SIMULATION

SIMULATION
CEASE-FIRE*


__ADS_3

Bola transparan berisi Matteo dan Curva bergerak di atas permukaan air laut di siang terik hari itu.


Kumpulan perahu bermotor termasuk Gelembung penyelamat dari cacing robot berkumpul. Bola dari kota Titan kini dikepung oleh orang-orang dari Great Ruler dan negara Bintang.


"Matteo!" panggil Morlan yang muncul dari sebuah perahu nelayan. Ayah dari sang Presiden langsung berdiri dengan sigap.


Benyamin masih duduk dengan beberapa orang dari negaranya mengarahkan senapan laser ke bola transparan itu.


Terlihat, Curva dan Benyamin seperti bersiteru dari tatapan tajam keduanya.


"Hah, Ayah," ucap Matteo senang, tapi membuat kening Curva berkerut.


"Manusia seperti monster itu ayahmu? Itukah Morlan Corza?" tanya Curva tampak terkejut.


"Akan kuceritakan kisah panjang dan menyebalkan itu jika kau setuju untuk melakukan gencatan senjata," jawab Matteo menatap Curva lekat. Lelaki berambut biru itu diam menatap Matteo saksama. "Dengar. Bumi sudah merintih. Bumi sama menderitanya dengan kita. Apa kau tak bosan berada di bawah air dan tak bisa menikmati indahnya daratan karena ancaman dari negara-negara yang masih mengibarkan peperangan?" tanya Matteo dengan tenang. Curva terdiam. "Great Ruler, Pipemo, Cryzen, Zezeta, dan Magenta telah berdamai. Mereka bahkan tinggal di Great Ruler. Kami membangun wilayah baru bernama Great Mazepita sebagai wujud perdamaian."


"Benarkah? Great Mazepita? Tempat apa itu?" tanya Curva penasaran.


"Akan kutunjukkan dan akan kuceritakan, asal kau mengembalikanku ke tempatku berada. Dengar, Curva. Aku memiliki isteri dan bayi yang baru saja lahir. Aku sedang menikmati momen dengan keluarga kecilku. Aku berjanji pada puteriku Alva, aku akan mengajaknya berkeliling dunia saat perdamaian tercapai. Jadi, sebagai kepala negara dan kepala rumah tangga, maukah pemimpin dari kota Titan bekerjasama denganku? Untuk mewujudkan mimpi besar kami agar Bumi menjadi layak huni dan damai seperti zaman sebelum peperangan terjadi?" tanya Matteo penuh harap.


"Peperangan akan selalu ada, Presiden Matteo Corza," jawab Curva tegas.


"Aku tahu. Namun, kita tak perlu terlibat. Kita akan menjadi kelompok pencipta kedamaian, bukan kelompok teror dan penjajah. Negara Bintang sudah berdamai dengan Great Ruler. Kenapa Titan tak melakukan hal serupa? Aku tahu, dendam akan selalu mengekor dan menjadi bayang-bayang hingga anak cucu. Namun, kita harus mengakhirinya dengan kebijaksanaan sebagai pemimpin. Apakah, Anda setuju, Tuan Curva?" tanya Matteo seraya mengulurkan tangan tangan mengajak berjabat.


Curva melihat tangan kanan Matteo lekat seperti memikirkan dengan serius ajakan itu. Semua orang tampak tegang termasuk dua kubu yang saling mengarahkan senapan laser ke pihak lawan.


Sebuah keajaiban, Curva menyambut jabat tangan itu. Roman langsung bertepuk tangan. Ia terlihat bangga dengan keponakannya termasuk Morlan.


Matteo menggenggam tangan Curva dan mengangkatnya agar semua orang melihat hal tersebut.


Ternyata, aksi damai itu disiarkan oleh Xili ke seluruh penjuru Distrik di Great Ruler, Mazepita dan Bintang. Sorak-sorai orang-orang terdengar menyambut aksi damai itu.


Tiba-tiba, Benyamin berdiri seraya mengulurkan tangan dari atas kapalnya. Curva melihat Benyamin tajam dari dalam bola transparan. Seketika, suasana kembali tegang. Curva mendekati kapal tersebut dengan bolanya.


"Kau, membuat kami terasingkan dan harus hidup di bawah air untuk puluhan tahun lamanya," ucap Curva dengan mata tak berkedip ke arah Benyamin.


"Aku selaku pemimpin negara Bintang meminta maaf. Aku ... terpaksa melakukannya. Semua ada alasannya," jawab Benyamin masih mengulurkan tangan, tapi belum disambut oleh Curva.


"Aku sudah tahu alasannya, dan kalian sudah mendapatkan ganjarannya. Ikan-ikan menghilang, itu karenaku."


