
---- back to Story :
Sandra panik karena sang Jenderal tak sadarkan diri setelah jatuh dari tangga dan kepalanya terkantuk. Dengan sigap, Sandra berusaha membopong Matteo kembali ke kamarnya masih menggunakan high heels.
Tak lama, Roboto muncul bersama Spectra. Dua robot itu ikut membantu membawa Tuan mereka ke kamar. Sandra tak menyangka jika tiga robot itu cukup kuat untuk membawa tubuh Matteo.
"Spectra, bisakah kau panggil dokter untuk Matteo?" tanya Sandra seraya menghapus noda darah dari luka lecet di pelipis sang Jenderal menggunakan tisu yang ia dapat dari meja samping ranjang.
"Maaf, Nona Otka. Hari ini sampai besok, semua pekerja mendapatkan cuti. Tuan Matteo bisa terkena pinalti. Jika Anda berkenan, kita bisa membawanya ke Rumah Sakit," jawab Spectra.
"Oh. Oke, kita bawa ke rumah sakit," sahut Sandra.
Saat ia akan membangunkan kembali tubuh sang Jenderal, tiba-tiba saja, Matteo membuka mata dengan wajah berkerut.
"Anda bangun? Jangan dipaksakan. Apakah sakit? Di bagian mana, biar aku kompres," tanya Sandra merebahkan tubuh Matteo lagi karena memaksa untuk duduk.
"Agh, kepalaku sakit," jawabnya dengan mata terpejam erat seraya memegangi kepala bagian kirinya.
"Spectra! Ambilkan kompres es batu," perintah Sandra cepat.
"Yes, Mam," jawab robot pintar itu lalu pergi keluar.
"Selain kepala, mana lagi? Biar aku periksa," tanya Sandra cemas dan menatap Matteo lekat yang mulai tenang, meski matanya terpejam.
"Tubuhku sakit semua, Dok," jawabnya yang mengira jika Sandra adalah seorang Dokter.
"Oke. Sebentar. Jangan bergerak. Aku akan melepaskan sepatumu," jawab Sandra gugup.
Dengan sigap, Sandra melepaskan sepatu dan kaos kaki Matteo. Roboto mengambil sepasang benda itu dan meletakkannya di rak almari. Sandra tersenyum berterima kasih.
Sandra memberanikan diri memegang kaki Matteo. Ia menanyai sang Jenderal bagian tubuh mana saja yang sakit.
"Agh, pelan-pelan. Tolong periksa. Aku merasakan nyeri di bagian itu," rintih Matteo saat pinggangnya ditekan oleh Sandra.
Wanita cantik itu terlihat ragu pada awalnya, tapi akhirnya ia memberanikan diri untuk melakukannya. Ia melepaskan pengait di celana jeans sang Jenderal dan menurunkannya, meski wajahnya berpaling karena malu.
Roboto mengambil celana itu dan menggantungnya di almari. Sandra tak menyangka jika Roboto adalah robot yang rajin dan mementingkan kerapian.
"Tolong miringkan tubuhmu, Jenderal. Aku ingin melihat luka yang Anda pegang," pinta Sandra dan Matteo memiringkan tubuhnya.
Sandra meminta Purple untuk menyinari bagian tubuh Matteo yang sakit dari telunjuk kanannya yang bisa menyorot seperti senter. Ternyata, ada lebam di sana. Sandra teringat akan obat lebam yang pernah di pakainya.
"Purple. Tolong kau ke kamarku. Aku memiliki obat semprot untuk luka lebam di samping ranjang. Ambilkan dan bawa kemari ya. Terima kasih."
"Baik," jawab Purple lalu beranjak pergi.
"Lalu ... bagian mana lagi?" tanya Sandra cemas.
"Kepalaku," jawab Matteo memiringkan tubuhnya terlihat kesakitan.
"Silakan," ucap Spectra yang telah kembali seraya membawa kompres es.
Sandra segera meletakkan sebuah alat kompres berbentuk bundar pipih yang terasa dingin, tapi tak basah dengan pegangan di bagian atasnya seperti sebuah sabut bedak bayi, tapi terbuat dari bahan elastis seperti balon.
"Maaf, Jenderal. Sebaiknya, buka pakaian Anda. Saya ingin memeriksa jika tak ada luka serius di bagian atas," ucap Sandra karena ia melihat Matteo jatuh cukup keras menghantam tangga.
Matteo mengangguk. Sandra memberikan kompres tersebut kepada Roboto. Dengan hati-hati, Sandra melepaskan pakaian sang Jenderal dan meletakkan di samping ranjang. Tak lama, Purple kembali.
__ADS_1
Sandra menengkurapkan tubuh Matteo dan meminta Purple menyinarinya. Sandra melihat dengan seksama tiap inci tubuh atletis pria bermanik biru tersebut mencari luka serius di sana, tapi tak ada.
Sandra lalu membaringkan tubuh sang Jenderal hingga lelaki itu terlentang dengan wajah berkerut seperti menahan sakit.
"Oh, ada lebam di sini," ucap Sandra melihat lengan kiri sang Jenderal kebiruan.
