
Praktis, mata Sandra melebar seketika. Ia terlihat kaget, begitupula sang Presiden.
"Aku ... aku hamil?" tanyanya seolah tak percaya.
"Ya, Wakil Presiden. Hasil pemindai mengatakan usia kehamilan Anda sudah memasuki 2 minggu. Sebaiknya, Anda jangan melakukan simulasi terlebih dahulu, Nyonya Sandra. Ini bisa membahayakan janin Anda meski saya sangat yakin jika Anda wanita tangguh," ucap tenaga medis wanita tersebut.
Praktis, Sandra menangis haru karena tak menyangka bisa hamil lagi. Sedang Matteo, malah terpaku seperti shock dengan kabar barusan.
"Jenderal? Eh, maksud saya ... Anda tak apa, Tuan Presiden?" tanya Xili karena Matteo mematung.
"Aku ... akan menjadi Ayah? Maksudku ... seperti ... Morlan ayahku?" tanya Matteo seperti orang bingung.
Orang-orang mengangguk dengan senyuman. Matteo hanya mengangguk pelan dan pergi menjauh dari kerumunan. Sandra dan Lala tampak bingung dengan sikap Matteo yang menjadi seperti orang linglung.
Sandra terlihat sedih karena Matteo seperti tak menginginkan kehamilannya. Lala segera berdiri dan menghampiri keponakannya yang bertolak pinggang dengan pandangan tertunduk.
"Kau tak senang? Ini kabar menggembirakan," tanya Lala menatap keponakannya saksama.
"Aku ... aku tak tahu yang harus kulakukan, Bibi. Maksudku ... perasaanku campur aduk. Seolah ada dua orang berbisik di telingaku. Yang satu merasakan kegembiraan hingga jantungku berdebar kencang, tapi bisikan lain mengatakan kecemasan karena negara kita sedang dalam ancaman. Bagaimana jika nanti ...," jawabnya seperti orang bingung.
"Matteo, hei," panggil Lala memegangi kedua lengan keponakannya karena sang Presiden malah mondar-mandir tampak gelisah. "Ini sebuah anugerah, Matteo. Harapan semua pasangan suami isteri adalah memiliki anak. Tuhan percaya padamu. Oleh karena itu, ia memberikan calon penerusmu. Itu berarti, kau telah pantas menjadi seorang ayah. Jadi, jangan kecewakan keajaiban itu. Ketakutanmu itu berlebihan. Hidupmu, hidup Sandra, dan anakmu kelak akan baik-baik saja. Kalian akan hidup bahagia bersama," ucap Lala menasehati seraya memegang pipi pria bermanik biru itu lekat.
Matteo menarik napas dalam dan mengangguk. Saat Matteo mulai tenang, ia terkejut karena Sandra sudah tak ada di ruang simulasi.
Lala ikut bingung karena wanita berambut pirang itu seperti meninggalkan ruangan tanpa sepengetahuannya.
"Di mana Sandra?" tanya Matteo mendekat.
Xili tak bisa menjawab dan malah menggaruk kepalanya. Lala menatap operator lainnya dan mereka meringis seraya menunjuk pintu keluar. Lala sepertinya paham dengan situasi canggung ini.
"Matteo. Pastikan negara Bintang tak membobol benteng kita. Ingat, isterimu sedang hamil dan kau harus melindunginya. Kau tahu apa yang harus kaulakukan bukan?" tanya Lala menyipitkan mata.
"Tentu saja, Bibi. Aku akan mengatasinya," jawabnya mantap.
Lala pamit dan segera pergi mencari keberadaan Sandra. Eco—asisten ruangan—menginformasikan jika Sandra keluar dari gedung dengan berjalan kaki.
Lala panik, karena semua orang telah dievakuasi ke dalam bunker agar tak terkena dampak dari serangan negara musuh yang sedang berusaha merebut Great Ruler untuk kedua kalinya.
