SIMULATION

SIMULATION
NEW ENEMY


__ADS_3

Benar saja, empat manusia setengah mutan tersebut masih hidup dan berhasil lolos dari ledakan meski terlihat luka dibeberapa bagian tubuh.


Kulit tebal manusia setengah mutan itu mampu melindungi diri dari panasnya api yang berkobar siap memanggang tubuh.


Kekuatan empat orang itu berlipat layaknya hewan-hewan bertubuh besar sehingga mampu menyingkirkan puing yang menimpa tubuh mereka.


"Bersiap!" seru Sandra lantang dengan pedang laser menyala terang di kedua punggung tangannya.


"Yeh!" jawab para kandidat dengan formasi Bulan Sabit.


"Hargh!" erang empat manusia setengah mutan itu terlihat marah dengan beberapa luka bakar dilapisan kulit manusia.


Empat WolfBot dengan sigap segera berlari dan mengincar masing-masing mutan yang telah ditandai oleh para operator di Pusat Kendali.


"Lindungi Wapres!" seru Xili yang mengambil alih kendali karena Qimi dan empat operator lainnya berpindah lokasi menuju Pusat Komando untuk mengamankan seluruh benteng 10 Distrik dalam pengawasan Matteo Corza.


"Kami sudah bersiap di Gerbang Kermogal dan celah yang dimaksud Morlan!" seru Laksamana Joe dari Pusat Kendali Distrik 5.


Posisi pasukan Sandra dekat dengan Distrik 10. Mereka akan menghalau pasukan yang disinyalir dari negara Bintang akan melakukan serangan di benteng tersebut.


Namun, "Wapres! Great Mazepita dalam bahaya! Terlihat sekumpulan benda terbang menuju ke arah mereka dan diperkirakan akan sampai dalam waktu 15 menit!" seru Bablo dari pantauan satelit yang mengejutkan semua orang.


"Akan kutangani. Tetaplah di sini dan pastikan mereka tewas," pinta Morlan di hadapan robot Sandra.


"Aku akan menyusul, Ayah. Hati-hati," sahut Sandra cemas dan Morlan mengangguk paham.


Segera, helikopter warna putih itu terbang meninggalkan lokasi. Sandra melihat ketiga puluh pasukannya bersiap dan belum melakukan serangan karena masih mengamati peperangan.


Empat WolfBot terlihat mampu untuk mengalahkan musuh, tapi Sandra ingin peperangan ini cepat berakhir agar bisa membantu ayah mertuanya.


"1, 2, 3, 4! Fire!"


SHUW! SHUW! CRAT!


"Hargghh!"


Rintihan kesakitan dari empat manusia mutan saat terkena tembakan laser dari empat robot serigala membuat suasana semakin mencekam.


Empat serigala robot tak melepaskan buruannya. Mereka terus menggigit dan mencabik tubuh orang-orang yang semakin beringas itu.


Para calon User terlihat gugup meski hanya melihat tak ikut bertempur. Apa yang mereka lihat dan rasakan kali ini bukanlah simulasi, tapi peperangan sesungguhnya di luar benteng.


"Kalian sudah mengintai kami selama ini! Kalian sengaja datang saat kami akan menyeberang!" seru Sandra lantang seraya mengayunkan pedang lasernya ke tubuh salah satu manusia mutan yang memiliki tanduk di ujung siku.


KRAS!


"Argh!" erang pria mutan itu saat tangan kanannya yang berusaha menjadi tameng tubuhnya agar tak terkena tebasan pedang laser, malah membuat tangan kirinya terputus.


Namun, seperti mutan Derga, lendir berwarna merah keluar dari potongan itu seperti tumbuh daging baru.


CRATT!


"Menjijikkan! Tangannya tumbuh lagi!" seru Vito bergidik ngeri melihat mantan ilmuwan Great Ruler tersebut seperti sulit untuk dibunuh.


TET! TET! TET!


"Peringatan ancaman. Terdeteksi kendaraan berbahan bakar bensin dan berpenumpang manusia mutan bermuatan senjata yang bisa merusak robot melaju dengan kecepatan 40 km/jam dan semakin cepat. Benturan akan segera terjadi dalam 10 menit," ucap Mola melaporkan.


Tentu saja, hal ini membuat Sandra dan para operator terkejut. Alolo yang ikut melihat dari tampilan di layar helm-nya tampak serius melihat robot Sandra berusaha menjatuhkan empat manusia mutan.


"Serahkan pada kami, Wapres! Kami bisa mengalahkan kelompok musuh. Fokuslah untuk menjatuhkan empat manusia mutan. Percaya dengan kemampuan kami!" seru Alolo mantap dan diangguki oleh anak buahnya.


"Aku percayakan Distrik 10 padamu, Alolo!" jawab Sandra yang merasa lega karena kini ia bisa fokus untuk melumpuhkan musuh jenis baru dihadapannya.


