
Sandra terus berlari. Namun, tanda peringatan akan penurunan fungsi tubuh membuat wanita berambut pirang itu terpaksa berhenti untuk beristirahat.
“Oh, aku lelah sekali,” ucapnya seraya duduk menyender pada sebuah batu besar di mana sebentar lagi matahari akan terbit.
Napas Sandra tersengal. Ia memejamkan mata seperti akan tidur. Empat WolfBot duduk mengelilinginya dalam mode siaga.
Tiba-tiba, muncul sebuah benda yang Sandra kenali. Ia menatap benda itu saksama yang kini mendarat di depannya. Senyum Sandra merekah.
“Oke. Kau pasti dikirimkan untuk membantuku menyelesaikan misi,” ucapnya menunjuk helikopter portabel berbentuk seperti serangga di mana ia pernah menggunakannya saat pertama kali melakukan simulasi percobaan dengan robot level C.
Mata Sandra menajam saat ia melihat ada sebuah benda pipih hitam berbentuk persegi panjang yang dibawa oleh robot itu. Sandra segera mengambil dan menempelkannya di lengan robot sebelah kiri. Benda itu otomatis aktif.
BIB!
Sandra terkejut saat mendapati wajah Rey muncul di sana dalam bentuk hologram. Matteo sengaja mengeset tampilan video itu dengan mengubah wajah dan suara seperti Rey.
Matteo terlihat gugup di dalam sebuah ruangan khusus, di mana video tersebut dilakukan secara real-time. Semua petugas ikut tegang.
“Halo, Sandra. Maaf jika aku harus muncul dalam keadaan seperti ini. Hanya saja, aku ingin memberikanmu sebuah informasi penting agar kau bisa lulus dalam misi ini dan kembali ke Great Ruler dengan selamat,” ucap Rey, tetapi malah membuat Sandra menangis. “Hei, jangan menangis. Aku tahu kau wanita kuat. Hanya saja, waktu kita tak banyak. Kau harus segera menyelesaikan misi. Kau mengerti?” tanya Rey, di mana Matteo terlihat seakan-akan bicara langsung dengan Sandra di hadapannya. Sandra mengangguk pelan dan menghapus air mata cepat.
“Dengarkan aku, Sandra. Sistem Mola disabotase oleh Morlan. Kau dan seluruh User robot level B terperangkap. Yang kaulihat saat melayang di udara tentang pasukan mutan, itu adalah benar. Sebentar lagi, mutan-mutan itu akan tiba di Great Ruler, dan para pejuang yang tersisa harus menghadapi mereka.”
Praktis, mata Sandra membulat penuh.
“Simulasimu adalah nyata. Tubuhmu memang berada di Great Ruler dan robotmu di tempat antah berantah yang belum pernah dijajaki oleh User manapun. Semua musuh yang akan datang menyerang dan mencoba menjatuhkanmu, bukan berasal dari simulator, melainkan dari Morlan. WolfBot akan melindungimu. Kami akan mengirimkan sebanyak apa pun bantuan untuk memastikan kau selamat dan berhasil melewati semua level. Karena kau, kunci untuk membangunkan para User yang terkena hypersleep. Kau paham?” tanya Rey, dan Sandra mengangguk pelan.
“Coba kau minta kepada Mola untuk … mm, seperti meminta agar simulasi ini di-pause. Tubuhmu letih dan harus diberikan nutrisi. Istirahatlah, setidaknya selama dua jam agar tubuhmu kembali prima untuk melanjutkan misi. Jangan paksakan dirimu, Sandra. Nyawamu sungguh berharga,” ucap Rey menatapnya lekat dan Sandra mengangguk paham.
“Akan kucoba,” jawab wanita berambut pirang itu seraya melihat hologram Rey yang muncul dari papan pipih. Sandra menarik napas dalam. “Mola,” panggil Sandra.
“Halo, Otka. Perjalananmu untuk tiba di titik misi membutuhkan waktu tiga puluh menit dengan berlari.”
