
Latihan untuk memperkuat secara fisik dan mental Sandra selama seminggu penuh bersama Akira membuahkan hasil.
Kini, Sandra bisa menggunakan pedang laser dari semua level robot. Hanya saja, menurut informasi yang didapat Akira, robot level A jenis pedang lasernya berbeda, dan hal itu membuat Sandra penasaran.
"Kau bisa mencari tahu dengan bertanya pada Jenderal atau Presiden Roman, Otka," ucap Akira usai melakukan adu tanding dan Sandra unggul satu angka darinya. Bagi Akira, nilai tambah 1 poin itu sudah dianggap lulus.
"Mm, aku masih sabar menunggu untuk mengetahuinya secara langsung saat mencoba di simulasi nanti," jawab Sandra gugup karena ia sungguh enggan bertemu dengan sang Jenderal meski terkadang rasa rindu itu sering menyelinap di hatinya.
"Hem, baiklah. Oke, untuk minggu depan. Ego yang akan mengambil alih latihanmu. Dia akan menggemblengmu secara fisik. Kau harus makan yang banyak dan memperhatikan nilai gizi, tapi berat badanmu harus ideal. Jangan seperti Otka sungguhan," bisik Akira yang membuat Sandra melebarkan mata.
Akira terkekeh dan menyalami Sandra. Keduanya saling membungkuk sebagai tanda penghormatan karena telah selesai berlatih.
Sandra kembali ke kamarnya dengan senyum terkembang. Ia ingat saat ia berhasil menjatuhkan Akira karena melakukan kombinasi gerakan seperti akrobatik.
Sandra menyabetkan pedangnya dan Akira dengan sigap menahannya, tapi ternyata, gerakan itu hanya untuk mengalihkan saja. Kaki kanan Sandra melayang tinggi dan DUAK!
Punggung kaki kanannya tepat mengenai kepala sisi kiri Akira dan membuat pria itu terdorong ke samping. Sandra memutar tubuhnya dan kembali menyerang Akira saat sang Komandan lengah. DUAKK! KLANG!
Mata Akira melebar saat tangannya di tendang hingga pedangnya terlepas dan terlempar jauh. Sandra menghunuskan ujung pedangnya ke leher Akira dan membuat sang Komandan mengangkat dagu serta kedua tangannya tanda menyerah.
Sandra tersenyum lebar dan ia terlihat begitu senang. Akira menghembuskan napas panjang. Sang Komandan tak menyangka jika akan dikalahkan dengan teknik seperti itu, padahal ia juga bisa melakukannya.
"Oke, kali ini kau menang, tapi tidak lain kali. Anggap saja aku sedang berbaik hati," ucap Akira dengan wajah datar saat mengambil pedangnya dan Sandra berterima kasih.
Sandra masih tersenyum saat mengingat kejadian sore tadi sampai ia tak menyadari jika Tony sudah berdiri di samping pintu kamarnya yang masih tertutup rapat.
"Sepertinya kau sangat senang," ucapnya yang praktis membuat mata Sandra melebar seketika.
"Oh, hai," jawab Sandra langsung mengembangkan senyuman.
"Kau ... sudah tak marah lagi padaku?" tanya Tony dan Sandra menggeleng pelan. Tony mengangguk. "Ingin makan malam denganku di Plaza? Eliz sibuk di restoran dan aku terlalu lelah untuk menyusulnya ke sana hanya untuk makanan gratis," tanya Tony dengan wajah lesu.
"Oke. Tapi ... aku mandi dulu. Aku bau," jawab Sandra dan Tony mengangguk.
Sandra mempersilakan Tony masuk ke rumahnya dan menunggu. Tony duduk di sofa panjang dan mengamati gerak-gerik Sandra yang seperti canggung dengannya.
"Aku akan tutup mata," ucapnya yang tiba-tiba memejamkan mata. Sandra terkekeh dan segera masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Tony membuat dirinya nyaman dengan meluruskan kaki dan memposisikan tubuhnya berbaring. Perlahan, Tony tertidur.
