
Hari itu, mobil jemputan dari Blue sudah menunggu Sandra di lobi Apartment. Diam-diam, Tony memperhatikan dari kejauhan gerak-gerik Sandra selama bekerja di Sentra Video Games.
Sandra terpaksa pergi ke kantor tanpa membawa gelang dari Eliz karena kawan karibnya itu mengatakan jika Tony yang akan menemaninya ke Distrik 1. Sandra menerima tawaran baik itu dengan senyum terkembang.
Selama mengerjakan pekerjaan dari daftar yang sudah disusun oleh Otka-asisten ruangan-pekerjaan Sandra lebih cepat rampung bahkan sebelum jam pulang.
PIP! PIP!
Sandra menoleh ke layar RC saat sebuah panggilan masuk. Otka menyambungkan panggilan itu, dan Sandra tersenyum ketika mendapati sosok yang muncul di sana.
"Bagaimana? Apakah dengan alat canggih itu wajahku jadi terlihat tampan dan berseri-seri?" tanya Tony dengan senyum terkembang.
Sandra terkekeh, ia mengangguk agar tak mengecewakan kakak dari sahabat karibnya itu.
"Ayo, sudah waktunya kau pulang. Kita harus ke Distrik 1," sambungnya mengingatkan.
"Oke," jawab Sandra dengan senyuman.
Tony ternyata sudah menunggu di pintu khusus karyawan, tapi kali ini tanpa seragam militer. Ia malah berdandan rapi dengan jas dan tercium aroma parfum maskulin saat Sandra mendapati sosoknya sedang sibuk menyisir rambut di jendela mobil.
"Kau sudah tampan, mau diapakan lagi?" sindir Sandra, tapi mengejutkan Tony karena kemunculannya yang tiba-tiba.
Tony terlihat gugup, dan Sandra malah terkekeh karena ekspresinya yang lucu.
"Aku harus memastikan jika aku tetap tampan. Bagaimana jika aku bertemu dengan gadis-gadis cantik di Distrik 1?" jawabnya berdalih. Sandra tersenyum.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan Sentra Video Games dengan mobil pribadi Tony.
Sedang di sisi lain, Blue mengawasi pergerakan Sandra dari kamera pengawas di luar gedung saat asistennya itu tak menggunakan fasilitas mobil otomatisnya.
"Tuan Blue, Anda diminta untuk pergi ke Gerbang Kermogal oleh Presiden Roman. Para penjaga sudah menunggu kedatangan Anda di sana," ucap Purple yang melayang di sampingnya.
Namun, Blue diam saja. Wajahnya terlihat masam seperti kesal akan sesuatu. Tiba-tiba, BIP! BIP!
Purple melihat jam tangan yang dikenakan oleh Blue menyala dengan suara peringatan yang cukup nyaring terdengar.
Purple melihat majikannya yang memasang wajah datar ketika menekan layar pada jam tangan di pergelangan tangan kirinya itu.
Seketika, CLEB! CESS ....
Blue memejamkan mata. Ia terlihat tegang saat sebuah jarum menusuk pergelangan tangan dari bawah layar jam tangannya.
Blue lalu menekan sisi kanan dan kiri pada bingkai jam tangan itu dengan ibu jari serta telunjuknya bersamaan.
Gelang emas seperti rantai indah yang menghiasi pergelangan tangannya masuk ke dalam kotak layar dari jam tangan dengan cepat.
__ADS_1
Layar jam tangan yang tadinya berwarna putih dengan cahaya terang, berubah menjadi berwarna biru. Persegi pipih itu masih menempel di pergelangan tangannya, dan angka digital muncul di sana layaknya sebuah jam tanpa gelang.
"Aku pergi," ucapnya berwajah dingin seraya beranjak dari sofa pijat.
Sebuah robot berwarna putih muncul dari lukisan yang terlihat nyata dengan gambar robot itu sendiri.
Purple diam saja ketika posisinya kini digantikan oleh robot yang memiliki kepala seperti sebuah helm bernama Spectra.
Robot itu mengikuti Blue yang berjalan dengan langkah tegap menuju ke sebuah lorong gelap dengan cahaya lampu menyilaukan sebagai penerang jalan.
Sebuah mobil otomatis berwarna hitam yang dikendarai oleh satu orang berbentuk seperti kapsul, melaju dengan cepat di dalam lorong panjang tersebut dengan Spectra melayang di bagasi belakang seperti bodyguard Tuannya.
Gerbang Kermogal, Distrik 5.
"Presiden. Matteo Corza hadir," ucap sebuah robot dengan bentuk seperti Purple hanya saja berwarna hitam mengkilat.
Para robot Level B yang berada di lokasi langsung menoleh saat mendapati sosok Matteo Corza datang dengan wajah dingin dan sorot mata tajam tak menutupi sosok manusianya.
"Matteo," panggil Presiden Roman di dalam robot Level B.
"Hallo, Paman," jawabnya tak memandang sang Presiden. Semua orang yang berada di ruang Simulasi saling melirik dalam diam.
"Robot itu harus segera ditingkatkan performanya. Blue hampir tewas karena robot itu masih aku anggap cacat. Aku tak mau memakainya," jawabnya ketus dan masih berdiri tegak di samping Roman, tapi matanya memindai sekitar. "Di mana kurungannya?"
Seorang robot level B menuntun Matteo masuk ke dalam lift yang sebelumnya digunakan oleh Akira dan timnya untuk menyelidiki gerbang tersebut.
Insiden kala itu, hanya menyisakan Akira seorang, sedang anggota tim lainnya tewas.
