mendatangi tempat itu, Bibi. Aku tak mau tinggal di sana bahkan tak sudi menginjakkan kaki di tempat itu'. Kau ingat? Itu ucapan yang terlontar dari mulutmu 10 tahun lalu," tegas Lala menekankan.


Matteo menelan ludah. Para petugas yang ikut mendengar hal tersebut, menatap Matteo saksama.


"Itu 10 tahun yang lalu. Aku masih labil dan ... berpikiran sempit. Aku kini sudah dewasa, tampan, berpikiran luas, dan tentu saja semakin cerdas. Kenapa kau mengingat hal tak berguna seperti itu. Sudahlah, aku mau pergi dulu. Aku akan baik-baik saja," ucapnya gembira dan malah mendatangi robot level D G2 yang masih dalam tahap uji coba.


"Hei! Kenapa kau memakainya?!" pekik Lala panik.


"Jika tak diuji di lapangan secara langsung, mana tahu robot ini berfungsi atau tidak. Aku pergi dulu, Bibi. Bye!" jawab Matteo riang seraya melambaikan tangan ketika menaiki lift di belakang tubuh robot menuju ke atas kepala robot bersama Spectra yang duduk di sisinya.


Kepala robot tertutup rapat untuk melindungi pengendalinya. Hanya saja, robot level D G2 masih dalam pengembangan sehingga belum diproduksi dalam jumlah banyak. Namun, sang Jenderal nekat melakukan uji coba dengan prototype tersebut.


"Ya, Tuhan. Ada apa dengan anak itu? Apa otaknya bermasalah lagi?" tanya Lala cemas.

__ADS_1



PIP!


"Oke! Mari kita coba berkendara dengan robot besar ini, Spectra. Sangat lama aku membuatnya bahkan hanya bisa menciptakan satu. Terkadang aku berpikir, apakah aku jenius sungguhan?" ucap Matteo menilai dirinya sendiri seraya menekan tombol di papan kendali untuk mengaktifkan robot tersebut yang digerakkan menggunakan joystick dengan dua genggaman tangan.


GREEKKK!!


Lala dan petugas lainnya melangkah mundur saat pintu tempat menyimpan robot tersebut terbuka. Matteo tersenyum di balik kursi kemudi yang tak tampak dari luar, di mana letak pilot dari robot tersebut.


Matteo sengaja membuat design yang berbeda agar musuh tak mengetahui robot tersebut dikendalikan langsung oleh manusia di dalamnya atau terhubung dengan simulator.


Ternyata, pergerakan robot besar warna hitam itu cukup mencuri perhatian para tentara di Distrik 9 karena muncul di saat jam pulang kerja. Mata semua orang menyorot robot tersebut yang bergerak dengan cepat dan stabil meski getaran dari langkah besarnya cukup mengguncang orang-orang yang berdiri di sekitarnya.


"Wow! Siapa yang mengendalikannya?" tanya Laksamana Joe karena pilot robot tersebut tak terlihat dari luar.


"Entahlah, Laksamana," jawab Tony ikut bingung yang berdiri di sampingnya.


Roman yang sedang mengawasi pemasangan meriam laser di Distrik 10 sebagai salah satu bentuk perlindungan terhadap serangan yang mungkin bisa terjadi lagi dari para mutan dibuat melotot, ketika melihat robot yang ikut dibuat olehnya keluar dari gerbang terluar Great Ruler.


"Hei! Siapa yang mengoperasikan robot itu! Sambungkan aku ke pilotnya!" seru Roman langsung memekik.


"Maaf, Presiden. Robot itu belum dilengkapi dengan sistem komunikasi. Jadi ... kami tak bisa menghubungi pilotnya," jawab Qimi meringis dari tempatnya duduk.


Roman gusar. Ia merasa jika robotnya dicuri. Namun, saat sang Presiden siap melangkah meninggalkan ruangan, tiba-tiba saja, hologram Lala muncul dari jam tangan yang dikenakannya.


"Maaf, Sayang. Aku tahu kau pasti sedang mencari tahu siapa pilotnya. Hem, Matteo sedang melakukan uji coba. Entah apa yang merasuki pikiran anak itu, dia begitu bersemangat untuk pergi ke Oasis," ucap Lala yang membuat mata Roman melebar.


"Dia pergi ke gurun gersang itu? Apa kau yakin dengan yang diucapkannya?" tanya Roman melotot. Lala tersenyum dengan anggukan.


"Tenang saja. Aku sudah menghubungi Brego dan dia siap untuk menyambut keponakan kita. Sudah, jangan khawatir, Matteo akan baik-baik saja. Jujur, Sayang. Sikap Matteo banyak berubah akhir-akhir ini dan aku tak tahu penyebabnya. Haruskah ... aku mencari tahu?" tanya Lala yang wajahnya muncul dengan cahaya putih di hadapannya.


"Ya. Cari tahu. Aku khawatir jika ini berhubungan dengan kondisi mentalnya. Ia bekerja keras selama 5 tahun terakhir ini," jawab Roman dan Lala mengangguk.


