
Sudah dua puluh menit berlalu dan Sandra belum kembali online. Semua orang mulai cemas. Rey juga tak bisa dihubungi entah apa yang terjadi. WolfBot dikepung dan dikendalikan oleh Rhyz.
Roman mengamati gerak-gerik Sandra yang berbicara pada seseorang di mana ia yakin jika orang tersebut adalah Ceros.
Hanya saja, suara Sandra tak terdengar. Ia menggerakkan bibir dengan gerakan tubuh dan wajah penuh ekspresi.
“Bisakah kalian analisis apa yang Sandra ucapkan?” tanya Matteo menatap para operatornya.
“Sudah kami coba, Sir. Sayangnya, tanpa bantuan Mola, ini sedikit sulit,” jawab Bablo menjelaskan.
Tiba-tiba, Roman beranjak dari ruang tempat Sandra melakukan simulasi. Sang Presiden kembali ke ruang kendali dan gerak-geriknya mendapatkan perhatian dari banyak orang.
“Bersiap. Dia akan kembali online,” jawabnya yakin dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Semua orang terlihat bingung, tetapi mereka mengangguk siap. Benar saja, Sandra keluar dari dalam benteng dengan Ceros berjalan di depannya. Sandra mengangkat kedua tangan. Semua petugas segera bersiap.
Tiba-tiba saja, “Oh!” pekik Matteo sampai matanya melebar ketika melihat pedang laser di kedua punggung tangan robot level A menyala.
KRAS! GLUNDUNG ....
“Run!” teriak Sandra lantang begitu ia berhasil menebas kepala Ceros.
Ia menjambak rambut putih pemuda itu yang memiliki potongan mohawk lalu berlari dengan kecepatan penuh.
“Tembak dia!” perintah pemimpin pasukan kota Cryzen. Suasana kacau seketika.
“Rey! Pelindung duri!” perintah Sandra sembari berlari bersama dua WolfBot yang melindunginya.
“Pelindung duri diaktifkan,” jawab Rey yang kembali online dan mereka terhubung ke pusat kendali di Great Ruler.
“Gila! Apa yang terjadi?!” tanya Matteo panik karena kini Sandra dikejar oleh puluhan pasukan dari kota Cryzen karena pemimpin mereka tewas dipenggal.
“Kau berhasil mengumpulkan dua kepala. Tinggal satu lagi. Jarak menuju ke kota Pipemo dengan berlari membutuhkan waktu tiga jam. Pemimpin kota tersebut bernama Bebelo Mokoka,” ucap Rey memberikan penjelasan.
“What?” sahut Bablo langsung duduk tegak dengan mata melotot.
Praktis, pergerakannya membuat mata semua orang kini teralih padanya.
“Ada apa, Bablo?” tanya Matteo melirik pemuda itu saksama.
“Sir. Pipemo … adalah kota kelahiran kakekku. Apakah instruksi ini benar? Kenapa harus Pipemo?” tanya Bablo terlihat khawatir.
__ADS_1
“Ini sudah peraturan dalam permainan gila Morlan, Bablo. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjalankan instruksi itu. Ada apa? Apa yang kauketahui tentang kota Pipemo?” tanya Matteo menatapnya saksama.
Bablo terdiam. Ia seperti ragu untuk menjawab pertanyaan dari Jenderal muda yang menatapnya lekat.
Sedang di tempat Sandra berada. Kemampuan berlari dari robot level A ternyata mampu membuatnya menghindari kejaran dari para pasukan yang diliputi amarah.
Kecepatan berlari di simulasi sama dengan tiga kali kecepatan berlari robot yang berada di lapangan.
Perlahan, matahari mulai tenggelam dan membuat kawasan sekitar yang dilewati Sandra berubah gelap.
Sandra dan dua WolfBot terus berlari hingga enam puluh menit lamanya. Akhirnya, mereka tiba di sebuah oasis dan memutuskan untuk istirahat di tempat tersebut.
