
Pusat Komando Great Ruler. Distrik 9.
"Mam! Ada pesan masuk dari negara Baatar. Mereka menawan Wakil Presiden Sandra Salvarian. Untuk menentukan nasibnya, kita diminta mengirim kalung detektor kebohongan kepada mereka saat ini juga," ucap Qimi melaporkan, tapi berita itu membuat kaget semua petugas.
"Sandra tertangkap? Ya Tuhan. Apakah kita sudah bisa menghubungi orang-orang yang berada di lapangan untuk menginformasikan keadaan Sandra?" tanya Lala panik.
"Segera saya lanjutkan," sahut Qimi cepat.
Tentu saja, orang-orang yang berada di robot cacing atau pun di HeliBot ikut terkejut. Matteo terlihat tegang membayangkan kondisi isterinya yang nyawanya terancam karena berada di negara musuh.
"Berikan yang Baatar inginkan. Apa yang Sandra pikirkan hingga kalung detektor kebohongan ikut terlibat dalam hal ini?" tanya Matteo dengan kening berkerut.
"Pastinya suatu hal yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya, Tuan Presiden. Percaya pada isterimu. Aku yakin, jika Sandra memiliki solusi sendiri untuk masalah yang sedang dihadapinya," sahut Colonel Brego yang fokus pada kemudi cacing robot.
Matteo mengangguk meski terlihat tegang, termasuk semua orang di ruang kendali tersebut.
Lala segera memproses permintaan dari negara Baatar dengan mengirimkan kalung itu menggunakan empat ekor WolfBot seperti permintaan Sandra.
Kalung itu dikalungkan ke empat leher serigala tersebut. Mereka berlari kencang sesuai dengan rute yang telah ditandai oleh Qimi menurut titik yang dikoordinatkan Baatar.
Satelit Great Ruler masih memantau pergerakan cacing robot dalam tanah, HeliBot di udara, dan dua regu WolfBot di lapangan. Semua armada itu, menuju ke negara Baatar.
Siapa sangka, pergerakan yang cukup menarik perhatian itu, ikut terpantau oleh negara Russ-King, New-US, dan Mega-US.
Pusat Komando negara Russ-King, Rusia.
"Great Ruler bergerak ke beberapa wilayah akhir-akhir ini. Sebelumnya ke negara Bintang. Lalu sekarang menuju Baatar. Apa yang dicari oleh mereka?" tanya pemimpin Russ-King dari tampilan robot mata-mata yang berkamuflase dengan lingkungan sekitar seperti batu dan pohon mati.
"Entahlah, Tuan. Namun sebaiknya, kita terus pantau. Sepertinya, Mega-US dan New-US juga melihat pergerakan ini. Sensor kita menangkap robot kepiting batu milik Mega-US saat peperangan terjadi antara Baatar dan kelompok Great Ruler di Gurun. Sensor juga mendapati robot burung milik New-US ketika bangsa Titan keluar dari persembunyiannya. Apakah akan terjadi perang besar lagi?" tanya operator pria bagian pencitraan satelit.
"Kita tentukan dari hasil pantauan. Minta seluruh pasukan untuk bersiap jika perang harus berkibar lagi. Russ-King tidak pernah gentar menghadapi segala jenis serangan meski sampai sekarang, kita selalu gagal menduduki Great Ruler. Negara sialan itu, akan menjadi milikku suatu saat nanti," geram pria berambut gondrong selaku pemimpin negara tersebut.
__ADS_1
Para operator yang bekerja di Pusat Komando mengangguk mantap. Bidikan mereka kini terfokus pada pergerakan HeliBot dari Great Ruler yang melintasi padang gurun Gobi untuk memasuki wilayah Baatar.
Pemimpin Russ-King yang dijuluki 'Bom' memiliki ambisi kuat untuk merebut Great Ruler semenjak kepemimpinan Morlan dan Roman.
Bom pernah melihat indahnya kota Great Ruler sebelumnya saat ikut dalam berperang bersama pasukan robot dari negaranya.
Presiden Russ-King terobsesi merebut kekuasaan dua Presiden kembar-Morlan dan Roman.
Kala itu, Bom menjadi salah satu kapten pasukan untuk menggempur Great Ruler. Bom adalah keturunan dari Presiden sebelumnya dan dialah satu-satunya penerus tunggal yang akan menggantikan kedudukan sang ayah.
Sayangnya, usahanya gagal karena serangan dari mutan milik Morlan. Bom terpaksa menarik pasukannya dan pulang dengan kekalahan.
