SIMULATION

SIMULATION
THE HISTORY OF THE GREAT RULER*


__ADS_3

Sandra tertidur cukup lama hingga ia terbangun karena mendengar suara air yang dituang dalam sebuah benda.


Wanita berambut pirang itu membuka mata perlahan yang diikuti mencium aroma lezat dari sebuah hidangan.


Sandra menoleh dan terkejut, saat mendapati Wakil Presiden Lala berdiri di samping ranjang pasiennya yang melayang dari permukaan lantai.


"Oh, Wakil Presiden," ucap Sandra terkejut, dan langsung duduk dengan sigap meskipun infus portabel tertancap di kedua lengannya.


Infus tersebut berbentuk dua buah tabung kecil dengan cairan bening ditempel di sisi kiri dan kanan lengan pasien. Benda tersebut direkatkan dengan sebuah kain halus serta lapisan empuk agar tak menyakiti kulit.


Infus itu tak membutuhkan penyangga yang tinggi. Selang yang mengalirkan cairan pun cukup pendek.


Darah tak naik karena sirkulasi buatan dan pengaturan cairan bekerja otomatis ketika detektor mengidentifikasi pergerakan. Cairan akan berhenti mengalir jika detektor merasakan terjadi tekanan di atas standar.


"Tak perlu bangun, berbaringlah," ucap Lala seraya mendekat.


"Badanku pegal jika terus berbaring, Wakil Presiden," jawab Sandra sungkan.


Wanita cantik yang memiliki tubuh atletis itu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki menggantung. Cairan infus kembali mengalir karena Sandra menurunkan tangannya di antara dua paha.


"Karena kau sudah bangun, makanlah. Kau butuh asupan energi langsung. Aku membawa robot pelayan, karena aku tahu kau pasti sungkan jika kusuapi," ucap Lala yang membuat Sandra tersenyum canggung.


Sandra terlihat kikuk saat disuapi robot pelayan, karena ada Lala di sana. Wakil Presiden yang tetap terlihat cantik meski sudah berumur 50 tahun lebih tersebut terlihat betah menunggu Sandra di ruang perawatan.


"Anda tak perlu menungguku, Wakil Presiden. Aku akan baik-baik saja," ucap Sandra sungkan.


"Ya, aku tahu. Namun ... aku bosan. Roman juga sedang sibuk, jadi ... aku ingin di sini sampai jenuh. Rumah kosong, jadi ... bersabarlah," jawabnya santai, tapi membuat Sandra malah semakin canggung.


Keduanya saling diam untuk beberapa saat, hingga Sandra memberanikan diri membuka obrolan saat melihat Lala membuka tablet seperti melihat beberapa design bangunan yang tampak apik.


"Wakil Presiden, bolehkah aku bertanya?" tanya Sandra saat ia telah selesai menikmati potongan buah segar.


"Ya, tentu saja," jawab Lala menghentikan aktifitasnya.

__ADS_1


"Aku ingin tahu lebih detail tentang Great Ruler. Maksudku ... Captain Tony dan Komandan Akira mengatakan jika Anda ... mengetahui sejarah negeri ini. Aku hidup di dalamnya, dan sebentar lagi ... aku menjadi seorang User. Aku merasa, sejarah tempatku tinggal, harus kuketahui. Maaf jika permintaanku berlebihan," pinta Sandra sungkan.


Lala tersenyum tipis. Ia duduk di sebuah sofa single seraya memangku tablet di atas kedua pahanya. Lala diam sejenak seperti berpikir serius. Sandra menunggu sang Wakil Presiden bercerita.


"Yang dijelaskan selama di bangku sekolah memang tak mendetail. Itu ... sengaja. Karena ada beberapa bagian yang memang seharusnya tak perlu diungkapkan karena dikhawatirkan akan menimbulkan pro dan kontra," ucap Lala mulai berkisah.


"Saya akan mencoba menyikapi dengan bijak, Wakil Presiden," jawab Sandra serius. Lala mengangguk pelan.


"Great Ruler, dulunya dibentuk dari 5 buah kota besar di wilayah ini. Apa kautahu, nama negara dari benua ini sebelum terpecah menjadi beberapa negara dan kota, termasuk Great Ruler?"


"China?" tanya Sandra menebak, dan Lala mengangguk.



"Semua berawal dari perang perebutan tembok besar China. Perang yang terjadi di pesisir Laut Kuning dengan negara tetangga, membuat beberapa wilayah di pesisir China terkena dampak langsung yang cukup mengerikan. Para penduduk yang bermukim di kota tersebut masuk ke pedalaman untuk berlindung. Pasukan musuh menggunakan jalan pada tembok itu untuk memasuki wilayah China dan sekitarnya. Hingga pada akhirnya, kota-kota yang dilewati oleh rute benteng itu hancur satu persatu dan menyisakan beberapa kota besar di dalamnya," ucap Lala yang membuat Sandra serius menyimak.


