
Pesta pernikahan berikutnya di Distrik 8. Tempat ini juga memiliki kenangan indah bagi Sandra Salvarian yang bekerja sebagai pekerja batu bara.
Tentu saja, para pekerja fisik yang tinggal di sekitar Distrik tersebut merasa dijamu bak tamu istimewa karena kemewahan pesta dan hidangan yang disajikan oleh pihak penyelenggara dengan dekorasi kombinasi warna putih, biru, dan ungu.
Sandra mengenakan gaun berwarna ungu yang membuatnya terlihat menawan saat menjamu para tamu.
Gaun yang dikenakannya kali ini sedikit berbeda. Ia merasa seperti berada dalam gumpalan awan karena bentuk yang unik.
Tentu saja, orang-orang mulai menerka banyaknya biaya yang dikeluarkan oleh sang Jenderal dalam pesta yang diselenggarakan selama 10 hari meliputi dekorasi, makanan, pakaian pengantin dan jumlah tamu undangan hingga ribuan orang.
Namun, Matteo enggan membeberkan hal itu termasuk para panitia penyelenggara meliputi Sora.
Di balik rasa penasaran yang tinggi, Matteo merupakan pria yang beruntung karena disayang oleh paman, bibi dan ayahnya.
Ia mendapatkan banyak bantuan materi untuk mewujudkan pesta pernikahan sebagai bentuk kasih sayang tiga orang itu.
"Terima kasih, Bibi. Meskipun banyak orang mengatakan kau pelit, tapi aku tahu maksud dan tujuanmu baik. Kau menyimpan uang hasil kerja kerasku dalam menciptakan robot bersama paman Roman selama 20 tahun lamanya. Jika tidak, mungkin aku tak bisa membiayai pernikahanku ini," ucap Matteo saat mengajak Lala berdansa dengannya.
"Berterima kasihlah pada ayahmu, Matteo. Saat ia akan diusir, Morlan menemuiku secara pribadi. Ia mengatakan rahasia tentang brankas kekayaan miliknya dan Aurora yang disimpan oleh Bank Negara. Dia memberitahuku password-nya. Ayahmu mengatakan jika dia melimpahkan semua kekayaan miliknya dan ibumu hanya untukmu. Aku membawa surat wasiat itu ke Dewan Bank dan ternyata, nominal yang tersimpan tak main-main. Siapa sangka, Morlan dan Aurora menabung cukup banyak selama hidup di Great Ruler hanya untukmu," jawab Lala yang membuat Matteo terkejut karena baru mengetahui hal tersebut.
"Sungguh?"
Lala mengangguk. "Temui ayahmu," pinta Lala seraya melepaskan dekapan Matteo di tangannya.
Matteo melihat sang ayah sedang duduk sendirian menikmati jamuan makan. Mata pria bermanik biru itu hanya terfokus pada sosok Morlan yang kini menjadi setengah mutan. Sandra yang menyadari jika ada suatu hal terjadi, menghampiri Lala.
"Ayah," panggil Matteo yang kini berdiri di hadapan mantan Presiden Great Ruler yang sedang menikmati pudding Otka.
"Kenapa wajahmu jadi jelek begitu?" tanya Morlan santai.
Matteo tersenyum tipis. "Kau menghabiskan banyak uang untuk pesta pernikahanku," jawabnya sendu.
"Kau yang menghabiskannya, bukan aku. Hidupmu tak berubah, boros. Kau harus mengembalikan angka-angka itu. Jangan lupa," jawabnya berwajah dingin.
Matteo tertegun, tapi akhirnya mengangguk dengan senyuman, begitupula Morlan yang ikut tersenyum tipis.
"Wakil Presiden," panggil Sandra sungkan.
"Panggil saja, Bibi Lala. Tak usah terlalu formal. Sebentar lagi aku juga tak menjabat. Semua tugas itu akan menjadi tanggungjawabmu," jawabnya melirik dan Sandra mengangguk dengan senyuman.
__ADS_1
"Aku ingin kau menceritakan kisahmu saat menjadi User melalui jalur pekerja tambang. Aku rasa, itu bisa memotivasi semua orang. Jika aku terus yang bercerita, akan membosankan," pinta Sandra.
Lala tersenyum dengan anggukan. Sandra terlihat senang saat Lala bersedia untuk bercerita.
Roman, Morlan dan Matteo terkejut karena bukan Sandra yang berpidato melainkan Lala. Para tamu menatap Wakil Presiden mereka dengan serius.
"Baiklah. Sebelumnya, terima kasih atas kedatangan kalian untuk memeriahkan pesta keponakanku Matteo Corza dan User pertama robot level A kita, Sandra Salvarian. Terima kasih," ucap Lala yang disambut dengan tepuk tangan meriah para tamu undangan.
Sandra ikut bertepuk tangan dan tetap berdiri di samping Lala menemaninya.
"Aku dipaksa oleh Sandra untuk menceritakan kisahku menjadi seorang User," ucapnya malas, tapi membuat semua orang terkekeh.
Kini, tiga pria itu mengerti kenapa Lala bisa berada di atas panggung.
