
Distrik 10, sore itu.
"Terima kasih atas bantuanmu. Aku tak akan lama," ucap Roves seraya menepuk pundak sahabatnya yang dulu pernah satu tim ketika menjadi User robot level E.
Pria yang selalu mengizinkan Otka masuk ke Distrik itu hanya mengangguk pelan. Ia menunggu di kejauhan dan membiarkan Roves serta anak lelakinya—Yaz—mendekati rumah Vemo.
TOK! TOK!
"Vermendis Vemo? Kau harus mengizinkan aku masuk. Aku ayah Otka Oskova."
CEKLEK!
Yaz langsung berlindung di balik tubuh Ayahnya, ketika melihat sosok seram pria di depannya yang memiliki garis barcode di wajah. Roves ikut tegang, tapi berusaha tenang.
"Ada yang harus kita bicarakan. Ini penting, dan kerjasamamu, akan sangat menentukan nasib Otka dan Sandra nantinya," ucapnya berbisik seraya melirik seperti memberikan kode.
Vemo melihat banyak polisi robot level E di belakang pria yang mengaku Ayah Otka berjarak 10 meter. Vemo membuka pintunya semakin lebar dan mempersilakan dua tamunya masuk.
Roves mengangguk pelan sembari melangkah masuk ke tempat tinggal Vemo. Pria bertato itu menatap Yaz tajam, dan remaja itu terlihat begitu ketakutan. Ia memegang lengan Ayahnya erat tak mau jauh darinya.
"Apa hubungannya Otka, Sandra, dan aku?" tanya Vemo langsung ke tujuan kedatangan Roves.
"Kabar baik dan buruk. Sandra berhasil menjadi seorang User meski belum ditetapkan akan mengoperasikan robot level berapa, tapi ... dia lulus." Senyum tipis terbit di wajah Vemo. Yaz mengintip di balik tubuh sang Ayah dan kembali bersembunyi. "Lalu ... anakku Otka. Dia nantinya akan bekerja di restoran dari kawan Sandra, bernama Eliz."
"Kau sepertinya bertele-tele, Pak Tua. Pertanyaanku, apa hubungannya denganku?" tanya Vemo mempertegas pertanyaannya.
"Aku tahu kau senang dengan berita yang kusampaikan. Masalahnya adalah ... pergantian barcode itu. Entah bagaimana caranya, tapi hal itu bisa membuat dua wanita yang kusayangi terusir dari Great Ruler. Dan kau, bisa mendapatkan hukuman mati karena melakukan praktek ilegal."
"What?! Kenapa aku ikut terseret?" tanya Vemo melotot tajam dan kini mendekat ke arah Roves.
Pria tua itu tetap tenang berdiri di hadapan Vemo yang terlihat marah. Roves melirik ke arah pintu, dan Vemo kembali tenang.
"Jangan berisik, nanti mereka bisa dengar, dan hal itu berbahaya untuk kita," ucap Roves, dan Vemo mengangguk pelan.
Roves memberikan sebuah earphone. Vemo segera memasangnya di salah satu telinga.
Vemo menjauh dan memilih duduk di kursi kesayangannya yang terbuat dari kayu berlapis bantalan dari potongan kain yang ia sumpal di dalam sarung sebagai alas.
Keningnya berkerut ketika mendengar rekaman dari alat yang terpasang di telinganya.
Vemo melepaskan earphone dan menggenggam benda itu di tangan kanannya. Pandangannya lesu.
Roves menggandeng Yaz untuk mendekati pria yang terlihat murung tak menampakkan sisi garangnya lagi.
"Kau memiliki sebuah rahasia, Vemo. Aku tahu," ucap Roves lirih menatap Vemo lekat. Vemo menoleh dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Instingmu tajam, Pak Tua. Duduklah. Aku ceritakan sebuah kisah yang membosankan. Mungkin, ini takdir Tuhan. Ibuku selalu mengatakan hal itu padaku. Jika ada suatu hal yang tak pernah kauduga, pastilah Tuhan yang merencanakannya, dan ia memintaku percaya," jawabnya lirih.
"Ceritakan," pinta Roves seraya menarik sebuah bangku yang terbuat dari kayu dan duduk di sana.