"Ada lima buah kota besar yang bertahan. Lima pemimpin kota tersebut akhirnya sepakat untuk bersatu karena kota lainnya yang masih bisa bertahan menolak. Lima pemimpin kota itu mengerahkan seluruh kemampuan mereka baik teknologi, sumber daya alam dan manusianya untuk bertahan," ucapnya menjelaskan.


"Saat musuh sibuk menyerang wilayah lain, lima kota tersebut sengaja mengosongkan diri sehingga tak terlihat adanya aktivitas di permukaan. Para pemimpin mengevakuasi seluruh warganya di bunker bawah tanah. Diam-diam, mereka merencanakan untuk membuat sebuah benteng," sambung Lala. Sandra mengangguk pelan.


"Maaf menyela, Wakil Presiden," ucap Sandra sungkan saat membuka mulutnya. Lala mengangguk pelan.


"Sebuah keberuntungan yang didasari oleh kecerdasaan serta keinginan kuat untuk bertahan hidup, proyek pembuatan dinding seperti tempurung kura-kura berhasil dilakukan selama 20 tahun tanpa adanya serangan. Ya, 5 Distrik, pertama kali dibangun dan para pemimpin itu setuju untuk memberikan nama The Great Ruler," imbuh Lala yang membuat jantung Sandra berdebar-debar mendengar kisahnya.


"Wow! Apakah ... teknologi itu masih diterapkan di Great Ruler?" tanya Sandra, tapi Lala menggeleng.


"Jubah kamuflase itu berhasil dihancurkan oleh negara Mega-US. Mereka menembakkan misil secara acak dan mengenai pelindung benteng yang menutupi keberadaan Great Ruler. Tentu saja, hal ini membuat kepanikan warga yang bernaung di dalamnya. Para pemimpin 5 wilayah tak tinggal diam dan tak ingin kerja keras mereka sia-sia. Great Ruler Generasi Pertama melakukan perlawanan sengit sekitar 100 tahun silam. Perang yang terjadi, sungguh mengerikan. Namun, menimbulkan keinginan untuk bergabung dan menolong dari wilayah lain yang terkena imbas dari luncuran misil Mega-US," ujar Lala yang membuat Sandra tanpa sadar telah menghabiskan semangkok bubur dari suapan robot pelayan karena kelaparan.


"Apakah ... para pencipta Great Ruler berhasil mengalahkan Mega-US?" tanya Sandra penuh selidik.


"Ya, tapi ... banyak warga sipil yang tewas. Hanya orang-orang militer yang sanggup bertahan. Mega-US berhasil diusir dari wilayah Great Ruler, tapi imbasnya, sebagian benteng hancur. Hal itu, membuat kesedihan dalam diri para pemimpin dan orang-orang yang selamat. Mereka ... seperti patah harapan," ucap Lala sedih. Sandra bisa merasakan hal itu.


Sebuah perjuangan yang sangat lama agar bisa bertahan dari peperangan, dan harus berakhir dengan kehilangan orang-orang terkasih.

__ADS_1


"Namun, seperti yang kubilang. Keajaiban terjadi. Satu persatu, para pemimpin wilayah yang melihat kehebatan Great Ruler karena mampu bertahan dari serangan, membuat mereka ingin bergabung. Tentu saja, hal ini mendapatkan sambutan baik dari 5 pemimpin wilayah saat itu. Di sanalah, pertama kali ayah dari Presiden Roman dan isterinya masuk ke Great Ruler. Mereka dulunya orang Indonesia. Negara itu juga hancur dan membuat penduduknya mengungsi. Kelompok dari mendiang tuan Rodega tinggal di salah satu kota di China dengan keluarga Corza yang dulunya mereka adalah kawan karib."


"Oh, apa karena itu, nama belakang Presiden Roman adalah Rodega, dan Morlan adalah Corza?" tanya Sandra menebak.


"Ya, kau benar. Sayangnya, Corza tewas ketika serangan kedua terjadi saat pembangunan 9 Distrik. Untuk mengenang jasanya, saat isteri dari Rodega melahirkan anak kembar, mereka menamainya Roman Rodega dan Morlan Corza."


Sandra mengangguk paham. Ia akhirnya tahu sejarah dari terbentuknya Great Ruler dan nama dari Presiden-nya.