“Oh! Sandra berhenti,” ucap Xili melaporkan.
Kini, fokus semua orang tertuju pada wanita berambut pirang yang terengah sembari mendekap potongan kepala di dadanya.
Semua orang terdiam, saat Sandra memegang kepala itu dan menatapnya saksama. Sandra berjalan mendekati salah satu WolfBot dan memasukkan kepala Ceros di atas potongan kepala Yofalen.
Sandra terlihat letih. Ia merebahkan dirinya di pinggir genangan kolam itu dengan posisi terlentang menatap langit malam bertabur bintang yang berkedip di langit.
Semua orang bisa paham dengan misi yang dibilang terus berjalan tanpa henti dan menguras pikiran, mental serta energi.
“Rey, pause.Tiga puluh menit,” pintanya, dan Rey memberikan kesempatan itu.
Petugas medis dengan segera mendatangi tubuh Sandra yang telah tertidur pulas di ruang simulasi. Mereka memberikan infus portabel dan suntikan agar energi Sandra segera pulih saat ia online nanti.
Tiba-tiba, layar yang menunjukkan alam bawah sadar Sandra kembali muncul. Mata semua orang kembali teralih pada tayangan yang terlihat samar awalnya, tetapi perlahan tampak jelas.
Ternyata, itu adalah cuplikan kenangan saat Sandra mulai terlibat dalam dunia militer. Wajah orang-orang yang pernah hidup di dunianya muncul satu per satu. Dimulai dari Tony yang terlihat cukup dekat dengannya.
Matteo terdiam karena keduanya terlihat akrab. Sampai sebuah pengakuan mengejutkan dari pria itu membuat semua orang menjadi tahu perasaan dari sang Captain dan Sandra.
"Kau sudah melakukan banyak hal untukku, Tony. Aku tak mau memiliki hutang budi padamu," ucap Sandra sendu di mana keduanya berada di dalam mobil otomatis seperti pergi ke suatu tempat.
"Apa kauingin memutus hubungan yang sudah lama terjalin? Apa aku mengganggu hidupmu hingga kauingin menyingkirkanku?" tanya Tony memasang wajah dingin.
Semua orang terdiam, tetapi Matteo menyeletuk. “Kau tak bisa memaksakan sebuah perasaan, Captain Tony.” Praktis, ucapannya membuat semua orang melirik ke arahnya.
"Aku akan jujur padamu, Tony. Aku tak bisa mencintaimu. Aku masih mencintai Rey. Kenanganku bersamanya, membuatku tak bisa membiarkan pria manapun singgah di hatiku. Aku minta maaf. Kau selama ini berperan cukup banyak sebagai sahabat, dan aku ingin agar hal itu terus terjalin sampai kita tua nanti," ucap Sandra pada akhirnya, tetapi membuat senyum Matteo sirna. Ia seperti ikut tertohok dengan pengakuan Sandra.
"Oke. Aku bisa menerima keputusanmu, tapi aku mengawasimu. Kaubilang sendiri tak ingin menjalin hubungan dengan pria manapun. Jika sampai aku tahu kau memiliki kekasih, jangan salahkan aku jika pacarmu nanti akan mendapatkan perlakuan buruk dariku. Kau belum tahu saja, jika seorang lelaki sakit hati, hal buruk bisa terjadi tanpa kauduga," ucapnya ketus dengan pandangan lurus ke depan. "Kau harus konsisten dengan keputusanmu," sambungnya yang makin membuat Sandra terlihat tertekan.
Perlahan, kenangan itu kembali redup. Semua orang menarik napas dalam. Bagi mereka, tayangan barusan seperti sebuah drama percintaan, tetapi terjadi di dunia nyata dan tokoh-tokoh itu dikenali oleh penduduk Great Ruler.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba, sebuah kenangan lain muncul saat Sandra bekerja di Pertambangan Batu Bara dan berkenalan dengan lima wanita tangguh bernama Qiyo, Gora, Nega, Woly, serta Zua, yang sebelumnya pernah mencoba menjadi salah satu User, tetapi gagal.
