SIMULATION

SIMULATION
JEWAWUT*


__ADS_3

Sandra tersenyum melihat suaminya seperti masih takut-takut untuk menyentuh sang buah hati meski Alva berada dalam tabung inkubator.


Tubuh Alva ditempelkan beberapa sensor yang terkoneksi dengan pusat untuk mengetahui kondisi bayi tanpa harus dijaga oleh perawat karena tangan robot sudah melakukan tugasnya.


"Oh!" pekik Matteo saat melihat dua tangan robot muncul dari bagian samping kiri dan kanan tabung layaknya tangan manusia.


Matteo mengamati gerak-gerik tangan itu saksama seperti khawatir jika tangan robot itu akan menyakiti bayi mungilnya.


"Dia buang air kecil, Sayang," ucap Sandra menjelaskan saat melihat tangan robot mengganti popok kain yang dikenakan oleh puteri kecilnya.


"Ah. Aku mengerti," jawabnya mengangguk tak melepaskan pandangannya pada sang anak. Lama Matteo memandangi bayinya hingga keningnya berkerut saat Alva seperti terusik. "Sayang. Dia kenapa? Apakah dia sakit? Ia seperti akan menangis," tanya Matteo panik.


Sandra menoleh dan tersenyum tipis. Dengan sendirinya, tabung inkubator mendekat ke samping ranjang pasien tempat Sandra berbaring. Pandangan Matteo tak lepas dari sang isteri dan puteri mungilnya.


Bayi Alva dikeluarkan dari inkubator saat detektor mengindikasi jika bayi tersebut membutuhkan minum.


Tabung bagian atas inkubator terbuka. Sandra dengan sigap mengambil bayinya perlahan dalam posisi setengah duduk.


"Hati-hati, Sayang. Awas jatuh," ucap Matteo cemas yang berdiri di samping bayinya melindungi.


Sandra tersenyum geli melihat Matteo masih takut jika menyentuh anaknya. Pria itu menjaga jarak dan hanya memilih untuk memandangi puterinya yang terlihat nyaman dalam pelukan sang Ibu seraya menikmati ASI.


"Kau sudah makan?" tanya Sandra karena sejak kedatangan suaminya, Matteo tak terlihat sedang makan atau minum di sampingnya. Sang Presiden juga terlihat berantakan, meski tubuhnya sudah disterilkan.


"Mm, entahlah. Aku tak ingat," jawab Matteo seperti orang bingung.


Pria bermanik biru itu tersenyum melihat puterinya mulai tertidur lelap setelah kenyang menikmati ASI.


"Kenapa dia tak tidur di sebelahmu saja?" tanya Matteo heran karena Sandra meletakkan bayinya lagi di inkubator.


"Bayi Alva masih harus dipantau dalam inkubator. Tabung ini memiliki sistem analisis kesehatan kurang lebih 3 hari untuk memastikan anak kita tak memiliki penyakit atau kelainan apa pun. Doakan saja Alva sehat dan baik-baik saja. Aku juga harus segera mengembalikan fisikku agar kami berdua bisa segera pulang ke rumah," jawab Sandra yang kembali merebahkan tubuhnya.


"Ah. Aku mengerti," ucap Matteo dengan anggukan.


Matteo melihat bagian atas tabung seperti memiliki alat pemindai untuk menganalisis fungsi organ dalam bayi tersebut.


Matteo terlihat serius melihat kinerja robot dalam inkubator hingga berjam-jam tanpa makan dan minum.


Tanpa Matteo sadari, Sandra sudah tertidur lelap termasuk sang bayi. Matteo mulai lapar, dan pada akhirnya meminta kepada Purple untuk menyiapkan makan malam untuknya.


Matteo menginap di ruang perawatan tempat Sandra dan Alva tinggal untuk sementara waktu sampai diizinkan pulang.


Matteo sengaja meminta cuti tiga hari dan memasrahkan cacing robotnya kepada Vemo. Tentu saja, sahabatnya itu kesal, tapi ia bisa memahami kondisi Matteo yang sedang menikmati momen menjadi seorang ayah.


Roman diikutsertakan oleh Vemo dan lima anggota tim Matteo untuk memperbaiki kerusakan cacing robot agar masalah cepat diselesaikan.

__ADS_1


"Ceroboh sekali. Bagaimana bisa hal penting itu kalian lupakan? Peringatan sumber energi tak boleh disepelekan!" gerutu Roman saat ia mengetahui jika alasan utama robot cacing itu mogok karena kehabisan daya.


"Itu karena Presiden dan Vemo fokus pada kinerja robot, tampilan luar dan dalam saja, Walikota," sahut Imo yang membuat Vemo cemberut karena disindir.


