
Segera, semua orang bersiap. Orang-orang berkulit pucat dari kota Titan bersiap dengan senjata mereka.
Punggung mereka yang menonjol, ternyata menyimpan dua buah tongkat yang bisa dipanjang-pendekkan.
Sandra tampak kagum saat Atlanta menekan sebuah tombol dari gagang tongkatnya dan muncul besi panjang layaknya gergaji dengan dua bilah sisi kanan dan kiri bergerigi serupa gigi ikan hiu.
Ujung dari tongkat yang berkolaborasi dengan pedang itu berujung runcing di bagian atas dan bawah. Terlihat, senjata itu cukup mematikan.
"Kita sengaja dikurung dalam ngarai. Mereka akan menghabisi kita di sini!" pekik Vemo menganalisis serangan Baatar.
"Jika ingin menikah, segeralah selesaikan pertarungan ini, Vemo!" seru Matteo mengingatkan di mana ia masih melayang dengan robot Purple sebagai sayap.
"Robot kalajengking menyerang. Great Ruler! Serang!" seru Sandra lantang mengomandoi kawan-kawannya.
Segera, kedua belas orang yang telah dipercaya sebagai pelindung dari kubu Great Ruler bersiap. Mereka menyerang dari sisi Selatan saat robot-robot hitam beracun itu terbang.
Sedang orang-orang dari Titan dan Bintang, membentuk lingkaran dengan punggung saling berhadapan. Mereka berputar-putar terlihat waspada saat melihat ke atas.
"RAG! RAG!" erang empat WolfBot yang melindungi kelompok dari dua kubu bersengketa itu.
Mata Qimi melebar. Ia melihat dari mata WolfBot yang menangkap pergerakan pasukan Baatar saat mereka menggunakan metode lain untuk menyerang.
PIP! PIP! BLUARRR! KRAKKK!
"Mereka meledakkan dinding gunung! Menghindar!" seru Qimi yang terdengar di seluruh sambungan komunikasi tim robot level E yang ada di lapangan.
Dua kubu yang tak menduga serangan tersebut panik. Mereka segera berlarian ke segala penjuru untuk melindungi diri dari bongkahan batu besar yang siap menghantam tubuh mereka.
"WolfBot! 1, 2, 3, 4! Fire!" seru Sandra lantang dari posisi ia terbang.
Seketika, SHUW! DUWARR!
"AAAA!" teriak orang-orang dari dua kubu saat batu-batu besar itu meledak dan terpecah menjadi serpihan kecil.
Tubuh mereka tetap terkena pecahan batu, tapi tak membunuh. Meski demikian, tubuh mereka tetap terluka karena tembakan laser dari keempat WolfBot.
"Bersembunyi di celah!" seru Sandra lantang dari tempatnya melayang.
Segera, orang-orang itu merangkak dan berusaha untuk bangun meski harus menahan sakit di tubuh yang terluka.
WolfBot terus mengerang dan mendongak ke atas ketika celah dari ngarai itu semakin besar dan posisi mereka semakin jelas terlihat.
Pasukan robot level E terus menembak dan menghancurkan robot-robot kalajengking. Morlan memanfaatkan tubuh mutannya untuk menginjak robot kalajengking yang berjatuhan di atas tanah.
"GOARR!" erang Morlan yang suaranya sampai bergema di lorong itu.
"Woah! Dia seram sekali," ucap Xili bergidik ngeri saat Morlan menunjukkan kemampuan dari sosok mutannya.
"Jangan lakukan itu di depan cucumu nanti, Ayah," tegas Matteo menunjuk dan Morlan tersenyum miring.
Tiba-tiba, tanah bergetar. Orang-orang yang berada di atas permukaan tanah terlihat bingung dengan yang terjadi.
"Colonel! Apa yang terjadi di bawah sana?" tanya Sandra tetap waspada seraya terus menyabet para robot kalajengking yang menyerangnya menggunakan pedang laser.
__ADS_1
"Ada robot-robot penggali menyerang robot cacing! Aku harus naik ke permukaan!" jawab Brego terlihat cemas.
Mata Sandra melotot seketika. "Pusat! Di mana lokasi Brego sekarang?" tanya Sandra seraya terus membelah robot-robot kalajengking yang berjumlah hingga ratusan seakan mereka tak ada habisnya.
"Mereka berada di luar ngarai. Tinggal 5 kilometer lagi menuju ke titik pendaratan dalam benteng negara BINTANG," jawab Qimi melaporkan.
"Tidak! Jangan masuk! Mereka sengaja agar bisa menjebol melalui dalam tanah. Jika robot penggali dari Baatar memasuki Bintang, mereka akan menyerang para penduduk. Kita harus habisi mereka selagi di luar!" sahut Benyamin yang membuat semua orang yang mendengar serius memikirkan cara lain.
"Bawa robot cacing ke permukaan. Kita habisi mereka di atas. Aku akan ke sana!" pinta Sandra.
"Oke!" jawab Brego cepat.
Getaran itu makin kuat terasa. Batu-batu berjatuhan meski tak menimpa orang-orang yang berada di celah gunung karena mereka telah berlindung.
"Kalian! Segera keluar dari ngarai! WolfBot dan aku akan melindungi kalian! Cepat!" titah Sandra.
Orang-orang dari negara Bintang terus melakukan aksi balas dengan menembak ke atas di mana musuh-musuh mereka masih mengintai di tebing.
Mereka berlarian menuju jalan keluar dari ngarai agar bisa segera sampai ke negara Bintang.
Saat ledakan-ledakan batu terus ditujukan ke sekumpulan orang-orang yang melakukan evakuasi, tiba-tiba dari atas tebing terdengar suara teriakan kelompok musuh.
