SIMULATION

SIMULATION
ALMOST


__ADS_3

Sandra segera membersihkan diri. Ia merasa sungkan karena berada di rumah sang Jenderal, ditambah ia membuat kesalahan karena tak menuruti nasehatnya.


Sandra menekan tombol sesuai instruksi Matteo padanya. Tak lama, Purple muncul untuk membantunya. Sandra tak menyangka jika tenaga robot itu cukup besar untuk membantunya berjalan meski tertatih.


"Silakan duduk," ucap Purple saat sebuah RC tersedia untuknya.


Sandra terlihat sungkan, tapi melakukannya. Ia memilih untuk menurut ketimbang selalu membangkang dan malah membuatnya semakin kesulitan nantinya.


RC yang melayang di atas permukaan membawa Sandra ke lantai dua. Ternyata, makan malam romantis telah tersedia di teras balkon dengan lilin dan wine.


"Oh, kau sudah siap. Duduklah. Purple memasak makan malam istimewa untuk kita. Aku minta agar makanan yang disajikan sama persis seperti saat di rumah Blue," ucapnya dengan wajah dingin tak ramah seperti kemarin.


Sandra bisa merasakan aura lain dari pria tampan di depannya. Sandra tertunduk diam saat Puple menyajikan makanan aneh itu di hadapannya.


"Hem, jadi ... seperti ini, makanan yang kalian makan? Lemah seperti yang tersaji," ucapnya mencibir saat menekan makanan berwarna putih dan lembut seperti spons.


Entah kenapa, ucapan Matteo membuat dadanya terasa sesak. Matteo menyantap makanan itu dengan kening berkerut. Ia mencoba satu suap dan menyudahinya. Hal itu ia lakukan di semua sajian yang diberikan Purple.


"Anda sudah selesai, Tuan?" tanya Purple saat Matteo menyingkirkan piring-piring yang masih berisi banyak makanan itu ke pinggir dengan menumpuknya.


"Singkirkan. Masakanmu jauh dari kata lezat, Purple," jawabnya ketus.


Sandra terus menikmati makanan yang disajikan robot ungu itu dengan tenang. Matteo menatap Sandra seksama yang menghabiskan makanan tersebut satu persatu.


"Terima kasih makanannya, Purple. Lezat seperti saat pertama kali aku mengincipinya," ucap Sandra memuji.


Purple diam menatap Sandra seksama.


"Ada apa, Purple?" tanya Matteo menyipitkan mata.


"Databaseku mengidentifikasi jika Anda adalah Sandra Salvarian. Sekretaris Colosseum Blue saat bekerja di Distrik 2 Sentra Video Games."


DEG!


Sandra terdiam seketika. Matteo menatap Sandra seksama.


"Kau pasti salah. Dia, Otka Oskova bukan Sandra Salvarian," tegas Matteo.


Sandra pucat. Purple masih melayang di samping Sandra dan hal itu membuat wanita cantik itu gugup.


"Spectra!" panggil Matteo lantang.


"Yes, Tuan Matteo," jawabnya seraya mendekat.


"Siapa wanita di depanku ini?" tanyanya menunjuk Sandra.


"Otka Oskova. Barcode di lengannya menjelaskan demikian," jawab Spectra.


"Kau sepertinya sudah berkarat, Purple. Ingatkan aku, Spectra, untuk melakukan pengecekan dan pembaruan pada Purple," tegasnya menatap robot ungu itu seksama.


"Baik, Jenderal. Penjadwalan perbaikan Purple pada hari Jumat pukul 9 pagi di Distrik 4 Pusat Hardware dan Software," ucap Spectra.

__ADS_1


"Purple akan mengantarkanmu pulang. Maaf, aku masih ada urusan," tegas Matteo seraya memberikan kode pada robot pelayan untuk merapikan meja makan malamnya.


"Terima kasih atas hidangannya, Jenderal. Selamat malam," ucap Sandra sopan dan Matteo mengangguk.


