
Sandra kembali fokus saat Mola memberikan peringatan. Kacamata fiber yang terkoneksi dengan mata robotnya, mendeteksi pergerakan ancaman yang muncul dari balik dinding.
SHUW! SHUW!
Dengan sigap, Sandra segera menghindar dengan berjongkok dan bergulung ke sisi kanan. Ternyata, dua musuh tersebut adalah robot yang telah dipersiapkan sebagai penghalang misi.
Dua robot berbentuk seperti Roboto, hanya saja tubuhnya lebih tinggi seukuran manusia dewasa dan memiliki dua tangan sebagai senapan laser.
"Nonaktifkan pedang laser!"
"Pedang laser dinonaktifkan."
Dengan sigap, Sandra mengganti senjatanya. Ia menggunakan pistol yang tersimpan di samping kiri dan kanan paha robotnya.
Sandra cukup meletakkan tangan robotnya di paha itu, dan secara otomatis, pistol tersebut muncul telah beramunisi penuh.
SHUW! SHUW!
Sandara memposisikan diri dengan berlutut menggunakan satu kakinya sebagai penopang. Ia membidik dua buah robot yang bergerak zig-zag menghindari tembakan robotnya.
"Oh, kalian bergerak seperti di ruang pelatihan saat itu," ucap Sandra teringat saat dirinya diminta menghindar dari tembakan sengat di mana teknis kerja robot musuh level 1 hampir mirip.
"Hem, daya ingatnya bagus," puji Laksamana Joe.
Semua orang terlihat serius dan fokus dengan pergerakan Sandra yang dengan gesit bergerak memanfaatkan benda-benda di sekitarnya.
Sandra mulai terdesak karena dua robot itu cukup agresif. Sandra melihat ada puing-puing di sekitarnya. Ia memanfaatkan hal itu untuk mengalihkan perhatian para robot.
SWINGG!!
SHUW! SHUW!
Dengan sigap, saat dua robot menembaki beberapa puing yang terlempar ke sisi lain. Sandra keluar dari tempat persembunyiannya dan menembaki kepala robot itu dengan dua pistol laser seraya berlari kencang.
Mata semua orang menajam ketika robot musuh mulai mengeluarkan asap dan terlihat percikan api di kepalanya.
"Aktifkan pedang laser!"
"Pedang laser diaktifkan."
"Heahhh!!"
KRASS!! BRUKK! BRUKK!!
"Wow!" seru para penonton diikuti tepuk tangan karena Sandra berhasil mengalahkan dua robot tersebut dengan menebas kepala mereka menggunakan dua pedang laser yang muncul di punggung tangannya saat dua tangannya masih menggenggam pistol.
"Analisis," pinta Roman.
"Yes, Sir. Otka mampu melakukan gerakan kombinasi dengan dua senjata sekaligus. Pergerakannya tetap stabil dan tak ditemukan cidera pada tubuh robot. Dia ... sempurna," jawab Rhyz dari penilaian performa robot.
Roman tersenyum terlihat bangga. Sandra berdiri dan melihat dua robot itu sudah tak bergerak lagi. Ia masih bersiaga dengan dua jenis senjata di tubuh robotnya. Kepala Sandra memindai sekitar, tapi Mola tak menemukan ancaman.
"Selamat, Otka Oskova. Kau berhasil melewati level 1 dengan cepat. Siap melanjutkan level berikutnya?" tanya Mola.
Saat Sandra akan menjawab, Roman memasuki jaringan komunikasinya.
"Otka Oskova," panggil Roman.
"Oh! Yes, Mr. President," jawabnya gugup lalu meminta Mola menonaktifkan pedang laser. Sandra memasukkan kembali pistol di kedua sisi pahanya.
"Apa penilaianmu dari misi level 1 ini?" tanya Roman seperti sebuah ujian. Sandra diam sejenak seperti berpikir.
"Aku diminta berlari cukup jauh. Lalu, jenis senjata yang digunakan juga sedikit berbeda dengan robot-robot yang lain. Bukan bermaksud sombong, hanya saja ... misi level 1 ini masih tergolong mudah, Presiden. Namun aku yakin, ini hanya pemanasan. Kau tak mungkin memberikan sebuah ujian dengan tingkat resiko rendah," jawab Sandra yakin, berdiri di tengah-tengah ruangan yang menjadi tempat misinya.
__ADS_1
"Hem, good. Tetap fokus dan jaga stamina. Jika kau lelah, katakan saja. Kami akan mengeluarkanmu untuk beristirahat dan bisa memulainya lagi setelah kondisimu kembali prima."
"Aku baik-baik saja, Presiden Roman. Aku siap untuk level selanjutnya," jawab Sandra dan Roman mengangguk di ruang kendali.
Roman melirik ke arah Xili dan pemuda itu terlihat siap dengan rute ke Distrik 2, tempat misi selanjutnya akan dilangsungkan.
