
Di saat Sandra masih diliputi kesedihan, tiba-tiba saja panggilan dari Pusat Kendali Great Ruler muncul melalui papan pipih yang berfungsi sebagai jam tangan. Vemo terkejut dan melihat tampilan hologram itu saksama.
“Jangan khawatir, Sandra. Percayalah pada kami semua jika Great Ruler akan bisa bertahan. Kau fokuslah pada misimu. Kau tak bersalah apa pun, jadi … jangan buat misi ini menjadi beban untukmu,” ucap Matteo yang praktis membuat Sandra menghentikan tangisannya.
“Dan kau, Vemo,” panggil Matteo yang kini mengalihkan pandangannya pada pria yang memiliki barcode di wajah. Vemo menatap Matteo tajam. “Lindungi Sandra. Bantu dia selesaikan misi dan pulanglah ke Great Ruler dengan selamat. Aku bisa mengandalkamu, ‘kan?” tanya Matteo seraya menaikkan salah satu alis. Vemo terkekeh dengan anggukan. “Saranku. Pause selama tiga puluh menit selama kau melakukan perjalanan ke titik level 9. Kalian berdua bisa menunggangi WolfBot. Kalian bisa menghemat energi sampai ke misi berikutnya,” sambung Matteo dan dua orang itu mengangguk.
Sandra menguatkan kembali hati dan mentalnya. Ia menghapus air mata dan berdiri tegak. Tiga serigala itu berjalan mendekat.
“Kau bisa mengandalkanku, Otka. Ayo,” ajak Vemo mantap dan Sandra menyambut dengan jabat tangan.
Vemo dan Sandra menunggangi WolfBot. Sandra mengaktifkan mode pause untuk mengisi energi pada tubuh manusianya di simulator bersamaan dengan robot di lapangan yang mengisi baterai sebelum hari gelap.
Sebelum mode pause diaktifkan, Rey telah memberikan instruksi misi. Sandra di arahkan ke sebuah sungai yang dulu bernama Kherlen di Mongolia.
Sandra semakin yakin jika Baatar dan Russ-King bekerja sama, tetapi keterlibatan Baatar tak tercium oleh Great Ruler.
Lima tahun silam, Russ-King menginginkan kehancuran dari Great Ruler dan ingin menguasainya. Negara tersebut pernah datang menyerang, tetapi berhasil di gagalkan.
Serangan tersebut menewaskan Rey saat sang Captain berhasil membunuh mutan pertama dengan memenggal leher mutan serigala, tetapi kuku tajam mutan itu juga berhasil meremukkan kepala robot Rey sebelum hubungan syaraf terputus.
Rey tewas di ruang simulator setelah mengalami kerusakan otak karena pemutusan syaraf yang tiba-tiba.
Di pusat kendali simulator Sandra.
Sang Jenderal terlihat letih dan ia diminta untuk beristirahat oleh petugas medis. Namun kali ini, Matteo memilih untuk tetap berada di ruang pusat kendali dengan merebahkan diri di RC miliknya didampingi oleh Spectra, Purple dan Roboto.
Matteo tertidur lelap dalam hitungan detik setelah diberikan suntikan vitamin seperti Sandra agar kondisinya tetap prima saat terbangun dari tidurnya.
Ternyata, sebuah ingatan lama membuatnya bagaikan berada di alam mimpi. Ia mendengar suara Lala di kepalanya.
Ingatan itu adalah ketika ia melawan Derga pertama kali dengan Colosseum Blue sebagai dirinya.
Matteo melihat dirinya melangkah keluar dari sebuah pintu gerbang di mana tubuh manusianya berada di ruang simulator sebagai salah satu User pengendali robot level B generasi baru.
Matteo melihat semua penduduk Great Ruler bersorak untuknya memberikan dukungan. Ia juga melihat Wakil Presiden Lala mengenalkan dirinya kepada para penonton di Colosseum.
"B-One dikendalikan oleh Colosseum yang kini berada di ruang simulator bersama para tenaga ahli kita yang akan membantu mengoperasikannya," sambung Lala.
“Colosseum Blue …,” ucap Matteo lirih dalam tidurnya.
Beberapa petugas yang mendengar meliriknya sekilas, tetapi kembali mengerjakan tugas masing-masing.
Matteo melihat dua kubu saling berseberangan. Sang Ayah—Morlan—duduk bersama para ilmuwan dari Divisi Sains Biologi dengan tangan terborgol dan dijaga ketat oleh User robot level E bersenjata laser.
Hingga akhirnya, saat Lala mengenalkan musuh yang harus dilawan oleh B-One. Wajah semua para penonton baik di Colosseum ataupun di rumah, dibuat pucat ketika pintu besi terbuka.
Mutan tersebut tingginya dua kali dari Robot B-One. Orang-orang mulai menebak campuran spesies dari mutan tersebut.
