SIMULATION

SIMULATION
ALONE*


__ADS_3

Sandra akhirnya memutuskan untuk tak berjalan lagi demi menghemat daya robotnya. Sayangnya, ia masih belum bisa berkomunikasi dengan pusat kendali simulasi.


Sandra menduga, hal itu karena ia berada jauh dengan Great Ruler, tapi pikiran lainnya mengatakan kejanggalan karena Mola masih terhubung dengannya.


"Apakah ... sistem komunikasiku rusak?" tanya Sandra sembari mengetuk telinganya, tapi ia merasa jika tak ada kerusakan.


Wanita berambut pirang itu menyentuh seluruh tubuhnya dari kepala sampai ke kaki, di mana kacamata robotnya melihat jika kondisi robotnya baik-baik saja.


"Kenapa ia melakukan gerakan sensual seperti itu? Apakah ia ingin memamerkan padaku jika bentuk tubuhnya lebih bagus dariku? Menyebalkan," gerutu Sora gusar dan segera berpaling pergi.


Orang-orang yang mendengar hal itu menahan senyum, termasuk Matteo. Sora melirik kawan semasa kuliahnya tajam saat berdiri di sampingnya.


"Kauharus mengakuinya, Sora. Tubuh Otka memang lebih bagus darimu. Kauharus berolahraga seperti dirinya," ucap Matteo, tapi wanita berambut Toska itu mendesis kesal.


"Tenang. Sepertinya Otka siap melanjutkan misi. Fokus," perintah Lala yang membuat suasana di pusat kendali hening seketika.


Di tempat Sandra berada.


"Oke. Aku siap melanjutkan misi berikutnya," ucap Sandra yang berdiri tegap terlihat siap.


"Misi level 5," ujar Mola dan seketika, muncul sebuah rute di kacamata fiber yang terhubung dengan robot Sandra.


Semua orang termasuk Sandra terlihat kaget karena rute itu malah membuat robotnya semakin menjauh dari Great Ruler.


"Aku cukup yakin jika rute yang diberikan ini bukan membawa robotku kembali ke negaraku. Apakah ... aku diminta untuk memetakan wilayah? Aku dengar, jika robot level A dibuat seperti gabungan robot level C sebagai mata-mata dan robot level B sebagai petarung. Hanya saja, sungguh? Sendirian?" tanya Sandra mulai merasa jika misi ini tak wajar.


"Oh, dia mulai kesal," sahut Sora.


Praktis, ucapannya itu membuat semua orang di pusat kendali meliriknya sekilas. Sora tersenyum miring. Ia sangat ahli membuat suasana menjadi panas.


"Misi dimulai. Dalam hitungan mundur. 10 …9 … 8 … 7 … 6 … 5 … 4 … 3 … 2 … 1, go!” seru Mola.


Sandra memilih untuk berlari kali ini. Jarak menuju ke titik misi cukup jauh. Ia yakin jika daya pada robotnya cukup untuk bertahan hingga esok hari.


Wanita bertubuh atletis itu sangat berharap ia bisa keluar dari ruangan yang memperangkapnya untuk menenangkan diri walau hanya sehari. Sandra mengejar waktu untuk menyelesaikan misi level 5.


"Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan terus berlari untuk tiba di titik misi," ucap Mola menjelaskan. Sandra mengangguk paham. Ia fokus pada titik merah penunjuk rute di layar helm robotnya.


"Xili, bisa kauberitahu? Di mana titik misi tersebut?" tanya Matteo cemas karena ia tak pernah sekalipun keluar dari Great Ruler sepanjang hidupnya dan hanya mengetahui wilayah-wilayah tersebut melalui satelit.


Xili mencoba menyamakan koordinat tersebut dengan pencitraan satelit. Hingga akhirnya, ia mendapati sebuah wilayah yang belum pernah didatangi sebelumnya oleh robot dan manusia di Great Ruler. Hal ini diketahui dari catatan database misi.



"Wow! Tempat apa itu?" tanya Matteo sampai mendekat ke layar.


"Sepertinya wilayah itu belum pulih pasca perang besar. Lihatlah, pohon-pohon itu mati. Bahkan udaranya berkabut. Pasti tanahnya juga telah terkontaminasi. Sangat sulit untuk dipulihkan. Inilah dampak kerakusan para penguasa 100 tahun silam. Bumi sampai tak bisa dihuni," ucap Lala yang membuat semua orang terdiam.


