Suami Dadakan

Suami Dadakan
ba 51


__ADS_3

🌻🌻🌻


"Kemana nona?" tanya pak Agus sebelum menyalakan mesin mobilnya.


"Panti asuhan, pak"


Melisa memilih diam dengan sesekali ia menarik nafasnya berat, melihat Reza bersama Rossa saja sudah membuatnya sangat jengkel apalagi ini melihat suaminya dengan perempuan lain sedangkan ia saat itu harus menunggu sendiri berjam-jam dikantor.


"Aku gakan percaya lagi sama semua perkataan cintamu,Mas!" geram Melisa kesal, ia melempar pandangan jauh keluar.


"Mau saya tunggu,nona?" ucap pak Agus mengangetkan Melisa dari lamunannya, ia menoleh lalu menggeleng kan kepalanya.


"Gak usah, pak. saya gak tau mau pulang atau gak nantinya" jawab Melisa pelan.


"Baiklah, Nona!" sahut pak Agus kemudian.


Melisa keluar dari mobil dan langsung membuka pintu gerbang yang masih tertutup rapat,


mata sayu nya yang sembab tak sengaja bertabrakan dengan kedua mata Ilham.


"Mel, kenapa?" tanya Ilham langsung.


"Eh, Kakak.Gak apa apa" jawab Melisa langsung menunduk.


"Kamu habis nangis?" tanyanya lagi penuh selidik.


"Iya, aku Kangen Umi, aku kangen anak-anak kak."


Ilham mengernyitkan dahinya, ia masih menatap lekat wanita yang pernah di cintai nya dalam diam itu.


"Sudah sebesar ini, kamu masih belum pandai berbohong ya, Mel" kekeh Ilham untuk mengurangi rasa canggung keduanya.


"Haha, aku gak bohong ko' kak" senyum Melisa walau terkesan sangat memaksa.


"Ya sudah, Umi ada dikamar. kamu bisa kesana sekarang" ucap Ilham menggeser posisinya agar wanita berstatus istri orang itu bisa masuk kedalam.


Melisa mengangguk dan meneruskan langkahnya, namun baru tiga langkah ia berjalan namanya sudah dipanggil lagi.


"Mel,"


Melisa berhenti dan menoleh.


"Ada apa?" tanya Melisa.


Ilham menarik nafasnya dalam-dalam, senyum teduhnya mampu mendinginkan hati Melisa yang kini berselimut api cemburu.


"Jangan memendam semuanya sendiri"


*****


Ceklek..


"Assalamu'alaikum,Umi" sapa Melisa setelah membuka pintu kamar pemilik panti asuhan.


"Waalaikum salam, Mel" jawab umi menoleh kearah pintu.


"Apa kabar, Umi!" Melisa mencium takzim punggung tangan wanita paruh baya itu.


"Kabar baik,Mel. mana suamimu?" tanya umi.


"Kerja, Umi. aku sendiri kesini"


Melisa memeluk hangat tubuh Umi, ia sandarkan kepalanya untuk melepas bebannya.


"Ada masalah kah?" Umi mulai mengintrogasi.


"Enggak, Umi. aku cuma kangen, aku udah jarang kemari kan?" Melisa memberi alasan, tak ia pungkiri memang dirinya sangat merindukan sosok pengganti ibunya ini.

__ADS_1


"Ya sudah,kali ini Umi akan mempercayainya" Umi mengusap sayang kepala Melisa.


"Aaaaah, aku bisa tidur kalau begini" kekeh Melisa mendongakkan wajahnya..


"Tidurlah,Nak.. Umi akan disini menemanimu"


"Haha, enggak umi, aku mau ketemu sama anak-anak, aku juga kangen sama mereka" ucap Melisa sambil mengurai pelukannya.


"Aku kesana dulu ya,Umi" pamit Melisa setelah bangun dari duduknya.


"Assalamu'alaikum, anak-anak" sapa Melisa saat memasuki ruang bermain para balita, ada delapan orang anak yang asik dengan mainannya sendiri-sendiri.


"Teteeeeeh" jawab mereka serempak dengan berjingkrak senang.


Melisa langsung berjongkok dengan merentangkan kedua tangannya bersiap menerima pelukan dari anak anak yang sudah berlari kearahnya.


"Teteh kangen kalian"


Satu persatu diciuminya para malaikat kecil itu dengan lembut penuh kasih sayang.


Setelah semua mengurai pelukannya, dan kembali pada mainannya lagi, Melisa menoleh kearah pojok tembok ruangan itu.


"Langit!" sapa Melisa pada bocah kecil yang sempat tertabrak oleh Ardi yang kemudian menjadi awal pertemuannya dengan sang suami.


Bocah itu menoleh, tanpa senyum tanpa ekspresi hanya wajah datar yang Melisa lihat.


"Langit kenapa?" tanya Melisa yang sudah berjongkok dihadapannya.


Langit menggeleng, wajahnya langsung tertunduk saat Melisa mencoba meraih tangan mungilnya.


"Kenapa?" Melisa mengulang pertanyaannya.


"Tangeun, Buna!" jawabnya pelan hampir tak terdengar.


"Oooh, Langit kangen Buna?" goda Melisa pada bocah tiga tahun itu.