Alolo dan anak buahnya mengangguk mantap dengan kepalan tangan kanan menepuk dada di sisi kirinya.

__ADS_1


Semua orang yang tersambung dengan komunikasi itu terlihat bangga dengan keberanian para pejuang kota Magenta.


"Vito! Nuno! Miko! Gunakan HeliBot untuk menyerang mereka dari atas! Gagalkan serangan pasukan negara Bintang! Jatuhkan nyali mereka agar berhenti menyerang negara kita! Sekarang!" seru Sandra yang didengar oleh semua pasukan berseragam hitam itu.


"Yes, Mam!"


Segera, Wego mengarahkan tiga HeliBot yang melindungi pasukan Sandra sejak meninggalkan Great Ruler untuk menerbangkan tiga User robot level E tersebut.


Tiga orang itu terlihat serius membidik musuh yang jaraknya masih jauh dari titik temu. Namun, Sandra ingin menggagalkan mereka diawal karena ia masih sibuk untuk menyelesaikan urusannya dengan empat manusia mutan.


"Tim A dan Tim B! Begitu manusia mutan roboh, segera habisi dia! Pecah menjadi 9 orang untuk 3 kelompok. Buat formasi Colosseum! Now!" perintah Sandra lantang yang akhirnya memilih mundur untuk mengamati pergerakan dari empat manusia mutan yang tingkah lakunya berbeda dari para mutan yang ia lawan kala itu.


"Yes, Mam!"


Segera, formasi Bulan Sabit berubah menjadi formasi Colosseum. Kini, robot level A Sandra, empat WolfBot dan empat manusia mutan, dikepung oleh 27 kandidat calon User berseragam robot level E seperti instruksi Sandra.


Para pemuda itu telah membagi menjadi 3 kelompok bernama tim Ego, tim Akira, dan tim Tony.


Orang-orang itu terlihat siap dengan pedang dan senapan laser dalam genggaman. Benar saja, Sandra mulai fokus dengan serangannya. Ia teringat dengan misinya kala itu, tapi kali ini, semua di luar rencana.


"Heyah!"


KRAS!


"Harghhh!"


JLEB! SRET! CRAT!


"NOW!" seru Sandra lantang setelah pedang laser di punggung tangan kanannya berhasil menebas tangan kiri manusia mutan yang bercakar tajam seperti harimau.


Sandra menambah serangan ketika musuhnya lengah dengan menyatukan kedua lengannya. Ia menusuk dada manusia mutan seperti manusia setengah beruang menggunakan ujung pedang laser.


Pedang itu menembus dada manusia mutan hingga erangan kesakitan terdengar jelas memecah keheningan di padang gurun yang tadinya sepi.


Sandra mendorong kuat lawannya ke arah pasukan Ego yang siap untuk menghabisi manusia mutan itu.


Kedua lengan robot Sandra seperti akan diremukkan. Mola mengidentifikasi kerusakan pada rangka lengan robot.


Sandra tak ingin ambil resiko. Ia melepaskan tusukan di dada musuh dengan menarik pedang lasernya kuat.


"Habisi dia!" seru Sandra melangkah mundur dengan napas tersengal dan kedua tangan robotnya tergolek seperti kehilangan daya.


"Yeah!" seru tim Ego segera melakukan serangan penghabisan untuk memastikan manusia mutan itu tak bangkit lagi.


Salah satu anggota tim menebas kepala manusia mutan setelah kedua kakinya berhasil dilumpuhkan dengan terus ditembaki menggunakan senapan laser.


KRAS! DUK!


"Bakar dia!" seru salah satu anggota karena khawatir jika tubuh manusia mutan akan tumbuh lagi meski kepalanya telah terpenggal.


Dengan sigap, WHOM!


Sebuah senapan khusus yang disarungkan pada paha sebelah kiri mengeluarkan semburan api. Manusia mutan itu kini telah terbakar hebat dan tak bergerak lagi.


Kesembilan pria itu terlihat iba dengan kondisi manusia mutan yang dulunya penduduk Great Ruler.


Namun, mengingat keinginannya kini menghancurkan tanah airnya, mereka terpaksa melakukan perbuatan keji.


"Segera ke Great Mazepita! Lindungi wilayah itu! Cepat!" seru Sandra lantang memerintahkan tim Ego.


"Ayo!" ajak Perko yang menjadi pemimpin tim Ego kepada kawan-kawan satu regunya berlari kembali ke Mazepita.


Jantung Sandra berdebar kencang. Ia terlihat cemas dengan kondisi robotnya yang seperti mengalami kerusakan.


"Analisis kerusakan," ucap Mola saat Sandra melihat ada asap keluar dari dua lengan robotnya yang mengeluarkan pedang laser. "Sirkuit yang menghubungkan kendali suara dengan pedang laser mengalami kerusakan. Pedang laser tak bisa dinonaktifkan dan mengkonsumsi daya pada robot berkurang secara signifikan."

