SIMULATION

SIMULATION
MUTTAN ATTACK!*


__ADS_3


Di Great Ruler.


Suasana tegang dan mencekam terasa di seluruh Distrik karena para mutan berhasil memasuki kota.


Para User bersiaga dengan pedang laser dan juga lengan para mutan yang dijadikan sebagai senjata tambahan.


Mereka berpencar dalam kegelapan karena hanya pusat kendali yang masih dialiri listrik dari generator cadangan.


“Waspada,” titah Tony saat ia dan timnya berburu para mutan di wilayah Distrik 9.


Matteo terlihat serius di depan dua layar besar di hadapannya. Ia melihat layar di sisi kanan dengan visual Sandra, dan sisi kiri visual dari Tony yang tertangkap kamera pengawas yang masuk dalam jangkauan pusat kendali.


“Oh, SpiderBot. Bisakah kita gunakan robot itu untuk menjadi mata di beberapa lokasi?” tanya Matteo kepada Imo.


“Ya, tentu saja, Tuan. Ah, kenapa aku tak terpikirkan hal itu. Akan segera kulaksanakan,” jawab Imo bergegas.


“Aku bantu,” sahut Wego yang ikut mengendalikan SpiderBot yang tersedia di Gudang persenjataan Gedung Green Eco-02.


Matteo terlihat serius saat ratusan SpiderBot disebar oleh dua operator andalannya ke seluruh Distrik.


Laba-laba yang memiliki kamera dan senjata mini laser bergerak dengan cepat ke beberapa titik sebagai mata tambahan karena beberapa kamera pengawas tak bisa beroperasi.


“Bagus … bagus … gunakan semua,” ucap Matteo serius saat mata laba-laba robot itu menangkap beberapa kawasan di beberapa gedung. “Imo, siarkan ke seluruh pusat kendali. Biarkan mereka membantu menjadi mata para pasukan kita,” perintah Matteo serius yang ikut mencari keberadaan para mutan tak terlihat itu.


“Oh! Jenderal! Ada mutan bergerak dengan kecepatan penuh menuju ke Gedung Pelatihan para User!” pekik Wego saat salah satu SpiderBot-nya menangkap pergerakan mutan macan taring besi yang berlari kencang ke arah gedung tersebut.


“Amankan area! Jangan biarkan mutan itu memasuki gedung ini!” perintah Matteo melebarkan mata.


TET! TET! TET!


Para User yang berada di sekitar gedung Green Eco terkejut karena alarm di Gedung Pelatihan menyala nyaring. Semua petugas segera merapat untuk mengamankan wilayah.


“Matteo! Kau mau ke mana?” tanya Lala melebarkan mata saat keponakannya terlihat seperti akan pergi meninggalkan pusat kendali.


“Aku tak boleh membiarkan mutan itu masuk kemari, Bibi. Aku harus meringkusnya,” tegasnya seraya mengambil pedang laser di ruangan tersebut.


“Jenderal, kami membutuhkanmu. Percayalah pada User kita. Mereka pasti bisa mengalahkan mutan itu. Tetaplah di sini,” pinta Rhyz dan diangguki semua orang.


Matteo mengalihkan pandangan ke arah Sandra yang masih online dan terus melaju kencang dengan WolfBot menuju ke kota mati.


“Hempf, baiklah,” jawab Matteo seraya meletakkan pedang laser tersebut kembali ke tempatnya. Namun seketika, keningnya berkerut seperti teringat sesuatu. “Oh! Ruang simulasi latihan!” pekiknya tiba-tiba dihadapan semua orang.


“Ha? Maksud Anda?” tanya Bablo bingung.


“Kita manfaatkan ruang pelatihan kita. Kita memiliki banyak, bukan? Kita buat para mutan itu masuk dalam perangkap dan kita habisi mereka di ruang pelatihan tanpa harus mengerahkan User kita untuk menghadapinya langsung,” jawab Matteo dengan mata berbinar.


“Kau benar. Segera perintahkan para User kita untuk mundur. Pancing mutan itu ke ruang pelatihan. Cepat!” sahut Lala.


“Yes, Mam!” jawab semua operator.


“Semua User di gedung pelatihan harap mundur. Kita akan menjebak para mutan di ruang pelatihan. Siapkan diri dan … semoga kita selamat,” ucap Xili menyiarkan.


Para User robot level E saling berpandangan. Mereka segera berpencar menjadi beberapa kelompok setelah memahami instruksi tersebut. Matteo memerintahkan kepada para operator di tiap ruang pelatihan bersiap.


“Grrr,” erang salah seekor mutan saat tiga ekor dari jenisnya memasuki gedung pelatihan dan mendapati lorong tersebut kosong.


Saat hewan berbulu hitam itu melangkah perlahan seraya mengendus sekitar ruangan, tiba-tiba ….


“Grrr! Arrrggg!” erang tiga mutan itu saat mendapati dua buah bola bowling robot berwarna hijau menggelinding mengeluarkan suara riang gembira.


Mutan-mutan tersebut berlari kencang mengejarnya. Dua bola tersebut menggelinding dengan cepat memasuki ruangan.