“Ya, terima kasih sudah diingatkan,” jawab Sandra seraya memijat dahinya. “Mola, bisakah kau … mem-pause level ini? Aku merasa letih dan ingin beristirahat,” tanyanya gugup.
“Ya, tentu saja. Namun, yang terjadi di lapangan tetap berlangsung. Tubuh aslimu akan ditidurkan termasuk robot di lapangan. Segala jenis serangan di luar program berada di luar kendali dan bukan tanggung jawab sistem. Kau ingin menerima segala resikonya?” tanya Mola yang membuat jantung Sandra berdebar.
Sandra melihat hologram Rey, dan mendiang suaminya itu mengangguk. Sandra balas mengangguk pelan.
“Ya, aku terima resikonya. Pause aku selama seratus dua puluh menit,” jawabnya mantap. “Dan … satu lagi. Mola, bolehkah visualmu diganti dengan Rey? Aku … merindukannya.”
Sontak, semua orang terkejut, termasuk Matteo.
“Tentu saja. Perubahan tampilan visual dilakukan. Permintaan Rey Rovoski.”
BIB!
“Halo, Sandra,” sapa Mola yang kini telah berubah menjadi Rey baik suara ataupun sosoknya. Sandra menangis begitu saja. Ia tersenyum, tetapi air matanya menetes. Matteo dan lainnya terdiam.
“Kau ingin di-pause sekarang?” tanya Rey.
“Ya. Senang bertemu denganmu lagi, Rey,” ucap Sandra seraya memutus hubungan dengan alat komunikasi berbentuk pipih di pergelangan tangannya.
Matteo terlihat lesu dengan pandangan kosong di ruang khusus tersebut.
BIB!
Seketika, Sandra memejamkan mata. Dua buah pin logam yang berada di pelipisnya membuat wanita cantik itu tak sadarkan diri.
__ADS_1
Sebuah penopang punggung muncul dan terus memanjang seukuran tubuh Sandra. Alat itu kini seperti sebuah alas yang melayang di udara.
Matteo keluar dari ruangan dan melihat Sandra tertidur. Para petugas medis segera mendatangi tubuh Sandra dan memberikan nutrisi agar ia tetap prima saat kembali online.
Hal tersebut juga dilakukan ke seluruh User yang terkena hypersleep. Mereka dipasangi infus portabel dan diberikan suntikan vitamin agar tak kekurangan nutrisi selama tak sadarkan diri.
“Matteo,” panggil Lala yang kembali datang ke ruang simulasi di mana ia telah berada di sana saat Matteo memasuki sebuah ruangan khusus untuk menghubungi Sandra.
“Aku lelah. Bangunkan aku saat Sandra kembali online,” pinta Matteo lesu, dan Lala mengangguk pelan.
Lala melihat Mola telah berganti wujud menjadi Rey. Wanita itu hanya berdiri diam dan membiarkan visual Mola digantikan.
Semua Distrik terlihat bersiaga dengan banyak pasukan robot dari level D dan E. Orang-orang yang ditunjuk sebagai komandan dalam pertahanan serangan tampak siap di posisi.
Benar saja, kamera pengawas bagian terluar mengidentifikasi pergerakan dari sisi Utara yang menuju ke Great Ruler.
“Mereka datang! Bersiap!” ucap Mayor Petroska yang kini bertugas sebagai pemimpin pasukan pertahanan Distrik 10.
“Mutan terbang terlihat. Itu burung yang sama saat penyerangan Distrik 10 pertama kali!” sahut operator yang melakukan pemantauan dari kamera pengawas di Pusat Kendali Menara Distrik 10.
“Siapkan meriam laser. Kita habisi para mutan itu! Jangan biarkan mereka menembus dinding. Bersiap!” perintah Petroska lantang, berdiri tegap di balik kaca menara Distrik 10.
“Meriam laser disiapkan. Target dikunci. Lima mutan bersayap telah ditandai. Siap menembak,” ucap komputer pintar yang berwenang terhadap sistem persenjataan.