"Lalu ... setelah pembangunan 9 Distrik, bagaimana menyatukan para pemimpin itu agar memiliki satu Presiden saja?" tanya Sandra teringat dari buku sejarah jika Great Ruler dulunya hanya memiliki satu pemimpin saja.


"Rodega menunjukkan kemampuannya dalam kepemimpinan. Ia dulunya orang militer. Isterinya pakar bisnis dan ekonomi. Keterlibatan mereka berdua, sangat membantu kemajuan Great Ruler. Rodega ternyata sangat ahli dalam mengembangkan senjata dan memperbaikinya. Isteri Rodega yang bernama Kirana, sangat hebat dalam memulihkan keterpurukan dalam persediaan sumber daya alam untuk menghidupi warganya. Akhirnya, dua orang itu memutuskan untuk mencari para ahli agar Great Ruler bisa stabil. Oleh karena itu, nama Great Ruler mulai mencuat, tapi mereka tahu konsekunsinya di mana pihak musuh pasti akan kembali untuk menyerang dan merebut negara yang susah payah terbentuk," tegas Lala.


"Mungkinkah karena dibutuhkannya para cendikiawan, banyak orang-orang dari luar masuk ke Great Ruler saat itu?" tanya Sandra menduga dan Lala mengangguk membenarkan.


"Termasuk orang tua Aurora. Dia dulunya orang Perancis. Dia rela meninggalkan benuanya untuk bisa bergabung dengan Great Ruler, termasuk orangtuaku. Ayah ibuku berasal dari Amerika. Orang-orang mulai berdatangan satu persatu. Mereka menunjukkan kemampuannya agar bisa tinggal di Great Ruler. Kirana yang dipercaya untuk menyeleksi para cendikiawan, memberikan waktu selama 2 tahun untuk membuktikan kemampuan mereka. Di sanalah, orang-orang berlomba untuk mengembalikan tanah yang gersang dampak dari peperangan, menanam tanaman yang menghasilkan, membuat sumber tenaga listrik, memaksimalkan persenjataan, bahkan ada beberapa orang yang memberikan hewan ternak mereka di mana nantinya akan dibudidayakan di dalam benteng. Dan ... masih banyak hal lainnya. Ternyata, orang-orang itu berhasil," ucap Lala gembira. Sandra ikut tersenyum merekah.


"Kirana dan Rodega akhirnya dipercaya sebagai pemimpin karena dianggap berhasil. 9 pemimpin Distrik dijadikan Walikota. Rodega, menjadi Presiden pertama Great Ruler, dan Kirana, menjadi Wakil Presidennya. Sungguh, pasangan yang serasi," ucap Lala terlihat bahagia. Senyum indahnya terpancar.


"Aku begitu lega dan senang mendengarnya," ucap Sandra dengan wajah berbinar.


"Ya. Ibuku, ibu Aurora, dan para pendahulu meninggalkan banyak catatan dalam buku. Aku menyimpannya sebagai warisan berharga. Di sana tertulis jelas perjuangan mereka, teknik yang digunakan dan beberapa curahan hati dari tiap individu saat membangun benteng Great Ruler. Buku-buku itu, memang tak aku serahkan ke perpustakaan atau museum. Roman dan para pejabat saat itu setuju jika aku sendiri yang menyimpannya. Namun aku rasa, sudah waktunya untuk kutunjukkan rahasia besar itu suatu saat nanti. Aku tak mungkin terus hidup sebagai penjaga warisan bukan?" tanyanya seraya menaikkan salah satu alis. Sandra tersenyum tipis dengan anggukan.


"Wow! Aku sudah bercerita cukup lama. Aku harus pulang, Sandra. Roman bisa menunjukkan taringnya jika tahu aku belum memasak. Meskipun dia sangat hebat dalam membuat robot, asal kau tahu, kami tak memiliki robot seperti Spectra, Purple atau bahkan robot pelayan. Dia mengatakan sudah jenuh dengan robot yang bersliweran di sekitarnya. Meski demikian, aku malah merasa menjadi seperti manusia robot untuknya. Aku memasak, membersihkan rumah, bahkan harus melayaninya," keluh Wakil Presiden Lala yang secara tak langsung menceritakan kisah rumah tangganya.


Lala pamit mohon diri dan meninggalkan robot pelayan untuk mendampingi Sandra selama masa penyembuhan. Sandra kembali berbaring usai menikmati sarapan. Ucapan Lala, terekam jelas dipikirannya.


"Orang-orang itu ... sungguh hebat. Aku ... tak sebanding dengan mereka," ucap Sandra lirih merasa minder.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Tengkiyuw tipsnya😍 lele padamu💋


__ADS_2