Matteo dengan sigap memberikan komandonya. Vemo dengan cekatan membawa robot level A Sandra untuk dibawa kembali ke Great Ruler karena tak ingin hal buruk terjadi pada kawan semasa kecilnya itu.
Di sisi lain.
Sandra terlihat sedih seperti akan menangis saat ia terus melangkah dan tak menyadari jika dirinya telah tiba di bendungan Distrik 9.
Lala mengikuti Sandra dengan tergesa termasuk Sora yang dipanggil oleh mantan Wakil Presiden Great Ruler tersebut karena khawatir dengan kondisi mental wanita cantik tersebut.
"Sandra," panggil Lala terlihat letih hingga butir keringat muncul di dahinya. Sora juga tampak lelah karena harus berlari mengejar.
"Aku baik-baik saja," jawab Sandra menoleh sekilas dan kembali tertunduk.
Sora dan Lala saling berpandangan. Mereka seperti tahu yang dirasakan oleh Sandra karena sikap Matteo yang mungkin mengecewakannya.
"Begitulah suamimu, Sandra. Matteo sudah unik sejak aku menjadi kawannya semasa kuliah," ucap Sora tiba-tiba yang berdiri di sampingnya.
Sandra menarik napas dalam dan tetap diam seraya melihat genangan air luas di hadapannya.
"Blue dan Matteo sedang berdebat atas kehamilanmu, Sandra. Aku sebenarnya sedikit penasaran dengan hasil akhirnya. Matteo ... tak pernah dekat dengan anak kecil sebelumnya. Ia merasa anak kecil itu berisik dan perusak suasana. Sedang Blue, dia pria yang penuh kasih sayang. Oleh karena itu, Blue menciptakan Sentra Video Games karena ia suka bermain layaknya anak kecil sebagai hiburan. Sedang Matteo, menyukai hal-hal yang berbau ketegangan dan rumit seperti merakit senjata, membuat robot dan sejenisnya," ucap Lala seraya berjalan mendekat dan kini berdiri di samping wanita yang sedang bersedih hati itu.
"Kau yang lebih mengenal watak dari suamimu. Aku saja tak tahu jika Blue dan Matteo orang yang sama. Aku ikut dibohongi selama ini. Menyebalkan," gerutu Sora melirik Lala dan isteri dari Roman tersebut tampak kaku dalam bersikap. Sandra menahan senyum.
"Aku tahu kau kecewa dengan respon suamimu, tapi menurutku ... itu akan menjadi hal menarik ketika akhirnya Matteo menyadari jika bayi mungil yang lucu itu adalah calon penerusnya. Aku penasaran bagaimana cara Matteo mengatasi ketakutannya dengan si kecil. Jadi, kabulkan permintaanku, Sandra. Buat Matteo merasa pantas menjadi seorang ayah dengan kelahiran bayi kalian nanti," pinta Sora menatap Sandra penuh permohonan.
__ADS_1
Sandra ikut tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Lala dan Sora terlihat senang karena Sandra tak terlihat sedih lagi.
"Ya, kalian benar. Untuk itulah aku mencintai Blue dan Matteo dalam waktu yang bersamaan. Aku terkadang sering lupa jika ... suamiku itu memiliki dua kepribadian. Meskipun Matteo sudah meyakinkanku jika Blue telah menyatu dalam dirinya, tapi terkadang aku merasa ... jika dua sifat itu masih sering berselisih di dalam sana. Aku tak tahu apakah tingkah laku seperti itu bisa disembuhkan atau tidak, tapi ... dia pria pilihanku dan aku mencintainya," ucap Sandra dengan embusan napas panjang diakhir kalimat.
"Terima kasih, Sandra. Kau satu-satunya wanita yang bisa memahami tabiat Matteo. Aku sangat bersyukur Matteo bertemu wanita yang penuh pengertian sepertimu. Aku selalu mendoakan kebahagiaan dan keselamatan untuk kalian berdua," ucap Lala seraya meraih tangan kiri Sandra dan menggenggamnya.