Sandra yang sudah selesai membersihkan diri terkejut karena mendapati kawannya sudah terlelap padahal hanya ditinggal 15 menit saja. Sandra keheranan, tapi ia menduga jika Tony kelelahan karena rutinitasnya.
Sandra membiarkan Tony untuk tidur sejenak sampai 30 menit baru ia akan membangunkannya.
Sandra sengaja tak memakai seragam dan mengenakan pakaian casual karena jam pelatihannya telah usai.
Sandra menyisir rambutnya, memoles wajahnya dengan cream pelembab agar tak kering dan berjerawat, serta menyemprotkan parfum beraroma lembut menenangkan.
"Hem, cantik sekali," ucap Tony tiba-tiba yang mengejutkan Sandra hingga tubuh wanita itu sampai terperanjat. "Hahaha! Kau terkejut? Wah, aku tak menyangkanya," ucap Tony seraya bangun perlahan dengan senyuman.
"Kau pura-pura tidur ya?" tanya Sandra menyipitkan mata.
"Aku sungguh tidur, lalu tiba-tiba ... aku mencium wangi parfum yang menenangkan. Ternyata, wanita cantik di depanku sedang menggunakannya," jawab Tony seraya berdiri dan berjalan mendekat.
Sandra terlihat gugup saat Tony mengambil sisirnya dan menyisir rambutnya di depan cermin.
"Hem. Aku masih tampan," ucapnya memuji diri sendiri dengan kedipan mata. Sandra terkekeh dan mengambil sisirnya dari genggaman Tony.
Keduanya berjalan berdampingan menyusuri koridor hingga menaiki lift dan tiba di lantai tempat restoran berada.
Mereka menikmati makan malam di Plaza Gedung Green Eco di sebuah restoran sushi tempat Sandra dan Akira pernah makan bersama.
"Kau dan Akira memiliki cita rasa yang sama," ucap Sandra yang telah duduk di seberang Tony.
"Ya begitulah. Oia, apa kau tahu? Akira ditegur oleh Wakil Presiden Lala. Ia dikatakan tukang gosip," ucap Tony terkekeh dan Sandra ikut tersenyum.
"Namun sungguh, aku ingin tahu sejarah Great Ruler, Tony. Apakah benar, jika Wakil Presiden Lala mengetahui semuanya?" tanya Sandra dan Tony mengangguk.
"Ya. Entah kau sudah membacanya di Perpustakaan atau belum, tapi dulunya, ibu dari Wapres Lala adalah seorang Politikus. Lala lahir di Great Ruler saat dinding antar Distrik sudah terbentuk. Jika tak salah, sebelum menjadi satu dengan nama Great Ruler, Distrik-distrik itu dulunya adalah sebuah kota besar. Mereka akhirnya sepakat untuk bersatu, tapi tetap ingin mempertahankan ciri khas masing-masing. Namun, perlahan seiring berjalannya waktu, pembagian antar Distrik diubah sesuai dengan kebutuhan karena pembentukan sebelumnya menimbulkan diskriminasi dan status sosial yang mencolok. Lala, Aurora, Roman dan Morlan, adalah para pencetus muda saat itu yang membuat Great Ruler menjadi hebat seperti sekarang ini," jawab Tony serius yang membuat Sandra kagum akan penuturannya.
"Oh. Aku ingin tahu kisahnya. Saat di sekolah, hal itu tak dijelaskan dengan detail," ucap Sandra dan Tony mengangguk.
"Ya, aku juga sebenarnya juga ingin tahu lebih terperinci. Sayangnya, sepertinya hal ini tak dibuka secara umum dan lebih ke arah ... sengaja dirahasiakan. Mungkin ada perjanjiaan dengan para pencetus terdahulu tentang berdirinya Great Ruler. Apapun kesepakatan itu, aku rasa ... hal itu bertujuan untuk kebaikan bersama," tegas Tony dan Sandra mengangguk pelan.