"Dan Otka akan berada di tempat mengerikan itu?" tanya Sora terlihat pucat.


"Hem, begitulah," jawab Xili berwajah malas.


Kepala semua orang di pusat kendali langsung tertuju ke tempat Sandra berada. Mereka iba dengan kondisi wanita malang itu yang tak mengetahui jika ancaman bisa merenggut nyawanya.


Matteo mendekati Sandra yang masih fokus berlari agar segera tiba di titik misi. Wajah sang Jenderal terlihat sendu, ia khawatir jika Sandra tak bisa diselamatkan.


Saat semua orang sedang dilanda kepiluan, para pekerja teknisi memberikan banyak laporan dari beberapa Distrik yang sedang melakukan perbaikan.


"Sora. Kautinjau lapangan. Laporkan padaku bagaimana perkembangan ditiap Distrik. Aku bisa mengandalkanmu 'kan?" tanya Roman melirik Sekretaris Negaranya.


"Yes, Sir," jawab Sora cepat.


Wanita cantik itu segera meninggalkan pusat kendali untuk memastikan sistem persenjataan di seluruh Distrik siap untuk menghadapi ancaman serangan dari pihak mutan.



Akhirnya, robot level A tiba di lokasi. Sandra menghentikan laju larinya ketika melewati kawasan seperti yang tertangkap oleh pencitraan satelit di Great Ruler.


Semua orang yang berkumpul di pusat kendali terdiam melihat kengerian wilayah tersebut.


"Aku tak tahu jika ada tempat seperti ini di Bumi. Apakah ... ini dampak perang?" tanya Sandra pada dirinya sendiri saat melewati bangkai pohon yang telah mati.

__ADS_1


Sandra mendongakkan kepalanya. Langit bahkan hampir tak terlihat karena kabut di sekitarnya yang menutupi cahaya bintang dan bulan.


Saat Sandra sedang menyusuri wilayah tak dikenal dan terdapat banyak bebatuan besar di sekitarnya, tiba-tiba ....


TET! TET! TET!


"Serangan! Serangan! Ditemukan ancaman dan beresiko merusak robot dari sisi Utara, Barat Laut dan Timur Laut! Musuh akan tiba dalam 1 menit" seru Mola yang membuat semua orang melebarkan mata seketika.


"Aktifkan pedang laser!" perintah Sandra langsung bersiap.


"Pedang laser diak—"


"Hoorgghh!"


"Otka!" seru Lala lantang karena mutan serigala tiba-tiba muncul dan langsung menerkam robot Sandra dari balik kabut tebal.


Tubuh robot Sandra langsung ambruk dan jatuh terlentang. Semua orang terkejut karena gerakan tak terduga itu. Namun, Sandra melihat jika pedang lasernya telah aktif.


"Argh!"


JLEB!!


Sandra berteriak seraya menusuk perut samping kiri dan kanan serigala mutan tersebut dengan pedang laser di punggung tangannya.


Mutan serigala itu meraung kesakitan. Sandra menggerakkan pedang lasernya yang menancap dengan posisi berlawanan.


SRETTT!! BRUKK!


"Woah!" seru semua orang karena robot Sandra berhasil membelah hewan mutan itu menjadi dua bagian, atas dan bawah.


Lala serasa ingin pingsan. Sang Wakil Presiden memilih untuk duduk di bangku dekat meja sajian untuk menenangkan diri karena pemandangan horor tersebut.


Roman melihat isterinya seperti shock dan takut jika terjadi hal buruk dengan robot Sandra yang berimbas kepada User-nya.


Semua orang nampak tegang melihat Sandra dikeroyok oleh tiga serigala mutan meski ia berhasil membunuh satu dari mereka.


"Hoorgg!"


Matteo berlari ke ruang kendali dan melihat dari tampilan layar robot saat Sandra berusaha keras mengalahkan dua mutan ganas yang ingin membunuhnya.


Sandra terus menyabetkan pedang lasernya ke arah serigala-serigala tak bernaluri itu, tapi serangannya berhasil dihindari oleh para mutan.


"Nonaktifkan!"


"Menonaktifkan pedang laser."


SHUW! SHUW!


Dengan sigap, Sandra mengganti senjatanya dengan pistol laser yang muncul dari dua pahanya. Sandra berlutut di atas tanah gersang dan terus menembaki dua serigala mutan yang berusaha menghindar dengan lincah.