Bom bersumpah untuk menduduki Great Ruler sebelum sang ayah memberikan limpahan tanggungjawab sebagai pemimpin negara padanya.
Namun, sampai meninggalnya sang pemimpin, Bom belum mampu mengabulkan keinginan sang ayah meski ia telah menjabat sebagai Presiden.
Bom akhirnya berkubu dengan Baatar, Bintang, bahkan Mega-US dan New-US sebelum dua negara di benua Amerika tersebut terpecah menjadi dua kelompok.
Bom bergabung dengan negara musuh demi merebut Great Ruler. Namun naas, semua usahanya selalu berbuah kegagalan dan kesepakatan dengan negara musuh batal.
Serangan terakhir yang dilakukan Baatar, mutan Morlan dan juga Russ-King, memberikan pengetahuan baru bagi Bom untuk memperkuat pertahanan negaranya.
Namun, hal itu berimbas pada kesejahteraan dan lingkungan tempat tinggal dalam benteng.
Meskipun Russ-King terlihat tangguh, besar dan kaya, cuaca ekstrim mulai membuat wilayah tersebut menjadi tak nyaman untuk dihuni.
Pabrik-pabrik besar difokuskan untuk membuat senjata yang menimbulkan kepekatan udara sehingga cuaca terlihat berkabut setiap hari.
Para penduduk menggunakan masker gas dan harus menggendong tabung oksigen ke mana pun mereka pergi.
Udara dalam benteng telah terkontaminasi dan jika dihirup mengakibatkan sesak napas serta penyakit pernapasan.
__ADS_1
Sungai dan danau menjadi keruh tak lagi bisa dikonsumsi. Penyulingan air dilakukan dengan hujan buatan atau hujan yang turun dari langit, tapi hal itu jarang terjadi karena wilayah tersebut menjadi panas.
Es di wilayah Utara terus mencair karena digerus oleh Russ-King demi mendapatkan air agar bisa dikonsumsi.
Bom merasa, negaranya sudah tak bisa dihuni lebih lama lagi. Ia mengirimkan robot penjelajah dan orang-orang terbaiknya untuk mencari daratan baru sebagai tempat tinggal, tapi Bumi memang sudah rusak akibat perang para pendahulu untuk menunjukkan siapa yang terhebat.
Banyak kota mati tak berpenghuni ditemukan, tapi udaranya beracun atau tanahnya terkontaminasi.
Atau sebuah kota yang masih bisa dihuni, tapi serangan alam bisa membunuh makhluk hidup yang bernaung di dalamnya karena badai petir atau badai gurun.
Oleh karena itu, Russ-King merasa jika Great Ruler menyimpan sebuah rahasia karena tanah mereka subur, memiliki air jernih yang bisa dikonsumsi, penduduk yang sejahtera, bahkan adanya tumbuhan serta hewan yang hidup di dalamnya.
"Rahasia apa yang kausembunyikan, Great Ruler hingga kalian bisa memiliki segalanya?" tanya Bom geram melihat tampilan Great Ruler di monitor dari hasil pantauan robot mata-mata di luar benteng.
Bom memejamkan mata saat ia merebahkan tubuhnya yang dipenuhi tato di atas kasur. Bom teringat akan keindahan Great Ruler meski tujuannya datang saat itu adalah melakukan penyerangan.
"Tempat ini ... tempat ini sungguh indah? Apakah ini sungguhan atau ilusi?" tanya Bom pada dirinya saat ia memijakkan kaki di Great Ruler.
Ia bisa melihat udara di dalam benteng itu begitu jernih tak berkabut seperti di negaranya. Bahkan gedung-gedungnya tampak terawat seperti dipoles dengan tanaman hijau menghiasi sekitar.
Sejenak, Bom melupakan misinya di negara itu. Hingga dentuman dari peledak dan raungan mutan, membuat pikirannya kembali pada tujuan utamanya ke negara itu, untuk merebut dan mendudukinya.
Bahkan, saat Bom harus keluar dari benteng untuk menyelamatkan pasukannya yang tersisa, ia merasa enggan untuk keluar. Ia seperti tetap ingin berada di dalam sana meski menjadi seorang tahanan.
Bom menoleh berkali-kali seraya terus berlari sampai ke titik penjemputan di mana radar dari Great Ruler tak lagi bisa menangkap pergerakannya yang telah terlindungi dengan pemblokir sinyal.
"Great Ruler ...," ucap Bom lirih dalam tidurnya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy tengkiyuw tipsnya mbak Aju semoga usaha bohaynya segera tercapai. Amin❤️