"Sampai sekarang, kisah itu cukup menjadi rahasia. Aku rasa, sudah waktunya aku berbagi pengalamanku. Ilmu yang bermanfaat adalah kisah yang berharga dan sulit dilupakan karena diterapkan oleh beberapa orang yang ingin mengikuti jejak itu. Aku harap, pengalamanku dulu bisa menjadi inspirasi dan motivasi kalian yang ingin menjadi User non-akademik," ucap Lala dan diangguki semua orang.
Setiap pidato yang direkam oleh kamera drone, selalu ditayangkan ke seluruh televisi Distrik di Great Ruler dan Great Mazepita agar para warga ikut menjadi saksi momen bersejarah itu.
Pidato yang diberikan pun beragam sehingga orang-orang selalu terkesan. Sandra atau pun Matteo tak pernah membawa kertas. Setiap ucapan yang disampaikan seperti dilakukan secara spontan.
Semua terdengar jujur tak direkasa. Hal itulah yang membuat para tamu dan penonton merasa tersanjung karena sepasang pengantin tersebut membuktikan jika mereka memang cerdas dan pintar dalam bercakap.
Terlihat, Lala sedikit gugup. Orang-orang memaklumi dan menunggu dengan sabar menanti kisah sang Ibu Negara.
"Namun, aku nekat. Aku terpaksa berbohong saat mendaftar sebagai pekerja tambang. Aku mencari banyak referensi agar bisa menjadi seorang User tanpa harus melalui jalur akademik. Tanpa masuk sekolah militer dan pada akhirnya menjadi User. Tuhan seperti mendengar doaku. Saat itu, banyak prajurit tewas setelah negara kita diserang oleh negara Bintang dari Eropa. Militer membutuhkan banyak tentara. Saat itu, kandidat wanita masuk dalam ketegori, tapi melalui seleksi ketat," imbuhnya.
Orang-orang yang hidup dalam masa ketakutan itu mengangguk membenarkan.
"Saat itu, aku berasumsi jika mendapatkan sertifikat kelayakan kerja, benda itu bisa membawaku untuk lolos seleksi fisik. Militer membutuhkan User untuk mengoperasikan robot level E. Robot level C masih dikembangkan. Oleh karena itu, fisik yang diutamakan. Aku memilih menjadi pekerja tambang untuk menguatkan fisikku dengan mengambil bagian pekerjaan berat seperti yang Sandra lakukan," ucapnya.
Orang-orang yang baru mengetahui kisah itu mengangguk pelan, termasuk Sandra. Secara tak langsung, cara yang diambilnya serupa dengan sang Wakil Presiden.
"Lima bulan, aku bekerja keras. Usahaku berhasil membentuk otot tubuhku. Aku juga mengatur pola makanku. Aku mencari referensi dari perpustakaan tentang cara jitu agar fisikku kuat dan aku menerapkannya. Tiap akhir minggu, aku melanjutkan latihan fisikku dengan berenang, berlari dan belajar ilmu bela diri dari video simulasi. Siapa sangka, usahaku membuahkan hasil," ucapnya mulai menunjukkan senyuman.
Roman terlihat bangga dengan kisah masa muda sang isteri. Matteo dan Morlan melirik Roman yang mengembangkan senyuman.
"Namun, ada satu orang yang membantuku meraih kesuksesan. Bisa tebak siapa?" tanya Lala.
"Apakah Presiden Roman?" tanya salah seorang warga, tapi Lala menggeleng. Semua orang terkejut.
"Orang itu adalah Aurora Dimensia. Seperti mengulang takdir, saat aku mendengar kisah Sandra dan Otka yang bertemu di Perpustakaan, hal itu juga terjadi padaku dan Aurora. Kami bertemu di sana. Ia dulu kutu buku. Berkacamata, lemah, tapi jenius. Ia menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk menggambar menggunakan kertas dan pensil merancang sebuah bangunan. Aku terkesan dengan karyanya. Dari situlah, kami berteman akrab. Kami bertemu setiap satu minggu sekali di Perpustakaan," ucapnya yang membuat semua orang terpaku mendengar kisahnya termasuk Sandra.
Morlan terdiam seperti terkenang dengan kisah hidup mendiang isterinya. Matteo menepuk pundak sang Ayah dan Morlan membalasnya dengan senyuman tipis.
__ADS_1
"Aku mendapatkan informasi tentang perekrutan dari dirinya saat Aurora menceritakan tentang latar belakangnya. Siapa yang menduga? Gadis culun itu merupakan salah satu remaja jenius di Great Ruler. Aurora mengatakan ia direkrut saat memenangkan kontes Design Arsitektur Terbaik di Great Ruler dan mendapatkan posisi di Pemerintahan saat umur 15 tahun. Sangat hebat, di usia muda, ia sudah masuk dalam lingkup cendikiawan. Ternyata, Aurora memiliki kenalan orang militer dan berhasil mencari informasi tentang tes menjadi User non-akademik. Ternyata, apa yang kupelajari akan diikutkan dalam tes tersebut. Aku sangat berterima kasih dan berjanji akan berusaha keras agar bisa lolos seleksi," sambungnya. Semua orang makin serius mendengarkan.