Benyamin tampak terkejut, tapi ia mengangguk seperti menerima hukuman itu. Tiba-tiba, bagian atas bola terbuka. Semua orang tertegun karena tak menyangka.


Curva berdiri dan mengulurkan tangan. Benyamin tersenyum tipis dan melangkah maju agar bisa meraih tangan Curva.


"Wohooo!" seru Vemo mengejutkan semua orang saat ia bertepuk tangan ketika melihat negara Bintang dan kota Titan akhirnya berdamai.


"Yeah!" sahut Xili dan lainnya ikut senang diikuti tepuk tangan.


Senjata dari dua kubu diturunkan. Orang-orang dari negara Titan yang berada dalam kapal selam ikan pari saling memandang. Mereka akhirnya bisa menerima aksi damai itu.


"Sebagai perwujudan aksi damai, aku persilakan kalian untuk kembali ke rumah. Negara Bintang kini sudah jauh lebih baik. Itu semua, berkat bantuan dari Great Ruler. Ayo," ajak Benyamin dan Curva mengangguk setuju.


Curva mengemudikan bola transparannya menuju ke tepi pantai diikuti oleh orang-orangnya. Robot ikan pari kembali menyelam setelah menurunkan bola-bola.


Matteo dengan sigap keluar dari bola tersebut dan langsung menghampiri kawan-kawannya. Morlan menjabat tangan sang anak karena ia tak ingin melukai tubuh puteranya karena sosok mutannya.

__ADS_1


Matteo disambut oleh banyak orang termasuk Roman, Benyamin, Xili dan lainnya. Mereka senang karena Presiden Great Ruler baik-baik saja.


"Oia. Jangan lupa robot-robotku. Aku sangat merindukan mereka," ucap Matteo saat Curva masih duduk di bola transparan seperti enggan untuk turun.


"Ah, robot. Oke," jawabnya.


Curva menekan alat yang terpasang pada lubang telinganya. Ia berbicara dalam bahasa tertentu seperti meminta sesuatu.


"Ayo, turunlah," ajak Matteo mengulurkan tangan, tapi Curva masih tampak ragu saat melihat pasir pantai.


"Em, entahlah. Aku sudah lama sekali tak menginjak daratan," jawabnya kaku.


"Ini hanya pasir, lalu ada tanah dan ... ya intinya, turunlah. Ayo, kau akan baik-baik saja," ucap Matteo memaksa mengulurkan tangan kanannya.


Curva akhirnya mengarahkan tangan kirinya untuk menyambut ajakan Presiden Great Ruler. Curva melangkahkan kaki kanannya keluar dari bola transparan yang melindunginya.


Mata semua orang terfokus pada lelaki berambut biru terang tersebut saat kakinya memijak pasir. Curva terlihat gemetaran, dan Matteo tetap sabar menunggu kawan barunya itu.


"Rasanya ... geli," ucap Curva karena ia bertelanjang kaki tak mengenakan sepatu. Matteo tersenyum dan mengangguk. Ia memberikan tangan lainnya dan Curva segera menangkapnya. Tiba-tiba, Curva terlihat senang saat pasir pantai yang dipijaknya menyentuh kaki pucatnya. "Oh! Rasanya ... sungguh menyenangkan!" serunya gembira.


Akhirnya, Roman, Benyamin dan orang-orang dari Great Ruler berdiri di tepian pantai. Mereka mengulurkan tangan agar disambut oleh kelompok dari kubu Curva yang masih mengamati dari dalam bola transparan.


Satu per satu dari bola-bola itu mendekat. Pintu kaca terbuka dan kaki tanpa alas itu perlahan menapak pasir yang tersapu oleh ombak lembut.


Seketika, senyum yang sama terukir. Xili meraih tangan seorang wanita berambut hijau yang tampak malu saat ditatap olehnya.


"Siapa namamu?" tanya Xili gugup.


"Siren," jawab wanita cantik itu canggung.


Orang-orang dari kelompok Titan mulai berjalan perlahan dengan bergandengan tangan bersama sekutu baru mereka.


Namun, Curva dan kelompoknya merintih saat telapak kaki mereka merasa panas karena pasir yang tak tersiram air laut bagaikan memanggang kulit mereka.


Curva spontan meminta gendong di punggung kepada Matteo. Sang Presiden terkejut, tapi menganggap hal tersebut sungguh lucu.


Sikap orang-orang dari kota Titan dianggap unik, tapi Matteo juga iba karena orang-orang itu sudah lama sekali tak memijak daratan karena mereka menganggap, permukaan adalah lahan kematian.


"Okeh. Hah, berapa jauh menuju ke negara Bintang?" tanya Matteo menyeberangi daratan dengan napas tersengal.


"Yah, setengah hari dengan berjalan kaki," jawab Benyamin yang menggendong seorang pria berambut putih dan berkulit pucat.