Sebuah kursi roda otomatis berjalan mendekat. Sandra turun dari RC dan kini berpindah ke kursi roda seperti yang digunakan oleh Ego.


Saat Sandra sudah berada di depan pintu yang terbuka, ia tertegun ketika mendapati seorang wanita muda cantik dan seksi berdiri di hadapannya mengenakan gaun ketat.


Jantung Sandra berdebar karena wanita itu bagaikan model dengan rambut panjang bergelombang berwarna cokelat berkilau yang menutupi punggungnya karena gaun setinggi paha itu mempertontonkan lekukan indah tubuhnya.


"Kandidat User?" tanya wanita itu menunjuk Sandra karena ia mengenakan seragam latihan yang tertinggal kala itu di rumah sang Jenderal.


"Yes, Mam," jawab Sandra gugup.


"Kau cacat?" tanyanya menaikkan salah satu alis. Sandra hanya tersenyum kaku.


Tiba-tiba, pandangan wanita berkulit eksotis karena tampak begitu mulus terawat itu teralih.


"Malam, Mat. Kau sudah makan? Aku lapar," tanya wanita itu seraya melangkah masuk dan meninggalkan Sandra begitu saja.


"Belum. Aku menunggumu," jawabnya santai dan berdiri tegap dengan kedua tangan di saku celana jeans.


Wanita cantik bergaun hitam itu mengecup mesra pipi sang Jenderal lalu merangkul lengannya.


Sandra memalingkan wajah, meski ia sempat melirik saat pintu tertutup perlahan bersama dengan Matteo yang berpaling darinya dan merangkul pinggang wanita itu.


Sandra membisu dengan wajah tertunduk dan pasrah dengan kursi roda yang membawanya kembali ke kamar.


Kejadian barusan membuat Sandra sulit melupakan apa yang dilihatnya. Ia menatap Purple tajam dari tempatnya berbaring.


"Purple. Apa kau tahu, siapa wanita tadi?" tanya Sandra penasaran.


"Wanita itu bernama Vanessa Mocova. Dia salah satu wanita tuan Matteo Corza. Vanessa adalah seorang supermodel dari Distrik 1. Ia masuk dalam kategori golongan kelas M. Dia anak dari pemilik perusahaan otomotif Tuan Gwen-"


"Terima kasih penjelasannya, Purple. Selamat malam," potong Sandra cepat seraya mematikan lampu tidur di mana tombol pengatur lampu berada di sandaran ranjangnya.


Sandra memiringkan tubuh dengan kedua tangan ia telengkupkan sebagai alas bantal.


"Apa yang kaupikirkan, Sandra? Dia Matteo Corza. Dia bukan Blue. Colosseum Blue ... telah tiada," guman Sandra pada dirinya sendiri terlihat sedih.


Perlahan, Sandra memejamkan mata. Ia memilih untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya agar cepat bertemu pagi.


Dan, yang diharapkan Sandra terkabul. Matahari telah menyingsing. Sandra merasakan lukanya mulai membaik.


Purple mendekat dan melihat kondisi kaki Sandra. Ia menyemprotkan sebuah cairan dan membuat rasa hangat di kakinya yang terasa nyeri.


"Selamat pagi, Otka Oskova. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Silakan dinikmati," ucap Purple ramah dan Sandra mengangguk berterima kasih.


Sandra memilih untuk berjalan dengan pincang ketimbang menggunakan kursi roda. Ia mendatangi meja makan sekaligus meja tamunya untuk menikmati sarapan sederhana buatan Purple.


PIP!

__ADS_1


"Otka Oskova. Captain Tony datang berkunjung. Apakah diizinkan masuk?" tanya Eco.


"Yes, please," jawab Sandra dengan senyuman.


