Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 93


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻


Air menunggu Hujan di kursi taman samping perpustakaan. Dengan hanya berbekal kata Ya dari Gadis itu lewat pesan singkat ia dengan sabar menanti walau perutnya terasa begitu perih karna tak sempat menikmati menu sarapan buatan mamanya dirumah.


"Lama banget, sih!" umpat Air, kesal.


Lima belas menit mondar mondar tak jelas akhirnya membuat pemuda itu benar benar mengoceh tak jelas sampai ia lelah dan akhirnya kembali duduk.


"Kenapa?" tanya Hujan yang tiba-tiba ada di sebelahnya.


"Dih, baru dateng!"


"Maaf, tadi nunggu lama banget antri di pom bensin" jelas Hujan memberi alasan.


"Ada apa?, Lo mau ngomong apa sama gue?" Hujan sedikit berdehem sambil membenarkan posisi duduknya.


"Gue rasa Lo tau, jadi langsung aja ya" ucap Air, Pemuda itu duduk dengan sedikit menghadapnya.


"Ya, gue tahu! cepetan ngomong, gue gak ada waktu banyak!" Hujan berpura pura melihat jam di pergelangan tangannya untuk mengalihkan rasa gugupnya yang entah kenapa hari ini sungguh terasa lain.


Air menarik nafasnya lebih dulu sebelum memulai apa yang harus ia bicarakan dengan gadis yang sudah membuat masalah luar biasa itu.


"Lo udah jelasin ke bunda Lo belum?" tanya Air.


"Dari panti kan lo udah liat gimana gue jelasin ke bunda, Ay"


Air mengangguk, ia masih ingat betapa kerasnya gadis itu memohon ampun sambil memberi penjelasan semalam.


"Terus apa jawabannya?"


Hujan menoleh, ia menatap Kedua mata Air dengan begitu sendu Sampai ia tak mampu membalas tatapan Hujan.


"Semuanya masih sama, Bunda mau kita sama-sama" jawabnya yang langsung membuat Air mendesah.


Air menunduk lesu kemudian mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


"Kenapa?, emang Lo hamil sampe harus gue nikahin?, kita gak ngapa-ngapain!" sentak Ay geram.


Hujan menundukkan wajahnya, ingin ia menumpahkan apa yang selama ini begitu menyesakan dadanya tapi ia masih ingat jika pria di sebelahnya itu bukan siapa-siapa dalam hidupnya.


"Jan, apa perlu kita berdua ngomong baik baik berdua ke bunda Lo lagi?" pinta Air, ia semakin bingung dengan sikap diamnya Hujan.


"Gue akan datang kerumah Lo buat jelasin sejelas-jelasnya didepan orang tua Lo, Ayah Lo mungkin ngerti dan bisa bujuk bunda"


"Gimana?, keren kan usul gue?, gue gak akan biarin Lo ngadep mereka sendirian, gue akan ada sama Lo sampe kesalahpahaman ini selesai"


Air terus saja berbicara, merencanakan banyak hal yang akan mereka lakukan untuk masalah konyol yang sedang mereka hadapi kali ini.


"Kok Lo diem aja, sih!" tanya Air saat gadis itu masih saja menunduk mengacuhkannya.


"Lo ikut gue sekarang!"


Hujan bangun dari duduknya, menarik tangan Air menuju parkiran dimana mobilnya berada.


"Mau kemana?" tanya Air bingung, ia sempat menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa yang melihatnya di seret oleh Hujan.


"Masuk aja, gue mau bawa Lo ke suatu tempat"


"Gue yang bawa mobilnya deh" tawar Air, rasanya lucu saat seorang gadis malah menyetir mobil untuknya.


"Gak apa-apa, Lo diem aja."


Air mencebikkan bibirnya, tak ada obrolan dan musik selama perjalanan di dalam mobil membuat ia begitu bosan dan memilih bermain game di ponselnya.


Air mengabaikan semua pesan dari beberapa kekasihnya yang meminta kejelasan tentang drama di parkiran campus bersama Hujan.


"Yuk, turun!" ajak Hujan setelah mematikan mesin mobilnya.


"Kemana?" tanya Air bingung.


"Cepetan, Lo ada kelas kan nanti" ucapnya lagi sambil keluar dari mobil.

__ADS_1


Air memasukkan kembali ponselnya, kemudian ikut turun menyusul Hujan.


"Woy, tungguin!" teriak Air yang berjalan di belakang gadis itu.


"Ngapain sih?" tanya Ay.


"Lo mau ngomong sama orang tua gue kan?" ya udah cepet ngomong sekarang juga"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tapi kenapa ngobrolnya harus di kuburan!!!!


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Mungkin Hujan anak om ocong dan tante Kunti , 😂


Pusing ya!

__ADS_1


Sama 😭😭😭.


Like komen nya yuk ramai kan ❤️


__ADS_2