"Agh! Panas ini menyakiti kulitku!" keluh pria berkulit pucat dan langsung memejamkan matanya rapat.


"Itu karena kalian terlalu lama di dalam air. Seharusnya kalian berjemur agar kulit ternutrisi," sahut Vemo yang menggendong seorang wanita berambut panjang dengan potongan unik, berwarna biru toska dan berkulit pucat.


"Kenapa wajahmu seperti bergambar barcode? Apakah itu tato? Kau dari negara mana?" tanya wanita tersebut menatap wajah Vemo lekat.


"Siapa namamu?" tanya Vemo penuh selidik dan terus berjalan melintasi daratan berpasir.


"Aku Verosa Titan," ucap wanita itu malu.


"Sudah punya pacar?"


Verosa diam sejenak. "Belum. Itu karena ... mataku biru. Orang Titan hanya mengizinkan mata biru untuk menikah dengan pria bermata biru. Sayangnya, hampir semua pria bermata biru telah beristeri. Sangat sulit menemukan orang dari jenisku," jawabnya seraya melirik Matteo yang memiliki warna mata hampir sama dengannya.

__ADS_1


Vemo melihat arah kepala Verosa yang melirik Matteo.


"Hei, dia sudah beristeri dan memiliki anak. Jika hanya masalah mata, aku bisa mengubah mataku menjadi biru sepertimu, asal kau mau menjadi kekasihku," ucap Vemo dengan senyum penuh maksud.


"Maksudmu ... kau bisa merubah warna mata? Sungguh?" tanya Verosa terkejut.


"Ya. Itu bukan hal sulit. Dan akan lebih seru lagi jika kau ikut tinggal bersamaku di Great Ruler. Di sana, semua ras dianggap sama. Kau bisa menikahi pria manapun yang masih lajang, sepertiku. Bagaimana? Presiden Matteo kawan baikku. Akan sangat mudah baginya mengatakan setuju jika kau bersedia menikah denganku," sambung Vemo mantap, dan ternyata didengar oleh Matteo dan Curva karena berada di samping mereka.


"Kau ingin menikah dengannya?" tanya Matteo dan Curva bersamaan menatap dua sejoli yang baru bertemu.


Siapa sangka, Vemo dan Verosa mengangguk bersamaan. Matteo dan Curva malah terkejut. Kedua pemimpin itu saling memandang.


"Oke. Kalian diizinkan," jawab Matteo dan Curva bersamaan.


"Hahaha! Benar 'kan kataku? Pasti diizinkan. Jadi ... ini semacam takdir. Nama kita hampir sama. Aku Vemo dan kau Verosa, sama-sama berhuruf 'V' di bagian depan," ucap Vemo senang dan Verosa mengangguk pelan masih terlihat malu.


Matteo dan lainnya yang mendengar celoteh Vemo sepanjang jalan untuk membuat Verosa jatuh hati padanya, terkekeh. Saat Matteo dan lainnya mulai lelah menggendong, tiba-tiba ....


"Oh! Gempa bumi!" ucap Morlan langsung waspada.


Seketika, semua orang menghentikan langkah. Orang-orang tampak panik dengan mata terfokus pada permukaan tanah yang mereka pijak.


"GOARRR!"


"Woah! Itu cacing Gobi!" seru Curva menunjuk dengan mata melotot saat melihat seekor cacing robot muncul dari bawah tanah di hadapan kumpulan orang-orang.


Jantung semua orang berdebar, tapi Vemo dan Matteo yang mengenali benda itu tersenyum.


GREEKK ....


"Butuh tumpangan?" tanya seorang wanita berambut pirang yang keluar dari mulut cacing diikuti oleh Akira dan Tony.


"Oh! Siapa mereka?" tanya Curva terlihat kaget dan memeluk Matteo erat.


"Ladies and gentlemen. Perkenalkan, cacing robot Great Ruler. Dan wanita cantik itu adalah Sandra Salvarian, isteriku. Dia kini menjabat sebagai Wakil Presiden Great Ruler mendampingiku. Sekaligus, dia User robot pertama robot level A di negara kami. Dialah, pencetus aksi damai seluruh negara yang berperang untuk memulihkan Bumi seperti sedia kala," ucap Matteo memperkenalkan sang isteri yang tersenyum manis di hadapan semua orang.


"Hallo. Salam kenal. Aku, Sandra Salvarian."


"Cantik sekali."


BRUKK!


"Agh!" rintih Curva saat ia dijatuhkan oleh Matteo dari gendongan karena memuji isteri dari Presiden Great Ruler.


Praktis, tawa kegembiraan terdengar dari mulut orang-orang di sekitar tempat itu.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Uhuy makasih tipsnya💋Lele padamu❤


__ADS_2