Lala memutus panggilan video hologramnya. Roman bernapas sedikit lega, meski ia masih mencemaskan keadaan keponakannya yang nekat keluar dari Great Ruler demi melakukan uji coba dengan robot baru buatan mereka. Roman kembali ke tempatnya dan melihat para operator yang sedang mencoba mengoperasikan meriam laser meski amunisinya belum terisi.


"Pastikan bidikan tepat dalam mengunci sasaran. Luncuran laser memakan banyak energi," ucap Roman mengingatkan kepada para petugas di tempat itu.


"Yes, Sir," jawab para operator pengendali.


Sesuai dengan permintaan Roman, Lala membuka riwayat Matteo selama setahun terakhir di mana ia mulai merasakan perubahan sikap dari keponakannya yang cenderung ke arah Blue.


"Apa yang terjadi padamu, Matteo. Hmm, Eco katakan padaku," ucap Lala yang duduk di RC miliknya di ruang kerja seraya melakukan pencarian video untuk mencari kejanggalan. "Oh, pause!" perintahnya cepat ketika mendapati video Matteo saat bersama Sandra di rumah sakit.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan di rumah sakit?" tanya Lala curiga. "Eco, berikan rincian hasil diagnosis Matteo di hari itu," pinta Lala.


"Memproses permintaan. Pencarian berkas. Berkas ditemukan," ucap Eco saat melakukan permintaan Lala.


Bibi dari Matteo membaca hasil diagnosis robot dokter. Lala cukup terkejut saat mendapati Matteo pernah jatuh dari tangga hingga kepalanya terbentur cukup keras. Lala melihat perkembangan terakhir dari robot dokter saat Matteo berkunjung sendirian.


"Hem. Dia dikatakan baik-baik saja. Pusing dan sakit kepalanya telah sembuh. Oh, syukurlah," ucapnya lega, tapi wajahnya tetap terlihat tegang.


Lala kembali melakukan pencarian video yang berhubungan dengan Matteo. Namun lagi-lagi, Lala mendapati kejanggalan saat melihat banyak video Matteo yang cukup banyak menghabiskan waktu dengan Sandra.


Lala melakukan pause di beberapa tampilan seraya mengamati dengan saksama, ekspresi bahagia penuh dengan senyum dari wajah keponakannya itu. Perlahan, senyum Lala terkembang. Ia seperti menyadari sesuatu.


"Oh, kau mencintainya. Kini aku mengerti kenapa kau bersikap aneh akhir-akhir ini. Hem ... sayangnya, sepertinya hal itu akan sedikit sulit. Vemo saingan beratmu, Matteo sayang," ucap Lala bahagia, tapi juga iba saat mengetahui latar belakang dari Otka Oskova.


Setelah melakukan perjalanan dengan robot yang memakan waktu hingga 2 jam karena robot besar tersebut tak bisa berlari, akhirnya Matteo tiba di Oasis.


Kedatangan robot besar tersebut mendapat sambutan meriah. Tentu saja, sang Jenderal bangga akan hal tersebut. Ia turun dengan senyum terkembang seraya melambaikan tangan bak artis ternama.


"Oh, lihatlah gaya Jenderal muda kita. Dia memang sesuatu," ucap Sam yang berdiri di kejauhan ikut bertepuk tangan.


Sedang Sandra, terlihat tertekan karena sang Jenderal malah datang ke tempat di mana ia baru saja merasakan kedamaian karena tak ada Matteo di sana. Namun entah kenapa, meskipun ia kesal, tapi jantungnya tak berhenti berdebar ketika Matteo berjalan ke arah kelompoknya dengan senyum terkembang.


"Wah, Anda menyusul, Jenderal?" tanya Retro setelah melakukan hormat padanya, termasuk kandidat lain.


"Ya, tentu saja. Sebagai pemimpin yang baik, mana bisa aku membiarkan kalian berada di tempat antah berantah tanpa aku, yang melindungi kalian," ucapnya mantap.


Retro dan lainnya tersenyum kaku dengan anggukan. Entah kenapa, mereka merasa sedikit aneh dengan jawaban sang Jenderal yang malah berkesan sombong.


"Oh! Jenderal Matteo Corza. Anda sudah datang. Selamat datang di ... kau menyebutnya apa? Oasis?" tanya Colonel Brego menyambutnya.


"Ya. Air di tengah gurun. Oasis," jawab Matteo seraya menyambut jabat tangan tersebut.


"Anda sudah makan malam? Mari bergabung. Kami baru akan makan malam bersama," ajak Brego dan Matteo menerima ajakan itu dengan suka cita.


Sandra berjalan di barisan paling belakang. Mata Matteo sibuk mencari keberadaan Sandra yang tak tertangkap oleh matanya karena banyaknya orang di sekitarnya.


Matteo tetap menunjukkan senyumnya, meski sebenarnya tujuan utama ia datang ke tempat yang dibencinya itu karena seorang Otka Oskova.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


Tengkiyuw tipsnya😍Lele padamu❤️Adeh ini punggung pegal gak ilang2 dari pagi. Semoga gak ada typo😩



__ADS_2