__ADS_1
Kepala mutan itu seperti hiu. Memiliki dua tangan kecil berkuku tajam di perut, dua tangan menjuntai layaknya manusia sampai ke betis dengan kuku tajam, dan empat tangan dengan kuku berbentuk seperti kail pancing di punggung. Hewan itu bisa berdiri dengan dua kaki seperti manusia, tetapi berjinjit.
Mata Matteo melebar. Ia merasa rambut di permukaan kulit manusianya meremang, bergidik ngeri membayangkan jika itu adalah seorang manusia yang digabungkan dengan binatang. Sang Jenderal terlihat tegang dengan jantung berdebar kencang.
"Mulai!"
Lengkingan mematikan Derga membuat para penonton menutup telinga dengan kedua tangan. Matteo terkejut karena suara lengkingannya sampai menembus telinga robotnya.
B-One yang dikendalikan oleh Matteo, tetapi saat itu Colosseum Blue yang menggantikan tempatnya, belum memulai serangan. B-One dan mutan bernama Derga saling bertatapan tajam.
Keduanya berjalan mengitari arena seperti saling menilai satu sama lain. Hingga akhirnya, pertarungan sengit itu terjadi. Namun, Matteo menyadari kelebihan dari lawan mutannya itu.
"Gila! Mutan itu tak bisa mati!" pekik Matteo menganalisis dari hasil serangannya.
B-One terlihat mulai terdesak karena mutan tersebut sangat agresif dan terus-menerus menyerangnya. B-One mulai menunjukkan kebolehan dari kecanggihan persenjataan di baju tempurnya.
Matteo terlihat bersungguh-sungguh menjatuhkan Derga. Ternyata, ingatan itu membuat raganya seperti ikut merespon seperti ketika bertarung di Colosseum.
Semua orang yang berada di pusat kendali mulai mengamati gerak-gerik sang Jenderal yang tampak tegang seperti mengalami mimpi buruk di RC-nya.
Namun tiba-tiba, senyum Matteo terkembang saat ia masih tertidur di RC. Akan tetapi, selama ia memejamkan mata, sang Jenderal mengigau dan hal itu membuat orang-orang di sekitarnya tertarik.
Mereka malah mendatangi Matteo dan mengerubunginya. Orang-orang itu penasaran dengan gumanan sang Jenderal yang terdengar aneh.
Hingga akhirnya, kenangannya beralih saat Wakil Presiden Lala membacakan keputusan dari hasil persidangan dan pertarungan kala itu di Colosseum. Matteo masih sempat berbicara dengan sang ayah.
Sayangnya, Morlan tak berkata apa pun, dan hanya memandangi robot B-One yang berdiri tegap di hadapan dengan wajah tanpa ekspresi. Sang ayah terlihat tak peduli padanya, bahkan di saat terakhir, ketika mereka masih bisa berbicara.
“Dia … teringat akan kenangan bersama Morlan. Kasihan, Jenderal,” ucap Xili seperti mengetahui kepedihan hati Matteo yang masih memejamkan mata, tetapi pikirannya kembali ke masa lalu.
“Hei, kembalilah bekerja. Sebentar lagi Sandra kembali online,” ucap Wakil Presiden Lala tiba-tiba di balik kerumunan itu.
Semua petugas di pusat kendali terkejut dan bergegas duduk di kursi kerja masing-masing. Lala tersenyum tipis seraya mendekati keponakannya yang terlihat sedih dengan masa lalunya.
“Kau tak sendiri, Matteo sayang. Bibi telah berjanji pada Aurora untuk menjaga dan menyayangimu seperti anak kami sendiri,” ucap Lala sendu lalu meninggalkan kecupan manis di dahi sang Jenderal.
“Ibu?” panggil Matteo lirih seperti mengingau.
Lala terkejut dan malah berdiri di sampingnya menatap pria berambut cokelat berkilau itu tajam.
“Apa yang kau ingat tentang ibumu, Matteo? Katakan padaku,” tanya Lala seraya mengelus kepala Matteo lembut.
Siapa sangka, sentuhan itu membawa pikiran sang Jenderal ke masa saat sang ibu—Aurora Dimensia—masih hidup.
Hanya saja, kenangan yang kembali padanya ketika tragedi meninggalnya sang Ibu di depan matanya.
Matteo melihat sang Ayah—Morlan—bertengkar dengan sang ibu di rumahnya. Matteo ketakutan dan bersembunyi di balik dinding kaca ruang tamu.
“Kau meracuni pikiran anak kita, Aurora! Dia kini memiliki kepribadian ganda, dan itu tidak normal! Itu akan merusak mentalnya! Kau membuat anak kita bingung dengan dirinya sendiri!” ucap Morlan membentak dengan mata membeliak tajam ke arah sang isteri.
