
Semua orang terkesiap melihat pemandangan menakjubkan di balik dinding yang terbuat dari kayu berteknologi tinggi tersebut. Pepohonan hijau dan beragam binatang muncul di hadapan mereka.
Herannya, hewan-hewan tersebut seperti enggan untuk keluar dari benteng tersebut. Mereka hanya melihat sosok di depan pintu gerbang dan kembali asyik dengan tumbuhan hijau di sekitar.
Tiba-tiba, pintu gerbang tersebut tertutup dan membuat tempat yang tadinya bagai surga flora dan fauna menjadi sebuah tempat yang ditinggalkan tak berpenghuni.
Sebuah kamuflase berteknologi tinggi untuk bisa melakukan tipuan seperti sulap dan sihir itu.
“Semua ini berkat Ceros Cromoson,” ucap Mokoka yang kepalanya kembali ke arah robot Sandra, hologram dari Roman dan Bablo.
“Ceros? Namun, maaf, Tuan Mokoka. Jika kota Magenta, Cryzen dan Pipemo dari tiga bersaudara, kenapa kalian seperti dari ras yang berbeda?” tanya Roman heran, dan semua orang di pusat kendali mengangguk setuju.
“Itu karena, kami bertiga lain ibu, tapi satu ayah. Setelah kematian ibu-ibu kami dan disusul oleh ayah, tahta jatuh ke tangan para anak-anaknya. Kami ingin melebarkan kekuasaan dengan menjajah kota-kota lain. Dulu, kami kota yang kuat terlebih Cryzen. Mereka memiliki tambang Uranium yang diincar oleh seluruh negara rakus akan teknologi dan bom, seperti Great Ruler.”
Praktis, ucapan Mokoka seperti menohok sang Presiden. Roman tertunduk seketika. Semua orang di pusat kendali memilih diam termasuk Sandra.
“Aku tak kaget jika Yofalen dan Ceros akhirnya memutuskan untuk mengakhirinya dengan percaya pada Great Ruler. Jujur, aku iri pada kemakmuran negara kalian, meski kini aku kembali ragu karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Morlan, saudara kalian sendiri,” ucap Mokoka dengan kepala mendongak menatap langit. “Haus kekuasaan, akan selalu ada di hati manusia sejak zaman dahulu hingga sekarang. Aku rasa, perdamaian itu adalah hal yang mustahil terwujud. Semua pasti berpikir untuk melakukan yang terbaik bagi negaranya, termasuk Anda, Presiden Roman,” sambung Mokoka yang membuat Roman terdiam dengan pandangan tertunduk entah apa yang dipikirkannya.
“Jika misi ini hanya aku yang dilibatkan, aku rela jika harus tewas karena tak bisa menyelesaikan misi.” Praktis, semua orang yang mendengar pernyataan Sandra terkejut. “Hanya saja, nyawa 1000 orang ada dalam genggamanku. Mereka para pejuang Great Ruler yang mempertahankan kemakmuran di negara tempatku lahir, bahkan tempat Bablo dan keluarganya bernaung di sana selama ini, Tuan Mokoka. Aku juga pernah melakukan kesalahan, dan mungkin ini hukuman Tuhan padaku yang menempatkanku dalam posisi ini. Sungguh, aku berharap, kau sudi memberikan kepalamu padaku agar misi ini dapat kuselesaikan tepat waktu sebelum mutan-mutan Morlan menguasai Great Ruler.”
Mata semua orang di pusat kendali terbelalak. Roman memutus panggilan hologramnya dan digantikan dengan wajah Sandra yang muncul di sana dengan air mata. Raut wajah Mokoka serius seketika saat menatap Sandra lekat.