Namun tiba-tiba, "Hoorgghh!!"


"AAAA!"


"OTKA!" seru Matteo dengan mata melotot saat perut samping robot Sandra digigit oleh salah satu mutan serigala tersebut dan dilemparkannya kuat.


Sandra jatuh bergulung-gulung dengan keras dan kepala robotnya menghantam batuan besar.


PIP!


Tiba-tiba saja, layar 100 inch yang menghubungkan penglihatan robot Sandra dengan pusat kendali padam.


Praktis, semua orang panik seketika. Ditambah, Sandra yang berada di ruang simulasi juga ikut tak bergerak dengan mata terpejam, tergeletak di lantai simulasi.


“Otka! Otka!” teriak Jenderal Matteo dengan mata membulat penuh, saat User pengendali robot level A terperangkap di dalam simulasi karena tak bisa menyelesaikan misi level kelima dari total sepuluh level.


Semua petugas di ruang simulator panik. Sistem syaraf terputus dengan sendirinya, bahkan Mola—komputer pintar yang mengendalikan simulasi—ikut terperangkap di dalam sistem, dan Mola tak bisa dihubungi.


“Katakan padaku apa yang terjadi?!” pekik Presiden Roman dengan mata terbelalak lebar saat melihat semua petugas seperti tak berdaya untuk mengembalikan Sandra ke dunia nyata.


“Sir! Jika diagnosis sistem tepat, Otka masih hidup, hanya saja dia ditidurkan. Ia akan kembali aktif sekitar …,” jawab petugas itu menggantung saat melihat jam tangannya, “reset time! Yang biasanya terjadi tiap pukul 12 malam.”

__ADS_1


“What?! Kenapa hal ini bisa terjadi? Apakah … ada yang memanipulasi sistem? Mengganti kode atau mungkin memasukkan virus?” tanya Roman seraya melangkah dengan gusar menuju ke komputer utama.


“Kami tidak tahu, Sir,” jawab petugas berpakaian abu-abu dengan wajah tertunduk.


PIP!


Praktis, semua orang menoleh ketika Captain Tony—pria berambut potongan classic side part dan bermanik cokelat—masuk dengan borgol magnet membelenggu kedua pergelangan tangannya.


Kening semua orang berkerut, saat Komandan Akira dan Ego berdiri mengapitnya menunjukkan wajah garang.


“Ada apa?” tanya Roman mengerutkan dahi.


Akira dan Ego melirik Tony sinis, dan sang Captain terlihat pucat saat ditatap tajam oleh semua orang.


“Ini salahku, Sir. Saya terhasut. Saya … tidak tahu jika akan berdampak seperti ini. Saya minta maaf,” jawab Tony dengan wajah tertunduk.


“Jangan katakan kau penyebab Otka terperangkap dalam simulasi, Tony! Apa yang kaulakukan padanya?! Siapa yang menghasutmu?!” pekik pria bermanik biru  seraya mendekati Tony dengan napas menderu.


Tony menaikkan pandangan. Ia menatap pria di depan dengan saksama lalu melirik Roman. Semua orang terlihat serius, bahkan kegiatan mereka terhenti karena pengakuan salah satu Captain pasukan robot level B kebanggan Great Ruler.


“Saya dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya karena dalam pengaruh alkohol. Dia sangat pintar memanipulasi. Saya pikir, dia adalah Presiden Roman,” jawabnya lesu.


“Morlan maksudmu? Dia di Great Ruler?!” pekik Wakil Presiden Lala sampai matanya melotot. Tony mengangguk membenarkan.


“Apa yang dia minta darimu hingga kau melakukan kecurangan ini?” tanya Colonel Brego ikut mendekat—diketahui dari papan nama pengenal diseragamnya.


Tony menggerakkan tangannya dan meminta Akira untuk mengambil sebuah benda di saku samping celana seragam perwiranya. Akira menemukan sebuah benda yang membuat mata semua orang terbelalak lebar.


“Flashdisc? Jangan katakan benda itu memiliki virus,” tegas Roman langsung merebut dari tangan Akira.


“Saya tidak tahu jika terdapat virus di dalamnya, Presiden. Saat itu, Morlan, yang saya pikir adalah Anda, memintaku untuk melakukan penyetelan ulang terhadap sistem simulasi robot level A. Anda mengatakan tidak enak badan dan mempercayakan hal itu pada saya. Mendapatkan perintah dari Anda adalah sebuah kehormatan besar, terlebih, User yang akan melakukan simulasi tersebut adalah wanita yang saya cintai,” jawabnya sayu, tetapi pengakuannya mengejutkan semua orang.


