
🌻🌻🌻🌻🌻
Langit yang kembali datang dengan satu piring di tangannya langsung duduk di hadapan Cahaya, Gadis cantik itu merengut kesal karna tak mendapat jawaban yang memuaskan hatinya yang sedang di buat penasaran oleh hubungan kakak keduanya itu.
"Ada apa sih, Bang?" tanya Cahaya lagi.
"Ada cinta untukmu" jawab Langit sambil mengulum senyum, ia yang mencoba menyuapi si bungsu pun langsung di tepis halus oleh gadis itu.
"Jangan ngambek, Abang suka gak tahan buat cium kamu, yang" goda Langit lagi.
Gadis itu mencebikkan bibirnya, lalu menyeruput minumannya hingga habis setengah.
"Aku mau balik kamar duluan, capek banget" pintanya yang sudah merasakan nafasnya sedikit sesak.
"Iya, Sayang, Sekarang aja yuk" ajak Langit yang lama bangun dari duduknya, ia akan sigap dengan semua permintaan gadis kecilnya apalagi jika si bungsu sudah mengeluh lelah dengan helaan nafas yang sudah tak beraturan.
Tangan besar pria itu langsung terulur meraih tangan lembut seorang gadis yang selalu ia harapkan menjadi istrinya dalam waktu dekat ini.
.
.
.
"Bun, Abang ke kamar dulu ya, adek capek " pamit Langit pada Melisa yang sedang berbincang dengan salah satu teman di apartemen.
Cahaya yang menyadarkan Kepalanya di lengan Langit pun hanya diam tak bersuara.
"Iya, kamu antar adek ke kamar, jangan lupa obatnya temani ia di sana" pinta Melisa pada Langit, hanya pada pria itu ia menjatuhkan harapan untuk menjaga si bungsu.
"Kamu istirahat ya sayang" pesannya pada Cahaya yang hanya di balas anggukan kepala.
Pasangan itu pun segera keluar dari area ballroom hotel yang nampak masih saja begitu ramai oleh para tamu undangan.
Langkah keduanya berhenti di depan lift yang akan mengantar mereka menuju lantai dimana kamar khusus keluarga Rahardian berada.
__ADS_1
"Apa aku kuat nanti ikut acara kakak di luar kota?" tanyanya lirih di dalam kotak besi mewah.
"Kuat dong, cantiknya Abang kan udah mulia sembuh" jawab Langit mencoba membesarkan hati pujaannya itu.
"Bukan sebaliknya ya?, aku makin lemah, Bang" tuturnya dengan nada putus asa yang membuat Langiy memejamkan Matanya.
"Abang gak suka kamu ngomong begitu" ucapnya dengan sangat tegas.
"Maaf" balas Cahaya sambil mengusap pipi Pria penjaga jiwa raganya itu.
Pintu lift terbuka dengan lebar, Cahaya dan Langit langsung keluar dari kotak besi itu kemudian berjalan menuju kamar yang di tempati si bungsu dengan Kahyangan.
CEKLEK
Seperti biasa, saat pintu terbuka tentu Langit akan mempersilahkan Cahaya untuk masuk lebih dulu yang kemudian ia akan mengekor di belakangnya.
"Adek bersih-bersih dulu" ucapnya setelah melepas high heelsnya.
"Mau di temenin gak?" goda Langit dengan mengedip kan satu matanya, Ia tetap menjadi pria normal jika sedang berdua saja dengan kekasihnya walau hanya sebatas menggoda.
"Wah, kandangnya si kakak dong" Langit malah tertawa terbahak-bahak saat Kalimat buaya keluar dari mulut gadis cantiknya.
Cahaya langsung masuk kedalam ruang ganti untuk membuka gaun panjangnya
Sedangkan di luar kamar ada Langit yang duduk termenung di sofa Single yang menghadap langsung ke kaca besar yang menampilkan gelapnya langit diluar sana yang nampak seperti hatinya saat ini karna ucapan dokter yang menangani penyakit jantung Cahaya kembali terngiang di telinganya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf Tuan.
Harapan untuk kesembuhan nona muda hanya 35%
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ada yang punya jantung lebih?
🤭🤭🤭🤭🤭
Ntar di kasih bonus bisa cium bapaknya.
Like komen nya yuk ramai kan ♥️
__ADS_1