"Sini sayang, Buna juga kangen" Melisa langsung memangku Langit diatas pahanya, mengusap kepala yang sudah menempel di dadanya.


*******


BRAKK..


Reza membuka kamar adiknya dengan keras membuat Rossa yang sedang memakai masker di wajahnya harus terlonjak kaget.


"Melisa mana?" tanya Reza langsung.


"Aku gak tau" Jawab Rossa, bingung.


"Emang gak ada?" tanya Ameera yang baru keluar dari kamar mandi.


"Kalau ada, Kakak gak akan cari kesini" dengus Reza kesal, lalu keluar meninggalkan kan kedua adiknya yang saling melirik.


Reza kembali kekamarnya, duduk ditepi ranjang sambil terus menghubungi istrinya.


Samar-samar Reza mendengar dering ponsel disekitarnya, ia langsung menyibakkan selimut dan mengangkat semua bantal untuk mencari sumber suara itu.


"Kebiasaan, kan!" dengus Reza kesal saat benda pipih itu sudah ada di genggamannya.


Ia mengecek semua panggilan, dan pesan didalam ponsel istrinya untuk melacak keberadaannya saat ini.


Matanya tertuju pada ROOMCHAT yang tertera nama Ricko disana.


"Sial!!!" Reza mengepalkan tangannya, geram!


Kemudian ia memencet tombol di ponselnya sendiri untuk menghubungi seseorang.


"Lakukan sekarang!!!" ucapnya penuh penekanan pada seseorang disebrang telepon sana.

__ADS_1


Reza menutup panggilannya dan bergegas keluar, ia sedikit berlari saat menuruni anak tangga.


"Kemana istri saya tadi?" tanya Reza pada supir yang selalu mengantar KHUMAIRAH nya itu.


"Panti asuhan,Tuan" jawab pak Agus takut, saat melihat mata Reza menatapnya tajam.


Tanpa membuang waktu, ia langsung masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya.Reza melajukannya dengan kecepatan penuh tak perduli para pengendara lain mengumpat padanya.


Aku pulang cepet, Kamu malah gak ada!!.


Reza masih saja mengoceh dalam hatinya, hari ini semua jadwal meeting sengaja ia undur sampai besok,.ia memilih pulang hanya untuk bersama istrinya, alih alih ingin membuat kejutan justru ia yang terkejut dengan ketiadaan sang istri yang pergi tanpa ijin darinya..


Mobil terhenti tepat di depan gerbang yang tertutup rapat, ia langsung keluar dan berjalan kearahnya, berkali kali mengucapkan salam sampai ada seseorang yang membuka pintu.


"Eh, Pak Reza" jawab seorang remaja laki-laki yang membuka pintu.


"Iya, teteh ada?" tanya Reza, tanpa menyebutkan nama siapa yang ia cari remaja itu sudah mengangguk paham.


"Ada didalam, kayanya dikamar balita" jawabnya sopan kemudian mempersilahkan Reza masuk.


"Terimakasih"


Reza berjalan masuk keruang tengah, dilihatnya Umi yang sedang membaca sebuah buku.


"Assalamu'alaikum,Umi" sapa Reza sambil meraih punggung tangannya untuk di ciumi takzim.


"Waalaikum salam,Nak Reza" jawab Umi sambil membuka kaca matanya.


"Melisanya ada,Umi?"


Umi mengangguk dan tersenyum.


" Ada, mari Umi antar"


Wanita paruh baya itu bangun dari duduknya dan mulai berjalan menuju tempat Melisa berada.


Ceklek..


Umi membuka pintu sebuah kamar yang sangat luas, ada beberapa tempat tidur dan lemari didalamnya.


Matanya langsung menangkap sosok yang cari sedang meringkuk disalah satu ranjang ukuran single.


"Sepertinya Melisa tertidur" ucap umi membuyarkan lamunan Reza.


"Iya, Umi. apa aku boleh masuk?" tanya Reza meminta ijin.


"Silahkan" sahut Umi sambil tersenyum.


Reza mengangguk, dan berjalan masuk kedalam kamar itu, ia melangkah dengan pelan menghampiri sang istri yang terlihat sedang tertidur.


"Kalau mau pergi bilang, Ra. aku jadinya gak panik begini" ucap Reza mengusap kepala istrinya.


"Kita udah Cocok punya anak ya,Ra!" ucapnya lagi saat melihat Melisa tertidur sambil memeluk Langit.


"Kita pulang ya"


Reza dengan hati-hati menjauh kan bocah itu dalam dekapan sang istri, bukan hanya ingin membawa Melisa pergi namun ia juga kesal karna bocah itu sangat menempel di area piknik favoritnya.


"Awas kamu,Ra.. aku akan kasih hukuman sama kamu karena aku gak rela kamu berbagi tempat kesukaan ku walau dengan bocah kecil itu" dengus Reza kesal sambil mengangkat tubuh istrinya.


😘😘😘😘😘..


Sama bocah aja gada ngalahnya si bang!!


hari ini aku up 2x ya..


kalo aku up sedikit biasanya bakal nambah 😂😂😂😂..

__ADS_1


Like komennya yuk..


__ADS_2