BUAKK!!


“Matteo!” teriak Lala lantang karena sang Jenderal muda tiba-tiba saja meluncurkan pukulan ke wajah sang Captain hingga Tony langsung jatuh tersungkur di lantai. Kembali, suasana tegang seketika.


“Aku tahu. Selama ini aku mengawasimu, Captain Tony. Kau cemburu dengan kedekatanku bersama Otka Oskova. Benar ‘kan?” tunjuk Matteo geram.


Lala memegangi lengan keponakannya yang sedang diliputi amarah itu. Tony terlihat tak terima dengan pukulan tersebut. Ia langsung berdiri, meski hidungnya berdarah.


“Tentu saja aku tak terima! Kau, penyebab kematian sahabatku, Rey! Kau merebut wanita yang kucintai! Dan asal kalian semua tahu, wanita di dalam simulasi itu adalah Sandra Salvarian! Dia isteri mendiang dari Captain Rey. Dia bukan Otka Oskova!” tegasnya lantang menunjuk ke tempat Sandra berbaring dengan mata terpejam dan punggungnya kini ditopang oleh sebuah alat sehingga tetap melayang.


Mata semua orang melebar. Mereka terkejut dengan kesaksian Tony yang tak pernah mereka duga. Napas Tony tersengal, ia terlihat marah. Pandangan semua orang kini tertuju padanya.


“Vemo, menukar barcode Otka dengan Sandra. Kuakui, sandiwara dan kecuranganku melibatkan Ego dan Akira. Kami terpaksa melakukannya. Semua demi misi balas dendam kepada Matteo. Jenderal keparat yang membuat kami kehilangan Rey untuk selama-lamanya karena keteledoran dan ketidakmampuannya sebagai pemimpin!” ucap Tony mengutarakan semua rahasia yang selama ini tak pernah terkuak.


Akira dan Ego hanya bisa diam saat nama mereka disebut.


“Kami telah siap saat hal ini terbongkar, dan kami bersedia menerima segala konsekuensinya. Hanya saja, jika diperkenankan, biarkan kami membantu. Keberadaan kami saat ini sangat dibutuhkan oleh Great Ruler untuk menghalau musuh,” sahut Komandan Ego—pria berkulit hitam—sopan.


“Itu benar. Sandra yang kalian kenal bernama Otka, telah berhasil sampai ke titik di mana kita mengetahui pergerakan dari pasukan mutan Morlan. Mutan-mutan itu sedang menuju kemari. Kalian membutuhkan kami untuk bertahan dan melawan. Ketika perang usai, silakan pengadilan memutuskan hukuman apa yang akan kami bertiga terima. Kami siap,” jawab Komandan Akira—seorang pria Asia—dengan mantap.


Semua orang di dalam ruangan tersebut terlihat syok. Roman berjalan mendekat ke arah tiga pemimpin tim pasukan tersebut.


Sang Presiden berbalik badan dan malah ikut berdiri di samping Tony. Orang-orang terlihat bingung dengan sikap aneh Presiden.


“Aku … juga akan ikut ke pengadilan. Pengakuanku akan kusampaikan nanti, saat Sandra berhasil kembali dan perang yang akan segera terjadi usai. Sekarang, kita fokus untuk mempertahankan negara. Kita lupakan dosa-dosa kita terdahulu untuk menyelamatkan Great Ruler! Bersiap!” tegas Roman.


“Yes, Sir!” jawab semua orang di dalam ruangan mantap dengan posisi berdiri dan hormat.


“Kau … memiliki rahasia, Paman?” tanya Matteo—pria bermanik biru dan seorang Jenderal muda—berkerut kening.


“Semua orang pasti memiliki rahasia, Matteo, termasuk kau. Bedanya, kau mau mengakuinya atau tidak,” jawab Roman tenang seraya berjalan meninggalkan keponakannya yang terlihat gugup akan sesuatu.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Uhuy tengkiyuw tipsnya aju❤️Okeh, kita udah mulai masuk ke eps yg ada di novel cetak ya. Semoga simulation bisa tamat dengan sempurna. Amin. Utang up sudah menunggu di novel lainnya. Huwaaa😭


__ADS_2