Sandra mengambil semprotan tersebut lalu menyemprotkan obat itu ke luka lebam di tubuh salah satu mentornya.
Saat Sandra meletakkan kompres es di kepala sang Jenderal, Matteo malah terperanjat dan menjauh darinya. Wanita cantik itu kebingungan.
"Ka-kau ...," tunjuknya dengan mata terbelalak lebar.
"Aku? Ya, kenapa? Aku sedang mengobati luka Anda, Jenderal. Anda jatuh dari tangga cukup keras. Kepala Anda terluka dan ada beberapa lebam di tubuh. Aku sedang mengkompres kepala Anda," jawab Sandra menjelaskan.
Matteo terlihat seperti orang bingung, pandangannya tak menentu. Ia melihat tangan dan tubuhnya lalu merabanya.
"Anda baik-baik saja? Apakah ... ingin aku bawa ke Rumah Sakit?" tanya Sandra cemas.
Tiba-tiba, Matteo tertawa ringan terlihat bahagia. Sandra heran dan menatap tiga buah robot yang ikut memandangi Tuan mereka.
Matteo merangkak di atas ranjang mendekati Sandra dengan senyum terkembang, tapi hal itu malah membuat Sandra khawatir.
Entah apa yang membuat sang Jenderal bersikap aneh, Matteo merebahkan kepalanya di pangkuan Sandra lalu meraih tangan wanita itu yang memegang kompres. Sandra pasrah saat tangannya di arahkan ke kepala Matteo yang sakit.
"Hem, lebih baik," ucapnya dengan senyuman dan mata terpejam seraya memiringkan tubuh.
Sandra bingung, tapi melakukan yang diperintahkan oleh sang Jenderal. Ia mengompres kepala Matteo seraya mengelus kepalanya lembut. Cukup lama keduanya bertahan dalam posisi itu di atas ranjang.
"Oh! Kalian bertiga di sini? Aku tak apa. Pergilah. Isi daya kalian," perintah Matteo dengan senyuman dan tiga robot itu pergi.
"Sepertinya, Anda harus dibawa ke Rumah Sakit, Jenderal," ucap Sandra mengingatkan.
"Aku bukan Jenderal. Aku ... Colosseum Blue."
Praktis, mata Sandra melebar. Bola matanya bergerak tak beraturan. Kedua tangannya bergetar.
Blue mengambil kompres itu dan meletakkannya di samping ranjang. Ia menggenggam kedua tangan Sandra lalu meletakkan di kedua pipinya. Sandra mematung.
"Lama sekali ... rasanya sudah lama sekali kau pergi jauh dariku, Sandra ... kau ke mana, setelah pergi dari kantorku?" tanyanya yang membuat Sandra tergagap karena ucapan pria di depannya yang membuatnya seperti orang bodoh.
"Blue? Kau sungguh Blue?" tanya Sandra menatap pria di depannya lekat yang terlihat begitu merindukannya.
"Ya. Kau pikir siapa? Aku ... oh! Kamar ini ...," ucapnya terkejut saat menyadari jika kamar itu bukan miliknya. Sandra menatap pria bermanik biru itu tajam. "Kenapa aku bisa berada di sini?" tanyanya membalas tatapan wanita di depannya.
Sandra terlihat bingung karena perubahan drastis ini. Sandra tertunduk dengan mata terpejam terlihat berpikir keras.
"Sandra? Kau kenapa?" tanya Blue semakin menggenggam tangan Sandra erat.
"Apakah ... kau sungguh Blue? Colosseum Blue? Mantan Bosku di Sentra Video Games Distrik 2?" tanya Sandra menatapnya lekat.
"Ya. Kenapa?" tanya Blue terlihat bingung.
Sandra tak menjawab. Blue terkejut saat Sandra tiba-tiba memeluknya erat. Blue diam sejenak, tapi perlahan, ia membalas pelukan itu.
"Apakah terjadi hal buruk? Ini ... rumah Matteo Corza. Apa ... kau sudah bertemu dengannya? Kau ...."
Sandra melepaskan pelukannya tak menjawab. Ia memegangi kedua pipi Blue dengan kedua tangannya. Blue memandangi Sandra yang terlihat begitu merindukannya.
"Kau kenapa?" tanya Blue bingung. Sandra malah meneteskan air mata. Ia kembali memeluk Blue dan pria tampan itu membiarkan wanita yang dirindukannya memeluknya dalam waktu yang lama. "Kau tahu, Sandra? Selama ini, aku selalu merasa kau berada di dekatku. Kau bahkan datang di mimpiku. Namun sekarang, kau sungguh ada di sini, sedang memelukku, dan ... aku sungguh bahagia," ucap Blue yang membuat Sandra semakin tak bisa bicara.
__ADS_1
Blue melepaskan pelukan Sandra perlahan. Ia membelai rambut wanita di depannya yang kini merubah penampilannya sejak terakhir mereka bertemu.
Sandra tersenyum tipis dan membiarkan Blue melakukannya. Entah kenapa, ia tak merasa risih dengan sentuhan pria berambut cokelat itu.