Di sanalah, pertama kalinya ia bertemu dengan Komandan Akira yang menjabat sebagai Pemimpin Divisi SDA Tambang Kategori A sekaligus Penanggungjawab Tambang Batu Bara Distrik 8.
Kenangan berganti tentang pertemuan Sandra dengan Otka Oskova di Perpustakaan Great Ruler.
Pada akhirnya, semua orang tahu asal muasal kenekatan Sandra menukar barcode dengan wanita gemuk tersebut karena iba pada kondisi keluarga Otka.
“Dia merelakan hidupnya demi kebahagiaan keluarga Roves,” ucap Roman pelan dan semua orang mengangguk dengan wajah sendu.
Tayangan berikutnya tentang pelatihan beratnya agar bisa menjadi seorang User. Roves, Akira, Ego, Tony dan Matteo, muncul dalam ingatannya.
Semua orang terlihat tegang. Terdengar dan terlihat jelas, teriakan dari sebuah perjuangan Sandra agar bisa melewati tiap level.
Sambutan rintihan kesakitan saat harus menerima serangan hingga tubuhnya terluka. Hingga beban yang harus dipikul agar fisiknya kuat saat menjalankan misi nyata di lapangan nanti. Seolah-olah semua orang bisa merasakannya.
Kemudian, sebuah tayangan lain muncul, dan membuat mata semua orang terbelalak. Matteo terkejut karena wajahnya muncul di sana. Roman melirik keponakannya dalam diam berikut semua orang.
Matteo panik dan meminta agar dimatikan, tetapi hal itu tidak bisa dilakukan. Matteo terlihat malu dan berulang kali memalingkan wajah saat kenangannya bersama Sandra terekspose di hadapan semua orang.
Semua penonton terlihat canggung bahkan salah tingkah karena kenangan itu terjadi saat mereka berdua melakukan penyatuan tubuh dalam cahaya redup yang disinyalir berada di kamar sang Jenderal.
Matteo menutup matanya dengan tangan kanan, sedang tangan kiri mendekap perut seperti menahan serangan panik yang bergejolak dalam dirinya.
“Blue?” panggil Sandra saat ia memandangi wajah Matteo yang terlihat begitu berseri seperti julukannya, ‘Sang Malaikat Langit’.
Wanita cantik itu duduk di pangkuan Matteo saling berhadapan, dan hanya tertutup selimut putih di bagian intim mereka. Matteo tersenyum dan mengangguk seraya mencium bibir Sandra lembut.
Beberapa dari petugas operator terlihat tak tertarik dengan memalingkan wajah, bahkan ada yang meneguk minuman. Namun, semua itu hanya acting belaka.
Mata mereka tetap menyempatkan untuk mengintip. Entah mengapa, kejadian itu terlihat begitu lama berlangsung tak seperti kenangan yang lainnya.
“Pasti hal itu melekat kuat dalam ingatannya. Kau …memberikan kesan indah dan luar biasa dalam diri Sandra. Hem, itu bagus,” ucap Presiden Roman berkomentar, sedang Matteo terlihat gelisah seperti berharap agar tayangan itu cepat berakhir.
“Awas saja jika kalian membocorkan hal ini pada orang lain. Aku tak segan memberikan pelatihan militer seperti di neraka!” ancam Matteo menunjuk semua operator.
Orang-orang itu mengangguk cepat, meski tak dapat dipungkiri ketakutan terlihat jelas di wajah mereka.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy tengkiyuw mbak Aju semoga berkah selalu tips koinnya❤️ Lele padamu💋 Jangan lupa boom like audio book lele ya siapa tahu nanti akan ada crazy up kaya kemarin. target bulan ini tamat ya simulation semoga lancar. amin~