Yaz duduk di sebelah Ayahnya, dan masih terlihat takut akan sosok Vemo yang baginya menyeramkan.
"Belasan tahun yang lalu, aku tak ingat kapan tepatnya. Otka, bukan anakmu, tapi Otka kawanku yang sesungguhnya, dan ternyata bernama Sandra, adalah alasanku ingin masuk ke Great Ruler."
"Maaf, aku tak paham. Bisa lebih terperinci?" tanya Yaz tiba-tiba tertarik. Vemo langsung meliriknya. Yaz terdiam seketika.
"Jangan bertanya padanya, Yaz. Kau lupa pesanku," tegas Roves melirik anaknya.
"Sorry," jawabnya tertunduk.
"Alasanku tak lagi datang ke perbatasan dinding adalah ... orang tuaku sakit. Aku bekerja di Distrik 10 untuk menghidupi keluargaku yang tinggal di rumah ini. Namun ternyata, usahaku sia-sia. Orang tuaku tetap mati bahkan sebelum aku berhasil membawa mereka masuk ke Great Ruler. Aku ... mengecewakan mereka," ucap Vemo dengan suara bergetar, meski ia tak menangis.
Yaz dan Roves diam menyimak. Keduanya seakan bisa mengerti kesedihan yang dirasakan pria bertindik di hadapan mereka.
"Lalu ... aku teringat akan Otka, kawan masa kecilku. Aku ingat akan janji itu. Setelah kematian kedua orang tuaku, aku selalu kembali ke dinding, tapi tak pernah bertemu dengannya. Mungkin ... sekarang kalian tahu, alasan kenapa aku begitu berambisi ingin masuk ke Great Ruler."
"Ya. Kau ingin menemui Otka, sahabat kecilmu, yang kini bernama Sandra Salvarian," sahut Roves, dan diangguki Vemo dengan pandangan tertunduk.
"Setiap hari, aku melihat ke pintu 'Harapan'. Doaku buruk. Aku berharap melihat Otka keluar dari pintu itu. Aku berharap, dia terusir dari Great Ruler sehingga ia bisa tinggal bersamaku. Namun, sekian tahun aku menunggu, dia tak pernah keluar dari pintu itu, hingga ia datang padaku, melalui Otka, anakmu," ucap Vemo pada akhirnya menoleh, dan menatap Roves lekat.
"Apa kau mengira, kakakku Otka adalah Otka kawan masa kecilmu?" tanya Yaz menduga.
"Hei!" pekik Roves dan Yaz bersamaan karena tak terima anggota keluarga mereka dihina.
"Itu kenyataannya. Aku baru menyadari saat Otka sering berkunjung. Dia ... bukan Otka-ku. Jika dia Otka-ku, dia pasti ingat kenangan masa kecil kami dulu," jawabnya lesu.
"Seperti kata ibumu, takdir membawa Otka-mu datang dengan sendirinya," sahut Yaz. Vemo tersenyum.
"Sayangnya, dia juga tak ingat, tapi aku yakin jika Sandra Otka-ku. Lalu, saat ia mengatakan keinginannya bertukar kehidupan dengan Otka kakakmu, hatiku gembira. Aku malah berharap Otka-ku tak lulus dan pada akhirnya dia tinggal bersamaku. Dia sebatang kara sepertiku. Kami pasti sudah ditakdirkan hidup bersama nantinya. Namun, kalian malah membawa kabar mengecewakan untukku," jawabnya kesal.
Roves dan Yaz saling melirik. Ayah anak itu seperti satu pemikiran.
"Hei. Jika Otka-mu lulus dan menjadi User, ia bisa datang kemari kapanpun. Kau bisa bertemu dengannya setiap hari. Jangan sedih. Selain itu, apa kau tak senang, dengan sekenario yang dibuat oleh Komandan Ego saat menyebutkan Otka adalah isterimu?" tanya Yaz memancing, dan Roves langsung menyenggol lengan anaknya kuat.
"Aw! Kau kenapa, Ayah?" pekik Yaz merintih sembari memegangi lengannya yang sakit.
"Ya, kau benar. Otka isteriku, dan akan kukatakan pada semua orang tentang hal itu. Jangan khawatir, aku mau bekerjasama," jawab Vemo dengan senyum terkembang. Yaz dan Roves bernafas lega.