Sandra melihat dari kacamata fibernya saat Mola memberikan rute untuk misi level 2. Wanita cantik itu diminta untuk pergi ke Distrik 2, bukan ke Sentra Video Games, melainkan ke sebuah supermarket terbesar di kota itu. Sandra bersiap dan segera melanjutkan misi.
Robot Sandra menuruni tangga gedung hingga ke lantai dasar. Fisik Sandra benar-benar digempur habis-habisan di mana Roman memang sengaja membuat para User agar tetap prima meski mereka menggunakan robot di luar sana.
Ternyata, keberhasilan Sandra melewati tes uji coba level 1 disiarkan ke seluruh televisi publik di semua Distrik seperti iklan.
Tentu saja, hal itu menuai kekaguman para penduduk yang melihat aksi dari User wanita tersebut.
Orang-orang mulai memuji kehebatan Sandra yang terlihat begitu sigap dengan serangan yang sedang dihadapinya menggunakan robot barunya.
Visual Sandra di ruang simulasi juga dipertontonkan, dan hal itu membuat para penikmat acara tersebut ikut termotivasi.
"Oh, dia keren sekali. Berjuanglah, Sandra!" seru Eliz gembira di restorannya, tapi dengan sigap, Otka membungkam mulut bosnya itu.
"Ssttt ... ingat. Namanya, Otka Oskova," bisik Otka dan Eliz baru menyadari hal tersebut.
Beruntung, hanya robot pelayan yang ada di sekitarnya. Eliz lega karena ia khawatir jika keceplosan dan didengar oleh para pelanggan.
Di sisi lain, kelima kawan Sandra di pertambangan ikut dibuat bangga karena kawan mereka berhasil lolos level 1.
Mereka juga ikut bersemangat dalam menjalani tes, di mana mereka kini sedang berusaha untuk mendapatkan promosi agar bisa naik jabatan di divisi masing-masing.
"Jika Sandra bisa, aku pasti juga," ucap Zua menyemangati dirinya saat mengikuti ujian terakhir agar bisa menjadi kepala bagian.
Robot Sandra kembali berlari melewati terowongan khusus. Banyak mobil yang merapat ke sisi pinggir di mana robot level A tersebut berlari mengikuti garis bercahaya sebagai pemandunya.
"Semangat, Otka!" seru seorang anak kecil yang membuka kaca jendela mobilnya saat melaju di samping robotnya ketika sedang berlari.
Senyum Sandra terkembang di ruang simulasi. Ia memberikan jempol kanannya terlihat siap dan anak perempuan itu terlihat senang. Robot Sandra berlari lebih kencang mendahului mobil di sampingnya.
"Well, oke. Kita butuh persetujuan ayahmu dulu. Kautahu, dia ingin kau menjadi penerus perusahaannya, bukan menjadi seorang User," jawab sang Ibu memberikan pengertian.
"Aku ingin menjadi User! Aku mau! Mau!" seru gadis itu merengek karena permintaannya tak dituruti.
Si Ibu hanya bisa menghela napas lalu melakukan panggilan telepon kepada suaminya yang sedang bekerja di Kota Zalama.
"Jika kau mempertahankan laju larimu, kau akan tiba di Distrik 2 dalam waktu 15 menit," ucap Mola dan Sandra mengangguk paham.
Para pejabat kembali bekerja memanfaatkan waktu seraya menonton aksi Sandra sebagai selingan agar tak jenuh dalam bekerja. Ruang kendali terlihat sibuk baik operator ataupun para pejabat yang duduk di RC masing-masing.
Matteo menyipitkan mata melihat fungsi organ di tubuh Sandra.
"Jangan sampai ia dehidrasi. Jika Otka menolak untuk keluar dari simulasi, minta ia beristirahat sejenak untuk diinfus. Ia harus tetap prima," tegas Matteo dan Rhyz mengangguk siap.
Rhyz menyampaikan kepada Sandra informasi yang diberikan oleh Matteo. Wanita cantik itu mengangguk siap sembari berlari.
"Oke, infus aku saat sudah berhasil menyelesaikan level 2," jawabnya di mana titik tujuan sudah masuk dalam jangkauan pandangan robotnya.
Orang-orang yang mendengar jawaban Sandra mengangguk pelan.
"Dia sangat kuat. Laju larinya juga stabil. Wah, sepertinya aku harus kembali berolah raga," sahut Brego yang membuat orang-orang terkekeh karena ekspresi lucu sang Colonel saat mengelus perut buncitnya.
Lala terdiam dengan tangan melipat depan dada saat melihat kegigihan Sandra.
"Kenapa? Teringat masa lalu saat kau masih muda sepertinya, Nona Lala?" ledek Roman yang membuat Lala tersipu malu.
Orang-orang yang mendengar hal tersebut hanya melirik dalam diam, tapi menyimak.
