
🌻🌻🌻
Hari yang dinanti tiba, pagi ini Ameera sudah tiga kali melongok ke kamar kakaknya hanya untuk memastikan semua sudah siap.
"Kamu teriak lagi, kakak gak jadi pergi nih" ancam Reza sambil menuruni tangga bersama istrinya.
"Abisnya lama banget" sungut Ameera kesal.
"Masih pagi, dek" kata mama mencubit pipi putri bungsunya itu.
"Kan di jalan lama, pokonya pas siang nanti mampir ke tempat yang biasa ya" pintanya lagi, entah itu sudah yang keberapa kali ia ucapkan.
"Iya, sayang" jawab papa.
"Za, kamu bawa mobil?" tanya mama saat semuanya sudah berkumpul di teras termasuk eyang.
"Gak, kita satu mobil aja" sahut Reza.
"Bagus," kekeh papa, lalu semuanya memasuki mobil dan duduk di tempat masing-masing, di kursi depan ada Reza dan papa, kursi tengah ada mama dan Melisa dan kursi belakang ada Ameera dan juga Eyang. Setelah semuanya siap, Reza langsung menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Selama perjalanan semua terlihat bahagia, ada saja yang di bicarakan yang kadang mengundang gelak tawa, belum lagi saat mengejek Reza ataupun Ameera, kakak beradik ini selalu menjadi bulan-bulanan sang papa.
"Kak, jangan lupa di depan" Lagi-lagi si bungsu mengingatkan.
"Kakak lempar kamu ya dek ke jalanan, dih berisik banget kakak juga gak lupa!" oceh Reza sambil menepikan mobilnya.
"Eyang, Kakaknya tuh" rengek Ameera langsung memeluk wanita tua yang duduk di sebelahnya.
"Biarin, nanti dirumah eyang kita suruh kakakmu itu nangkep ikan di sawah"
Si bungsu pun langsung mengangguk, dan tersenyum setelah sang mama kini eyang lah tempat ia mengadu.
"Ayo turun, kita jajan dulu" ajak papa sambil membuka pintu setelah Reza mematikan mesin mobil di area kedai es pinggir jalan.
"Hati-hati, Ra" ucap Reza saat meraih tangan istrinya yang hendak keluar dari mobil.
"Tunggu,Mas"
"Kenapa, sakit?" tanya Reza panik.
"Enggak, cuma pegel aja. tunggu dulu" pinta Melissa sembari bersandar di dada suaminya, sedang Reza langsung mengusap bagian pinggang dan punggung sang istri.
__ADS_1
"Loh, kenapa,Nak?" kini mama yang bertanya, ia kembali ke parkiran saat anak dan menantunya tak kunjung datang.
"Cuma pegel aja, Mah" sahut Reza.
"Duh, mana kita masih lanjut jalan, cari deh hotel deh, Za" titah mama khawatir dengan keadaan menantunya.
"Gak usah, Mah. udah enakan ko ini juga"
Melisa langsung berdiri tegap lagi, dan bergelayut manja di lengan sang suami, akhirnya ketiganya masuk berbarengan kedalam kedai.
"Dari mana?" tanya papa.
"Ini, nungguin Melisa kayanya kelamaan duduk Pah, jadi pinggangnya sakit"
"Bawa obat kan, Mel?"
"Iya, Pah" jawab si ibu hamil cepat.
ke enam orang ini menikmati apa yang sudah mereka pesan, Aneka es dan makanan dilahapnya sampai habis bahkan Reza dan Ameera meminta untuk membungkus beberapa cemilan.
"Mas, udah Banyak banget sih?" kata Melisa yang heran begitu banyak yang di inginkan suaminya
"Biarin, mumpung papa yang bayar" kekeh Reza yang langsung dapat tendangan kecil dari papanya di kolong meja.
"Gak bawa uang" sahut Reza.
"Serius, Mas. aku bawa nih" kata Melisa.
"Udah biarin, ada bos besar ngapain juga bawa uang" Reza tertawa, sedang sang mama hanya menggeleng kepalanya.
Usai mengisi perut, mereka kembali melanjutkan perjalanan yang tinggal satu jam lagi, papa dan mama memilih liburan ke rumah eyang karna suasananya yang amat nyaman, terlebih sudah dua tahun ini mereka tak berkunjung.
"Alhamdulillah sampai" kata mama, perjalan empat jam usai sudah.
Kini semuanya turun, eyang menuntun nona mudanya menuju rumah dua lantai yang terbuat dari kayu.
"Ini rumah eyang?" tanya Melisa setelah ia menghempaskan bokongnya di kursi rotan dekat jendela besar.
"Iya, Non. ini rumah eyang"
Wanita tua itu langsung membuka pintu lebar-lebar, tak lama ada seorang gadis seumuran Ameera turun dari tangga setengah berlari.
__ADS_1
"Eyaaaaang" teriaknya senang dan langsung berhambur memeluk.
"Apa kabarmu?" tanya eyang pada si gadis.
"Bella, baik eyang"
"Ayo di sapa dulu" titah eyang pada cicitnya itu.
Bella langsung menghampiri kelima orang yang masih di ambang pintu, dan langsung menarik tangan Ameera mengajaknya bermain membuat yang lain tertawa dengan tingkah kedua Gadis itu.
"Mari duduk dulu, nona mau langsung ke kamar untuk istrirahat?" tanya eyang.
"Nanti aja, aku mau disini dulu"
"Baiklah,"
Eyang langsung masuk ke dapur untuk menyuguhkan minuman dan beberapa makanan kecil.
"Eyang tinggal disini sama siapa?" tanya Melisa penasaran.
"Sama cicitnya tadi yang namanya Bella, orangtuanya meninggal lima tahun lalu" jawab mama.
"Lalu, eyang disana dan Bella disini sama siapa?" tanya Melisa lagi.
"Ada kerabat eyang yang tinggal disini juga, dan ada pemuda yang eyang angkat tiga tahun lalu karna ia korban kecelakaan tabrak lari tapi entahlah apa masih disini"
Melisa hanya mengangguk, sambil mengusap perutnya yang sedikit ada pergerakan.
"Silahkan diminum dulu" eyang datang dengan nampan di tangannya yang berisi enam gelas es jeruk peras.
"Terima kasih eyang, jangan repot repot" ucap papa.
"Eyang, pemuda yang dulu tertabrak itu apa masih disini?" tanya mama saat eyang sudah mulai ikut duduk.
"Ada, nah itu orangnya" kata eyang sambil menunjuk seorang pemuda yang baru keluar dari dalam kamar.
"Kamu?"
Melisa dan pemuda itu berkata berbarengan!
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Wah, akan menjadi liburan yang menguras emosi ini sih kayanya 😂😂😂😂
Like komennya yuk ramaikan ❤️❤️❤️