"Aku ingin sekali bertemu dengan Lala untuk mendengarkan kisah sebenarnya dari Great Ruler. Maksudku ... aku adalah calon User. Robotku akan keluar dari dinding, Tony. Aku tak mau ketika ... yah, mungkin saja bertemu dengan manusia lain, aku tak tahu apapun tentang sejarah mereka. Rasanya tidak sopan jika tak saling mengenal," ucap Sandra yang membuat Tony tersenyum.
__ADS_1
"Hem. Semoga ... kau bisa bertemu dengan Wapres Lala. Dia orang yang baik, bijak dan ... menyenangkan. Jika kalian berbincang, pasti akan menghabiskan waktu yang sangat lama," ucap Tony melebarkan mata dan Sandra terkekeh.
Tak lama, makanan datang. Keduanya kembali terlihat akrab dengan obrolan ringan. Diam-diam, Spectra kembali mengawasi. Ia sudah seperti penguntit dan paparazi. Sedang Matteo terlihat gusar.
Di pod ruang makan kediaman Matteo Corza.
"Dia menolak makan malam denganku dan malah menerima ajakan si Tony yang sok kegantengan itu. Kenapa aku merasa keakraban mereka tak wajar? Apa karena ... Otka berkawan dengan Eliz dan Sandra?" tanya Matteo kesal seraya menggulung spagetti-nya hingga menjadi gumpalan besar di piring.
Pukul 9 malam, Tony mengantarkan Sandra kembali ke kamar. Terlihat, sudah tak ada lagi perselisihan di antara keduanya.
"Aku akan menjadi mentormu di minggu ketiga setelah kau selesai dengan Ego. Aku masih harus mengajar para kandidat User di kelas," ucap Tony memberitahukan jadwalnya dan Sandra mengangguk.
"Oke, aku mengerti."
"Tak masalah 'kan jika aku sering mengajakmu makan malam? Aku hanya merasa ... bosan dan kesepian. Eliz sebentar lagi akan pergi dari rumah dan tinggal bersama Akira," ucap Tony sedih dengan pandangan tertunduk.
"Tentu saja. Ajaklah aku sesering mungkin. Saat aku sudah wisuda nanti, aku ... mm ... aku bisa tinggal di Apartemen lagi. Milik Rey, belum ada yang memakainya 'kan? Aku bisa mengajukan untuk tinggal di sana," tanya Sandra gugup.
"Ya. Rumahnya masih kosong. Namun, jujur. Kau harus mulai berhati-hati. Aku merasa, si Jenderal itu mulai menyelidikimu," bisik Tony di telinga Sandra dan wanita itu mengangguk paham.
"Istirahatlah. Besok latihanmu akan sangat melelahkan. Kau tahu Ego 'kan? Bersiaplah mendengar teriakannya," ucap Tony yang membuat Sandra mengembangkan senyuman. "Sampai jumpa."
CUP!
Praktis, mata Sandra melebar. Ia mematung ketika Tony mengecup kepalanya lembut dan bergegas pergi. Sandra menoleh perlahan saat Tony sudah melangkah jauh dan pada akhirnya menghilang saat berbelok di koridor.
Sandra melihat sekitar dan beruntung, tak ada orang di kawasan itu. Sandra segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
Sayangnya, Matteo yang meninggalkan kamera mini di dinding luar kamar Sandra, melihat kejadian itu meski tak ada rekaman suara, hanya gambar saja.
"Apakah mereka memiliki hubungan? Mantan kekasih mungkin? Aku selalu merasa, Tony ini seperti sebuah penghalang," ucap Matteo berwajah dingin dengan piring spagetti telah kosong meski tangannya yang memegang garpu masih sibuk menggulung.
***
Uhuy tengkiyuw tipsnya💋 Seperti yang lele info di novel sebelah. Yg pada beli novel cetak SIMULATION, jangan lupa nanti kirim foto kalian pakai masker ya ke IG atau japri WA lele. Lalu tulis komentar kalian usai baca novel cetak itu. Komentar kalian sangat penting demi kemajuan karya lele mendatang. Terima kasih❤️
__ADS_1