SIMULATION

SIMULATION
SIMULATION*


__ADS_3

Sandra mengikuti pria bermanik biru yang berjalan tegap dengan langkah cepat menuju ke sebuah ruangan dengan pintu yang hanya bisa dibuka dengan barcode khusus.


PIP!


"Selamat datang, Jenderal Matteo Corza. Silakan identifikasi tamu Anda," perintah asisten ruangan.


Matteo menggerakkan telunjuknya dan meminta Sandra untuk melakukan pemindaian pada barcode di lengannya. Sandra terlihat gugup. Ditambah, Matteo menatapnya lekat.


"Otka Oskova. Silakan masuk," ucap asisten ruangan.


"Thank you, Mola," sahut Matteo saat pintu ruangan tersebut terbuka untuk mereka berdua.


Seketika, mata Sandra melebar, saat melihat banyak pasang mata tertuju padanya. Ia berdiri kaku di depan pintu saat orang-orang berseragam militer dengan banyak lencana menatapnya tajam.


"Otka Oskova. Do you remember me?" tanya seorang wanita yang berjalan mendekat ke arahnya dengan langkah mantap.


"Yes, Mam! Wakil Presiden Lala," jawab Sandra dengan tubuh tegap, pandangan lurus ke depan, dan hormat.


"Jadi ... kau siap, dengan uji coba pertamamu sebagai User?" tanyanya menatap Sandra dari atas ke bawah.


"Yes, Mam!" jawabnya lantang, dan mendapat senyum kebanggan dari para pejabat militer di ruangan tersebut.


"Oke, relax saja. Tak perlu tegang. Ikut aku," ajak Wapres Lala, dan Sandra segera mengikuti di belakangnya.


Sandra tak berani melihat sekitar, di mana terdapat banyak orang di ruangan itu. Hingga ia mendapati sebuah ruangan luas dengan dinding kaca yang memiliki tampilan seperti layar komputer.


Tampak para petugas berdiri di depan gambar bergerak pada dinding kaca itu. Para petugas berseragam tersebut menggerakkan jemari mereka yang terbungkus sarung tangan dengan lampu menyala.


"Masuklah," pinta Lala ketika pintu kaca seperti dinding itu terbuka.


Sandra melangkah masuk terlihat gugup. Ia diminta berdiri pada sebuah altar berbentuk lingkaran besar.


Sandra mendongak dan mendapati sebuah lingkaran yang memiliki ukuran sama dengan lingkaran mengitari kakinya.


Empat orang petugas dengan seragam berwarna putih mendekat dengan empat buah robot asisten berwarna serupa, membawakan beberapa perlengkapan yang tak pernah Sandra jumpai.


Ada banyak lingkaran berwarna silver dengan bulatan kaca pipih seperti cangkang lampu di bagian atasnya, di letakkan pada sebuah koper khusus berlapis spons padat. Sandra diminta merentangkan kedua tangan dan kaki.


"Oh!" Wanita berambut pirang pendek itu terkejut, ketika pin-pin logam itu ditempelkan ke beberapa bagian tubuhnya dan melekat kuat di seragam yang ia kenakan.


"Hei. Fokus ke depan, jangan menoleh-noleh," ucap Lala menunjukkan telunjuk dan Sandra kembali meluruskan pandangan.


"Hah, amatir," cibir Matteo yang didengar oleh Sandra.


Kebencian dihati wanita itu kembali muncul. Bayang-bayang Blue sirna seketika, digantikan sosok Matteo yang kini menjadi incarannya.


Lala mengangguk ketika para petugas itu selesai melaksanakan tugasnya.

__ADS_1


"Oke. Rapatkan tubuh. Sikap siap sempurna," perintahnya.


Sandra dengan sigap melaksanakan perintah Lala. Sandra menatap Lala seksama ketika wanita yang memiliki aksen tegas itu memakaikan kacamata bening untuknya.


Sandra bisa melihat dengan jelas orang-orang di sekitarnya karena kacamata itu tembus pandang.


"Kau siap?" Sandra mengangguk mantap.


Lala lalu memberikan kode dengan anggukan kepala kepada operator yang berdiri di depan dinding kaca. Lala melangkah mundur, begitu pula Matteo yang melihat di dalam ruangan tersebut.


Seketika, DEM!


Sandra tersentak. Ruangan di sekitarnya gelap seketika. Sandra menoleh ke kanan dan ke kiri di mana orang-orang yang dilihatnya tadi menghilang dari pandangannya. Sandra bingung, ia tak tahu apa yang sedang terjadi.


PIP!



Mata Sandra melebar. Ia melihat sekelilingnya berubah menjadi pemandangan alam dengan rumput yang ditumbuhi bunga-bunga kecil.


Ada beberapa kayu rapuh tergeletak di beberapa tempat, termasuk bebatuan, awan yang bergerombol, dan pegunungan di kejauhan. Senyum Sandra terbit, tempat itu seakan nyata baginya.


