
Sandra berusaha keras menyingkirkan para tikus robot yang kini mengerubungi tubuhnya dan berusaha untuk melukai.
Orang-orang dari kubu Sandra, melihat jika Wakil Presiden Great Ruler tersebut terdesak.
Atlanta dan semua orang baik dari negara Bintang atau Titan, berlari kencang tak menghiraukan panas yang membakar tubuh untuk menolong Sandra.
"Kita tak bisa diam saja! Kita harus membantu Sandra. Keluar dari cacing robot dan lawan musuh kita dengan berani!" seru Colonel Brego.
Ternyata, niat baiknya disambut oleh para penumpang dalam cacing robot. Brego terpaksa memunculkan kepala cacing robot ke permukaan sehingga mulut sebagai pintu masuk dan keluar dari cacing itu terbuka.
"Cacing itu sudah berhenti bergerak dan ia menampakkan wujudnya! Serang!" titah dari pemimpin negara Baatar mengomandoi pasukannya yang berkamuflase dengan jubah seperti daratan tandus itu.
Sontak, kubu dari Sandra terkejut ketika di balik bukit yang berseberangan dari lokasi mereka berlari, muncul beberapa pria dengan senjata tajam dalam genggaman tangan.
Roman dan lainnya masih disibukkan untuk memberantas robot kalajengking yang berusaha untuk menerobos pertahanan mereka.
Sedang WolfBot, melindungi orang-orang dari dua kubu itu untuk melenyapkan robot tikus. Aksi saling tembak dan meluncurkan anak panah pun terjadi. Satu per satu orang-orang itu roboh dan tewas bergelimpangan dari empat kubu.
Sandra yang berada di tengah-tengah pertarungan, dibuat panik karena dirinya juga terdesak.
"Pusat! Gunakan SpiderBot untuk melumpuhkan para robot tikus! Gunakan kaki laser mereka untuk merusak komponen!" seru Sandra lantang yang kini roboh dengan napas tersengal karena tak sanggup menahan panasnya terik matahari di tengah padang tandus dan juga serangan robot tikus yang tak ada habisnya.
"Yes, Mam!" jawab Qimi cepat.
Dengan sigap, SpiderBot yang berada dalam cangkang HeliBot keluar dari cangkang. Robot-robot itu melompat dan hinggap di tubuh para robot tikus.
Sosoknya yang kecil, tak terdeteksi oleh sistem ancaman pengendali dari negara Baatar.
SRINGG! CRETT! BRUKK! BRUKK!
"Hah! Berhasil! Lumpuhkan mereka semua!" seru Sandra saat melihat robot tikus yang mencengkeram tubuhnya satu per satu berjatuhan setelah tubuh mereka berlubang karena sinar laser penembus pada kaki SpiderBot.
WolfBot menuntaskan dengan meremukkan robot-robot tikus itu dengan rahang gigi tajamnya.
"Apa yang terjadi?!" pekik pemimpin Baatar yang mengintai dari teropong jika pasukan robot tikusnya berjatuhan satu per satu dari tubuh robot level E Sandra.
"Tuan! Mereka memiliki robot lain yang ukurannya lebih kecil. Mata robot kita melihat jika itu adalah laba-laba. Kaki mereka memiliki laser untuk melubangi dinding kulit robot tikus dan merusak komponen!" jawab pemuda yang melihat pada layar tablet-nya jika robot-robot tikusnya kehilangan sinyal satu per satu.
"Agh! Great Ruler sialan! Akan kuhancurkan negara itu! Pasukan keempat! Serang!" seru pemimpin negara Baatar tak bisa menahan amarahnya lagi.
"Haaa!" jawab para anggota pasukan yang kini mengendarai motor dan para pemboncengnya bersenjata lengkap.
__ADS_1
Atlanta dengan sigap mengayunkan tongkatnya dan menusuk tubuh lawan menggunakan ujung tajam yang dialiri listrik. Tubuh korbannya mengejang karena tersengat dan langsung roboh dengan asap keluar.
Kini, padang tandus itu telah dipenuhi oleh para manusia yang bertempur. Curva dan lainnya yang keluar dari cacing robot, membantu Sandra menyelesaikan urusannya dengan para robot tikus.
"Mereka para pemimpin! Bunuh mereka semua! Dan rebut cacing robot itu!" seru pemimpin Baatar yang baru menggantikan Gobi.
"Heyahhh!" jawab orang-orang dari pasukan Baatar.
Verosa mengeluarkan dua buah cambuk dengan banyak tali menjuntai seperti tentakel. Wajahnya yang datar dan putih seperti es, menunjukkan sisi kekejamannya saat bertarung hingga Sandra tertegun.
Verosa mengincar empat pengendara motor Baatar yang siap menerjangnya, tapi senjata Verona lebih gesit menyerang.