__ADS_1


Baik Sandra atau pun operator yang bertugas terlihat cemas dengan kondisi robot karena tak bisa bertahan dalam waktu lama karena kekurangan baterai akibat penggunaan pedang laser terlalu lama.


"Kalau begitu. Segera tuntaskan. Tiga lagi. Aku siap Mola!" seru Sandra tak patah semangat dan kembali bersiap membidik seorang manusia mutan yang mulai roboh karena tubuhnya telah berdarah hebat akibat serangan WolfBot.


"Pelindung duri diaktifkan," ucap Mola setelah Sandra memberikannya instruksi.


"Pastikan koneksi terputus sebelum daya habis," tegas Xili cemas jika terjadi pemutusan hubungan syaraf sepihak akibat konsleting karena User terlalu fokus melakukan serangan.


Matteo yang mencemaskan keadaan sang isteri, nekat untuk keluar dari benteng.


"Matteo, jangan! Negara Bintang sengaja melakukannya. Kau tak dengar yang dikatakan Sandra? Mereka telah memata-matai kita. Mereka ingin kau keluar benteng dan maju berperang. Great Ruler tak bisa kehilangan Presidennya. Percaya pada Sandra. Dia bisa melakukannya. Banyak orang melindunginya," tegas Lala menahan kepergian keponakannya yang siap untuk bertempur.


"Tapi, Bibi ...," sanggah Matteo gelisah.


"Berisik! Akan kubantu. Vemo selalu menjadi pahlawan untuk Sandra Salvarian," ucap Vemo tiba-tiba yang suaranya masuk ke jaringan komunikasi.


"Keparatt sialan itu benar-benar," gerutu Matteo yang kembali ke Pusat Kendali untuk melihat pergerakan Vemo di layar besar.


Siapa sangka, Vemo muncul dengan senjata buatannya, tapi ada yang aneh dari HeliBot yang membawa tubuhnya.


Vemo mempersenjatai helikopter ciptaan Matteo dengan senapan laser di sisi kiri dan kanan.


"Terbangkan yang benar!" seru Vemo seperti memerintahkan seseorang.


"Berisik!" jawab Roves yang ternyata mengendalikan HeliBot tersebut.


Vemo mengarahkan dua senapan berbentuk silinder yang memiliki ujung seperti tombak jaring. Dua benda dari besi warna hitam itu terpasang di badan HeliBot sisi kiri dan kanan.


Sebuah alat pengendali terpasang pada senapan itu sehingga bisa menembak dengan otomatis. Vemo menggunakan kacamata khusus seperti mengincar target.


"Haha! Dapat! Kena kau!"


KLIK!


SHOOT! CRETTT!


"ARGHHH!"


BRUKK!


Semua orang terkejut ketika senjata tersebut ternyata sebuah jaring besi yang dialiri listrik. Seorang manusia mutan berhasil terperangkap jaring dan tubuhnya mengejang mengeluarkan asap akibat tersengat.


Tim Akira yang membidik manusia mutan itu langsung melangkah mundur karena pria bertubuh besar yang memiliki taring di giginya bergulung-gulung di atas pasir kesakitan.


"Jangan diam saja! Bunuh dia! Sengatku hanya bertahan 2 menit saja!" seru Vemo kesal karena para kandidat User itu malah terbengong.


Para pria itu menatap robot Sandra yang terlihat lemah karena mulai kehabisan energi. Sandra menganggukkan kepala mengizinkan.


Dengan segera, tim Akira melakukan pekerjaan terakhir untuk memastikan manusia mutan itu mati dengan menusuk tubuhnya menggunakan pedang laser setelah sengat pada jaring menghilang.


Kepala manusia mutan itu ditebas dan dibakar seperti manusia mutan sebelumnya. Sorak-sorai kegembiraan karena dua musuh sudah berhasil diringkus.


"Cepat! Susul tim lainnya ke Great Mazepita! Lindungi tempat itu!" perintah Sandra dengan tubuh membungkuk.


"Yes, Mam!" jawab tim Akira yang segera berlari menyusul kelompok Ego yang telah pergi terlebih dahulu untuk mengamankan keadaan.


Tiba-tiba, BRUK!


"SANDRA!" panggil Vemo lantang karena tubuh robot Sandra tergolek. Ternyata, raga Sandra juga ikut roboh di ruang simulasi.


Sandra pucat seperti orang kelelahan mengalami dehidrasi. Segera, tim medis menolong Sandra. Xili terpaksa memutus hubungan User dengan robot di lapangan.


"Sir," panggil petugas medis ketika Sandra dilakukan pemeriksaan dengan alat pemindai portabel seperti senter.


"Isteriku baik-baik saja, kan?" tanya Matteo cemas yang kini memegangi tubuh Sandra.

__ADS_1


"Entah ini kabar baik atau buruk, tapi ... isteri Anda hamil," jawab petugas itu yang membuat semua orang terkejut.


Sandra bahkan melebarkan mata karena tak mengetahui hal tersebut.


__ADS_2