
Di tempat robot Sandra berada.
Wanita itu kini menenteng dua lengan mutan yang digunakan sebagai senjata. Sandra kesal, karena Rey tak mau membantunya. Hanya empat WolfBot yang masih bertahan sebagai pelindung dirinya.
“Rrrr,” erang salah satu serigala robot seri 3 saat Sandra menghentikan langkah dan kepalanya kini menghadap ke sebuah bangunan yang masih berdiri, meski tanpa atap, dan bagian depan rumah itu telah kehilangan dindingnya.
“Ada apa? Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Sandra seraya mendekati bangunan perlahan. Ternyata, tiga serigala robot lainnya ikut mengerang. “Mutan? Atau … kalian menemukan lokasi sandera?” tanya User berambut pirang tersebut menebak.
Di ruang kendali simulasi.
“Apa yang ditemukan oleh WolfBot?” tanya Matteo yang kini mendekati Rhyz untuk melihat tangkapan dari mata robot berkaki empat tersebut.
“Oh! Ternyata sensor di mata WolfBot mampu memindai hingga kedalaman 100 meter. Ada terowongan di bawah bangunan itu. Hanya saja, ada mutan yang menjaga. Mutan Derga,” tegas Rhyz seraya menelan ludah.
“Apa kita bisa menghubungi Sandra dengan cara yang sama?” tanya Matteo penasaran.
“Seharusnya bisa, Jenderal. Sinyal robot kita mampu memasuki area tersebut,” jawab Xili mantap.
Saat Matteo akan menuju ke ruang komunikasi, tiba-tiba saja Sandra sudah beraksi tanpa menunggu instruksi darinya.
“Apa yang dilakukan wanita gila itu!” pekik Matteo dengan mata membeliak saat Sandra menemukan jalan menuju ke terowongan. Sandra nekat melompat dengan lengan mutan diarahkan ke depan perisai duri.
Wajah semua orang tegang bahkan mata mereka melotot lebar. Matteo sampai mematung karena kenekatan Sandra padahal terowongan tersebut gelap dan ada mutan di sana.
“Piikkk!!”
“Errrghhhh!!” erang Sandra mendorong tubuh mutan tersebut dengan tusukan dari potongan lengan Derga tertancap di dada dan perutnya.
Lengan mutan lainnya berusaha untuk mencabik tubuh robot Sandra, tetapi wanita itu dengan cepat menggunakan pedang laser untuk menangkis serangan tersebut saat keduanya meluncur ke terowongan yang menuju ke bawah dengan sangat cepat.
Sandra memijakkan kakinya di tubuh mutan tersebut sebagai alas jatuhnya nanti.
“Berapa jauh lagi sampai ke dasar?” tanya Matteo panik karena terowongan tersebut cukup dalam.
“Dua puluh meter lagi, Sir!” jawab Xili dari hasil analisis kecepatan jatuh robot Sandra di lapangan.
“Agh! Agh!” erang Sandra saat menangkis serangan dari delapan tangan mutan yang berusaha merusak baju robotnya, meski telah berlapis duri.
KRAKK!
TET! TET!
“Bahaya! Pelindung dada tertembus. Energi robot tersisa 30 persen dan semakin berkurang,” ucap Rey memberikan peringatan saat salah satu lengan mutan tersebut menusuk dada sebelah kiri robot dan membuat wanita itu seperti terkena pukulan kuat di tempat yang sama.
“Arrghhh! Aktifkan sengatan!” teriaknya lantang seraya memegang lengan mutan yang menancap di dadanya.
“Sengatan diaktifkan dan beresiko menghabiskan daya.”
CRETTT!!
“Piikkk!” erang mutan itu saat robot Sandra mengeluarkan sengat di seluruh tubuhnya.
Sengatan muncul dari dua buah besi seperti sayap di punggungnya yang berfungsi ganda sebagai antena satelit.
Sandra tak melepaskan pegangannya pada lengan mutan tersebut hingga perlahan, tubuh mutan tak bergerak lagi karena telah mengering dan mengeluarkan asap.
“Sandra! Pause! Pause!” teriak Matteo lantang yang tiba-tiba muncul dari hologram jam tangan portabel.
Mata Sandra melebar seketika karena Matteo meneriakkan hal itu berulang kali. Entah apa yang membuat Sandra menurut, ia pun melakukan perintah itu.
“Rey, pause.”
__ADS_1
“Pause diaktifkan.”
BIB! BRUK!
Mata Matteo dan seluruh operator terbelalak. Mereka mematung saat Sandra memejamkan mata tak sadarkan diri. Penopang di ruang simulasi segera melakukan tugasnya, tetapi hal itu membuat jantung semua orang serasa berhenti berdetak.
“Apakah … Sandra berhasil melakukan pause tepat waktu sebelum menghantam dasar?” tanya Matteo menatap semua operator cemas.
“Ti-tidak tahu, Sir. Kejadiannya begitu cepat. Kami … tak tahu yang terjadi di bawah sana,” jawab Xili pucat.
“WolfBot! Perintahkan mereka untuk masuk ke bagian dalam,” pinta Matteo dengan mata melebar.