"Kalian beruntung karena masih dalam wilayah Great Ruler dan Mazepita. Jika kalian berada di tanah asing, bisa menimbulkan perang hanya untuk menyelamatkan dua orang yang terkubur dalam tanah. Negara musuh bisa mengetahui rahasia besar kita jika Great Ruler memiliki robot cacing seperti Gobi," imbuh Roman yang sedari tadi menggerutu entah apa yang mengganggu hatinya.


"Kau cerewet sekali," celetuk Vemo yang membuat mata semua orang melotot karena pria bertato barcode di wajahnya itu berkata tak sopan pada mantan Presiden Great Ruler.


KLANG!


Vemo terperanjat karena Roman menatapnya tajam sembari menjatuhkan tang dari genggaman tangan saat memasang alat detektor energi di perut robot cacing.


"Aku harus kemari di mana seharusnya, aku sedang menggendong cucu pertamaku! Kau membuatku kerja lembur selama tiga hari karena keteledoranmu!" jawab Roman marah yang membuat semua orang akhirnya tahu, alasan kenapa Roman berwajah masam sejak kemarin.


"Itu bukan salahku sepenuhnya. Kau, dan lima orang itu juga termasuk dalam tim. Kenapa kalian juga bisa lupa jika sistem detektor energi belum terpasang?" balas Vemo bertanya karena tak mau disalahkan.


Praktis, Roman, Imo, Rhyz, Bablo, Wego dan Xili terdiam. Mereka sepertinya menyadari, jika kesalahan ini bukan sepenuhnya milik Vemo dan Matteo. Vemo tersenyum miring karena merasa menang telak kali ini.


Akhirnya, Roman tak lagi mengeluh. Ia dan timnya fokus untuk menyelesaikan pemasangan alat detektor energi karena ingin segera menjenguk puteri Matteo Corza dan Sandra Salvarian.


Kabar gembira kelahiran sang puteri dari pasangan heroik Great Ruler diumumkan oleh Lala.


Tentu saja, para penduduk Great Ruler dan Mazepita ikut bahagia. Mereka mengharapkan penerus pasangan itu menjadi orang hebat seperti ayah ibunya kelak.


Sandra dan Matteo kembali ke rumah Aurora yang dulunya ditempati oleh Colosseum Blue setelah diizinkan oleh pihak Rumah Sakit.


Matteo memberlakukan sistem terjadwal jika orang-orang ingin datang berkunjung menjenguk sang buah hati. Dalam satu hari, hanya boleh 1 kelompok yang berkunjung dan beranggotakan maksimal 4 orang.


Spectra dibuat sibuk ketika banyak orang menghubunginya dan meminta waktu agar bisa bertemu bayi Alva, Presiden dan Sandra Salvarian sekedar untuk mendoakan serta memberikan bingkisan.


Sora ikut direpotkan oleh Matteo karena sang Presiden sering menolak untuk diadakan meeting secara langsung.


Pria bermanik biru itu menghabiskan lebih banyak waktu di rumah untuk bisa dekat dengan buah hatinya.


Rapat digantikan dengan teleconference yang dilangsungkan di rumahnya. Sandra juga tetap ikut andil dalam mengurusi negara meski ia sedang mengasuh bayi Alva.


Sandra menolak dibantu oleh baby sitter dan memilih untuk merawat bayinya sendiri. Purple, Roboto dan Spectra menjadi pelayan yang sangat bisa diandalkan oleh dua pasangan pemimpin negara besar tersebut.


"Bagaimana perkembangan dengan negara Bintang?" tanya Matteo dengan Sandra duduk di sebelahnya usai keduanya menidurkan bayi Alva.


"Kami masih berupaya untuk melakukan penghijauan kembali dengan menanam 100 pohon yang dibawa dari Great Ruler sejak 9 bulan yang lalu. Beruntung. Tanah yang terkontaminasi di bagian permukaan sedalam 10 meter saja. Di bagian bawahnya, masih banyak tanah sehat yang bisa diolah. Kami sudah memetakan wilayah penanaman di bagian Timur negara Bintang dan sejauh ini ... berhasil," ucap Morlan melaporkan yang membuat semua orang tersenyum.


Morlan menunjukkan saat timnya datang ke negara Bintang yang tandus. Semua tanaman yang berusaha ditanami kering.


Morlan dan kedua puluh anggota timnya lalu menandai lahan seluas 1000 meter yang digunakan sebagai wilayah percobaan penghijauan setelah melakukan analisis tanah menggunakan robot khusus pertanian ciptaan Great Ruler.

__ADS_1


Sebuah alat berbentuk kotak persegi empat berwarna hitam, memiliki empat kaki yang terbuat dari besi, dan mampu mencengkeram tanah saat bagian kepalanya sedang melakukan pengeboran.