TOK! TOK! TOK!
Seketika, tiga pria itu terperanjat dan langsung berdiri. Tiga polisi User robot level E masuk ke kediaman Vemo dengan senapan khusus dalam genggaman.
__ADS_1
"Waktu habis," ucap kawan Roves.
Roves mengangguk dan pamit kepada Vemo. "Hancurkan rekaman itu," bisiknya, dan Vemo mengangguk.
"Hati-hati di jalan, Ayah. Dan katakan pada isteriku, jika aku menunggu kedatangannya di sini. Aku akan membuat istana megah untuk menyambutnya," ucap Vemo dengan rentangan tangan dan senyum tengil.
Roves hanya tersenyum dengan anggukan. Yaz meringis dan berpikir jika Vemo sudah gila. Pria itu terlalu menikmati peran tipuannya dengan hati gembira. Roves keluar dari Distrik 10 bersama Yaz tanpa kendala.
Sepeninggalan mereka, Vemo menyebarkan cerita dari skenario Ego ke seluruh orang yang bermukim di Distrik 10.
Tentu saja, kisah menghebohkan itu membuat gempar Distrik tersebut. Bahkan, cerita itu dengan cepat meluas bagaikan virus ke Distrik-distrik terdekat.
Sekejap, nama Otka Oskova langsung menjadi perbincangan di Great Ruler.
Sedang, di tempat Sandra berada.
"Me, what?!" pekiknya dengan mata melotot, dan Ego hanya bisa menunjukkan senyum paksa. "Oh, Tuhan. Ini sungguh gila," ucapnya frustasi memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri.
"Demi kebaikan kita semua. Jangan lupa, kau yang pertama kali membuat kehebohan ini, Sandra. Kami berusaha menolongmu. Jadi ... bekerjasamalah," tegas Ego.
Sandra bertolak pinggang terlihat kesal seraya berjalan ke sana kemari menunjukkan kerisauan hatinya. Ego masih berdiri tegap melihat Sandra yang tertekan akan skenario buatannya.
"Oia. Mungkin, kau bisa sedikit menerima takdirmu dari informasi tambahan yang akan aku sampaikan dari pengakuan Vemo pada Roves dan Yaz."
"Tentang apa?" tanya Sandra langsung menyahut.
Ego memberikan sebuah earphone kepada wanita cantik berambut pirang tersebut. Sandra menerimanya dan segera memakainya di salah satu telinga.
Ia masih bertolak pinggang saat mendengarkan kesaksian Vemo. Hingga seketika, matanya terbelalak. Ia menatap Ego tajam terlihat gugup.
"Benar kata ibu Vemo. Ini takdir. Apa ... kau tak senang, ketika tahu jika kawan masa kecilmu masih hidup?"
Sandra membungkam mulutnya. Ia tak menyangka jika kenangan yang sempat terlintas saat itu adalah benar adanya.
Pria yang membantunya bertukar barcode adalah anak lelaki yang selalu menemuinya di dinding perbatasan.
Sandra meneteskan air mata haru. Ia terlihat bahagia, senyumnya merekah. Ego ikut tersenyum seraya mendekat dan mengambil kembali earphone yang terpasang di telinga Sandra, tapi dengan cepat ia meremukkannya dalam genggaman tangan. Mata Sandra melebar.
"Ini rahasia. Hanya aku, kau, Vemo, Yaz, Roves dan Tuhan saja yang tahu. Sisanya, tidak. Biarkan tetap seperti ini. Semakin sedikit yang tahu, semakin baik," ucapnya seraya menuju ke sebuah kotak besi sebagai tempat sampah dekat pintu. Ego memasukkan serpihan alat itu ke dalam sana.
Sandra melihat jika alat itu menggiling benda yang masuk ke dalamnya menjadi serpihan lebih kecil lagi. Ego tersenyum tipis dan pamit keluar kamar begitu saja tak mengatakan apapun lagi.
"Vemo. Dia ... baik-baik saja. Syukurlah," ucap Sandra lega dengan senyum terkembang.
***
__ADS_1
Wah ada tips lagi. Senangnya. Tengkiyuw lele padamu neng Yuki😍