__ADS_1
“Kau menjadikan Matteo seperti seorang anak yang tak memiliki jiwa manusia, Morlan. Dia berhati dingin dan tak berperikemanusiaan. Dia menjadi pemuda yang angkuh, keras kepala, sombong, dan tak memiliki belas kasih! Bukan seperti itu jiwa seorang pemimpin yang dibutuhkan Great Ruler untuk menciptakan kedamaian di dunia yang telah rusak ini!”
“Oh!” pekik Matteo terperanjat saat melihat sang ayah menampar pipi ibunya hingga Aurora jatuh di lantai seraya memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
“Aku akan mempertahankan sifat Blue dalam diri Matteo! Aku tak mau anakku menjadi pria sepertimu yang hanya memikirkan kekuasaan, tapi melupakan orang-orang yang dikasihinya!” balas Aurora berteriak seraya berdiri dan memegangi pipinya yang lebam.
“Arrghh! Kau!” geram Morlan marah dengan mata melotot.
Matteo melihat sang ayah siap untuk memukul ibunya lagi. Jiwa Blue dalam diri Matteo bergerak. Ia berlari dengan kencang untuk menghentikan aksi kekerasan dari sang ayah.
Matteo mendorong ibunya ke belakang agar tak terkena tamparan Morlan, tetapi hal itu malah membuat Aurora terpeleset dan kepalanya terbentur ujung dari meja pajangan yang memiliki pinggiran tajam terbuat dari batu.
Seketika, mata Matteo terbelalak begitu pula Morlan. Sang ayah mematung ketika Matteo berlari mendatangi sang ibu yang tergeletak tak sadarkan diri dengan mata terbuka dan darah segar keluar dari belakang kepalanya.
“Mom? Mom! Mom!! Harrghhh!” teriak Matteo histeris saat mendapati sang ibu tewas karena perbuatan tak disengajanya.
“Matteo! Matteo!” panggil Lala mencoba membangunkan keponakannya yang mengalami mimpi buruk karena ia berteriak lantang hingga seluruh otot tubuh menegang dan wajahnya merah padam.
“Mom! Hah! Hah!” engahnya yang akhirnya mampu membuka mata dan kembali ke dunia nyata.
Semua petugas di ruangan itu kembali mendekat karena terkejut dengan teriakan sang Jenderal yang tiba-tiba saja menyebut ibunya. Lala terlihat panik dan memegangi wajah Matteo erat.
“Matteo … kau tak apa-apa?” tanya Lala sedih.
Matteo terlihat bingung dan napasnya tersengal, tetapi perlahan ia meneteskan air mata.
Lala langsung memeluk keponakannya erat karena Matteo menangis terlihat begitu sedih. Lala mengelus punggung Matteo lembut mencoba menenangkan hati dan pikiran keponakannya.
“Bibi … aku … aku yang membunuh ibu ... hiks, aku membunuhnya,” ucap Matteo yang mengejutkan semua orang yang mendengar.
Lala langsung melepaskan pelukannya dan menatap Matteo tajam yang berusaha menghentikan tangisannya hingga wajahnya berkerut. Lala memegangi kedua pipi Matteo erat terlihat sedih.
“Aku … aku selama ini berpikir ayahlah yang membunuh ibu, tapi ternyata aku, Bibi. Aku mendorongnya dan … hiks, ibu tewas karenaku. Aku hanya berusaha menjauhkan ibu agar tak dipukul ayah karena perdebatan mereka, tapi aku … aku … aku malah membuat ibu tewas,” ucap Matteo memejamkan matanya rapat.
Semua orang terdiam mendengar pengakuan sang Jenderal yang tak pernah diketahui oleh semua orang.
Penduduk Great Ruler selama ini mengira jika Aurora meninggal karena sakit, tetapi fakta sebenarnya telah terungkap dari bibir sang anak—Matteo Corza.
“No, Matteo. Itu … bukan salahmu. Yang kaulakukan untuk melindungi ibumu, tapi … kita tak pernah tahu hal buruk akan menimpanya. Ini … sudah kehendak Tuhan. Relakanlah, dan maafkanlah dirimu sendiri. Aurora pasti memahaminya karena … ia selalu memaafkan kesalahan orang-orang yang disayanginya,” ucap Lala menenangkan seraya mengelus lengan keponakannya lembut.
Matteo tak bisa menjawab dan terlihat berusaha keras untuk menghentikan tangisannya.
Semua orang ikut iba dengan penderitaan dan penyesalan sang Jenderal yang selama ini dipendamnya tanpa disadari, dan baru terungkap setelah dua puluh tahun lamanya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Kalau lele belom sempet balesin komen itu karena lele nguber deadline ya. Soalnya lele ada acara keluarga mulai minggu depan sampai awal tahun. Terima kasih❤️