"Hei! Ah, sial. Kabar itu benar adanya. Kau tak apa? Kenapa bisa terluka dan kenapa kau tak ke ruang medis? Siapa yang mengobati lukamu? Dan ... wow, robot ini ...," tanya Tony langsung memberondong dengan serencengan pertanyaan, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendapati Purple.


"Dia Purple. Robot Colosseum Blue. Matteo meminjamkannya padaku selama aku sakit," jawab Sandra dengan senyuman.


Tony terlihat bingung dan menatap robot itu seksama, tapi lalu mengabaikannya. Tony berjalan mendekat seraya membawa sebuah tas berbentuk silinder berwarna silver dari stainless. Ia meletakkan tas itu di atas meja.


"Eliz yang membuatkannya khusus untukmu begitu ia tahu kau terluka. Dan, dia mengancam kau harus memakannya. Tunjukkan wajah bahagiamu. Aku tak mau mendengar rengekannya saat pulang nanti," ucapnya kesal seraya meletakkan ponsel berbentuk persegi empat transparan seperti kaca di atas meja.


PIP!


"Sandra! Kau tak apa? Kau menerima makanan pemberianku?" tanya Eliz langsung menunjukkan wajah khawatir begitu panggilan itu tersambung dan sosok hologramnya setengah badan terlihat.


"Ya, hanya keseleo. Aku terlalu bersemangat dan ... terkilir," jawabnya dengan senyuman.


Tony hanya mengangguk-anggukan kepala seraya membuka tas silinder yang dibawanya.


"Wah! Kau tak pernah memasak makanan ini untukku! Kau pilih kasih!" pekik Tony kesal saat mendapati makanan lezat di dalam tiap rak 'rantang' otomatis itu.


"Sakit dulu, nanti akan kubuatkan," jawab Eliz sewot.


Tony memberikan kode pada Sandra dengan matanya. Sandra menahan senyum dan, BUK!


"Agh! Aggg, sakit sekali! Sandra memukulku, aggg," erangnya memegangi lengannya yang terkena pukulan lemah Sandra.


"Acting-mu sangat buruk sekali. Intinya, Sandra dulu yang makan, baru kau. Awas saja jika sampai dia kelaparan. Kau hanya makan spagetti seumur hidupmu!" pekik Eliz garang.


PIP!


"Eh?" kejut Sandra karena Tony mematikan sambungan itu dengan wajah kesal.


"Aku minta ya, aku lapar," rengek Tony menjulurkan bibir bawahnya.


Sandra terkekeh. Seakan rasa kesalnya semalam telah sirna karena kedatangan Tony. Sandra dan Tony menikmati sarapan lezat pagi itu.


Diam-diam, Matteo mengamati gerak-gerik Sandra dan Tony dari kamera mini yang terpasang di dada Purple.


Sekilas, kamera itu terlihat seperti logo perusahaan, tapi sebenarnya bukan. Sayangnya, kamera itu hanya bisa menangkap gambar tidak termasuk suara.


"Oh, kau sudah bangun, Sayang?" tanya Vanessa yang tidur di sebelah Matteo di mana sang Jenderal menunjukkan wajah dingin dengan kacamata fiber ia gunakan duduk menyender bertelanjang dada.


Matteo tak menjawab dan langsung beranjak ke kamar mandi tanpa busana. Vanessa menatap pria tampan itu seksama yang pergi begitu saja meninggalkannya.


"Pasti terjadi hal buruk. Sebaiknya, aku jangan bertingkah atau aku akan dicampakkan olehnya. Vanessa akan jadi gadis yang baik," guman wanita cantik itu seraya menyibakkan selimut dan menyusul Matteo ke kamar mandi di mana ia juga tak terbungkus satu helai kainpun di tubuhnya.


***


tengkiyuw tipsnya KadešŸ’‹ aduh ngetiknya di hape jadi kalo ada tipo koreksi aja tar lele benerin kalo udh mendingan. lele padamuā¤ļø

__ADS_1



__ADS_2