Rhyz dengan cepat melakukan yang Matteo perintahkan, tetapi entah apa yang terjadi, para WolfBot itu malah duduk diam seperti menunggu di pintu menuju terowongan.
“Bagaimana? Bisa? Apa sinyal kita terhalang?” tanya Matteo dengan kening berkerut karena empat serigala itu seperti dalam mode tidur.
“Mereka … kehabisan baterai, Sir. WolfBot sedang mengisi ulang tenaganya. Dan sayangnya, sinar matahari tak menembus kabut di wilayah itu,” jawab Rhyz. Matteo terlihat syok seketika.
Petugas medis dengan sigap segera memberikan tambahan nutrisi untuk Sandra selama tak sadarkan diri. Matteo terlihat kebingungan karena robot Sandra habis baterai begitu pula WolfBot.
“Oh! HeliBot!” pekik Matteo langsung menunjuk para operator yang terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka untuk mencoba menghidupkan robot di lapangan dan WolfBot dari baterai cadangan.
“Ya, Anda benar. Akan aku coba, Sir,” sahut pria berambut merah—Wego—dengan sigap menggerakkan joystick untuk menerbangkan HeliBot yang diletakkan oleh Sandra di sebuah atap bangunan agar benda itu juga bisa mengisi baterai usai perjalanan jauh.
Usaha operator tersebut berhasil. Matteo memerintahkan agar HeliBot memindahkan para WolfBot satu per satu ke wilayah yang terkena sinar matahari agar bisa mengisi baterai.
Lampu biru di mata serigala robot itu menyala sebagai pertanda mulai pengisian baterai. Ketika mata robot berkaki empat itu menjadi merah, saat itulah WolfBot siap beraksi.
HeliBot kembali diarahkan untuk mencari keberadaan Sandra yang berada di terowongan bawah tanah.
“Gelap sekali,” ucap Wego terlihat gugup saat HeliBot menyinari sekitar dinding terowongan sedalam 100 meter yang jauh dari permukaan tanah. “Eh?” Wego terkejut saat HeliBot mendapati sosok makhluk mutan, tetapi tidak dengan robot Sandra.
“Di mana dia?” tanya Matteo langsung melebarkan mata.
“Apakah ada yang mencurinya?” sahut operator lain berambut hijau—Imo—dari tempatnya duduk.
Baik Imo ataupun Bablo, keduanya segera melaksanakan perintah sang Jenderal. Operator lain mengawasi pergerakan di luar jalan masuk terowongan termasuk WolfBot yang sedang mengisi daya.
“Sir! Ada jejak sepatu di tanah dalam terowongan,” ucap Wego seraya memperbesar temuan dari HeliBot.
Matteo diam sejenak. “Amankan HeliBot. Jangan libatkan dia dalam pencarian. Gunakan SpiderBot,” perintahnya dengan memasang wajah serius.
“Yes, Sir,” jawab Wego dan Imo bersamaan.
Wego segera mengamankan HeliBot yang didaratkan pada dinding batu seperti seekor serangga yang menempel di bebatuan.
Warna hitam helikopter portabel tersebut terkamuflase dengan baik dalam kondisi gelap seperti dalam gua.
SpiderBot keluar dari bagian cangkang atas HeliBot dekat baling-baling utama. Penutup itu terbuka dan muncullah robot berkaki delapan seperti laba-laba berukuran 2 centimeter dengan sebuah kamera pengintai di bagian kepala.
Kamera tersebut bisa menangkap sensor panas tubuh manusia dan penglihatan dalam gelap. Kedelapan kakinya dilengkapi dengan senjata berupa laser yang mampu melubangi logam.
Imo mengendalikan SpiderBot yang berjumlah 10 buah untuk mengikuti jejak dari sepatu di tanah.
Tempat tersebut seperti sebuah gua karena dinding-dinding terbuat dari batu alami. Suasana hening dan seluruh pandangan fokus pada kamera SpiderBot.
“Oh!” pekik Matteo yang membuat pergerakan SpiderBot terhenti saat kamera pada robot serangga itu menangkap segerombolan manusia, tetapi memiliki bentuk yang aneh.
“Mutan?” tebak Xili sampai melebarkan mata.
“Tidak. Aku cukup yakin jika itu manusia karena SpiderBot menangkap suhu tubuh dari panas manusia,” jawab Matteo yakin sampai matanya menyipit. “Bergerak perlahan, jangan sampai ketahuan,” perintahnya.
Pria berambut hijau segera menggerakkan SpiderBot untuk mendekat dengan menyebar robot-robot serangga itu ke berbagai sudut ruangan.
__ADS_1
Mata semua orang menajam ketika melihat para manusia itu seperti mencoba untuk mencari tahu temuan mereka.
“Mola? Em … Rey?” panggil Matteo memejamkan mata sejenak saat teringat jika komputer pintar tersebut telah berganti nama.
“Yes, Jenderal Matteo,” jawabnya tanpa menunjukkan sosok hologram.