"Oh, dingin," ucapnya langsung mendekap kedua lengannya ketika merasakan hembusan angin dingin menerpa tubuhnya, bahkan membuat matanya menyipit.


TING!


Sandara tertegun, ketika mendapati sosok hologram di depannya seperti sebuah robot. Sandra menatapnya lekat.


"Hai," jawabnya kikuk. "Wait. Apakah ... aku masih berada di dalam ruangan?" tanyanya seraya melihat sekitar di mana awan bergerak seakan ia berada di tempat tersebut.


"Ya. Ini adalah visual yang berhasil direkam oleh kamera satelit dan dibuat senyata mungkin seolah kau berada di tempat tersebut. Tempat ini berada di Distrik 9, berbatasan dengan Distrik 10," jawab Mola menjelaskan.


Sandra tampak kagum. Ia mengangguk paham.


"Lalu ... apa yang harus aku lakukan?" tanya Sandra gugup.


"Kau akan melakukan uji coba sebagai User robot pengintai, level C. Inilah tampilan robotmu," jawab Mola yang lalu menunjukkan di depan Sandra tampilan robotnya.



Sandra terlihat kagum, meski sebelumnya ia pernah melihat visual itu di perpustakaan Great Ruler.


Mola menjelaskan sistem persenjataan dari robot tersebut beserta fungsi, kelemahan dan kelebihannya, agar Sandra waspada di tiap pergerakannya.


"Oke, aku siap," jawab Sandra mantap setelah Mola menjelaskan dengan ilustrasi gerak kinerja robot tersebut.


"Baiklah. Ini misi pertamamu," ucap Mola yang dirinya kini menghilang dan di depan Sandra muncul sebuah papan misi yang harus ia kerjakan.

__ADS_1


"Kau akan menjadi mata-mata. Kau akan memasuki Gerbang Kermogal yang berada di Distrik 5, untuk mencari tahu aktifitas ilegal di tempat tersebut. Kumpulkan semua barang bukti yang akan kau masukkan dalam 'Box' lalu melakukan perekaman dari analisis temuanmu. Apa kau sudah mengerti?" tanya Mola menjelaskan misinya.


"Aku mengerti."


"Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan misi pertama adalah dua jam. Kau harus kembali ke Distrik 9 sebelum waktu habis."


"Aku siap," jawabnya mantap.


"Kau akan pergi menggunakan kereta cepat yang pernah kau naiki saat melakukan tour bersama Komandan Akira, lalu melakukan penerjunan untuk mendarat ke Distrik 5 menuju ke Gerbang Kermogal."


"Excuse me?"


"Misi dimulai dalam hitungan mundur."


Sandra panik seketika. Ia tak bisa membayangkan melakukan penerjunan dari atas langit dengan ketinggian 638 meter/2,093 feet dari permukaan tanah.


"5 ... 4 ... 3 ...."


"Oh my God!" pekik Sandra panik sembari mengibaskan jemarinya yang mendadak kaku seketika. Sandra menarik nafas dalam dan memejamkan matanya rapat untuk menguatkan mentalnya.


Saat ia membuka matanya, "And 1."


Sandra terkejut karena ia telah berada di dalam kereta cepat seorang diri. Sandra melihat kaca di depannya di mana wujudnya kini sudah menjadi robot level C.


Sandra kembali fokus dan berjalan menuju ke pintu yang terbuka di mana ia akan terjun dari sana.


Sandra melirik dari kejauhan, tak berani dekat-dekat dengan pintu yang bisa saja membuatnya tewas jika ceroboh dalam bertindak.


Ternyata, orang-orang yang melihat di ruang simulasi ikut tegang, tapi Matteo tersenyum sinis, menertawakan Sandra yang terlihat ragu dalam bertindak.


"Ya Tuhan, kenapa ini terasa begitu nyata?" ucapnya seraya memegangi dadanya karena jantungnya seakan meledak.


Matteo terkekeh, tapi tidak dengan pejabat tinggi lainnya. Matteo lalu menutup mulutnya rapat dengan pandangan kembali tertuju pada Sandra yang siap melompat karena penghitung waktu di jam tangan robotnya mulai memberikan aba-aba.


"Titik penerjunan telah terkunci. Dalam hitungan mundur, siap melompat," ucap Mola menginstruksikan.


"Oke, oke, aku bisa," ucap Sandra mengambil ancang-ancang di depan pintu yang telah terbuka lebar itu.


"10 ... 9 ... 8 ... 7 ...."


Sandra dan semua penonton tegang saat Mola melakukan hitung mundur sebelum penerjunan akan dilakukan.


"2 ... 1, jump!"


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : FREE IMAGES


yg komennya belom dibales sabar ya. lele lagi super rempong jadi baru dibacain komennya dulu😆 tengkiyuw. ini gak ada yg mau kasih recehan buat lele kah biar cemangat upnya😁


__ADS_2