“Jika Morlan berhasil merebut Great Ruler, harapan kedamaian di muka bumi akan sirna. Ia pasti merasa hebat kerena berhasil menaklukan salah satu negara terkuat dan terbesar di benua Asia. Selanjutnya, ia akan melebarkan kekuasaannya dari satu benua ke benua lain. Alasan ia menyerang Great Ruler karena tahu seluk-beluk tempat kelahirannya. Ia tak menyerang Magenta, Cryzen bahkan Pipemo. Jika ia berhasil mengambil seluruh aset Great Ruler, kota-kota kecil di sekelilingnya, hanya sebuah batu kerikil yang akan lenyap dari permukaan dalam sekali tendang. Dan usahamu selama ini, akan sia-sia, Tuan Mokoka. Bahkan aku yakin, hewan-hewanmu ini, akan dijadikan salah satu pasukan mutan buatannya untuk menghancurkan peradaban,” ucap Sandra dengan suara bergetar mengungkapkan pemikirannya.
Semua orang terdiam. Suasana tegang karena pembicaraan yang menyangkut hidup dan mati seseorang serta kelangsungan hidup makhluk hidup yang berada dalam jajaran.
Mokoka dan Sandra saling perpandangan tajam. Hologram Sandra dimatikan oleh Roman karena dirasa pembicaraan itu sudah cukup.
Ucapan Mokoka membuat kisah lain dalam penentuan nasib suatu kaum. Suasana hening di malam yang telah menyelimuti bumi dengan kegelapan, membuat kepiluan mendalam karena pada akhirnya, misi itu sepertinya akan kandas di tengah jalan.
“Roman,” panggil Mokoka memecah keheningan.
__ADS_1
Sang Presiden kembali menunjukkan dirinya dalam bentuk hologram. Mokoka menunjukkan sebuah raut yang tak biasa, senyuman.
“Aku percayakan Pipemo padamu, Presiden Roman. Temukan cara agar rakyatku bisa terlihat lagi usai perseteruanmu dengan Morlan usai. Aku doakan, agar misimu berhasil, Sandra. Aku rasa, aku akan menyusul para leluhurku. Ambil pedangmu, dan … bawa kepalaku.”
Praktis, mulut Sandra menganga dengan bola mata bergerak tak beraturan. Tangan Sandra bergetar. Ia malah menangis tersedu hingga roboh dan berlutut di atas tanah karena rasa sesak melemahkan tubuhnya.
Roman terlihat tak percaya jika pada akhirnya pemimpin kota Pipemo bersedia memberikan kepalanya dan mempercayakan kota kepada dirinya.
“Akan aku kirimkan seluruh WolfBot yang dimiliki Great Ruler untuk menjaga kotamu sampai perselisihanku dengan Morlan usai, Tuan Mokoka,” ucap Roman serius, dan Mokoka tersenyum dengan anggukan.
“Terima kasih, Presiden Roman. Begitu kepalaku terpenggal, tempat ini akan terlihat di seluruh pencitraan satelit negara musuh. Pastikan penduduk, flora dan fauna yang kulindungi selama ini selamat. Dan … izinkan mereka tinggal di Great Ruler. Aku … juga minta maaf, karena pernah menyusup bahkan tak terdeteksi oleh radar,” ucapnya berkesan menyindir. Roman terlihat terkejut karena hal yang tak diketahuinya itu. Mokoka meringis. “Aku … pernah melihat Distrik 9 karena menyelinap dengan kemampuan tak terlihatku ini. Tempat itu, sangat cocok untuk ditinggali flora dan fauna-ku. Aku tak menyangka jika cerita tentang Great Ruler benar adanya. Negaramu … bagai surga di dunia,” ucapnya dengan senyum terkembang. Roman membalasnya dengan senyum yang sama.
“Anda kumaafkan, Tuan Mokoka. Terima kasih atas pujiannya. Aku terima amanatmu, dan akan kutepati dengan segala kemampuan serta kewenangan yang kumiliki,” jawab Roman dengan anggukan tanda hormat.
Sandra mulai bisa mengendalikan perasaannya. Ia memukul dada berulang kali karena rasa sesak dan tekanan berat di pundaknya terasa sungguh menyiksa, lebih menyakitkan ketimbang latihan sulit yang diterima untuk menjadi seorang User.