Seketika, PIP!


Tiga mutan macan tersebut terlihat bingung saat semua pintu tertutup rapat dan muncul papan logam berbentuk seperti manusia yang menyala lampu warna merah membidik tubuh mereka.

__ADS_1


“Sasaran tembak terkunci. Hindari tembakan sengat untuk lolos level ini selama 5 menit. Dalam hitungan mundur. 3 … 2 … 1, go!”


“Harrggg!” erang para mutan macan saat sinar merah yang membidik tubuh mereka mampu memancarkan sengat.


Para mutan itu mengerang. Mereka kocar-kacir di dalam ruangan yang memiliki dinding pelindung anti laser, anti getaran, dan anti peluru.


Para User robot level E yang bersembunyi di balik dinding bersiap dengan pedang laser masih mereka sarungkan, menunggu instruksi dan kesempatan saat para mutan itu lengah.


“Now!” perintah Matteo lantang yang suaranya terdengar dari speaker ruangan begitu sinar sengat tersebut padam.


“Serang!” seru para User robot level E berjumlah 10 saat keluar dari dinding yang terbuka dan hanya bisa dilihat dari sisi dalam karena para mutan itu tak bisa mendeteksi keberadaan mereka.


Para mutan macan yang lengah, terkejut karena serangan tiba-tiba tersebut. Tubuh mereka menjadi sasaran dari tebasan pedang laser. Dengan cepat, tiga mutan itu berhasil dilumpuhkan setelah kepala mereka ditebas.


“Woahh!” seru para operator di pusat kendali saat usaha mereka berhasil dengan memanfaatkan strategi dari Matteo.


Para User yang melihat tayangan tersebut dari ruangan tempat mereka bersembunyi ikut terbakar semangat untuk bertahan dan terus berjuang.


Tayangan keberhasilan tersebut dikirimkan ke seluruh pusat kendali yang terhubung. Mereka menerapkan hal yang sama di gedung-gedung yang memiliki fasilitas senjata.


“Pancing mereka ke dalam gedung, lalu kita habisi. Ini wilayah kita dan mereka adalah tamu tak diundang. Kita harus tunjukkan siapa tuan rumahnya!” seru Mayor Kyel yang bertugas di Distrik 1 dan semua User mengangguk siap.


SpiderBot berhasil berpencar di seluruh Distrik. Pergerakan para mutan mulai terlihat. Para pemimpin pasukan mulai menggunakan strategi mereka masing-masing untuk melumpuhkan para mutan.


Tony mendapatkan laporan jika ada mutan di dekatnya. Ia diminta menggiring mutan itu ke gedung pelatihan dan sang Captain tim C siap melaksanakan perintah.


Tony memberikan komando kepada anak buah robot level E. Orang-orang itu terlihat siap menunggu instruksi dari Xili di pusat kendali.


“Now!”


“Fire!” seru Tony.


Dengan sigap, para pasukan tim C muncul dan menembaki mutan jenis Derga tersebut. Mutan tersebut merintih saat senapan laser melukai kulitnya, tetapi tak membunuhnya. “Run!”


Lima anggota pasukan itu berlari kencang bersama Captain mereka yang berada di barisan paling belakang masih menembaki mutan tersebut.


“Agh! ****!” pekik Tony kesal karena suara lengkingan itu menyakiti pendengarannya.


Helm robot level E tak mampu melindungi telinganya dari suara mutan tersebut. Tony jatuh karena jaraknya dengan mutan bertangan delapan itu sangat dekat.


“Captain!” teriak salah satu User karena Tony mengerang kesakitan dan malah melepaskan helm-nya.


Para anggota tim Tony menghentikan laju lari mereka dan menembaki mutan tersebut dengan laser menyakitkan tersebut. Tony didatangi salah satu User dan dipapah agar segera pergi dari tempat tersebut.


“Mereka tak akan berhasil,” ucap Matteo melihat para pasukan Tony kewalahan karena makhluk itu terus melengking dan membuat orang-orang jatuh satu per satu.


“Agh! Sial! Jangan halangi aku!” seru Matteo yang akhirnya nekat keluar dengan pedang laser dalam genggaman.


“Matteo!”


“Jenderal!”


Panggil Lala dan para operator di pusat kendali, tetapi hal itu tak diindahkan oleh putera Morlan. Matteo berjalan dengan langkah gusar diikuti oleh Spectra, Purple, dan Roboto.


Semua orang yang tersambung dengan tampilan layar pergerakan Matteo di pusat kendali seluruh Distrik tertegun karena aksi nekat sang Jenderal.


“Matteo! Jangan gila! Kau bisa terbunuh!” pekik Roman yang suaranya tersambung di earphone dari sambungan radio.


“Jangan meremehkanku, Paman. Kita lihat saja, apa cuti liburanku selama satu bulan membuahkan hasil,” jawab Matteo tersenyum miring seraya menyarungkan pedang laser di pinggulnya.


“Apa yang dia katakan? Jenderal mulai tidak waras,” sahut Xili heran.