SWING! CLEB! CRETTT!
"ARRGHHH!"
NGENGG! BRUKK!
Verosa mengayunkan dua cambuk dari dua genggaman tangannya ke depan. Delapan tentakel itu menempel di tubuh lawan yang kemudian mengalirkan listrik seperti sengat tentakel ubur-ubur.
Praktis, tegangan tinggi itu menghanguskan lawan dalam satu serangan sekaligus. Empat pria tewas tersengat karena senjata dari kekasih Vemo tersebut.
"Wow. Boleh kupinjam lain kali?" tanya Sandra menatap Verosa yang berdiri di samping robot cacing. Wanita berambut biru panjang itu mengangguk dengan wajah datar.
Rasanya, lebih baik saat ia melawan mutan ketimbang manusia dari jenisnya sendiri.
"Hentikan!" serunya lantang, tapi orang-orang yang begitu berambisi untuk menunjukkan kemampuan bertarung mereka tak mendengar teriakan itu.
Napas Sandra tersengal, ia tak percaya jika dirinya diabaikan. Saat Sandra sedang memikirkan cara untuk menyudahi perkelahian tak berkesudahan ini, tiba-tiba ....
NGENGG!!
"Aggg!"
"Sandra!" teriak Matteo lantang di kejauhan yang masih berusaha menghalau serangan dari robot kalajengking yang berhasil lolos dari tim Roman dan lainnya.
BRUKK! SRETTT!
"Agh! Aaaaa!" erang Sandra yang jatuh dari atas punggung robot cacing.
Tubuhnya terikat oleh sebuah tali yang menangkap lehernya. Sandra memegangi tali penjerat itu kuat yang terasa mencekik.
Tubuh Sandra diseret menjauh dari pertempuran oleh seorang lelaki yang mengendarai motor.
__ADS_1
Semua orang yang melihat jika Sandra dibawa pergi dari area pertempuran tak tinggal diam. Matteo segera mengejar dengan Purple sebagai sayapnya. Sayangnya, Matteo juga mendapatkan serangan dari pihak lawan.
SHUW! KRAK!
“Purple!” teriak Matteo lantang saat salah satu sayapnya terkena tembakan laser dan membuat retakan besar hingga percikan api dan asap keluar dari tubuh robot ungunya itu.
“Daya tak mencukupi untuk tetap terbang dan melakukan pengejaran. Baterai akan berkurang secara drastis. Komponen pengisian baterai mengalami kerusakan,” ucap Purple menganalisis kerusakannya.
“Agh, sial! Sandra!” teriak Matteo lantang yang akhirnya sayap Purple membawa tubuhnya jatuh ke atas tanah.
Matteo jatuh dari ketinggian tiga meter karena kegagalan mesin. Beruntung, kedua kaki sang Presiden dengan kuat memijak.
Pemimpin Baatar yang berhasil mengambil Sandra karena mengira ia pemimpin Negara, menarik mundur pasukan.
Orang-orang itu melemparkan kaleng-kaleng yang mengeluarkan asap dengan warna serupa seperti lingkungan sekitar.
Orang-orang dari Negara Bintang, kota Titan dan Great Ruler segera menyingkir. Tak lama, suara gemuruh dari balik pegunungan tandus terdengar, disertai oleh gumpalan asap pekat seperti badai pasir siap untuk menerjang.
Mata semua orang dari kubu Sandra melebar seketika dan malah berdiri mematung melihat fenomena alam itu.
“Berlindung!” seru Benyamin bersiap memasuki cacing robot lagi.
“Run! Run!” pekik Vemo lantang yang segera menarik tubuh Matteo yang jatuh di atas tanah untuk dibawa terbang.
“No, Vemo! Sandra!” serunya menolak dan berusaha untuk memperbaiki Purple dengan tangan kosong.
“Jangan bodoh, Teo! Percaya pada isterimu! Dia bukan wanita lemah! Ayo! Kita harus berlindung!” seru Vemo melotot tajam pada kawannya.
Matteo memejamkan matanya rapat dan akhirnya mengangguk setuju. Matteo menggunakan HeliBot milik Sandra untuk membawanya terbang.
Matteo melihat di kejauhan saat sosok isterinya tak terlihat lagi karena tertutup oleh badai gurun.
Matteo mendekap Purple erat saat semua orang pergi dari kawasan itu menuju ke celah dinding gua di Ngarai untuk berlindung sampai badai gurun reda.
Seketika, peperangan tersebut seakan lenyap usai badai melintasi wilayah tersebut. Namun, Matteo tampak begitu sedih saat melihat Purple rusak. Terlebih, sang isteri yang tak diketahui keberadaannya karena di tangan musuh.
***
tengkiyuw tipsnya. lele padamu. semoga usaha bohaynya berhasil ya mbak aju. kwkwkw
__ADS_1