
Akhirnya, waktu yang telah dijanjikan tiba. Matteo dan Sandra terlihat telah bersiap untuk mengajak anak mereka berkeliling dunia setelah lebih dari 10 tahun, Bumi hidup dalam kedamaian tanpa adanya perang.
Kota-kota dan wilayah yang dulunya tandus, kini telah terlihat hijau dengan tumbuhan yang berhasil dihidupkan dengan bantuan dan kerja keras para ahli di seluruh dunia.
Sayangnya, saat sang ayah telah bersiap, Alva malah menghilang dan tak ditemukan di sekitar rumah. Tentu saja, Sandra ikut panik.
"Di mana Purple, Roboto dan Spectra?" tanya Sandra yang ikut heran karena tiga robot asisten mereka tak terlihat di berbagai sudut rumah.
"Eco!" panggil Matteo lantang memanggil asisten ruangan.
"Yes, Mr. President," jawab Eco yang suaranya terdengar di ruang tamu tersebut.
"Temukan Alva, Spectra, Roboto, dan juga Purple di seluruh Great Ruler! Cepat!" titahnya tergesa.
"Pencarian dilakukan." Sandra berusaha untuk tetap tenang, meski wajahnya tidak demikian. "Target ditemukan. Mereka bertempat berada di Distrik 9 Peternakan Ayam."
"What?! Bagaimana bisa mereka pergi ke tempat itu?" tanya Matteo sampai matanya melebar.
Sandra memejamkan mata sejenak terlihat pusing dengan tingkah anaknya yang semakin energik dari hari ke hari.
"Kamera pengawas rumah mendapati Alva menggunakan Oto-Fly. Alva memiliki akses penuh untuk mengemudikan kendaraan tersebut. Oto-Fly tersebut adalah hadiah pemberian dari Walikota Roman yang diantarkan kemarin saat Menteri Lala menginap," jawab Eco yang membuat Matteo langsung bertolak pinggang sambil berdecak, sedang Sandra malah terkekeh.
"Sudah kuduga. Pantas saja bibi mengatakan jika mereka bersenang-senang. Ternyata, bibi mengajarkan cara menggunakan kendaraan ciptaan Titan itu. Ya sudah, setidaknya Alva sudah ditemukan dan dia baik-baik saja," jawab Sandra tenang seraya mengelus punggung suaminya yang masih menggerutu.
Matteo melirik Sandra dengan senyum penuh maksud. Kening Sandra berkerut ketika sang suami malah menangkap pinggulnya dan mengajaknya bergoyang layaknya orang berdansa.
"Kau mau apa?" tanya Sandra terkekeh.
"Alva sudah besar dan sepertinya tak begitu membutuhkan kita lagi. Bagaimana jika kita memberikan Alva adik? Aku iri kepada Tony. Anaknya saja sudah tiga, kita baru satu," ucap Matteo yang membuat Sandra langsung melebarkan mata.
"Sungguh? Kau yakin tak akan pingsan lagi?" tanya Sandra menyindir. Matteo makin gemas dengan tingkah isterinya.
"Tentu saja, Sayang. Aku masih sangat hebat, tampan, dan seksii," ucap Matteo dengan suara mendesis, tapi malah membuat Sandra tertawa mendengarnya karena sang suami memuji dirinya sendiri.
Ternyata, Matteo serius dengan ucapannya. Sandra yang merasa ucapan sang suami ada benarnya dan ingin menambah keturunan, menyambut ajakan bercinta tersebut.
Selama ini, Matteo dan Sandra terlalu fokus untuk mewujudkan perdamaian dunia. Mereka ingin segera menepati janji kepada Alva untuk mengajaknya berkeliling dunia saat keadaan sudah damai seperti yang diharapkan.
Sedang di tempat Alva berada. Gadis cantik itu terlihat asyik bermain di peternakan. Siapa sangka, puteri dari orang nomor satu dan dua di Great Ruler tersebut menyukai hewan.
Kehadiran Alva disambut baik oleh semua orang. Alva ikut membantu memberi pakan hewan-hewan itu padahal sudah ada robot yang bertugas.
"Kau senang berada di sini?" tanya Sora yang langsung mendatangi Alva begitu mendapat kabar dari penjaga peternakan jika puteri dari Matteo tersebut berkunjung ke sana sendirian dan hanya ditemani tiga robot.
"Hem. Hewan-hewan ini lucu," ucapnya seraya mengelus salah satu domba di mana Alva dengan cepat berpindah tempat dari satu peternakan ke peternakan lain untuk menemui kawan-kawan mamalianya.