Praktis, mata Sandra dan orang-orang dari dalam kubunya mendongak ke atas.
"Argh! AAAAA!"
BRUKK!
"Yeah!" seru orang-orang dari kubu Great Ruler saat bantuan datang di waktu yang tepat.
Para penyerang dari negara Baatar berjatuhan dari atas tebing. Segera, orang-orang dari negara Bintang dan Titan memanfaatkan hal itu untuk terus berlari agar bisa keluar dari Ngarai.
"Itu WolfBot yang ikut dengan kami dan hilang bersama Matteo!" ucap Roman dari tangkapan mata HeliBot.
"Bagus! Spectra! Roboto! Menyatu!" perintah Matteo, tapi sayangnya, dua robotnya itu tak menjawab.
Matteo bingung, tapi tak bisa berpikir lebih jauh karena pasukan robot kalajengking terus menyerangnya.
KRASS! KRAKK!
"Dasar kecoa!" geram Matteo saat menebas robot kalajengking terbang lalu menginjak mereka hingga remuk.
"Kalajengking, Sayang. Kalejengking," ucap Sandra mengingatkan, tapi Matteo seakan tak peduli. Ia kesal karena dua robotnya tak muncul untuk menolong.
"Sandra! Kita harus mengamankan orang-orang!" seru Akira dan diangguki oleh Wakil Presiden Great Ruler tersebut.
"Pergilah! Kami akan urus ngengat ini!" sahut Vemo dan diangguki oleh Matteo.
Sandra, Akira, Matteo, Tony dan Ego, terbang meninggalkan Roman serta anggota tim yang tersisa untuk melenyapkan robot kalajengking agar tak mengejar orang-orang tak berpelindung pakaian tempur.
Helibot terbang mengejar di mana orang-orang dari negara Bintang dan Titan terpaksa berlari karena mobil mereka tak bisa melaju akibat jalanan terutup oleh bongkahan batu besar.
Drone terbang lebih tinggi untuk menembaki para musuh dari negara Baatar yang berada di tebing.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba, suara raungan cacing robot terdengar. Sandra yakin, jika robot itu telah menunjukkan dirinya ke permukaan, tapi terus bergerak.
Ternyata, robot-robot tikus tanah mencoba untuk melubangi kulit besi robot cacing agar benda itu rusak.
Moncong robot tikus tanah berbentuk seperti kerucut dan memiliki gerigi untuk mengebor tanah.
Brego hanya menampakkan setengah dari tubuh cacing robot. Setengah badan bagian bawah masih berada di dalam tanah. Robot-robot tikus tanah berkumpul di atas punggung cacing robot.
"Mereka banyak sekali! Mereka akan merusak robot cacing!" pekik Tony saat mereka telah berhasil melewati celah gunung.
Tim terbang Sandra kini berada di tanah tandus bersama orang-orang dari Titan serta negara Bintang yang kembali bersembunyi di gua-gua kecil seperti lubang pada dinding gunung batu.
"Cacing robot generasi pertama tak memiliki sistem perlindungan. Kita harus menyingkikan robot-robot perusak itu!" tegas Matteo seraya menembaki orang-orang dari negara Baatar yang terus menyerang dari atas gunung.
Sandra diam terlihat berpikir serius. Tiba-tiba, ia terbang begitu saja meninggalkan kelompoknya menuju ke tempat cacing robot yang terus berputar-putar dengan lincah di padang tandus untuk menyingkirkan parasit di tubuhnya.
"Sandra!" panggil Matteo tak habis pikir dengan kenekatan sang isteri yang kembali melakukan hal gila tanpa persetujuan darinya. "Benar-benar wanita ini!" gerutu Matteo saat Sandra malah membuat dirinya berada di atas punggung cacing robot yang sedang bermanuver.
"Colonel! Aku akan menyingkirkan mereka. Pastikan lajumu tetap stabil!" titah Sandra.
"Yes, Mam!" jawab Brego yang kini mengemudikan laju cacing robot lurus lalu berbelok ketika sudah sejauh lima kilometer.
Gerakan yang sama sampai Sandra berhasil melenyapkan robot-robot perusak itu.
SWINGG! KRASS! DUAKK!
Sandra mengayunkan pedang lasernya. Ia menebas para robot tikus tanah hingga mereka terbelah dan bergelimpangan di atas tanah. Sandara juga menendangi robot-robot itu dengan kaki berlapis sepatu robot.
Sandra fokus memijak dengan sepatu robotnya yang memiliki alas magnet. Alas itu membuatnya tak jatuh ketika berada di atas permukaan cacing robot.
"Wohooo!" seru orang-orang dari kubu Titan dan Bintang yang melihat aksi ibu satu anak itu tak terlihat gentar dan takut.
Sandra bertarung seorang diri melawan puluhan robot penggali yang ingin merusak dinding terluar robot cacing.
"Pasti dia pemimpinnya! Jatuhkan dia!" teriak pemimpin penyerangan dari negara Baatar dari teropong.
Segera, salah satu anggota timnya menggerakkan robot penggali untuk mendekati Sandra. Seketika, GRAB! SRRINNG!
"ARRGHHH!" erang Sandra, saat dua tangan dari robot tikus tanah mencengkeram kedua kakinya lalu menggunakan moncongnya yang runcing untuk mengebor dan melubangi kaki robot besi itu.
"SANDRA!" teriak Matteo kaget ketika tubuh isterinya kini dikerubungi oleh robot tikus tanah yang ingin melubangi tubuhnya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
abisin recehan tar abis itu rekaman lagi. gitu aja terus ampe engap😆 semangat diriku!
__ADS_1