
Matteo tampak terkejut. Ia menatap Curva saksama. Sang Presiden berjalan mendekat dan akhirnya ikut duduk di hadapan pria berambut biru tersebut.
"Mungkin kau tak tahu. Namun, Bellatrix Dimensia adalah salah satu pencetus dalam ide rancangan kota bawah laut. Ia melihat saat negara kacau balau, daratan bukanlah alternatif untuk bertahan hidup. Namun, bawah air di mana tak semua manusia mampu tinggal di dalamnya."
Matteo tampak serius mendengarkan kisah masa lalu sang nenek dari pria yang baru dijumpainya selama disekap di kota Titan.
"Selama berpuluh-puluh tahun, kami memanfaatkan robot ikan sebagai penjelajah hingga akhirnya leluhurku memutuskan untuk membuat kota di wilayah ini. Itu juga, karena tempat kelahiran kami telah direnggut oleh para penjajah," tegas Curva terlihat marah.
"Apakah ... kau pemimpin baru?" tanya Matteo menebak. Curva mengangguk.
"Mungkin ... kau dan aku masih baru dalam menjabat sebagai seorang pemimpin. Namun, sepertinya kita sama. Kau dan aku, sama-sama tak mengenal dengan jelas latar belakang leluhur kita. Mungkin karena itulah, kita dipertemukan. Aku cukup yakin jika ini bukan kebetulan, tapi takdir Tuhan. Jadi, apa kau percaya Tuhan, Presiden Matteo Corza?" tanya pria berambut biru tersebut. Matteo mengangguk.
"Aku merasa, kau tak ada niatan buruk. Buktinya, kau tak menyerang Great Ruler dan Bintang," ucap Matteo menatap Curva lekat, tapi pemuda itu malah tersenyum tipis. Mata Matteo menyipit.
"Aku memang tak menyerang negara Bintang secara terang-terangan, tapi aku membuat orang-orang itu menderita dengan membuat mereka kelaparan," jawabnya yang membuat mata Matteo terbelalak lebar. "Aku mengurung ikan-ikan yang biasa ditangkap oleh para nelayan Bintang. Tak ada ikan, tak ada makanan. Oleh karena itu, mereka tak memiliki makanan sebagai penunjang hidup. Aku melihat, rencanaku berhasil. Hampir setiap hari, ada warga di negara Bintang meninggal dunia. Mereka dimakamkan keluar benteng. Itulah akibat, jika merenggut yang bukan menjadi miliknya," sambung Curva menunjukkan sifat aslinya. Matteo tampak tegang dan serius menyikapi hal ini.
"Apa kau juga mengintai Great Ruler? Jujur, secara logika dan letak geografis, Titan sangat mampu untuk mendekati wilayah Great Ruler karena kami juga berbatasan dengan laut," tegas Matteo.
Curva menunjukkan senyum paksa. Matteo meringis karena ia tahu arti dari ekspresi pemuda itu.
"Kapan kau melakukannya?" tanya Matteo makin menyudut.
"Hem, entahlah. Mungkin beberapa tahun silam. Aku tak bisa memasuki wilayah perairan Great Ruler karena persenjataan kalian yang cukup canggih untuk menghancurkan armada khusus. Jadi ... aku mengirimkan robot-robot ikan kecil untuk menyelinap. Saat itu, kami berhasil mengusik salah seorang wanita cantik yang sepertinya sedang berlatih dengan seorang pria di perbatasan dengan Distrik 10. Sayangnya, karena ikan-ikanku cukup agresif, jadi ... aku menariknya kembali," jawab Curva santai.
Kening Matteo berkerut. Ia seperti bisa menduga siapa wanita dan pria yang dimaksud oleh Curva.
"Sepertinya ... wanita yang kaumaksud adalah isteriku. Sandra Salvarian. Dan pria itu adalah Captain pasukan robot level B yang kini menjadi walikota di salah satu distrikku. Tony," jawab Matteo menjabarkan dan Curva ber-Oh dengan anggukan. "Jadi. Ke mana pembicaraan kita mengarah?"