Sora ikut meraih tangan kanan Sandra dan melakukan hal yang sama. Sandra menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan senyuman.
"Baiklah. Akan kubesarkan janin ini dan kuyakinkan Matteo, jika si kecil tak seburuk yang ia pikirkan," ucap Sandra dan diangguki oleh dua wanita yang kini menjadi sahabat karibnya.
Sedang di luar benteng Great Ruler. Serangan besar terjadi. Para warga telah dievakuasi dalam bunker di Distrik masing-masing.
Ternyata, dugaan Sandra dan Matteo benar. Orang-orang dari negara Bintang memanfaatkan kelemahan dari beberapa titik Great Ruler.
Beruntung, Morlan telah menceritakan celah dari Benteng Kermogal di Distrik 5 sehingga bisa ditanggulangi. Serangan kejutan diberikan oleh Laksamana Joe yang memimpin serangan.
"Mereka datang," bisik salah satu User robot level B yang telah bersiaga di balik celah tempat Morlan menyelinap keluar dari Great Ruler.
"Now!" seru Laksamana Joe yang melihat pergerakan dari beberapa kamera pengawas hasil pantauan SpiderBot pengintai dan menempel di dinding celah.
Seketika, BUZ!!
"Asap!" pekik salah satu anggota pasukan musuh ketika tiba-tiba muncul asap menyeruak di sekitar wilayah hingga membutakan pandangan.
Dengan sigap, para User robot level B menembakkan senapan laser mereka di balik asap.
Pandangan robot yang bisa menembus kepekatan udara membuat pasukan musuh tak mengetahui serangan tak terduga itu.
SHUW! SHUW! BRUK! BRUK!
Satu per satu, para manusia setengah mutan roboh terkena serangan tersebut, tapi tak membunuh mereka hanya melukai.
Segera, para User robot level B menggunakan pedang laser untuk melakukan penuntasan ketika lawan mereka lengah.
"ARGHH!"
Erangan kematian bersahut-sahutan hingga menggema di celah tersebut. Pasukan manusia setengah mutan kehilangan anggota tubuh mereka.
"Bakar mereka semua agar tubuh mutan itu tak tumbuh kembali!" serunya lantang.
WHOM!
"HARRGHH! HAGGG!"
Para manusia mutan berkobar dalam api yang membakar tubuh mereka. Para operator memejamkan mata melihat kekejaman tersebut karena para manusia itu tewas dengan mengenaskan meski bukan ini yang mereka kehendaki.
Ternyata, Sandra melihat aksi keji itu dan hati kecilnya menolak untuk melihat pembantaian kepada kaum yang menyerang negaranya.
"Stop! Stop!" seru Sandra yang wajahnya muncul di kaca helm robot User level B di Distrik 5. Para User menghentikan aksi mereka.
Semua mata kini terfokus pada wajah Sandra yang tampak tegang melihat eksekusi mati tersebut.
"Tunjukkan hologramku ke manusia mutan yang terluka itu," pinta Sandra menoleh ke arah Xili dan pemuda tersebut mengangguk. Matteo yang kini berada di Pusat Komando diam menyimak.
"Apa yang diinginkan negara Bintang hingga menyerang Great Ruler?" tanya Sandra yang wajahnya muncul di salah tangan User robot level B selaku Captain dalam bentuk hologram.
"Kalian bahkan memperluas wilayah dengan adanya Great Mazepita," ucap pria setengah mutan tersebut dengan napas tersengal karena sebagian tubuhnya terbakar dan hanya dia satu-satunya yang masih hidup.
"Apa kau tahu kenapa kami memperluas wilayah?" tanya Sandra menatap pria itu lekat. Lelaki itu menyipitkan mata tak menjawab.
