Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 157


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Sarapan pagi ini ini tentu lebih ramai dari biasanya, Karna ada Langit dan Hujan tentunya.


Reza yang baru turun dari kamarnya pun langsung menautkan alisnya saat sampai di dapur.


"Kenapa, Pah?" tanya Si bungsu.


"Rame!" jawab Reza yang langsung mencium pipi anak istrinya secara bergantian.


Ya.. meja makan terasa begitu penuh bahkan Air harus mengambil kursi tambahan untuk calon istrinya duduk.


"Segini belum ada Yayang ya" ucap Melisa, Bumi yang mendengar gadis Kesayangannya disebut tentu langsung tersenyum simpul.


Berbeda dengan Reza yang hanya bisa menghela nafas pelan, ia tahu KHUMAIRAHnya memang sangat menyukai kekasih dari anak keduanya itu.


"Wajib ganti meja makan ini sih" kata Air sambil melirik kearah papanya


"Tanggung, kak. lesehan aja pake tiker" sahut Reza.


"Wih, berasa di pantai dong, Pah" kekeh Cahaya.


"Kode tuh kayanya, liburan boleh kali, Pah" Bumi pun ikut menimpali.


"Hem, boleh! sekalian pas kakak honeymoon tuh nanti" jawab Reza.


"Apa hubungannya sama kakak?, jangan bilang kalian mau gangguin kakak ya!" Tuduh si sulung sambil menunjuk semua keluarganya dengan sendok yang ia pegang.


Semua tertawa, termasuk Hujan yang hanya menyunggingkan senyum sambil menunduk.


.


.


.


****


Hujan yang ikut dengan Melisa dan Cahaya ke sebuah butik hanya duduk di salah satu sofa menunggu calon mertua dan adik iparnya itu keluar dari kamar pas.


Lamunannya buyar saat bahunya di sentuh seseorang.


"Hai.." sapa Kahyangan yang berdiri dengan sangat anggunnya di sisi Hujan.


"Eh, iya!" Jawabnya tergagap karna terkejut.


"Kenalin, aku Kahyangan" Gadis cantik berusia dua puluh tahun itu mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Hujan sempat mengernyitkan dahinya sedang mengingat satu hal.


"Aku pacarnya Bumi" jelas Yayang seakan mengerti dengan Kebingungan yang dirasa calon kakak iparnya itu.


"Oh, iya. maaf aku lupa" Balas Hujan tak enak hati.


"Gak apa apa, kita belum kenalan juga, kan?"


Keduanya kini saling berjabat tangan dan memberikan senyum terbaik mereka.


"Mama mana?" tanya Yayang.


"Masih cobain baju" jawab Hujan. kini para calon menantu keluarga Rahardian itu sudah duduk bersebelahan di ruang tunggu.


Kahyangan hanya mengangguk paham, ia yang memang Lebih ramah harus pintar mencari topik pembicaraan agar tak canggung.


"Yayang, udah dateng sayang" ucap Melisa saat keluar dari kamar pas.


"Udah, Mah" Jawab gadis itu sambil bangkit dari duduk kemudian menerima pelukan hangat dari wanita yang telah melahirkan seorang pemuda yang amat mencintainya itu.


"Jan, udah selesai belum?" Tanya Melisa.


"Belum, Mah. kayanya bakal lumayan lama" sahut Hujan.


"Adek juga belum, bajunya terlalu sempit padahal seminggu lalu udah pas"


"Nona, mari silahkan" ucap salah satu karyawan butik dengan amat sopan karena tau dengan siapa ia berhadapan saat ini.


Kahyangan mengangguk sambil bangun setelah berpamitan pada Melisa dan Hujan.


"Yayang tinggal dulu ya, Mah. kak Hujan"


"Iya sayang, katakan saja jika kamu nanti kurang nyaman" pesan Melisa pada calon menantu keduanya.


Usai fitting baju, empat wanita korban Kebucinan para pasangannya itupun kembali ke apartemen, Si bungsu yang nampak kelelahan merengek ingin pulang dan tidur.


"Mama anter adek ke kamarnya dulu ya" pamit Melisa pada dua calon menantunya itu.


mereka mengiyakan sambil mengangguk kan kepala.


"Adek sakit ya?" tanya Hujan pada Kahyangan yang duduk di sebelahnya.


"Iya, Cahaya punya penyakit jantung sedari lahir" jelas Kahyangan, Hujan yang mendengar penuturannya pun langsung menoleh.


"Oh, Aku gak tau" ucap Hujan.


"Kamu udah lama sama Bumi?, kayanya banyak tau ya tentang keluarganya" Tanya Hujan.

__ADS_1


"Enggak, aku baru banget sama dia, tapi aku udah kenal lama sama Air, kita temenan udah setahun lebih jadi aku lumayan deket sama dia" jawab Kahyangan apa adanya.


"Oh, Deket sama kakaknya tapi pacaran sama adeknya, gitu ya?" kekeh Hujan, begitupun dengan Kahyangan.


.


.


Dua gadis yang tengah berbincang itupun di kagetkan oleh kedatangan Langit yang membuka pintu cukup keras, pria tampan yang masih memakai stelan jas itu langsung naik ke lantai atas tanpa menegur sama sekali pada Hujan dan Kahyangan.


Dada Langit begitu sesak Karna rasa takut.


BRAAAAAKKKK..


Ia kembali membuka pintu kamar gadis kecilnya itu dengan tangan bergetar.


"Dek..", Panggilnya lirih dengan langkah tergesa.


"Gak apa-apa, Bang" sahut Melisa karena putri bungsu sudah terlelap.


"Bun, Abang takut" sahut Langit sambil memegang tangan Cahaya yang dingin dan basah.


"Udah minum obat kok, kita tunggu dua jam ya, kalo masih lemes baru kita bawa kerumah sakit" jelas Melisa, ia sedang sekuat tenaga menyembunyikan rasa panik dan takutnya si hadapan Langit yang tak kalah takut darinya.


.


.


.


.


.


.


Cantiknya Abang kuat ya..


Gak boleh nyerah, Abang udah disini sama kamu.


Ayo Bertahan ya sayang!!


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Terhuraaaaaaaaa 😭😭😭😭😭


Sabar ya Abang ganteng. mak othor mah emang rada sensi ma kamu dibikin panik Mulu 😂😂😂

__ADS_1


Like komen yuk ramai kan


__ADS_2