__ADS_1
"Ya. Kau tahu 'kan saat aku dulunya menjadi pekerja tambang. Aku melatih fisik di tambang agar tubuhku kuat karena dulu fasilitas di Great Ruler tak lengkap dan menunjang seperti ini. Orangtuaku tak menginginkan aku menjadi User, tapi aku tetap nekat dan berkemauan keras. Mereka tak ingin aku ikut berperang, tapi hati kecilku memberontak. Aku tetap bekerja seperti keinginan mereka, tapi aku juga berlatih agar bisa mengikuti ujian User," jawabnya dengan pandangan masih tertuju pada layar besar di hadapannya.
Tiba-tiba, Bablo mengangkat tangan. Lala menatapnya dan mengangguk pelan.
"Boleh kutahu detail ceritanya, Wakil Presiden Lala? Kau tahu, jika kisahmu itu melegenda hingga sekarang. Bahkan, sejak kau berhasil, banyak warga non-akademik militer ikut bergabung, seperti Otka contohnya," ucap Bablo.
Mata semua orang kini tertuju pada wanita cantik tersebut meski sudah menua, termasuk Roman.
"Oh! Otka sudah memasuki level 2. Semangat, Okta!" seru Lala memberikan dukungan, tapi semua orang tahu jika sang Wakil Presiden sedang mengalihkan pembicaraan.
"Aku tetap menuntut cerita itu, Bibi," tegas Matteo dan Lala pucat seketika. Roman menahan senyum.
Di tempat Sandra berada. Distrik 2, Pusat Perbelanjaan.
Ternyata, tempat itu cukup ramai di hari menjelang siang. Namun, sebuah protokol telah diberlakukan.
Orang-orang sepertinya telah tahu jika robot canggih itu sedang menjalani sebuah misi. Para pengunjung memberikan semangat, saat robot tersebut memasuki gedung.
"Mola. Apa yang harus kulakukan di sini?" tanya Sandra terlihat bingung ketika memasuki kawasan dengan banyak produk yang disusun rapi dalam rak.
"Ada sebuah robot mata-mata di tempat ini. Temukan robot itu dan hancurkan. Dia mengkamuflasekan diri dengan produk yang ada dalam rak."
Praktis, langkah Sandra terhenti seketika. Ia seperti terkejut dan spontan memutar tubuhnya ketika mendapati ada ratusan rak dalam supermarket super besar itu serta ribuan produk.
"Oh, shitt," umpatnya yang membuat semua orang menahan senyum.
"Seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Hem, ide gila siapa ini?" tanya Mayor Petroska, dan Roman menunjuk Matteo yang terlihat santai saat menikmati minuman dingin dengan cairan berwarna biru dari sebuah botol.
Petroska dan lainnya hanya bisa mengangguk pelan. Sandra terlihat shock dan malah bertolak pinggang seperti memikirkan misi yang baginya hampir mustahil ini.
Ia melangkah di antara dua buah rak yang memanjang dan hampir tak terlihat ujungnya. Ia berdiri di lorong itu seraya melihat rak di kanan dan kirinya. Semua orang terlihat fokus karena penasaran dengan yang Sandra lakukan.
"Mola. Pindai bahan non-organik yang ada di rak sebelah kananku ini," pinta Sandra.
"Permintaan diproses. Melakukan analisis," jawab Mola.
Sandra ikut membantu sembari melangkah dengan kepala menghadap ke arah rak tersebut. Ia menggunakan matanya untuk memindai. Semua orang terdiam.
Namun, Roman menyadari saat kening keponakannya berkerut.
"Apa yang kaupikirkan, Matteo?"
Kini, kepala semua orang tertuju pada sang Jenderal.
"Hem. Aku rasa, ucapan Otka ada benarnya. Kita harus memasang kamera tambahan di kepala robot, atau mungkin tubuhnya, sehingga robot tersebut tak memiliki titik buta. Semua jenis serangan bisa terpantau dari segala sisi. Pandangan Otka, hanya terfokus pada jarak mata dan detektor di tubuh robot jika dirasakan adanya ancaman," ucap Matteo mengutarakan pemikirannya.
"Oh. Jadi ... kausetuju dengan ide dari Otka tentang kamera tambahan di kepala robot?" tanya Lala seraya menaikkan salah satu alis.
Matteo terdiam lalu melangkah pergi menuju ke meja sajian di mana terdapat banyak camilan telah disiapkan. Lala menahan senyum karena keponakannya masih menjaga gengsi agar tak dipermalukan.
"Sungguh, dia menjaga wibawanya. Hem, aku ... merindukan Morlan. Sikapnya yang seperti itu sangat mirip dengannya. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Roman berwajah sendu.
Semua orang terdiam. Mereka tahu jika sang Presiden pasti mencemaskan keadaan saudara kembarnya yang terusir dari Great Ruler.
"Morlan pria yang kuat. Ia akan baik-baik saja," ucap Lala menenangkan seraya mengelus lembut lengan suaminya. Roman mengangguk pelan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy tengkiyuw tipsnya❤️ Pengen deh crazy up. Bisa gak ya😅