"Alva! Ada domba yang akan melahirkan! Cepat kemari!" panggil seorang anak lelaki berambut cokelat di kejauhan.
__ADS_1
Alva segera berlari dan mendatangi anak lelaki itu. Sora ikut terkejut termasuk para petugas saat melihat salah satu domba telah melahirkan seekor bayi.
"Bagaimana bisa tak terdeteksi sistem?" tanya seorang petugas heran seraya memegang tablet dalam genggaman seperti mencari tahu penyebabnya.
Alva meringis. "Maaf. Aku yang melepaskan kalungnya. Induk domba itu sepertinya tak betah berada di kandang. Jadi, kemarin aku lepaskan sebelum pulang," ucap Alva dengan kepala tertunduk.
Semua orang langsung menatapnya lekat, tapi mereka memaklumi hal tersebut. Orang-orang itu tahu jika Alva memiliki hati yang lembut. Sora mendekati puteri dari sahabatnya itu seraya mengelus kepalanya dengan senyum terkembang.
"Lain kali, lepaskan semua kalungnya. Agar kami kerepotan," sindir Sora, tapi malah membuat Alva terkekeh.
Hingga akhirnya, proses melahirkan domba itu berjalan sempurna. Alva terlihat senang karena domba kecil itu lahir dengan selamat.
Alva mengamati cara induk domba ketika membersihkan lendir yang menyelimuti tubuh bayinya hingga domba kecil itu terlihat bersih tak berselaput lagi.
"Alva!" panggil seseorang yang datang menggunakan Velo-Copter. Praktis, mata Alva melebar saat melihat ibu dan ayahnya datang.
"Ups," celetuk gadis bermata biru itu saat ia merasakan jika akan terkena omelan karena kabur dari rumah tak berpamitan.
"Jika kau berani kabur lagi, Daddy tak segan untuk memindahkan kamarmu ke toilet lumba-lumba," tegasnya seraya berjalan mendekati puteri cantiknya dengan wajah garang.
Praktis, orang-orang terkekeh termasuk Alva karena ancaman itu tidak menyeramkan sama sekali malah membuat gadis bermata biru itu gembira.
"Aku selalu membayangkan memiliki kamar tidur di tempat itu. Tak bisakah kaurubah dekorasinya menjadi sebuah kamar? Pasti menyenangkan tidur bersama lumba-lumba," pintanya, tapi Matteo langsung memejamkan mata.
"Halo, Sora. Apa kabar? Sudah bersiap?" tanya Sandra seraya mendekat lalu memeluk kawan karibnya yang masih berambut toska itu.
"Kausiap?" tanya Matteo menatap wajah anaknya lekat dan Alva mengangguk mantap.
Matteo menggandeng tangan Alva dan juga isteri tercintanya menuju ke tempat mobil otomatis jemputan yang berada di terowongan khusus Distrik 9.
Velo-Copter dan Oto-FLy mereka tinggal di peternakan yang nantinya akan diamankan oleh para petugas.
"Selamat bersenang-senang, Alva! Ceritakan pada kami petualanganmu berkeliling dunia ya!" seru salah satu petugas peternakan seraya melambaikan tangan saat Alva dan lainnya telah duduk di bangku mobil otomatis khusus keluarga itu.
"Sampai jumpa!" jawabnya riang seraya melambaikan tangan.
Alva terlihat tak sabar untuk segera tiba di Distrik 10 di mana kereta bawah tanah cacing robot akan membawanya berpetualang ke beberapa kota dan negara di seluruh dunia yang tergabung dalam LPD.
"Apakah kita nanti juga akan berlayar dan menggunakan pesawat?" tanya Alva menatap ayah ibunya yang duduk di bangku depan.
"Ya, begitulah. Semuanya sudah diatur dan dijadwalkan khusus untuk hari spesial ini. Selamat ulang tahun Alva. Semoga ... hadiah yang kautunggu selama 12 tahun ini sepadan dengan perjuangan kami untuk mewujudkannya," jawab Sandra seraya menatap anaknya lekat.
"Pastinya sangat sepadan, Mommy," jawab Alva dengan senyum terkembang.
Akhirnya, perjalanan panjang Alva untuk menjelajah dunia bersama ayah, ibu dan keluarga besar Matteo Corza serta Sandra Salvarian berlangsung.
Matteo mengajak Alva pergi ke tempat kelahiran sang kakek yang berada di Indonesia. Morlan, ternyata telah menunggu di sana.
