
Dua sosok berparas sama dan hanya dibedakan dengan Blue memakai kacamata, sedang Matteo tidak, membuat keduanya bagai pinang di belah dua.
"Berhenti mencampuri hidupku, Matteo! Sudah cukup kau merusak segalanya! Kau pembuat onar dan petaka seperti ayahmu!"
"Ayah kita, Blue, jangan lupa," sahut Matteo ikut menunjuknya dengan wajah keji.
"Jika sampai-"
"Ya, aku akan melakukan sesuatu kepada Sandra, dan kau tak akan bisa menghentikanku, Blue," ucapnya tegas. "Sampai jumpa."
PIP!
"Matteo!" panggil Blue lantang menggebrak kaca di hadapannya dengan nafas menderu. Ia terlihat marah hingga kedua tangannya mengepal. "Hah, apa yang akan Matteo lakukan?" tanyanya ketakutan.
Saat Blue kembali ke kamar, ia tak mendapati Sandra di kamarnya. Blue bingung dan memanggil Purple lantang dengan panik.
"Purple!"
"Ya, Tuan Blue," jawab robot tersebut dari pintu kamar yang terbuka untuknya.
"Hah, mana Sandra?" tanyanya cemas.
"Nona Sandra sudah pulang dengan mobil otomatis. Dia baru saja pergi."
Blue memejamkan matanya rapat dengan bertolak pinggang. Ia terlihat kesal. Blue marah dan menggebrak dinding kaca dengan kuat hingga ikan-ikan di akuarium itu terkejut lalu berenang menjauh.
"Hah, sudahlah. Semua akan baik-baik saja," ucapnya pasrah, menempelkan dahinya ke dinding kaca itu dengan mata terpejam. "Besok aku akan masuk ke kantor. Teruskan informasi ini pada Otka dan Angel," pinta Blue seraya mengusap wajah dengan kedua tangan terlihat sudah mulai tenang.
"Baik, Tuan Blue," jawab Purple seraya pergi meninggalkan kamar.
Blue duduk di pinggir jacuzi sembari merendam kedua kakinya ke dalam air hangat. Blue melirik Spectra yang datang mendekatinya.
"Apa maumu? Kau boleh mendekatiku jika kau tahu apa yang direncanakan Matteo," ucap Blue tegas menunjuk robot berwarna putih tersebut.
"Aku tahu."
Praktis, mata Blue melebar seketika. Ia langsung berdiri dan menatap robot itu tajam.
"Tell me," tegasnya.
Keesokan harinya di kantor tempat Sandra bekerja.
Wanita cantik itu terkejut ketika mendapati Bosnya masuk kerja, meski terlihat pucat.
__ADS_1
"Hai. Apa kau sudah membaik?" tanya Sandra seraya turun dari RC dan berjalan mendekatinya.
"Kenapa kau pulang tanpa berpamitan denganku? Aku tak suka sikapmu. Tak sopan dan tak beretika. Aku tak mengizinkanmu datang ke rumahku lagi jika sikapmu demikian," tegas Blue menunjuknya.
Sandra terkejut. Ia merasa tertohok dengan ucapan Blue yang menyesakkan hatinya.
"A-aku minta maaf, Tuan Blue," jawabnya tertunduk.
Blue tak menjawab dan pergi begitu saja meninggalkan Sandra masuk ke ruangannya. Sandra berdiri mematung. Ia shock karena Blue bersikap lain padanya seperti bukan dirinya.
Seharian, Blue tak keluar ruangan. Makan siang diantar ke ruangannya oleh Roboto. Sandra merasa tak nyaman, meski ia berusaha bersikap profesional.
Ternyata sikap dingin Blue bertahan hingga 1 bulan lamanya. Hari itu, Sandra membuat keputusan.
"Tuan Blue, Sandra ingin berbicara denganmu," ucap Otka di ruang kerjanya.
"Hem. Bicara saja melalui RC," jawabnya ketus dan terlihat sibuk dengan layar besar yang menjadi alas mejanya seperti mengerjakan sesuatu.
PIP!
"Selamat sore, Tuan Blue," sapa Sandra saat wajahnya muncul di layar samping Blue duduk. Namun, Bos bermanik biru tersebut seperti mengabaikannya. Sandra menarik nafas dalam. "Saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang Anda berikan untuk bekerja di Sentra Video Games dan diberikan jabatan tinggi. Sayangnya, saya tak bisa melanjutkan pekerjaan ini lagi. Saya mohon diri. Mulai besok, saya tak akan hadir untuk bekerja. Surat pengunduran diri telah saya kirimkan pada Otka. Sekali lagi terima kasih dan maaf jika selama saya bekerja tak memuaskan Anda. Sampai jumpa."
PIP!
Nafas Blue menderu. Tangan dan matanya yang sibuk mengerjakan sesuatu di meja berupa layar sebesar 30 inch terhenti seketika.
