SIMULATION

SIMULATION
BACK TO GREAT RULER


__ADS_3

Pelatihan Sandra di Great Mazepita berlangsung sukses. Para calon User mendapatkan banyak ilmu selama berada di sana.


Dua manusia evolusi mengajarkan para kandidat untuk menangkap ikan di sungai buatan.


Hari yang terik yang membuat tubuh terasa gerah, memberikan sensasi segar kepada para pria itu karena pelajaran baru ini seperti bermain.


Para kandidat menanggalkan pakaian tempur mereka. Orang-orang itu bertelanjang dada dan hanya memakai celana latihan berwarna abu-abu.


Sandra mengamati di balik tubuh robotnya saat para kandidat antusias menangkap ikan dengan tangan kosong seperti zaman dahulu.


"Jika kalian tak bisa menangkapnya, tak ada makan siang. Ikan-ikan itu adalah menu makan siang kalian. Berusahalah!" tegas Sandra.


"Yes, Mam!" jawab semua orang bersemangat saat kompetisi dilakukan lagi secara estafet. Kini, tim B begitu agresif karena tak ingin kalah kedua kalinya dari tim A.


Tentu saja, kehebohan di sungai membuat semua warga tertarik untuk melihat. Orang-orang ikut menyemangati jagoan pilihan mereka karena nama para kandidat tertulis pada celana seragam yang dikenakan.


"Aku berhasil mendapatkan satu!" seru Nuno terlihat begitu senang dengan ikan tangkapan dalam genggaman tangannya.


"Masukkan dalam jaring itu lalu segera keluar dari sungai. Cepat!" seru Sandra memberikan instruksi.


Nuno segera melakukan perintah mentornya. Nuno menjabat tangan satu timnya untuk menggantikannya masuk ke sungai dan menangkap ikan.


"Ayo, Tim B! Jangan sampai kalah!" seru Nuno menyemangati kawan-kawannya karena kali ini, mereka sudah berhasil mendapatkan 10 ikan dan tersisa 5 orang lagi. Sedang Tim A masih membutuhkan 9 orang lagi untuk menang.


"Ikan-ikan ini menyakitiku!" seru Miko terlihat takut untuk menyentuh ikan-ikan dalam sungai karena merasa geli.


Tawa kegembiraan terdengar menyelimuti Oasis yang biasanya sepi dengan suasana hening. Namun, kedatangan 30 pria di Great Mazepita, memecah kesunyian itu.


Akhirnya, setelah 1 jam lebih, pelatihan menangkap ikan secara estafet selesai. Tim B memenangkan pertandingan tangkap ikan.


Semua anggota mendapatkan jatah satu ikan untuk disantap. Sedang Tim A, harus berbagi ikan untuk makan siang mereka karena hanya memiliki 6 ekor saja.


Morlan juga menjelaskan teknik bagaimana bertahan hidup ketika mereka terdampar di luar sana.


Para kandidat tak menyangka, jika Morlan yang kini berwujud setengah mutan, memiliki banyak ilmu yang tak pernah ia ungkapkan selama hidupnya.


"Asal kalian tahu, Gerbang Kermogal memiliki celah. Oleh karena itu, tak ada satu pun orang di Great Ruler yang tahu jika aku sering menyelinap keluar benteng," ucap Morlan saat mengajarkan cara membersihkan ikan dari budidaya ikan air tawar hasil tangkapan para User.


"Apa yang Anda lakukan di luar benteng, Walikota?" tanya salah seorang User yang terlihat tertarik dengan cerita Morlan seraya membersihkan sisik ikan.


"Aku penasaran dengan kehidupan luar. Aku menyusuri sekitar Great Ruler dan memetakannya sesuai dengan pantauan satelit. Namun, aku menyadari satu hal jika di luar sana bahaya mengancam. Akhirnya, aku meminta kepada Roman untuk menciptakan robot mata-mata. Sebenarnya, alasan utama karena aku ingin melihat dunia luar, tapi aku beralibi untuk memata-matai negara musuh. Ternyata, saranku diterima dan akhirnya terealisasi," jawabnya santai.