Kini, Morlan menjadi pemimpin kota dari negara kepulauan tersebut yang dihuni bersama para manusia mutan lainnya.
__ADS_1
Kereta cacing melintas di terowongan bawah tanah dari Great Ruler yang berada di China menuju ke negara yang dulunya bernama India.
Kini, negara itu menjadi sebuah kota yang diberi nama Taj Mahal karena satu-satunya bangunan bersejarah yang selamat dari sisa peperangan adalah tempat tersebut.
Dari Taj Mahal, rombongan itu akan berlayar menggunakan pesawat kapal yang diberi nama Heli-Boat hasil karya kolaborasi antara Verosa dan Vemo sebagai salah satu armada air serta udara untuk menyebrangi wilayah yang berbatasan dengan lautan.
Tentu saja, petualangan seru itu membuat tajub Alva karena akhirnya ia bisa melihat dunia luar. Lautan biru, langit yang cerah, dan juga udara yang terasa sejuk membuat gadis itu lebih menyukai berada di luar ruangan ketimbang menikmati fasilitas mewah dalam armada.
"Daddy! Bagian bawah kapal ini memiliki kaca! Lihatlah ikan-ikan itu!" seru Alva menunjuk dengan riang saat ia baru menyadari jika alas bagian bawah kapal tersebut bisa terbuka layaknya akuarium.
"Wah, indah sekali!" sahut anak pertama lelaki Tony.
Otka ikut merapat yang tak lama disusul anak-anak lainnya. Semua orang itu terlihat kagum saat menikmati pemandangan bawah laut dari atas kapal.
"Oh! Kita sudah sampai!" seru Eliz menunjuk ke arah jendela saat beberapa bangunan terapung di atas laut menyambut mereka.
"Kita sampai di Indonesia!" seru Alva senang di mana ia sudah mempelajari banyak tentang negara tersebut yang kini menjadi kota.
"Hem, ingin mampir dulu atau langsung berkunjung ke tempat kakek Morlan?" tanya Matteo menawarkan.
"Aku ingin bertemu kakek! Bagiku, kakek tak menyeramkan. Aku merasa bersalah karena saat itu mengatakan jika wujud kakek mengerikan seperti monster. Aku tak tahu kisahnya. Apakah ... kakek Morlan akan memaafkanku?" tanya Alva terlihat sedih.
"Tentu saja. Kakek Morlan orang yang sangat bijak. Dia berubah karena ingin menyelamatkan banyak nyawa. Tak semua orang rela menjadi seperti dia. Kakekmu, pria yang tangguh," tegas Sandra dan Alva mengangguk mantap.
Anak-anak itu terlihat tak sabar untuk segera sampai ke pulau. Mereka melewati stasiun-stasiun dari bangunan terapung yang sudah disinggahi banyak kapal, helikopter, dan pesawat sebelum mereka melanjutkan perjalanan bisnis.
Siapa sangka, Morlan memberikan sambutan meriah. Sebuah pesta besar diselenggarakan begitu tamu istimewa kota tersebut memijakkan kaki di dermaga.
"Selamat datang di Indonesia. Halo, Alva. Masih takut padaku?" tanya Morlan dengan senyum terkembang dalam wujud mutannya.
"Kakek!" seru Alva riang dan langsung memeluk Morlan.
Kini, Morlan telah mengenakan pakaian khusus sehingga siapa pun bisa memeluknya tanpa harus tersakiti oleh tubuh mutannya, termasuk manusia mutan lainnya.
"Tempat ini indah sekali!" jawab Alva senang dan langsung menggandeng tangan Morlan erat.
Morlan tampak begitu terharu. Roman ikut mendekat dan menggandeng tangan Alva lainnya.
"Akhirnya, aku pulang," ucap Roman dengan mata berkaca.
"Hem. Inilah tempat kelahiran orang tua kita, Roman. Aku senang karena tempat ini berhasil kutemukan berkat bantuan dari catatan Benyamin. Aku sangat bersyukur, kita bisa menyelamatkan tanah ini," sahut Morlan dan Roman mengangguk membenarkan.
"Aku berjanji akan ikut menjaga kelestarian alam dan perdamaian dunia, Kakek. Itu janjiku. Janji Salvarian Corza," tegasnya dan semua orang yang mendengarnya tampak kagum dengan penuturan gadis tersebut.
Sandra tak bisa menahan rasa harunya. Siapa sangka, keturunannya ikut mewarisi semangatnya untuk mempertahankan perdamaian dunia.
...---- TAMAT ----...
__ADS_1