Ia melihat dari kamera pengawas jika Sandra sudah berjalan keluar dari gedung yang selama ini mengayominya, tak menggunakan fasilitas mobil otomatis.
"Argh! Sandra!" teriaknya marah di depan tampilan monitor yang memantau pergerakan luar gedung.
Blue melampiaskan kemarahannya dengan menendangi benda apapun di sekitarnya hingga berserakan di atas lantai.
Selama perjalanan menggunakan kereta cepat, Sandra terlihat murung. Ia tak lagi menggunakan fasilitas kantor.
"Selamat tinggal, Blue," ucapnya sedih.
Setibanya di Apartemen, Sandra yang terlihat lesu bahkan sampai tak menyadari jika ia melewati Tony yang berdiri persis di hadapannya.
"Jadi ... kau marah padaku?"
Sandra tertegun. Ia langsung menghentikan langkah dan membalik tubuhnya. Tony berdiri menatapnya dengan wajah sendu di kejauhan.
"Ma-maaf, Tony. A-aku tak melihatmu," jawab Sandra tak enak hati.
__ADS_1
Tony mengangguk pelan seperti kecewa pada sikapnya. Sandra mengabaikan Tony sejak pernyataan cintanya secara tak langsung beberapa waktu lalu. Sandra memberanikan diri mendekati kawan mendiang suaminya itu.
"Jadi ... besok kita mulai latihan? Kau berjanji akan membantuku menjadi seorang User, Tony. Apakah ... janji itu masih berlaku?"
Tony tersenyum tipis dengan anggukan. Sandra balas tersenyum. Keduanya berjalan berdampingan masuk ke lift menuju ke lantai mereka tinggal.
PIP!
"Tuan Blue, Anda mendapat panggilan telepon dari Divisi Keamanan Gedung Apartemen M-07 Distrik 7. Apakah ingin diterima?" tanya Otka.
Blue yang duduk di RC menghembuskan nafas pelan seraya menyisir rambutnya ke belakang dengan kesepuluh jemarinya.
"Oke," jawabnya dengan anggukan.
"Selamat malam, Tuan Colosseum Blue. Maaf, tapi sistem keamanan gedung mendeteksi jaringan Anda meretas sistem kamera pengawas gedung pemukiman militer kami. Mengingat Anda orang dalam golongan Z, kami memberikan kesempatan untuk menjelaskan maksud tindakan kriminal Anda."
Blue memijat dahinya yang mendadak terasa berat.
"Ya. Maaf, aku sengaja melakukannya untuk mengecek sistem keamanan gedung kalian. Apakah bisa disusupi atau tidak, dan ternyata firewall kalian masih rentan. Aku akan membicarakan hal ini langsung kepada Dewan Pengurusan Pemukiman Militer Distrik 7, tuan Geroba," jawab Blue berdalih.
"Oh, baiklah. Akan saya jadwalkan pertemuan Anda. Tuan Geroba bisa ditemui besok pukul 2 siang di kantornya. Ingin saya sinkronkan dengan asisten ruangan Anda?" tanya petugas.
"Yes, thank you," jawab Blue terlihat tertekan di RC-nya.
Usai mendapatkan jadwal baru yang membuatnya makin pusing karena kegiatannya semakin padat, Blue menyerah dan merebahkan dirinya di ranjang tempat Sandra dulu berbaring.
"Aku sudah kalah. Kau menang Matteo. Ambilah, aku lelah. Kau selalu bisa mengalahkanku dalam hal apapun," ucapnya sedih memejamkan mata.
Roboto yang berdiri di samping Tuannya hanya bisa diam saat Blue menyuntikkan pergelangan tangan dari jam tangan yang membelenggunya selama ini.
CLEB! CESS ....
Blue terlihat seperti orang tertidur lelap untuk sejenak, hingga tiba-tiba ia membuka mata dan duduk di ranjang seraya melepaskan kacamatanya.
"Tuan Blue?" panggil Roboto saat mendapati majikannya terlihat bugar dengan senyum sinis.
"Robot jelek, menyingkirlah. Kau merusak penglihatanku," ucapnya rasis seraya mendorong Roboto hingga robot ramah itu terdorong mundur.
"Angel!" panggil Blue seraya melepaskan kemeja putihnya dan melemparkan ke tubuh Roboto.
"Ya, Tuan Blue," jawab Angel-asisten komputer.
"Panggil para wanitaku. Aku bosan dan butuh penyegaran sebelum bekerja," perintahnya seraya melepaskan celananya dan melemparkannya kembali ke tubuh Roboto hingga tubuh robot itu tak terlihat.
__ADS_1
"Baik," jawab Angel patuh. "Memanggil Clara, Vanessa, dan Margaretha."
Blue tersenyum seraya mengusap wajahnya yang tersapu segarnya air dari wastafel di kamar mandi ruangannya. Senyum liciknya terpencar dari wajah tampannya.