"Kau ... memotong rambutmu? Kau juga ... wow, otot lenganmu padat. Kau sepertinya berusaha sangat keras dalam melatih fisik. Apakah ... kau berhasil sampai ke level 10 di Sentra Video Games?" tanya Blue dengan mata berbinar.
Sandra menggeleng. "Aku tak pernah datang lagi ke sana karena kau tak ada, Blue," jawab Sandra dengan senyum tipis.
"Akan kutemani. Aku akan menjadi manusia pendampingmu selama menjajal semua permainanku. Bukan Roboto, tapi aku, pemilik tempat itu," tegas Blue, dan Sandra mengangguk dengan senyuman.
Blue dan Sandra saling bertatapan dalam diam. Perlahan, Blue melepaskan sepatu berhak Sandra dan meletakkannya di pinggir ranjang. Sandra terlihat gugup saat Blue menarik pinggangnya agar duduk di pangkuannya.
"Ini sungguh kau. Aku tak bermimpi 'kan? Kau ada di sini," ucapnya lirih memegangi wajah Sandra erat.
"Ya. Dan kau juga sungguh di sini, Blue. Aku ... sangat merindukanmu," jawab Sandra dengan senyuman.
Mata Blue melebar. Ia terlihat kaget dengan ucapan Sandra yang terlontar barusan. Tiba-tiba saja, Blue mendaratkan ciumannya dibibir wanita bergaun putih itu. Sandra terdiam dan tak membalas ciuman tersebut.
"Aku mencintaimu, Sandra. Maaf, aku baru mengatakannya. Aku ... tak memiliki keberanian saat itu untuk mengungkapkannya. Maaf, aku terlalu ... penakut," ucapnya gugup.
Sandra tersenyum manis. Ia kini membalas ciuman Blue dan berganti, Blue yang terkejut. Namun perlahan, Blue menyambut ciuman manis tersebut. Mata keduanya terpejam, dan pelukan di tubuh pasangannya makin erat hingga keduanya menempel lekat.
Cahaya redup di malam bersalju, membuat keduanya terbuai akan suasana romantis di kamar Matteo Corza.
Blue dan Sandra, sama-sama tak melepaskan pelukannya. Ciuman keduanya semakin memanas dan agresif. Sandra melupakan memar di tubuh Blue dan melakukan pijatan kuat hingga nafas keduanya memburu.
BRUKK!
Sandra roboh dan jatuh terlentang saat Blue mendorong tubuhnya. Serangan bibir Blue tak henti-hentinya menjajah tubuh sintal dan padat Sandra.
Napas wanita cantik itu sampai terengah karena sudah lama sekali tak terjamah. Tangan Blue terasa pas di kulitnya. Sentuhan Blue begitu lembut termasuk bibirnya.
Blue seakan lupa dengan sakit yang sedang dirasakannya. Dengan sigap, kepalanya menyusup ke balik gaun pendek Sandra dan melepaskan kain segitiga putih yang senada dengan pakaiannya.
Sandra kehilangan pikirannya. Ia tak bisa menolak karena ia juga menginginkannya. Tubuhnya menggeliat saat merasakan segitiganya sedang disusupi dan membuat tubuhnya menggelinjang.
"Ah, Blue, hentikan," rintih Sandra dengan wajah sudah memerah.
Blue mengabulkan perintah kekasih hatinya itu. Ia kembali merangkak dan kini wajahnya mendarat tepat di hadapan Sandra.
Kembali, keduanya berciuman dengan ganas. Tangan Blue dengan sigap menyelinap masuk ke bagian bawah rok dan terus naik ke atas hingga gaun indah itu terlepas.
Napas Sandra tersengal saat ciumannya ikut terlepas, tapi Blue terus menggencetnya. Sandra bahkan enggan untuk kabur dan malah menikmati pemandangan indah di depannya saat Blue melepaskan pengaman menaranya dan membiarkan keperkasaan itu dipandanginya.
"Kau sedang sakit," ucap Sandra lirih saat Blue menjatuhkan dirinya lagi dan menciumi lehernya dengan kecupan lembut.
"Aku tak peduli. Aku ingin bersamamu hari ini dan selamanya, Sandra Salvarian. Aku ingin kau selalu di sisiku," jawab Blue berbisik di telinganya dan membuat Sandra merinding karena sensasi luar biasa kembali padanya setelah lama tak tersalurkan.
Sandra menikmati perlakukan manis Blue dalam mengajaknya bercinta. Sandra kembali duduk di pangkuan pria tampan itu dan saling berpandangan.
"Blue?" panggil Sandra menatap pria di hadapannya lekat.
Blue mengangguk pelan dengan senyum menawan yang menyatakan ini sungguh dirinya. Keduanya kembali berciuman dengan tubuh polos dan hanya tertutupi selimut di bagian krusial itu.
Sandra terus menggoyangkan pinggulnya yang sudah lama tak terasah sejak kepergian Rey. Bahkan, keinginan bercintanya mampu ia redam karena terlalu fokus dengan tujuannya.
Namun malam ini, ia melampiaskan semuanya di mana hatinya selalu terasa hangat dan bahagia ketika bersama Colosseum Blue.
***
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya. ini notif di MT udah baik lagi nih. makasih ya❤️