"Itu karena kalian menolak untuk menerima para pengungsi. Kalian mengusirnya. Orang-orang itu datang pada kami karena hanya Great Ruler yang mau menampung para pengungsi," ucap Sandra tegas hingga napasnya memburu. Semua orang terdiam.
__ADS_1
Matteo memanfaatkan hal itu dengan menayangkan tampilan Sandra di semua hologram proyeksi para User bahkan WolfBot yang berada di luar benteng.
"Kalian pikir, Great Mazepita bisa menjadi wilayah layak huni tanpa perjuangan, ha? Butuh bertahun-tahun untuk menyuburkan tanah itu. Kami mengerahkan banyak sumber daya karena Great Ruler tak bisa menampung lebih banyak lagi para pengungsi. Kenapa kalian tak seperti kami dengan mengembalikan alam? Kenapa kalian malah datang untuk merusaknya? Jika yang kalian butuhkan adalah cara agar negara Bintang bisa makmur seperti Great Ruler, akan kami bantu, tapi tidak dengan cara bar-bar tak beretika seperti ini!" tegas Sandra melotot.
Para penyerang yang mendengar ucapan Sandra saat berhadapan dengan pasukan Great Ruler dan Great Mazepita langsung terdiam.
Alolo terlihat tetap waspada saat pintu Distrik 10 menuju ke dunia luar berhasil ditembus, dan juga terowongan yang dibuat oleh Gobi berhasil disusupi oleh pasukan negara Bintang di Distrik 8 kawasan tambang batu bara.
"Bullshit! Kalian tak akan datang menolong kami. Kalian menghina kesengsaraan kami!" jawab pria mutan itu memegangi lengannya yang telah putus dan tak tumbuh kembali karena terbakar.
"Apa buktinya jika kami mengolok penderitaan kalian? Bukti sebenarnya yang terekam dalam sejarah Great Ruler adalah, negara Bintang menyerang kami dan membunuh para penduduk yang berusaha hidup sejahtera di dalam sini. Kalian pikir, semua orang yang datang ke Great Ruler bisa hidup sejahtera tanpa berjuang, ha?!" tanyanya lantang.
Semua orang tampak tegang melihat wanita berambut pirang itu seperti meledakkan amarahnya.
"Lihat Distrik 10! Tempat itu menampung para pengungsi dan hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk ke dalamnya! Butuh waktu hingga tahunan agar lulus seleksi dan hal itu tidak mudah! Great Ruler membutuhkan para cendikiawan bukan untuk memperkaya negara, tapi keahlian mereka untuk mengembalikan keseimbangan dunia sebelum perang besar terjadi. Apa kalian tahu hal itu, ha?!" tanya Sandra melotot bersuara tinggi.
Para manusia mutan langsung terdiam seperti memikirkan ucapan wanita yang terlihat memiliki pengaruh besar di negara itu.
"Buktikan," ucap pria mutan terlihat pucat.
"Akan kubuktikan," jawab Sandra tegas dan memberikan kode pada operator di sampingnya untuk menunjukkan sesuatu.
Dengan sigap, Xili memproyeksikan sebuah tayangan dalam hologram ketika Sandra membuat sebuah rencana untuk mengunjungi negara musuh yang seharusnya akan ia lakukan dalam beberapa hari lagi.
"Negara Bintang yang kita ketahui adalah wilayah dengan kondisi terparah karena terkena imbas dari peperangan besar. Bangunan mereka rapuh dan tanah mereka terkontaminasi. Mereka hidup di bawah tanah. Mereka menyuling air dari hujan dan juga air laut yang dekat dengan daratan," ucap Sandra saat melakukan analisis wilayah dengan para pakar di bidangnya.
Semua orang di ruangan tersebut mengangguk membenarkan.