"Lalu di mana Akira?" tanyanya saat pintu lift terbuka di lantai tempat Akira menemukan kurungan berisi para mutan di balik dinding kaca yang kini sudah hancur dengan bekas cairan berwarna biru tua, hijau, dan cairan bening di lantai, serta goresan dari cakaran tajam yang disinyalir perbuatan para mutan saat mereka bertempur dengan para robot.
"Komandan Akira sedang menikmati cutinya selama 3 hari ke depan," jawab salah satu robot level B yang berjalan di sampingnya.
BRAKK!!
"Matteo!" teriak Roman saat keponakannya itu malah mendorong dada robot itu kuat hingga robot tesebut mundur selangkah.
"Cuti? Hah! Hahaha! Di saat seperti ini cuti? Tidak profesional dan bertanggungjawab!" teriaknya marah di depan robot tersebut.
"Lalu bagaimana denganmu? Kau ke mana saat kejadian penyerangan mutan pertama kali? Apa kau tak ingat, siapa yang harus pergi menggantikan tugasmu padahal ia seharusnya cuti bekerja selama satu minggu?" sahut Roman menyindir.
Dengan sigap, Matteo membalik tubuhnya dan kini menunjuk robot yang dipakai Roman tepat di wajahnya. Semua orang tegang seketika.
__ADS_1
"Matteo," panggil seorang wanita, dan praktis, pria bermanik biru tersebut menoleh ke arahnya. "Kenapa kau yang datang? Di mana Blue?" tanya Wakil Presiden Lala seraya berjalan perlahan mendekatinya tanpa menggunakan robot, meski banyak robot level B di sisinya.
Matteo menundukkan wajah begitupula pandangannya. Lala tersenyum lalu memeluk keponakannya itu dengan lembut. Matteo diam saja begitupula semua robot di sana.
"Kau terlihat sehat," ucapnya seraya memegang wajah pria itu yang masih tak menatapnya.
"Matteo, kemari," panggil Roman yang sudah berada di depan kaca yang pecah.
Matteo berjalan mendatangi Pamannya dan kini ikut berdiri di sampingnya. Mata Matteo menyipit saat melihat kurungan-kurangan itu berbentuk seperti sarang lebah yang terbuat dari baja.
Sayangnya, bagian atapnya seperti jaring sudah robek seperti di jebol paksa oleh mutan yang dikurung di dalam sana.
"Bagaimana bisa rusak?" tanya Matteo melirik robot yang dipakai Pamannya sekilas.
"Aliran listrik yang membatasi sekitar kurungan itu padam. Para mutan itu keluar dengan membobol baja tersebut hingga akhirnya mereka semua terlepas," jawab Roman menjelaskan.
"Padam? Ada yang sengaja mematikannya?" tanyanya lagi yang kini menuju ke tangga tempat kurungan tersebut berada.
"Ya. Kami sudah menemukan pelakunya. Dia salah satu petugas Lab yang menyamar sebagai penjaga dari robot Level D di luar gerbang. Namun, orang itu bunuh diri di dalam penjara saat kami akan menginterogasinya," jawab Roman mengikuti Matteo yang menuruni tangga dengan cepat dan kedua tangan di belakang pinggul.
Matteo kembali melangkahkan kakinya perlahan ketika melihat tempat para mutan di kurung dalam sebuah ruangan besar di dalam gua batu.
Ia melihat ada bangkai seekor mutan yang mati dalam keadaan berdiri dengan tubuh menempel di dinding kurungan, tertancap tiga buah pedang laser dengan tiga robot level B ikut tewas bersamanya.
Salah satu robot tertusuk kuku tajam dari serigala mutan yang menembus perutnya. Robot kedua tergeletak di lantai dengan kepala remuk karena diinjak makhluk tersebut, dan robot terakhir tewas dengan tubuh menggantung di salah satu tangan serigala mutan yang menusuk lehernya.
"Ada yang hilang dari tempat ini?" tanya Matteo sembari mengibaskan tangan di depan wajah karena bau busuk menyeruak di tempat itu.
"Ya. Semua formula dari serum mutan itu hilang. Ada yang mencurinya, dan kami yakin, ada penyusup ketika serangan terjadi," jawab Roman yang berhenti melangkah dan kini berdiri di belakang keponakannya. Matteo membalik tubuhnya dan menatap sang Presiden tajam. "Berita buruknya, robot C yang kami kirim untuk membuntuti ke mana perginya kelompok Morlan tewas, berikut User-nya. Morlan sepertinya tahu jika dibuntuti. Ia tahu kelemahan robot level C. Ia membunuhnya saat robot itu mulai melemah ketika kehabisan baterai dari cahaya matahari. Namun, kami tahu satu hal, serum itu dibawa oleh Morlan, dan kami yakin jika ia akan membuat mutan lagi untuk balas dendam kepada Great Ruler."
Sontak, mata Matteo melebar. Ia terlihat tegang dan serius seketika usai mendengar laporan dari sang Paman.
"Kini, aku bertanya padamu, Matteo. Apa yang akan kaulakukan?" tanya Lala yang ikut turun ke tempat kurungan dengan memakai masker yang menutup sebagian wajahnya dari hidung sampai ke dagu dengan lubang-lubang seperti penyaring di bagian depannya.
"Perkuat pertahanan. Upgrade semua robot dan ... rekrut User baru. Kita butuh banyak pasukan robot," tegasnya.
Roman dan Lala mengangguk setuju.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST (TurboSquid : Shutterstock) & Free Images App
Aduh lele pengen banget launch novel ini tapi belom dapat kabar dari MT. Sabar sabar~
__ADS_1