SIMULATION

SIMULATION
NEXT LEVEL*


__ADS_3


PIP!


“Selamat datang, Jenderal Matteo,” sapa Eco.


Matteo mengangguk di mana semua orang sudah kembali berkumpul untuk menyaksikan proses simulasi yang sedang dilakukan oleh Otka Oskova.


Kali ini Matteo didampingi oleh dua robot lainnya, Purple dan Roboto. Purple adalah robot asisten milik Colosseum Blue dan Roboto adalah robot pendamping yang bertugas di Distrik 2 Sentra Video Games di mana Sandra dulu pernah melakukan simulasi pelatihan di sana sebagai salah satu cara agar bisa menjadi User.


Terlihat, Sandra sudah tak menggunakan peralatan medis di tubuhnya. Wanita itu tampak bugar dan siap untuk mengulang level di mana ia gagal sebelumnya.


“Mola. Bisa jelaskan padaku? Kenapa ini seperti dejavu untukku? Bukankah … aku sudah berada di level ini sebelumnya?” tanya Sandra bingung.


“Ya, kau benar, Otka. Hanya saja, simulasi akan mengulang tiap level yang gagal kau selesaikan hingga kau berhasil. Hanya saja, pembaharuan sistem telah terjadi. Kau tak bisa kembali ke dunia nyata dan terperangkap dalam simulasi sampai kau berhasil mencapai level akhir mengalahkan Bos,” jawab Mola menjelaskan.


“What? Aku terperangkap? Bos? Kenapa tak ada informasi tentang hal itu saat di awal?” tanyanya melotot dengan sebuah kacamata fiber terpasang di matanya.


“Seperti yang kukatakan. Ini pembaharuan. Keberhasilanmu akan menentukan semua User yang ikut terperangkap dalam sistem.”


Praktis, mata Sandra melebar. “Apa yang kau katakan? Detail,” pinta Sandra serius.


Mola menunjukkan visual di mana para User terkena hypersleep di ruangan tempat mereka melakukan simulasi.


Sandra terkejut saat mendapati Akira dan Ego juga terkena dampak. Sandra mengepalkan kedua tangan dengan mata terpejam rapat, ia terlihat marah.


“Benar-benar. Siapa yang melakukan pembaharuan?” tanyanya melotot tajam ke arah Mola.


“Data yang masuk diinputkan oleh Captain Tony. Data tak bisa diperbaharui sampai proses simulasi selesai. Jika ditemukan kesengajaan mengubah kode, semua sistem syaraf yang terhubung dengan User akan terputus. User akan mengalami kerusakan otak dan meninggal dalam simulasi.”


Sontak, ucapan  Mola mengejutkan semua orang. Sandra duduk dengan lemas. Ia tak tahu jika hal tersebut akan berimbas kepada nyawa semua orang. Lala, para pejabat tinggi dan para operator pucat seketika. Mereka terlihat bingung dalam bertindak.


“Hah! Jadi … satu-satunya cara, dengan melewati semua level. Begitu ‘kan?” tanya Sandra berwajah kesal.


“Ya. Kau benar, Otka. Dan ingat, robotmu yang berada di lapangan tak boleh sampai hancur atau kau akan tewas.”


Sandra memejamkan mata seraya menarik napas dalam. Semua orang tahu jika ia tertekan dengan hal ini. Orang-orang menatap Sandra saksama.


“Oke. Aku siap. Mengulang misi,” perintahnya mantap.


“Perintah diterima. Pengulangan level dimulai. Dalam hitungan mundur. 10 … 9 … 8 … 7 … 6 … 5 … 4 … 3 … 2 … 1, go!” seru Mola.


Sandra melangkahkan kaki dengan mantap di ruang simulasi. Seluruh tubuhnya telah terpasang pin-pin yang terbuat dari logam dan melekat kuat di pakaian khususnya.


Lantai yang dibuat seperti alas pada mesin treadmill membuatnya tetap berjalan di tempat, sedang robot yang berada di lapangan, benda itu telah melangkah jauh di medan sebenarnya.


“Apakah sudah dikirimkan robot pelindung agar robot Sandra tidak hancur?” tanya Matteo ke petugas operator, di mana sang Jenderal kini memanggil Otka dengan nama asli User.


“Sudah, Jenderal. Hanya saja, robot yang berhasil dikirimkan adalah WolfBot. Mereka sudah dalam perjalanan. Semoga empat serigala kita bisa tiba tepat waktu,” jawab operator yang memiliki wajah tirus dan rambut berwarna cokelat—Rhyz.