"Dan begitulah, setelah 6 bulan, aku mendapatkan sertifikat kelayakan kerja. Aku menggunakan sertifikat itu untuk ikut seleksi. Namun, tak mudah untuk melewati tiap tes. Aku juga mengikuti lima tes seperti yang harus dilewati oleh semua calon User," ucapnya menegaskan.
"Hanya saja, saat aku sudah dinyatakan lulus seleksi, orang tuaku datang dan menolak kelulusanku. Jujur, hal itu sangat mengecewakanku. Seakan-akan ... perjuanganku sia-sia. Saat itu, aku begitu sedih dan terpuruk. Semua orang sangat menyayangkan keputusan orang tuaku yang menolak keras keikutsertaanku dalam militer. Namun, sebuah keajaiban terjadi," ucapnya terlihat sedih.
Jantung semua orang berdebar seakan ikut meraskan kepiluan hati wanita yang sedang berbicara dihadapan ratusan tamu undangan.
"Ternyata, Aurora selalu mengawasi tanpa sepengetahuanku. Ia tiba-tiba muncul dan berbicara dengan kedua orang tuaku. Aku begitu terharu dan terkejut akan semua cerita yang ia ungkapkan dihadapan ayah ibuku. Dia begitu fasih berbicara, penuh keyakinan dalam setiap katanya seolah ia adalah aku. Ia mengatakan hal-hal yang tak bisa aku katakan karena takut menyakiti hati orang tuaku, tapi ... Aurora bisa menyampaikannya dengan baik," ucap Lala meneteskan air mata haru.
Morlan terlihat begitu tersentuh saat ia mengetahui jika mendiang isterinya berperan sangat banyak dalam kehidupan seseorang. Morlan tertunduk sedih.
"Aurora meyakinkan kedua orang tuaku jika aku sangat mampu dan layak menjadi seorang prajurit meski aku seorang wanita. Ia menceritakan perjuanganku untuk bisa menjadi seorang User. Siapa sangka, aku seperti Sandra. Aku satu-satunya kandidat wanita yang lolos kala itu untuk menjadi User level E. Berkat keteguhan hati, aku berhasil. Hingga akhirnya, aku menjadi User robot level E. Orang tuaku kagum dengan usaha kerasku meski caraku nekat dan tak mendapat restu awalnya. Namun, melihat kesungguhan dan kebulatan tekadku, mereka akhirnya mendukungku," ucapnya dengan senyuman.
Semua orang bertepuk tangan karena Wakil Presiden mereka tak pantang menyerah demi mewujudkan mimpinya. Mereka juga menaruh pujian pada Aurora karena sifatnya yang penyayang.
"Aku memberikan banyak masukan tentang perekrutan non-akademik kepada Divisi Perekrutan User. Ternyata, saranku diterima. Oleh karena itu, aku berpikir saat Sandra bekerja di pertambangan, ia ingin mengikuti jejakku, tapi ternyata ia tak tahu apa pun tentang kisahku. Menyedihkan," ucapnya mengeluh.
Semua orang terkekeh. Sandra tertunduk terlihat malu karena hal itu benar adanya. Ia baru mengetahui hal tersebut saat diceritakan oleh kawan-kawan wanita di pertambangan.
"Jadi ... jangan pernah menyerah. Great Ruler akan selalu mendukung kegiatan positif dan membantu mewujudkan mimpi kalian. Dunia sudah rusak dengan keegoisan manusia. Kita jangan memperburuk keadaan itu. Banyak negara lain yang iri dengan kemakmuran dan keharmonisan kita karena jiwa-jiwa mereka masih terselimuti ketamakan. Sedang kita, tidak demikian. Oleh karena itu, berjuanglah dan raihlah mimpimu. Hidup Great Ruler!" seru Lala lantang mengepalkan tangan kanan di depan dadanya.
"Hidup Great Ruler!" seru semua orang baik di Ballroom atau pun di rumah.
"Hidup Great Mazepita!"
"Hidup Great Mazepita!" seru para warga yang telah bermukim di sana.
Lala tersenyum seraya membungkuk. Ia melambaikan tangan tanda terima kasih sembari turun dari panggung ditemani Sandra.
"Siapa sangka kita memiliki banyak kesamaan, Bibi Lala," ucap Sandra yang berjalan di sampingnya.
"Ya. Seperti mengulang takdir, tapi ... kau lebih baik dariku. Perjuanganmu lebih berat ketimbang hidupku. Aku ... iri padamu. Aku tak menyangka ada wania setangguh dirimu hidup di Great Ruler. Teruslah menjadi kebanggaan negara kita, Sandra Salvarian," ucap Lala seraya mengelus pipi Sandra lembut dengan telapak tangannya.
Sandra tersenyum dengan anggukan. Dua wanita cantik itu saling berpelukan terlihat saling menyayangi.
Roman, Morlan dan Matteo terlihat kagum dengan dua wanita kebanggan Great Ruler tersebut.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1