“Oaakkk!” lengking burung mutan seperti perpaduan antara manusia dan burung elang.
Hewan yang memiliki dua tangan dan dua kaki dengan cakar besi melengkung. Paruh tajam bergerigi dan bisa menyemburkan zat asam dari mulutnya. Memiliki ekor tanpa bulu dengan duri tajam mencuat, serta dua sayap besar dengan kulit bersisik anti peluru.
Hewan itu mendekati Distrik 10 yang telah dilindungi oleh sebuah barikade yang menutup langit. Sesuai dugaan, burung itu menyemprotkan zat asam untuk melubangi atap.
“FIRE!” seru Petroska lantang.
“Oaakkk!” Burung-burung itu mengerang, saat meriam laser menembaki mereka ketika menyemprotkan zat asam tersebut.
Tubuh mereka hangus dan meleleh. Laser itu terus menembaki mutan terbang tersebut hingga dua diantaranya jatuh karena serangan telak berhasil melubangi sayap.
Makhluk-makhluk itu jatuh dan menghantam barikade. Burung lainnya yang mampu bertahan terbang ke arah meriam laser untuk melumpuhkan persenjataan.
“Meriam laser 02 dilumpuhkan. Senjata tak bisa beroperasi,” ucap sistem komputer.
“Agh! Sial! Mereka pasti dikendalikan! Mereka mencoba melumpuhkan persenjataan kita. Jangan lengah! Jatuhkan mereka semua!” geram Petroska dan semua operator berusaha untuk mempertahankan sisa meriam laser yang kini berjumlah empat buah.
Sinar warna kuning laser terus meluncur ke langit. Burung-burung itu terlihat gesit dalam menghindari serangan tembakan laser dari meriam. Barikade atap baja mulai berlubang karena semburan zat asam yang melelehkan pertahanan terluar itu.
“Pasukan darat bersiap! Mereka pasti akan menyusup ke dalam!” perintah Petroska.
Segera pasukan robot level D dengan seri 05 bersiap dengan tembakan laser sudah terarah ke lubang-lubang tersebut. Mereka siap menanti para mutan yang akan masuk melalui celah itu.
Tak berselang lama, muncul mutan terbang dengan membawa seekor mutan seperti serangga yang bertarung dengan B-One di Colosseum beberapa tahun silam. Mata semua orang melebar karena bertemu dengan musuh lama itu.
Seekor mutan seperti perpaduan antara manusia dengan hewan. Kepalanya seperti hiu, tetapi memiliki dua tangan seperti manusia yang terjuntai hingga ke betis.
Namun, tangan lainnya muncul di bagian punggung seperti tarantula. Hewan itu bisa berdiri dengan dua kaki seperti manusia, tetapi berjinjit. Kulitnya tak memiliki sisik, tetapi terlihat tebal.
“Piikkk!”
“Bersiap!” perintah Petroska dengan mata terbelalak lebar ketika makhluk dengan kuku tajam melengkung dan bisa menembus baja tersebut berhasil masuk setelah mutan terbang ditembak jatuh oleh meriam laser 03. “Ingat! Lengan monster itu bisa tumbuh lagi jika terpotong dengan besi biasa. Gunakan laser dan lelehkan dia!”
__ADS_1
“Yes, Sir!” jawab semua User yang di lapangan telah siap dengan senjata laser.
“Piikkk!”
“Agh! Sial! Bahkan lengkingannya bisa menembus kaca anti getaran kita. Morlan pasti telah memperkuat serangan para mutan ciptaannya itu. Jangan lengah, dan bunuh mereka semua!” perintah Petroska seraya menutup kedua telinga menggunakan dua tangannya.
Ternyata, lengkingan itu juga didengar dan dirasakan oleh semua orang. Penduduk yang berada di ruang evakuasi mengalami sakit telinga karena suara memekakkan dengan frekuensi tinggi tersebut.
“Tembak!” lantang seorang User robot level D yang berada di dalam robot tempur besar tersebut ketika seekor mutan berkepala hiu berlari ke arahnya dengan cepat dan lengkingan menyakitkan telinga.