__ADS_1


“Bagus. Terus awasi pergerakan mereka. Jangan sampai para serigala robot itu dihalangi atau dihancurkan oleh negara musuh. Kita harus berhati-hati,” jawab Matteo terlihat tegang.


Semua orang terfokus pada pergerakan robot level A di lapangan. Tony kembali ditugaskan untuk melakukan persiapan dengan segala jenis serangan dari mutan yang bisa datang kapan saja.


Roman tak ingin ambil resiko dengan mengirimkan robot level E keluar Great Ruler karena khawatir jika hal ini adalah jebakan dari saudara kembarnya—Morlan.


“Mola, identifikasi pergerakan musuh di sekitar kawasan. Aku ingat betul jika di tempat ini, para serigala mutan itu muncul,” perintah Sandra dan terlihat waspada. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat situasi sekitar.


“Gila! Morlan merencanakan semua ini. Namun, ada yang aneh,” ucap Sekretaris Negara—Sora—yang memiliki rambut toska.


“Apa maksudmu?” sahut Lala menoleh ke arah wanita cantik yang menggulung rambutnya ke atas.


“Ya. Sepertinya Morlan sudah mempersiapkan semua rintangan pada tiap level. Aku melihat, saat Otka memasuki level 1 sampai dengan 3, semua masih dalam prosedur dan kendali Great Ruler. Musuh yang dilawan Otka adalah robot-robot buatan kita, tak ada mutan di sana. Selain itu, kawasan yang dimasuki masih dalam wilayah Great Ruler. Namun, saat Otka masuk ke level 4, tiba-tiba saja musuh datang dan mereka adalah mutan ciptaan Morlan. Otka diculik oleh burung yang menculik Vemo saat itu dan membawanya keluar dari kawasan Great Ruler. Di level 4, Otka berhasil membunuh burung itu, tapi membuatnya di luar jangkauan kita. Ini semua, sudah dipersiapkan. Entah apa maksud Morlan, tapi Otka seperti kelinci percobaan baginya,” jawab Sora menjelaskan dengan antusias.


Praktis, semua orang langsung saling memandang.


“Ya, kau benar, Sora. Otka sekarang berada di luar wilayah Great Ruler. Nyawanya terancam. Ditambah, kita tak tahu musuh seperti apa yang akan datang melawannya. Ini sudah di luar kendali kita,” sahut Laksamana Joe.


“Seperti pergerakan yang Otka lihat ketika ia berada di langit karena ulah burung mutan itu. Terlihat jelas pergerakan para mutan menuju ke Great Ruler. Divisi Peramalan memperkirakan para mutan itu akan tiba besok. Namun aku yakin, jika mereka baru gelombang pertama. Pasti ada lagi pasukan mutan yang datang sebagai penyerang gelombang kedua dan seterusnya, entah berapa banyak, sampai Great Ruler berhasil direbut oleh Morlan,” sahut Colonel Brego—pria bertubuh sedikit gemuk berumur sekitar lima puluh lima tahun dengan kumis dan jambang berwarna merah—terlihat geram.


“Para User terkena hypersleep. Morlan merencanakan hal ini sangat matang sejak ia diasingkan. Ia tahu seluk-beluk Great Ruler karena ia dulu salah satu presiden kita. Ia datang untuk membalas dendam akan pengusirannya kala itu,” sahut Mayor Petroska—Walikota Distrik 9 yakin.


“Hanya ada satu cara untuk menghentikan kegilaan ayahku,” sahut Matteo tiba-tiba menghadapkan tubuhnya ke para pejabat tinggi pemerintah. Semua orang menatapnya tajam.


“Kita lakukan cara kuno seperti dulu. Bertarung sebagai prajurit tanpa simulator. Persenjataan kita sangat mampu untuk melawan para mutan itu. Demi Great Ruler, kita harus berjuang!” ucapnya lantang.


Petroska, dan Matteo mengangguk mantap.


“Aku akan meminta seluruh warga untuk masuk ke tempat pengungsian sampai pertempuran dinyatakan usai,” sambung Lala cepat dan semua orang mengangguk.


Matteo ditugaskan untuk tetap mengawasi Sandra, sedang semua pejabat tinggi pemerintahan segera bersiap untuk menghadapi pertempuran yang akan menyerang Great Ruler esok hari.


Matteo berdiri tegak di luar ruang simulasi untuk mengawasi kinerja para operator dan memastikan Sandra bisa menyelesaikan level 5 tanpa terbunuh.


TET! TET!