"Aku sangat penasaran dengan daratan. Maksudku ... daratan di Great Ruler. Aku ingin melihatnya. Boleh?" tanya Curva penuh harap.
"Jika sudah melihatnya, apa yang akan kaulakukan selanjutnya?" tanya Matteo makin mendetail.
"Wah, kaucuriga padaku?" tanya Curva dengan senyum lebar.
"Kami memiliki kalung detektor kebohongan. Alat itu menjadi hakim di Great Ruler sejak negara itu berdiri. Jadi ... tujuanmu baik atau jahat, akan ketahuan tanpa aku harus bersusah-payah untuk menginterogasimu," jawab Matteo santai yang balas tersenyum lebar.
Curva menelan ludah terlihat pucat. Pria itu menoleh ke arah dinding kaca dan melihat banyak orang menatapnya saksama.
"Oke. Aku tak masalah jika dipakaikan kalung detektor kebohongan. Hanya saja, benda itu bisa dilepas 'kan? Tidak permanen?" tanya Curva tampak khawatir. Matteo tersenyum dengan anggukan.
Saat keduanya berjabat tangan, tiba-tiba ....
"Tuan Curva!" panggil wanita berambut hijau lantang dari balik dinding kaca di mana suaranya terdengar jelas di dalam gelembung tempat Matteo dan pemimpin Titan berada.
Praktis, mata Matteo melebar saat ia melihat seekor WolfBot berlari kencang seperti menghindar dari kejaran.
"Itu robotku! Keluarkan aku!" pinta Matteo dengan sigap berdiri.
__ADS_1
WolfBot itu mengerang dan melakukan ancaman kepada orang-orang yang berlari menyelamatkan diri.
Seketika, ruangan tersebut tertutup oleh perisai luar berbentuk layaknya terumbu karang sehingga keberadaan kota tersebut terkamuflase dengan baik.
"Wow!" kagum Matteo sampai kepalanya mendongak ke atas ketika sebuah jubah besar langsung menutup tempurung besar tersebut.
Meski bangunan kaca tersebut terselimuti, tapi ruangan masih menyala terang dari lampu-lampu yang berpijar dengan warna putih.
"Bagaimana dia bisa lolos?" tanya Curva berdiri di depan dinding kaca melihat seorang pria berambut putih dan berwajah pucat berdiri tegap di hadapannya.
"Serigala itu aktif begitu kami menjemurnya di bawah energi surya, Tuan Curva. Ternyata, energi robot tersebut dari panas matahari. Saat kami akan memindahkannya, robot itu lepas kendali dan berhasil kabur dari ruang penelitian. Kami minta maaf," ucap pria itu, tapi Curva terlihat marah hingga matanya melotot.
DOK! DOK! DOK!
"Hei! Hei!" panggil Matteo yang suaranya tertahan di dalam gelembung, tapi ternyata WolfBot tersebut berhasil mendapati sosoknya.
Curva terkejut dan segera menarik tubuh Matteo agar menjauh dari dinding kaca. Sang Presiden berusaha memberontak saat ia dirobohkan di atas kasur.
Tiba-tiba, nyala lampu pada mata WolfBot berubah menjadi kuning. Matteo tersenyum saat ia tahu apa yang terjadi.
"Auuu ... u ... u-u ...."
WolfBot tersebut melolong dengan kepala mendongak ke atas. Curva dan tim penjaga tampak bingung meski senjata laser berada dalam genggaman.
"Keluarkan aku. Percayalah," tegas Matteo, tapi Curva masih enggan melakukannya, sedang WolfBot tersebut terus melolong dan suaranya menyebar ke seluruh sudut bangunan kota Titan. Saat Curva terlihat serius berpikir, lagi-lagi.
TET! TET! TET!
Matteo langsung sigap, begitupula Curva. Pemimpin kota Titan berjalan tergesa menuju ke pintu keluar. Namun, saat Matteo akan ikut, Curva melarangnya.