Tembakan laser terus menghujani mutan itu, tetapi pergerakan hewan itu kini lebih gesit tak seperti dulu. Makhluk itu bahkan bisa melompat tinggi.
“Oh, shitt!” pekik salah seorang User robot level D ketika mutan tersebut kini berdiri di atas dada robotnya dan kembali melengking nyaring.
“Oh!” seru semua orang yang melihat dari kamera pengawas saat kuku dari makhluk itu mampu menembus kaca pelindung robot tersebut.
“Piikkk!”
“Arrghhh!” erang User tersebut saat lengkingan mematikan itu membuat telinganya langsung berdarah hingga matanya terpejam erat.
“No!” pekik Petroska, saat melihat dari kamera dalam robot besar tersebut, mutan itu menusuk dada User hingga tewas dan dadanya berlubang.
Tangan mutan itu menarik tubuh yang telah kehilangan nyawanya lalu melemparkannya jauh dan membuat robot level D tersebut kehilangan pengendalinya.
“Sial! Jangan beri ampun! Bunuh mereka semua!” perintah Petroska geram sampai menggebrak meja karena kehilangan salah satu anak buah yang menjaga Distrik tersebut agar para mutan tak bisa menerobos Distrik selanjutnya, Distrik 9.
Serangan para mutan berhasil menembus ke dalam barikade Distrik 10. Aksi saling serang tak terhindarkan.
Tanpa User robot level B dirasa sangat mustahil untuk menjatuhkan para mutan yang terlihat lebih kuat dan ganas ketimbang saat penyerangan awal beberapa tahun silam.
“Sir! Sisi Barat sudah tertembus. Tak ada robot yang menjaga dinding tersebut. Meriam laser tersisa dua dan masih dioptimalkan untuk menjatuhkan para mutan terbang yang membawa muatan!” lapor seorang petugas terlihat panik.
Mayor Petroska melihat serangan mematikan dari para mutan yang mampu menahan semua serangan dari persenjataan yang dilepaskan oleh User robot.
Tubuh para mutan terluka, tetapi tak menewaskan makhluk-makhluk itu. Para mutan malah semakin beringas saat mereka terdesak.
“Kita akan kalah! Segera evakuasi diri! Kita tak akan bertahan. Segera pergi dan laporkan hal ini ke semua Distrik. Cepat!” perintah Petroska dari tempatnya berdiri.
“Yes, Sir!” jawab semua petugas segera meneruskan pesan darurat tersebut. Seketika, suara alarm di seluruh Distrik berbunyi. Para User robot level D dan E segera bersiap.
“Morlan pasti sudah melakukan modifikasi. Kita harus cari titik lemah para mutan itu!” ucap Roman geram dari Pusat Komando Distrik 9 Gedung Green Eco-03.
“Oh! Anda ingat pengendali yang tertanam dalam tempurung tengkorak para mutan itu? Kita hancurkan benda itu dengan menebas kepala mereka,” sahut Tony menyarankan.
“Ya, itu benar. Patut dicoba,” sahut Laksamana Joe sependapat.
“Segera informasikan kepada seluruh User yang bertugas untuk membidik kepala para mutan. Begitu terpenggal, hancurkan kepala mereka. Laksanakan!”
“Yes, President!” jawab semua operator di ruangan tersebut.
Suasana tegang dan mencekam membuat semua petugas panik, termasuk para warga yang mengungsi dan berlindung di bunker.
Jika Distrik 10 tertembus, Distrik selanjutnya yang akan terkena imbas serangan adalah Distrik 9 dan akan merembet ke Distrik lainnya.
Distrik 9 adalah pusat Militer Great Ruler. Jika tempat tersebut jatuh, maka runtuhlah Negara besar tersebut.
***
__ADS_1
makasih tipsnya mbak aju. udah ngepul otakku. udah ya crazy upnya. besok lagi. kasian monster sakit sampe lele tinggal gegara crazy up. trims semua dukungannya. lele padamu❤️