Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 147


__ADS_3

ðŸŒŧðŸŒŧðŸŒŧðŸŒŧðŸŒŧðŸŒŧ


Air langsung masuk kedalam kamarnya setelah sampai di rumah utama karna keluarganya akan menginap disana. tangannya masih dingin dengan hati yang berdebar-debar.


Pernikahannya akan di langsungkan akhir pekan ini pukul sembilan pagi di masjid milik keluarga kami.


Perkataan Oppa terngiang selalu di telinganya, Air memejamkan matanya sambil menghitung hari.


"Sisa tiga hari" gumamnya pelan.


Air masuk kedalam Selimut sambil memeluk guling Kesayangannya, ia mainkan ujung bantal itu seperti biasanya.


"Kalo udah nikah berarti nanti kakak tidur sama Hujan juga, kamu jangan marah ya kalo kakak salah peluk" Air malah terkekeh dengan khayalan konyolnya.


Sampai Akhirnya pemuda yang sebentar lagi melepas masa lajangnya itu terlelap terbuai mimpi.


*****


Di kamar lain!


Reza yang baru keluar dari kamar mandi dengan masih memakai handuk yang melilit di pinggangnya malah meringsek mendekati sang istri yang duduk di meja rias sedang menyisir rambutnya.


"Ra..." bisiknya di ceruk leher KHUMAIRAHnya.


"Apa, By"


"Nanti bilang sama kakak jangan dulu punya baby ya"


Melisa memutar wajahnya, kini keduanya saling berhadapan begitu dekat hingga nafas keduanya begitu terasa satu sama lain.


"Kenapa?"


"Mereka masih muda, selesaikan kuliahnya lebih dulu apa lagi Hujan calon dokter tentu tugasnya akan lebih banyak" jelas Reza.


"Itu urusan mereka, Mas"


"Aku gak mau kamu repot urus bayi, aku kan pengen mereka cepet gede biar gak ada yang ganggu kita" kini bibir Reza sudah menyesap lembut leher putih istrinya.


"Udah mau punya menantu kamu, Mas. Tiga anakmu udah punya pasangan masing-masing"


Reza menarik kembali kepalanya, ia menatap kedua manik istrinya yang selalu membuat ia teduh dan nyaman.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan tentang Bumi, Ra" ucap Reza serius, sikapnya tentu membuat Melisa Langsung mengernyitkan dahinya.


"Ada apa dengan Bumi?, anakku kenapa, Mas?" tanya Melisa penasaran.


.


.


.


Tok..tok..tok..


Ketukan pintu membuat keduanya mengalihkan pandangan kearah suara.


"Siapa sih?" decak Reza kesal.


Pria tiga anak yang masih posesif itupun melangkah menuju pintu.


CEKLEK


"Ada apa?" tanya Reza saat melihat Langit.


"Adek kambuh?" tanya Reza langsung panik.


Mendengar nama Anak bungsunya di sebut tentu Melisa langsung bangkit dari duduknya.


"Ada apa, Bang?" Tanya Melisa.


"Gak ada apa-apa, Bun. adek juga gak apa-apa, Abang cuma mau ke apartemen ambil obat aja"


"Yakin adek baik-baik aja?" Tanya Reza memastikan.


"Iya, lagi dikamar, Bun" ucap Langit meyakinkan kedua orangtua angkatnya.


Saat Langit pergi untuk mengambil obat tentu Melisa langsung menuju ke kamar putri bungsunya meninggalkan Reza yang masih berdiri di ambang pintu.


"Ra.. mau kemana?" teriaknya.


"Kamar Adek sebentar" jawab Melisa sambil terus melangkah.


Reza yang melihat punggung indah istrinya sudah hilang di balik pintu hanya bisa mendengus kesal.

__ADS_1


Ia pun kembali masuk masuk kedalam kamar untuk memakai baju.


Kini tubuh tingginya berjalan menuju sebuah meja di sudut kamarnya.


Ia duduk di kursi lalu membuka laci di urutan paling bawah, tangannya mengambil satu berkas yang baru diberikan asistennya kemarin siang.


***Apa yang harus ku katakan padamu ,Ra...


Kebahagiaan anak-anak memang lebih penting.


Aku bisa menerimanya jika saja hanya berbeda kasta.. tapi ini.....


.


.


.


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕***


Tapi apa Bang?


Kalau lagi galau biasanya butuh pelukan.ðŸĪ­ðŸĪ­ðŸĪ­


sini neng peluk ðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠ


Yang bahas Bumi kaya soang ðŸĶĒðŸĶĒðŸĶĒ


emang bener banget 🙏


Gada yang sempurna dalam diri seseorang.


meskipun dalam dunia halu tapi ttp harus pake logika juga ya 😋😋


Tiga anak Meski kembar pasti beda karakter.


Mun cak si mamah tea, loba anak Aya Bae NU calang hiji mah. 🙄🙄🙄🙄


Jiah eta anak apa ndog ayam mah 😂😂😂😂


Like komen nya yuk ramai kan âĪïļ

__ADS_1


__ADS_2