“Bahaya! Terdeteksi pergerakan di arah Utara di balik batuan besar dengan jarak 10 meter dari lokasi User berada,” ucap Mola memberikan peringatan.


“Oh, berubah lokasi ya? Ini sungguh aneh. Seingatku, kau tak muncul di sana, Mutan. Hem, tapi … aku tertantang. Kita lihat, apakah serangan kalian juga akan berbeda kali ini?” ucap Sandra bersiap dengan pedang laser menyala ungu di punggung tangan kanan dan kiri.


“Dia mengira ini hanya simulasi. Jika Sandra tahu jika ini sungguhan, pasti dia akan lebih berhati-hati,” ucap Matteo terlihat pusing karena memijat dahinya.


“Itu benar. Kita harus memperingatkannya, tapi bagaimana caranya?” sahut Xili ikut terlihat cemas. Matteo diam sejenak terlihat berpikir. Tiba-tiba ….


“Harrghhh!”


“Serangan! Serangan!” seru Mola memberikan peringatkan.


Sandra dengan sigap berlari seraya menyiagakan dua pedang laser menyilaukan pandangan.

__ADS_1


Robot Sandra dan mutan serigala itu saling berhadapan tak terlihat takut karena ingin menunjukkan kehebatan masing-masing.


Wajah para penonton tegang seketika karena mereka kini tahu jika ini bukan simulasi, melainkan aksi sesungguhnya.


“Agggg!” erang Sandra saat menjatuhkan diri dan membuat tubuhnya meluncur di atas pasir di tengah malam.


Serigala mutan yang melompat di atas robot ramping itu menunduk saat melihat lawannya mengarahkan pedang laser ke atas dengan satu tangan kanan dan membuat perut bawahnya robek seketika.


“Yeah!” teriak Matteo bangga, dan disusul oleh para petugas operator lainnya yang terlihat senang karena Sandra berhasil melukai serigala itu dalam sekali serangan.


“Bahaya! Bahaya! Ancaman susulan sisi Barat! Jarak serangan 5 meter dan terus mendekat.”


Segera, Sandra segera bangun dengan satu kaki tertekuk untuk menopang tubuhnya. Seekor serigala mutan kembali muncul dan mengaum hebat.


Air liurnya menetes, rahangnya terbuka lebar menunjukkan gigi-gigi runcingnya yang terbuat dari besi, siap untuk mengoyak baju tempur robotnya.


“Hoorrghhh!”erang serigala itu saat kuku tajamnya di kaki kanan depan terayun dan siap mencabik, tetapi Sandra dengan cepat berdiri dan melakukan lompatan.


Robot miliknya mampu melompat hingga ketinggian lima meter dari atas permukaan tanah.


Tubuh asli Sandra di ruang simulator langsung ditopang oleh sebuah mesin yang muncul dan membuat raganya melayang di atas lantai simulator meski tak setinggi robot di lapangan.


Saat kedua kaki Sandra kembali memijak, ternyata arah jatuhnya bertepatan dengan munculnya serigala mutan lain yang siap untuk mengeroyoknya.


“Aktifkan pelindung duri!” perintah Sandra saat melihat dirinya terkepung dari beberapa arah oleh para serigala yang berlari cepat menuju ke arahnya dengan beringas.


“Pelindung duri diaktifkan.”


“Hargghhh!” rintih para mutan serigala saat kulit mereka terkena duri tajam yang muncul dari punggung, lengan dan kaki di sisi luar baju robot seperti landak, meski tak membunuh mereka.


Sandra dengan sigap melakukan serangan susulan di mana ia tahu jika kulit para serigala mutan itu lemah dengan laser.


Sandra memanfaatkan tubuh robotnya yang dilindungi duri agar para mutan itu tak berani mendekat.


“Harrghhh!” erang salah seekor serigala mutan saat Sandra menyabetkan pedang di tangan kanan dan mengenai perut bagian samping ketika hewan itu berusaha untuk menghindari serangan dari pedang di sisi kirinya.


Sandra dikeroyok oleh empat ekor serigala mutan yang mencoba untuk membunuhnya. Wajah semua orang di ruang simulasi pucat, karena serigala itu sangat sulit untuk dibunuh.


Sandra mulai terlihat kewalahan karena hewan-hewan itu seperti tahu jika pedang lasernya berbahaya. Ditambah, tubuhnya dilindungi oleh duri tajam.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



CRAZY UP! CRAZY UP! Tengkiyuw tipsnya mbak aju doain lele bertahan utk up 3 eps lagi. Amin

__ADS_1


__ADS_2