“Identifikasi para makhluk seperti manusia itu,” pintanya cepat.
Rey yang terhubung dengan SpiderBot melakukan analisis. Semua orang di ruang kendali dengan meja membentuk lingkaran terlihat tak sabar menunggu hasil.
“Teridentifikasi. Mereka adalah manusia, tapi mengalami evolusi karena radiasi tinggi di permukaan tanah. Mereka dulunya para penduduk di wilayah itu. Mereka bertahan dengan hidup di bawah tanah. Umur mereka bahkan sudah lebih dari seabad. Data didapat dari pakaian yang dikenakan dan perabotan di dalam ruangan tersebut,” jawab Rey yang menunjukkan di layar utama 100 inch di mana sebuah tanda pengenal tertempel pada seragam yang dikenakan makhluk mirip manusia tersebut.
Matteo dan semua orang terlihat pucat karena wujud para manusia itu sudah tak sempurna. Beberapa dari mereka tak memiliki telinga, dan semua tak berambut alias gundul.
Kulit mereka menebal dan tidak rata seperti melepuh. Beberapa benjolan terlihat karena tak ditutupi oleh pakaian seutuhnya.
Kepala mereka berukuran dua kali lipat dari ukuran normal manusia pada umumnya. Sebagian dari manusia itu kehilangan kelopak mata yang membuat bola mata mereka terlihat lebar layaknya orang melotot.
Hidung mereka menyusut dan hanya terlihat dua lubang yang rata dengan wajah.
“Rey, apakah … mereka ancaman?” tanya Matteo gugup dengan pandangan terfokus pada gerak-gerik manusia di ruangan tersebut yang berjumlah 15 orang.
“Tidak. Tak ditemukan senjata berbahaya di dalam ruangan tersebut,” jawab Rey dari hasil pemindaian ruangan dengan kamera SpiderBot.
Orang-orang di pusat kendali terlihat lega, meski rasa cemas masih menghampiri.
“Kita harus membawa robot Sandra keluar agar bisa mengisi daya,” ucap Wego mengingatkan.
“Bagaimana jika kita gunakan SpiderBot untuk mengalihkan perhatian para manusia itu agar HeliBot bisa membawanya pergi?” sahut Imo.
“Ya, aku setuju,” jawab Matteo dengan anggukan kepala.
Saat semua orang mulai bersiap untuk melakukan misi evakuasi, tiba-tiba ….
“Haaahhh!”
“Welcome back, Otka Oskova.”
“What?!” pekik Matteo terkejut karena Sandra terbangun dan tubuhnya terkoneksi dengan robot di lapangan.
Petugas medis ikut terkejut. Dengan segera, mereka melepaskan jarum infus di lengan Sandra agar tak menganggu misinya nanti.
“Agh!” rintihnya saat merasakan sebuah benda tajam tertarik di lengannya. Sandra mengusap lengannya yang sakit, dan hal itu membuat semua orang terkejut seketika. “Oh!” pekiknya lagi hingga tubuhnya tersentak saat mendapati beberapa makhluk mengitarinya, tetapi menjaga jarak. “Rey … aku di mana, dan … mereka itu apa?” tanya Sandra dalam posisi duduk dengan mata membeliak dan jantung berdebar karena sosok manusia aneh di hadapan.
“Mereka adalah para warga yang harus kauselamatkan dari misi. Kau berhasil membunuh mutan yang menjaga tempat tersebut, dan kau menemukan para sandera. Misimu hampir berhasil. Yang perlu kaulakukan saat ini adalah membawa mereka pergi dari tempat itu di mana kau harus melewati wilayah radiasi tinggi. Instruksi, membawa para manusia itu keluar dan muncul ke permukaan yang terkena radiasi bisa membuat mereka tewas,” jawab Rey yang mengejutkan Sandra.
Saat Sandra dilanda kebingungan, tiba-tiba detektor daya baterai miliknya berbunyi nyaring. Para manusia itu terkejut dan terlihat ketakutan. Sandra berasumsi jika orang-orang itu bukan ancaman mengingat ia tak disakiti.
“Hei, hei, jangan takut. Ini hanya sebuah lampu. Aku … harus bertemu matahari agar robotku bisa kembali berfungsi dengan baik. Apa … kalian paham yang kuucapkan?” tanya Sandra mencoba untuk tenang.
Para manusia itu mengangguk. Salah satu di antara mereka mendekat dengan perlahan. Sandra terlihat tegang karena wujud manusia itu cukup mengerikan untuknya karena matanya seperti keluar dari tengkorak yang menopangnya.
“Ka … pe … muka-an?” ucapnya dengan suara seperti orang berbisik. Kening Sandra berkerut.
“Maaf, aku tidak mengerti. Bisa ulangi?” tanya Sandra mencondongkan tubuh.
“Analisis dan terjemahkan!” perintah Matteo, dan Xili—si rambut hitam keriting—segera melakukan permintaan sang Jenderal.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Terima kasih dukungannya. novel Monster Hunter juara 2. alhamdulilah. doain simulation bisa tamat dengan baik akhir tahun ini. cemangat!!!