"Aku bisa menolong. Percaya padaku," pinta Matteo memegang pundak kiri Curva.
Pria berambut biru itu menatap tangan Matteo yang mencengkeram kuat pundaknya.
"Oke."
Segera, dua pemimpin beda negara itu keluar dari Gelembung. Matteo merasakan kebebasan, meski hanya dalam waktu singkat karena kini, bahaya baru mengancam.
Namun, saat Matteo ikut berlari bersama orang-orang untuk evakuasi menuju ke sebuah lorong, matanya melebar ketika melihat pergerakan dari beberapa Gelembung penyelamat miliknya yang ia kenali.
"Wow! Wow! Tunggu! Mereka orang-orang dari negaraku! Great Ruler!" seru Matteo yang membuat Curva dan lainnya menghentikan langkah.
"Benarkah? Kenapa mereka ingin menyerang kami? Apakah ... mereka bermaksud untuk membebaskanmu?" tanya Curva menebak dan Matteo mengangguk setuju.
"Kau harus tunjukkan pada mereka jika aku baik-baik saja. Cepat!" pinta Matteo seraya mendekat ke arah pemimpin kota Titan.
Curva menatap Matteo lekat dan menyanggupi hal tersebut. Matteo dibawa ke sebuah ruangan dengan banyak bola-bola seperti gelembung transparan. Matteo masuk ke dalam bola tersebut dengan Curva bersamanya.
"Jangan sok tahu. Ini armadaku, jadi jangan menyentuh apa pun," tegas Curva menunjuk pemimpin Great Ruler tersebut.
__ADS_1
"Oke," jawab Matteo cepat langsung mengangkat tangan dan duduk dengan manis.
Seketika, BLUP!
Matteo terkejut. Bola yang dinaikinya keluar dari ruangan yang menyimpannya. Bola tersebut melayang menuju permukaan air, tapi sang Presiden melihat ada sebuah benda besar di atasnya.
Bagian bawah dari benda itu terbuka seperti pintu. Bola-bola tersebut terus membumbung di dalam air dan pada akhirnya masuk ke dalam pintu berbentuk lingkaran tersebut.
KLEK!
Matteo melihat sekitar di mana bola berpelindung kaca tersebut terendam oleh air di sebuah ruangan.
Ada banyak manusia dalam bola-bola di sekitarnya termasuk si wanita berambut hijau dan pria berambut putih.
SPLASH!
Matteo langsung menutup mata. Ia melihat cahaya matahari menyilaukan mata dari kaca bagian depan.
Tadinya, pemandangan itu adalah genangan air yang sangat luas. Matteo baru menyadari jika ia berada dalam sebuah kapal selam.
"Sir! Kapal-kapal dari negara Bintang mendekat!" seru wanita berambut hijau yang bicara dari dalam gelembungnya.
"Aku mengerti. Siapkan perisai dan lindungi aku," titahnya.
"Yes, Sir!" jawab semua orang di dalam gelembung tersebut.
GREK!
"Oh!" kejut Matteo saat gelembung yang ditumpanginya bergerak maju.
Ternyata, bagian bawah bola transparan itu seperti sistem kerja Gelembung miliknya. Ada baling-baling yang bergerak secara otomatis untuk mengarahkan ke mana laju dari bola tersebut.
Matteo menoleh dan melihat baling-baling yang tadinya berada di bagian bawah bola sekarang berada di belakang.
Matteo melirik Curva yang tampak tegang saat membawa bola tersebut keluar dari kapal melalui mulut kapal selam berbentuk ikan pari raksasa tersebut.
"Kau meniru teknologi kami," tegasnya.
"Negaramu tak rugi apa pun. Selain itu, aku memodifikasinya menjadi lebih modern," jawab Curva santai, tapi membuat sang Presiden gemas karena Curva seperti tak merasa bersalah dengan perbuatannya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Happy weekend dan terima kasih tipsnya mbak Ajuš Lele padamuā¤ļø