"Sayangnya, menurut informasi terakhir, ikan-ikan yang hidup di laut mereka sudah menipis karena tak adanya budidaya. Itu berarti, para warganya kelaparan. Tak terlihat adanya tanaman hijau sejauh satelit memantau entah itu dikamuflasekan atau tidak. Namun, setiap hari, ada beberapa orang keluar dari benteng untuk melakukan pemakaman di luar. Itu pertanda, setiap harinya, ada warga dari negara Bintang yang meninggal. Hal ini ... sangat disayangkan," ucap Sandra terlihat sedih.
Para penyerang dari negara Bintang terlihat sendu saat mereka menyadari jika Sandra memperjuangkan hidup mereka.
"Penduduk negara Bintang terperangkap dan tak bisa mengungsi ke wilayah lain karena diapit oleh negara Baatar. Bisa jadi mereka tak bisa menyeberang karena berpikir cacing Gobi masih melindungi wilayah gurun jika harus melintas. Lalu, ada Great Ruler yang menghadang mereka untuk bisa menyeberang ke wilayah Asia Tenggara. Mereka juga tak bisa melintasi Russ-King, Mega-US dan New-US," ucap Sandra memunggungi layar besar yang menunjukkan posisi sulit negara miskin tersebut.
"Jadi, menurut pendapatku, kita tunjukkan pada negara Bintang jika posisi kita bukan ancaman dan bukan penghalang, tapi kita sebagai jembatan bagi mereka untuk kembali hidup makmur. Kita manusia berakal dan memiliki kepedulian. Aku mengajukan diriku untuk pergi ke negara Bintang sebagai pilihan pertamaku sebagai misi kemanusiaan."
"Siapa namamu?" tanya pria setengah mutan yang sudah tak terlihat marah karena merasa dibohongi.
"Sandra Salvarian."
"Kau sungguh ingin menolong kami? Agar kami bisa hidup makmur seperti Great Ruler?" tanya pria itu menatap sosok hologram Sandra penuh harap.
"Ya. Pegang janjiku. Aku sedang mengandung dan aku bersumpah atas nama janinku, aku tak akan berhenti berusaha sampai negara Bintang mendapatkan kesejahteraan."
Tentu saja, mata semua orang dari pihak Great Ruler dan Mazepita tertegun. Sebuah janji yang beresiko bahkan melibatkan calon anak yang masih berkembang di rahimnya.
"Turunkan senjata kalian. Mari bicarakan hal ini baik-baik. Silakan, kami menyambut kalian sebagai tamu jika negara Bintang bersedia melakukan gencatan senjata," pinta Sandra tegas.
Semua orang tampak tegang dan serius. Tiba-tiba, seorang pria muncul dari balik celah Gerbang Kermogal di mana ia satu-satunya manusia tak berwujud mutan.
Para manusia mutan terlihat menunjukkan hormat kepada pria tua itu saat sosoknya tampak di hologram karena tertangkap kamera SpiderBot.
"Aku Benyamin pemimpin negara Bintang. Aku pegang janjimu atas nama janin yang kau kandung, Sandra Salvarian. Aku terima tawaranmu,dan negara Bintang bersedia melakukan gencatan senjata," ucapnya berdiri di samping pria setengah mutan yang membungkukkan tubuh sebagai tanda hormat.
"Terima kasih, Tuan Benyamin. Para User robot level B Great Ruler akan mengantarkan Anda ke ruang pertemuan. Silakan pasukan Anda untuk diistirahatkan. Kami mempersilakan mereka untuk singgah di Great Mazepita agar kalian semua bisa melihat sejarah dari tempat itu sebelum menjadi subur seperti sekarang. Silakan," ucap Sandra sopan dan diangguki oleh pria tua itu.
Pemimpin tersebut mengucapkan sebuah bahasa yang tak Sandra kenali, tapi dimengerti oleh Roman dan Morlan.
Sandra diam seraya melirik Imo yang sedang menerjemahkan. Ternyata, pemimpin negara Bintang berasal dari Indonesia. Sandra mengangguk paham dan tetep diam.
***
__ADS_1
wuah puanjang nih epsnya😍