Matteo mendekat dan ikut berlutut di hadapan Sandra. Ia menatap wanita cantik itu dengan wajah sendu seperti bisa merasakan beban yang dipikulnya.
Tiba-tiba saja, Matteo menghapus air mata di wajah Sandra dan memegang kedua pipinya lembut. Sandra terkejut dan mematung seketika saat merasakan bibirnya dicium oleh seseorang.
“Blue?” tanyanya dengan kening berkerut.
Matteo terlihat sedih, tetapi ia mengangguk. Ia kembali mencium bibir Sandra dan kali ini wanita berambut pirang itu membalas ciuman sang Jenderal dengan mata terpejam.
Seketika, ia melihat sosok Blue di hadapannya sedang memejamkan mata dengan penuh kasih.
“Wow, lihat!” seru Xili menunjuk layar saat sosok Matteo muncul dalam pikiran Sandra yang bercampur dengan kondisi alam liar robot level A berada.
“Jangan takut. Aku akan selalu di sampingmu,” ucap Matteo lirih, dan perlahan sosoknya menghilang dari pandangan Sandra.
“Blue?” panggil Sandra dengan tangan terulur.
Bayangan Blue sirna. Ia kembali ke tempat di mana robotnya kini berada. Sandra segera berdiri, meski terlihat bingung. Mokoka tersenyum melihatnya.
__ADS_1
“Blue? Kekasihmu?” tanyanya yang malah membuat Sandra tersipu malu. “Setidaknya, ada yang menunggumu pulang. Semoga berhasil, Sandra Salvarian. Cepatlah, aku rasa … musuhmu telah siap menantangmu di luar sana,” ucap Mokoka yang kepalanya kini bergerak dan berada di bawah seperti berlutut.
Sandra menarik napas dalam. Sinar dari pedang laser menyala terang menyilaukan pandangan.
Mokoka memejamkan mata terlihat siap. Dengan cepat, Sandra menebas kepala pemimpin kota Pipemo tersebut.
Tiba-tiba saja, tembok yang terbuat dari batang pohon itu berubah. Pelindung yang selama ini menutupi keberadaan Pipemo dari seluruh dunia terbuka.
Kota yang berbentuk seperti sebuah tempurung besar dengan jaring besi bagaikan sangkar agar makhluk hidup di dalamnya tak bisa keluar terlihat jelas, meski malam telah larut.
BIB!
“Selamat, Otka Oskova. Kau berhasil menyelesaikan misi level 8. Selanjutnya, kaubawa tiga kepala dari pemimpin kota Magenta, Cryzen, dan Pipemo menuju ke titik yang telah dipetakan. Estimasi perjalanan, setengah hari dengan berlari. Di titik tersebut, kau akan melakukan barter untuk mendapatkan Vemo kembali. Semoga berhasil,” ucap Rey dengan suara gembira, tetapi bagi Sandra seperti hinaan untuknya.
“Arrghhh!! Morlan! Kau akan menerima balasanku! Aku tak peduli jika kau ayah dari Blue atau Matteo! Aku juga tak peduli jika kau dulu berjasa terhadap Great Ruler! Aku juga tak peduli meski kau saudara kandung Presiden Roman! Kau akan kubunuh! Kubunuh!” teriaknya marah lalu mengambil kepala Mokoka dengan napas menderu.
Semua orang terkejut. Sandra membawa tiga kepala itu dan menjadikannya seperti tas punggung.
Ia meminta kepada dua WolfBot miliknya untuk melindungi tempat itu sampai nanti serigala robot kiriman Roman datang untuk melakukan perlindungan.
“Akan kuselesaikan misi ini sendirian,” ucapnya dengan napas memburu.
Robot level A berlari kencang menembus tanah tandus di kegelapan malam dengan amarah meliputi hatinya. Semua orang di pusat kendali terdiam.
Mereka bisa merasakan dendam dalam diri Sandra karena misi yang sangat mustahil untuk diselesaikan dari Morlan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️