"Wah, Anda sungguh licik," celetuk salah seorang kandidat, tapi langsung mendapat lirikan tajam dari semua orang. Praktis, pria tersebut pucat seketika. "Ma-maaf, saya tak bermaksud demikian," ucapnya tergagap mencoba merevisi ucapannya yang sudah terlanjur terlontar.


"Hahaha! Kau benar. Aku sungguh licik. Yah, begitulah. Semua ada sebab dan akibat. Aku mempelajari banyak hal saat berada di luar. Aku ... benar-benar orang yang naif, picik, licik, dan egois. Mungkin ... inilah hukuman bagiku dengan wujud mutan ini," jawab Morlan santai saat ia telah selesai membersihkan seekor ikan sebagai contoh.


Semua orang tersenyum karena tak menyangka jika sikap Morlan yang dikenal dingin, ketus dan tak berperasaan, kini terlihat bijak.

__ADS_1


"Selanjutnya, kita akan membakar ikan-ikan ini. Kumpulkan ikan-ikan kalian yang sudah dibersihkan di wadah ini. Kita akan mencari kayu bakar di kebun kecil sekitar Oasis. Aku sengaja meminta agar tempat itu tak dibersihkan. Ayo," ajak Morlan seraya beranjak.


Para kandidat mengikuti yang Morlan perintahkan. Terlihat, para pria itu menikmati pelatihan mereka yang seperti sebuah petualangan seru karena tak pernah dirasakan ketika di Great Ruler sebelumnya.


Sandra tersenyum tipis saat menikmati suapan dari Matteo yang sengaja datang ketika jam makan siang.


Matteo yang ikut menyaksikan proses pelatihan itu tersenyum saat melihat sang ayah tampak manusiawi meski berwujud mutan.


"Dia sudah berubah," ucap Matteo lirih memuji sang ayah.


Para kandidat terlihat senang ketika memunguti ranting-ranting pohon yang berjatuhan di tanah.


Morlan juga mengizinkan memotong dahan pohon yang sudah kering untuk dijadikan kayu bakar.


Morlan dan tigapuluh kandidat tersebut berkumpul di tepian Oasis. Morlan mengajarkan cara menyalakan api dari alat pemantik yang memanfaatkan tenaga surya dari panas matahari di tempat itu.


Terdapat panel untuk menyimpan baterai dalam pemantik. Sebuah alat pengubah energi panas menjadi api dalam ukuran kecil yang berfungsi sebagai pemantik portabel sehingga mudah dibawa ke mana pun.


Akhirnya, acara membakar ikan pun dilangsungkan. Para warga yang bekerja sebagai koki dengan sigap membawakan piring-piring kosong sebagai wadah ikan-ikan lezat itu.


Para kandidat membantu para warga untuk menyiapkan makan siang mereka di meja panjang tepi Oasis.


Suasana keakraban kembali terjalin. Pria-pria itu menikmati ikan bakar olahan mereka yang diberikan bumbu khusus sehingga terasa lezat.


Sajian lain juga dihidangkan untuk melengkapi menu makan siang mereka. Tentu saja, para kandidat merasa senang karena tak menyangka jika pengalaman berlatih di Oasis tak seburuk yang dibayangkan.


Mereka melakukan dengan cekatan dan pekerjaan pun diselesaikan dengan cepat. Sandra terlihat bangga dengan para pria muda itu.


"Aku harus kembali ke bengkel, Sayang. Sampai jumpa," ucap Matteo yang wajahnya tampil di layar dan Sandra tersenyum dengan anggukan.


Matteo meninggalkan ruang kendali simulasi usai menyuapi Sandra dan juga dirinya sembari melihat aktivitas di Oasis dari tangkapan kamera robot level A.


Tak terasa, akhirnya pelatihan di Great Mazepita usai. Para kandidat terlihat senang selama berada di sana. Kini, mereka harus kembali ke tanah kelahiran di Great Ruler.


"Seperti peraturan sebelumnya. Kalian akan berlari untuk kembali ke rumah. Pingsan, kalian mengulang dari awal. Bersiap!" tegas Sandra di hari saat matahari mulai tenggelam.


Semua kandidat User terlihat siap dengan pakaian tempur robot level E dan senapan laser dalam genggaman.


"Go!"


"Yeh!" jawab para kandidat serempak.