Matteo mulai melangkah keluar gedung dan melihat para User robot level E dibuat tak berdaya menghadapi mutan Derga karena tak sanggup menahan suara lengkingannya.


“Spectra, Roboto, Purple, bersiap!” perintahnya seraya menekan lama jam tangan tanpa gelang di punggung pergelangan tangannya.


“Ai-ai, Jenderal,” jawab tiga robot tersebut yang mengikuti Matteo di tiga sisi—samping kanan, kiri dan belakang.

__ADS_1


“Now!” perintahnya seraya terus berjalan sembari melepaskan jas kebesarannya.


Seketika, PIP! PIP! PIP!


“Wow! Apa itu?” tanya Sekretaris Negara—Sora—dengan mata membeliak saat melihat tiga robot itu memisahkan tubuh dan menempel perbagian di tubuh Matteo yang telah terpasang beberapa pin di seragam perwira-nya, di mana selama ini tersimpan rahasia besar di balik pakaian tersebut.


“Sial, dia keren sekali,” gerutu Tony tengkurap di atas rumput saat melihat Matteo berjalan mendekat dengan pedang laser menyala terang dalam genggaman tangan kanan.


“Cepat masuk ke dalam gedung dan kita siapkan sambutan bagi para mutan itu!” perintah Matteo ketika berjalan melewati para User robot level E yang terkapar di tanah.


“Menyebalkan. Dia benar-benar sok jagoan,” geram Tony, tetapi ia mengindahkan perintah sang Jenderal.


Tony membiarkan Matteo menggantikan tugasnya dan timnya untuk menghabisi mutan Derga. Para User itu berlari memasuki gedung dan segera bersiap.


“Piiikkk!” lengking Derga nyaring, tetapi tak memberikan dampak apa pun kepada Matteo karena kepalanya kini telah terbungkus oleh helm milk Spectra.


“Hem. Daya redammu bagus juga, Spectra. Pantas saja kau sepertinya agak sedikit tuli akhir-akhir ini. Ingatkan aku untuk memperbaharui perangkat kerasmu,” ucap Matteo seraya mengayunkan pedang robotnya.


“Ai-ai, Sir,” jawab Spectra yang masih terhubung dengan Matteo.


“Aku pernah membunuh satu dari jenismu, dan akan kulakukan lagi hingga spesies kalian musnah dari muka bumi! Arrghh!” erang Matteo seraya mengayunkan pedang lasernya saat Derga mulai berlari ke arahnya.


Mata semua orang yang menyaksikan pertarungan satu lawan satu seperti saat di Colosseum beberapa tahun silam terpaku.


Bagaikan dejavu, Matteo melawan mutan tersebut dengan gagah berani dan gesit dalam setiap gerakannya.


Tubuhnya bagaikan robot level E generasi terbaru. Punggung sampai pantat tertutup oleh warna ungu.


Kedua kakinya berlapis tubuh dari Spectra berwarna silver. Kedua lengan dan tangan besarnya serta bagian dada sampai kejantanannya, tertutup tubuh Roboto.


“Piiikkk!” erang mutan tersebut saat kedua tangan kecilnya terkena sabetan pedang laser dan memotongnya.


“Oh! Matteo!” pekik Lala saat melihat kepala mutan tersebut mulai terjulur memanjang dan berusaha menangkap kepala robot Matteo untuk diremukkan.


“Spectra! Tembakan laser penembus!” perintah Matteo saat kedua tangannya menahan kedua tangan besar Derga di mana keduanya saling beradu kekuatan.


“Laser penembus diaktifkan.”


Seketika, “Piiikkk!” rintih Derga ketika Matteo sengaja menjatuhkan diri dan sinar laser berwarna biru dari mata Spectra mengenai kepala berbentuk hiu tersebut saat terjulur ke arahnya.


Kepala Derga berlubang dan meleleh. Cengkeraman Derga melemah dan dengan sigap, Matteo meremat kuat tangan mutan itu.


“Roboto! Sengatan listrik!”


“Sengatan listrik diaktifkan.”


CRETT!


“Piii ….” BRUK!


“Woohooo!” sorak semua orang yang melihat kemampuan dari tiga robot Matteo yang dikombinasikan dengan dirinya mampu mengalahkan mutan tersebut.


Matteo berdiri tegap terlihat tetap tenang saat serangan terakhirnya berupa sengatan listrik yang keluar dari tangan Roboto berhasil mengeringkan mutan tersebut.


“Jenderal! Para mutan berlari ke arahmu!” seru Xili yang membuat Matteo kembali bersiap.


“Ayo lakukan. Aku tak akan kabur kali ini. Penebusan Matteo Corza, dimulai,” ucapnya dengan dua tangan Roboto telah siap dengan aliran listrik.


Tony yang mendengar ucapan Matteo dari pusat kendali karena ia kini menggantikan tugas sang Jenderal terlihat kesal.


“Sial. Dia membuatku merasa bersalah dan tidak berguna,” gerutu Tony, tetapi ucapannya didengar semua orang. Lala dan para operator yang mengetahui perselisihan keduanya tersenyum tipis.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2