Robot pengebor dan penggiling tanah itu memiliki leher besi berdiameter 30 cm dan bisa bergerak bebas dengan alat pengendali yang dikendalikan oleh seorang petugas.


Ujung lehernya berupa kepala berbentuk kerucut yang bisa berputar dan memiliki ukiran besi seperti skrup. Benda itu mampu menembus hingga kedalaman 30 meter dari permukaan tanah.


Elemen-elemen dalam tanah yang masuk dalam leher robot, dianalisis oleh sistem untuk mengetahui komponen yang terkandung di dalamnya.


Hal ini, membantu petani modern di Great Ruler untuk menentukan, apakah jenis tanah tersebut bisa ditanami atau tidak. Dan jika bisa ditanami, jenis tanaman apa yang cocok dapat ditentukan dari hasil tersebut.


Tentu saja, dengan kecanggihan teknologi yang dimiliki oleh Great Ruler, membuat para petani di negara Bintang merasa tertolong.



Sandra bertepuk tangan melihat keberhasilan dari timnya yang sukses untuk menyuburkan kembali tanah di negara Bintang yang ikut terkena dampak dari peperangan.


Morlan tersenyum bangga, di mana Benyamin dan dua puluh tenaga ahli Great Ruler ikut serta dalam laporan tersebut. Wajah-wajah pahlawan itu muncul di layar dan kini sedang menuai pujian.


"Boleh kutahu, jenis tanaman apa itu? Aku baru pertama kali melihatnya," tanya Lala penasaran.


"Oh. Ini benih asli dari negara Bintang yang mereka bawa dari Indonesia. Sebelumnya, mereka telah menanam tumbuhan ini. Namun, saat mereka mengalami gempuran yang menyebabkan tanah menjadi terkontaminasi dan sulit untuk disuburkan, tanaman ini mati. Beruntung, para petani masih bisa menyelamatkan benih terakhir. Saat kami ingin memulai bercocok tanam, Tuan Benyamin meminta agar mencoba benih mereka yang hampir terlupakan. Siapa sangka, tanaman ini berhasil tumbuh bahkan sebentar lagi siap untuk panen," jawab Morlan terlihat senang.


Sandra dan lainnya kembali bertepuk tangan. Mereka ikut bahagia melihat tanah negara Bintang yang awalnya tandus danĀ  terkontaminasi, kini bisa ditumbuhi tanaman hijau. Selain itu, tanaman tersebut menghasilkan bahan pangan.


"Bijinya bisa diolah dan dikonsumsi untuk menjadi bahan pangan. Hanya saja, karena wilayah yang masih terbatas, kesejahteraan belum bisa merata," sambung Molan yang menunjukkan hasil pengolahan dari tumbuhan itu saat masih berjaya.


Sandra dan lainnya tampak kagum dan tak sabar untuk melihat hasilnya.



"Kami juga baru mengetahui ilmu baru dari para petani negara Bintang jika biji dari Jewawut ini bisa dijadikan bubur, dodol, kue kering, wajik atau mie. Tanaman Jewawut ini dapat diolah menjadi tepung untuk mensubtitusi tepung beras. Selain sebagai bahan makanan, daun Jewawut bisa dipergunakan sebagai pakan ternak. Bijinya juga bisa dikonsumsi oleh burung. Pemanfaatan seperti ini merupakan potensi besar bagi petani untuk terus dikembangkan," imbuh Morlan yang tampak kagum.


Sandra dan para petinggi mengangguk paham. Mereka terlihat antusias karena baru mengetahui hal tersebut.


"Kami sedang melakukan pelebaran lahan untuk membuat tempat penampungan air. Kami membutuhkan mesin besar untuk membuat rongga dalam tanah yang menghubungkan laut ke wilayah pertanian. Selama ini, kami masih menggunakan alat penyedot dan itu menghabiskan banyak energi. Selanjutnya, air laut tersebut akan disuling seperti yang dilakukan pada Great Mazepita dan Great Ruler agar bisa dikonsumsi," sambung Morlan dan diangguki oleh semua orang.


"Baik. Berikan rincian kebutuhan agar kami bisa segera mengirimkan bantuan ke negara Bintang. Kami berharap, proses reboisasi bisa segera terwujud," ucap Matteo dan diangguki oleh Morlan.


"Aku selaku pemimpin negara Bintang sangat berterima kasih. Semoga, negara Bintang dan Great Ruler tetap bisa menjalin hubungan baik. Bagaimanapun, kita ini bersaudara," ucap Benyamin yang wajahnya muncul di layar.


Semua orang yang hadir dalam rapat tersebut mengangguk dengan senyuman. Orang-orang itu juga berharap agar kedamaian antar negara yang dulunya bersengketa, tetap terjalin untuk selamanya.


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2