Kini, tak ada keluhan terdengar dari mulut para pria itu. Mereka lebih sigap saat berlari melintasi tanah gersang untuk kembali ke Great Ruler.


Semua orang yang menyaksikan dari tampilan kamera HeliBot, WolfBot dan juga robot level A, ikut bangga dengan perubahan para kandidat yang terlihat sudah tak manja seperti awal mereka meninggalkan benteng.


"Setelah ini, persiapkan mereka untuk melakukan simulasi robot level B," ucap Sandra seraya berlari mendampingi kelompoknya.

__ADS_1


"Yes, Mam!" jawab Qimi mantap yang menghubungkan ke operator pusat kendali simulasi robot level B.


Petugas di ruangan itu bersiap untuk menyambut para User yang esok hari akan menjajal simulasi.


Namun, saat perjalanan menuju Great Ruler, tiba-tiba saja, WolBot melakukan posisi siaga ke arah padang tandus yang dilewati oleh kelompok tersebut dengan gonggongan.


"Berhenti!" seru Sandra dengan kepalan tangan kanan ke atas.


Seketika, ketiga puluh pria itu bersiaga dengan senapan laras panjang mereka.


"Mola! Pindai ancaman di sekitar!" titah Sandra tegas dan berjalan mantap mendekati empat WolfBot.


"Analisis ancaman," ucap Mola yang membuat semua petugas operator segera bersiap. "Terlihat, pergerakan dari kendaraan yang dianalisis adalah mobil dengan bahan bakar bensin menuju ke titik robot berada. Kendaraan beroda empat tersebut dikendarai oleh empat orang manusia yang tak teridentifikasi dari negara mana."


"Senjata?" tanya Sandra yang mulai bisa menangkap sebuah mobil melaju kencang dengan atap terbuka.


"Ditemukan senjata jenis senapan laras panjang berpeluru dan beresiko merusak pakaian tempur robot," jawab Mola yang membuat Sandra langsung menoleh ke arah orang-orangnya karena pakaian tempur mereka masih bisa tertembus oleh jenis peluru tembus baja.


"Formasi bertahan dan menyerang! Bulan sabit!" seru Sandra lantang.


Dengan sigap, 15 kandidat dari kelompok A membungkukkan badan. Senapan laser mereka disarungkan ke pinggul sebelah kanan.


Mereka menarik sebuah benda berukuran 1 meter berbentuk seperti tongkat besi dari punggung.


Benda berwarna hitam seperti silinder itu ditancapkan pada permukaan tanah. Kedua tangan mereka menggenggam erat tongkat itu.


Seketika, seperti sayap yang terkembang, dari sisi kiri dan kanan batang tongkat muncul perisai lapis baja membentuk seperti tameng pertahanan.


Sedang tim B menyiagakan senapan laser sebagai penyerang yang berlindung di balik tubuh Tim A yang telah berbaris rapi dengan perisai mereka.


"Siaga!" seru Sandra lantang dengan posisi siap tempur. "Aktifkan pelindung duri."


"Pelindung duri diaktifkan."


"Laporkan kepada Jenderal, emm ... maksudku ... Presiden," ucap Qimi sampai gugup karena suasana genting sedang terjadi.


Segera, bagian komunikasi menghubungi Matteo Corza yang masih sibuk di bengkel bersama kelima anggota operator dan juga Roman yang kerja lembur hari itu.


"Apa? Siapa orang-orang itu?" tanya Matteo bergegas pergi diikuti orang-orangnya.


"Mola tak bisa mengidentifikasinya, Mr. President," jawab operator bernama Erly serius.


"Teruskan ke Great Mazepita. Posisi mereka sangat dekat dengan Oasis. Minta mereka bersiaga," titah Matteo tergesa.


"Yes, Sir!" jawab Erly segera meneruskan.


Tentu saja, hal mengejutkan itu membuat Morlan dan User robot segera bersiaga. Visual dari tangkapan kamera satelit Great Ruler yang diteruskan ke Great Mazepita, mendapat perhatian penuh dari mantan Presiden tersebut.

__ADS_1


"Oh! Mereka ...," ucap Morlan melebarkan mata seperti mengenali orang-orang yang menutupi tubuh mereka dengan kain dan hanya terlihat mata saja.


__ADS_2